
"Ini kartu undangannya sudah jadi ya pah?" Vita melihat kartu undangan di atas meja yang sudah tersusun rapi oleh papah.
"Iya sudah jadi kamu bisa sabar ini ke sekolah kamu atau ke temen-temen deket kamu."
"Oh iya ya pa makasih banyak ya pa aku nggak nyangka banget deh bisa secepat ini."
"Iya dong siapa dulu papahnya! Mah mama mana aku mau pamitan nih buat pamitan berangkat ke sekolah."
"Pagi-pagi tadi mama kamu baru aja berangkat maka dari itu papa bangunnya juga pagi-an habis salat subuh tadi."
"Oh gitu ya, ya udah deh kalau gitu aku pamit dulu ya pah mau berangkat ke sekolah mau sebarin ini ke teman-teman aku nggak sabar deh." Mengecup puncak kepala Vita sebagai tanda kasih sayangnya.
Vita senang sekali karena undangan ulang tahunnya sudah siap untuk disebar di sekolah. Dia pun turun dari mobil dan berpamitan kepada sopir yang mengantar nya. "Makasih ya pak saya berangkat sekolah dulu."
"Iya non baik hati-hati ya non dan belajar dengan baik di sekolah atau di kelas."
"Iya pak masih banyak."
"Nggak sabar deh gue nanti kasihin surat undangan ulang tahun gue ke mereka semua pasti gue bakalan dapetin hadiah yang sangat banyak banget dan Mario bakalan datang ke ulang tahun gue dan mungkin bisa suapan pertama kue ulang tahun gue nanti bakalan gue kasih langsung setelah nyokap dan bokap gue jadi dia adalah orang luar pertama kali yang gue suapin aduh gue nggak nyangka banget deh dan nggak sabar banget buat menanti ulang tahun gue nanti." Batinnya dalam hati dan menuju kearah kelas terlebih dahulu ia membagi-bagikan kartu undangan tadi ke kelasnya baru ke kelas yang lain yang ia kenal sebagian.
Vita membagi-bagikan undangan ulang tahunnya kepada teman-temannya yang ada di sekolah termasuk Tania, Sekar dan Giska. "Jangan lupa datang ya ke ulang tahun nanti gue! Pokoknya kalian datang pakai baju warna hitam semuanya harus warna hitam tapi kalian jangan bilang ke siapa-siapa ya!"
"Kenapa bajunya warna hitam? Emang temanya warna hitam ya?"
Karena ini merupakan bagian dari sandiwara Vita pun seakan akan mengiyakan ucapan dari Tania. "Iya itu merupakan bagian dari tema yang kita pakai nanti. Pokoknya jangan lupa buat datang ya intinya." Tania pun dan kedua temannya hanya mengangguk seolah-olah mereka percaya begitu saja ucapan dari Tania.
"Cantik banget ya Vita." Giska yang melihat foto pita yang terpampang di kartu undangan ulang tahun.
"Nggak kalah cantik juga kali sama gis sama lo! Lo nya aja nggak bisa dandan makanya kayak gini. Kalau misalkan ada fashion show gue bakal makeover lo dan lo bakalan jadi pemenang."
"Sekar, Sekar lo halu ya? Mana mungkin sih cewek cupu kayak gue bisa ikutan fashion show gue aja maju ke depan malunya itu malu banget dan gemetaran apalagi fashion show gimana sih lo? Gue tahu maksud tujuan lo buat menghibur gue tapi gue sama sekali nggak pede dan gue sadar kalau misalkan lo cuma mau menghibur doang dan nggak kenyataan!" Giska menggelengkan kepalanya.
"Apaan sih lo ngomong kayak gitu! Bener kan Tan, kalau misalkan Giska ini orangnya cantik cuman dia aja nggak bisa dandan dandan bisa mix and match bajunya dia! Sudah terlahir cantik kulit putih dan orang kaya nah tinggal di cover aja tuh gimana caranya supaya lebih cantik." Karena Giska sudah tidak mau lagi beradu argumen kepada Sekar iapun hanya mengiyakan dan mengangguk paham walaupun pro dan kontra tetap ada.
"Kira-kira kalian bakalan datang nggak sih ke pesta ulang tahun Vita? Masa bajunya hitam sih aneh banget kenapa nggak putih aja?"
***
Lagi dan lagi Mario memasangkan helm kepada Tania ini bukan sesuatu hal yang luar biasa lagi tapi menjadi hal yang biasa saja karena hampir setiap hari seperti ini. Mario hanya membutuhkan waktu 25 hari lagi untuk memutuskan hubungannya bersama Tania karena mungkin dalam beberapa waktu saat dia akan menyatakan kepada Tania tentang perasaannya seolah-olah ia sedang jatuh cinta kepada Tania padahal sama sekali tak ada rasa cinta sedikitpun bahkan ini hanya sebuah taruhan saja kalaupun bukan taruhan mana mungkin Mario akan melakukan hal ini kepada cewek yang bukan level atau tipe itu.
"Mario lo bisa turun sebentar enggak gue pengen ngomong sesuatu nih sama lo!"
"Maksud lo?"
"Iya bentar doang."
"Ini udah ada pacar lo ngapain lo nyuruh gue buat berhenti sebentar? Ntar kalau misalkan dia salah paham sama gue dan dia cemburu sama gue kayak gimana? Lo nggak melihat perasaan lo ke cowok lain gitu?"
"Lo tuh ngapain sih jemput gue segala? Gara-gara lo semuanya jadi runyam mendingan lo pulang deh ke rumah?"
"Apa lo kurang puas sama perlakuan gue selama ini ke lo? Gue sama sekali nggak nyangka kalau misalkan lo bikin status gue sama Mario tuh putus!" Depan pintu gerbang Vita menolak dengan keras ajakan dari Dani untuk ikut pulang dengannya. Ia terkejut sekali dengan kehadiran Dani.
"Udah deh lu ikut aja pulang sama gue gue udah bilang sama supir loh kalau misalkan gue yang jemput lo hari ini. Lo nggak malu apa dilihatin sama temen-temen loh di sekolah ini?" Ucap Dani begitu santai menyahuti ucapan dari Vita.
"Terus urusan gue sama kalian tuh?" Mario bingung sekali kenapa tiba-tiba Vita menariknya dan menyuruh untuk Tania turun dari motor Mario.
"Gue udah mau pulang nih sama Tania kenapa lo malah narik gue? Loh ini kan selingkuhan lo?"
"Lo bisa jelasin sama Mario kalau misalkan kita tuh nggak ada hubungan apa-apa kita cuma sebatas teman doang dan Mario tuh salah paham sama gue. Ini sama sekali bukan selingkuh ini semuanya salah paham doang gue nggak ada hubungan apa-apa sama Dani, Mario?" Setipu daya Vita menjelaskan kepada Mario ia sama sekali tak mempercayainya bahkan ia menyalahi sepeda motornya untuk meninggalkan Vita dan Dani. Motor pun pergi meninggalkannya.
"Mendingan lo pulang sama gue aja ngapain sih lo masih ngarepin cowok yang udah enggak ngarepin lo lagi? Lo punya harga diri kan dan lo tahu misalkan yang tulus itu cuma gue bukan dia!"
"Sengaja ya selama ini menjebak gue supaya gue putus sama Mario!" Dani malah tertawa ketika Vita mengatakan ini, meradang lah Vita.
"Apaan sih lo nggak jelas banget kalau ngomong! Gue mau pulang sama sopir gue kalau misalkan nggak ada sopir juga yang jemput gue, gue bakalan pulang sendiri gue bisa kok pulang ke rumah sendiri tanpa ada siapapun yang nganterin gue ke rumah gue kan udah besar!"
Vita pun langsung saja menelpon supirnya untuk menjemput ke sekolah. Ia sama sekali menolak untuk pulang bareng bersama Dani.