Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 39. Giska & Juan



Biasanya mobil Giska terparkir tak jauh dari sekolah tapi sama sekali sekarang tidak ada terlihat batang hidungnya apa belum datang atau lupa ya? Tiba-tiba saya terdengar dering telepon dari ponselnya lalu Giska mengangkat teleponnya kalau misalkan hari ini ternyata sopirnya tidak bisa menjemputnya pulang sekolah dan berita ini atau informasi ini mendadak banget dengan terpaksa Giska harus pulang naik angkot. Tiba-tiba Juan melintas didepan Giska tak biasanya jika pulang jalan kaki biasanya di jemput pakai mobil ia pun berhenti di depan Giska. "Hei lo kenapa tumben banget di jemputnya nggak pakai mobil?"


"Iya nih sopir gue nggak bisa jemput katanya sibuk jemput nyokap gue di rumah sakit soalnya nenek gue lagi sakit ya udah deh katanya gue harus jalan kaki dulu pulang ke rumah. Lo sendiri ngapain berhenti?" Pertanyaan yang wajar dilontarkan oleh Giska kepada Juan.


Juan tak menjawab pertanyaan dari Giska ia pun menawarkan diri Untuk mengantarkan Giska pulang ke rumah. Awalnya Giska menolak karena ia tidak mau merepotkan orang lain apalagi yang mengajaknya adalah atau mengantarkannya adalah laki-laki bisa-bisa jantungnya berdegup kencang sepanjang jalan tapi cuacanya begitu panas banget yang bakalan lama pulang ke rumah atau sampai ke rumah dia pun termenung sejenak atas tawaran dari Juan. Ia mempertanyakan lagi untuk kedua kali apakah Giska akan ikut dengannya kalau misalkan jawabannya tidak maka ia akan melaju dan meninggalkan Giska berjalan kaki kesempatan tidak datang dua kali ia pun mengiyakan tawaran dari Juan untuk pulang ke rumah. Ia memejamkan mata sejenak berharap jantungnya tidak terlalu berdebar ketika menuju perjalanan ke rumah. Ternyata dugaan itu salah jantungnya malah berdegup lebih kencang seolah-olah ia menjaga jarak antara duduk bersama Juan dan dirinya. Juan pun nyeletuk seakan-akan tahu isi hati dari Giska.


"Jangan gugup ya kalau duduk sama gue ketauan banget jaga jarak gue nggak ngapa-ngapain lo juga kok ini kan jalan umum ya gue bisa digebukin lah kalo misalkan gue ngapa-ngapain lo jadi santai aja duduknya ya!" Giska hanya tersenyum biasa tak menjawab sama sekali kenapa bisa tahu begini ternyata rahasianya adalah tujuan melihat dari kaca spion yang terpantul ke belakang melihat aura Giska yang begitu tegang duduk berduaan dengannya di motor.


"Iya santai aja gue nggak gugup banget kok cuman ya wajar aja kalau misalkan baru pertama kali duduk." Obrolan mereka tidak terlalu meluas hanya hal yang paling penting bahkan hal yang tidak penting pun terjatuh begitu saja seperti yang dibilang tadi kegugupan yang terjadi yang dilontarkan oleh Juan.


"Gimana rasanya dianterin sama cowok ganteng seru kan pasti deg-degankan?"


Benar! Deg-degan banget, tapi yang namanya cewek pasti gengsi untuk mengakuinya Giska pun mengatakan kalau misalkan dirinya biasa aja ikut atau nebeng di motor cowok. Padahal dimulut lain dihati. "Entar cewek lo marah lagi kalau misalkan lo nganterin gue ke rumah!"


"Haha ceweknya siapa? Gak ada gue jomblo gue sama sekali belum pacaran sekitar 2 tahun yang lalu jadi sekarang gue masih jomblo kenapa lo tiba-tiba nanyain gue jomblo atau enggak?"


"Enggak, gue nggak enak aja kalau misalkan cewek lo ngeliat lo nganterin gue gue takutnya dia salah paham!" Sahut Giska dengan cepat tanpa jeda sama sekali.


***


"Bentar lagi kita sampai kok nanti lo belok aja kanan dan disana kelihatan ke rumah gue yang warnanya putih." Juan hanya diam dan mengikuti suruhan atau arahan dari Giska ke dirinya.


"Gak kepanasan kan lo kalau dianterin sama gue kalau misalkan lo jalan kaki pasti lo udah keringatan dan bau banget!" Ucap Juan yang hanya di sambut oleh Giska dengan senyuman. Juan mengeluarkan ponselnya lalu memberikan kepada Giska ya bingung apa maksud dari Juan ternyata tujuan meminta nomor Giska untuk dituliskan di ponselnya. Tanpa basa-basi Giska pun langsung saja menaruh nomornya ke Juan lalu Juan langsung juga menyimpannya.


"Gue simpan nomor lo misalkan ada apa-apa jadi gue nggak perlu repot-repot lagi minta nomor lo sekalian aja ya nggak sih?"


"Makasih banyak yah lo udah anterin gue ke rumah mau masuk dulu ke dalam?" Ucapnya yang berbasa-basi kepada Juan yakin juga kalau misalkan Juan tidak akan masuk ke dalam. Dan ternyata dugaannya benar Juan tidak masuk ke dalam dan langsung saja pergi ke rumah. Akhirnya secara tidak langsung Juan tahu di mana rumah Giska.


Giska masuk ke dalam rumah dengan begitu happy banget karena tidak kepanasan dan tidak kegerahan karena jalan kaki. Ia lihat rumah tampak begitu sepi ya karena mama lagi ke rumah sakit menjaga nenek asisten rumah tangga langsung saja menghampiri Giska yang baru saja masuk ke dalam rumah ia melihat bisa tidak begitu keringatan padahal yang ia tahu Giska tidak naik mobil. "Tadi aku dianterin pulangnya sama temen aku jadi aku nggak jalan kaki deh makanya aku nggak keringatan pasti Mbak ngiranya aku aku jalan kaki kan?"


"Iya non, oh ya nanti ini makanan sudah tersedia di atas meja setelah non ganti baju baru makan kata ibu kayak gitu." Giska pun mengangguk lalu ia permisi ke kamarnya untuk mengganti baju dan turun lagi nanti ketika semuanya sudah beres.


Beberapa menit kemudian Giska pun turun dengan pakaian yang sudah diganti dengan pakaian rumah ya duduk di meja makan dan makan siang, dia masih teringat tentang Juan yang nganterin dia balik sama sekali nggak nyangka bisa pulang bareng dengan cowok yang ketemu waktu itu nggak sengaja rasanya senang banget dan bahkan cepat banget berlalunya. "Kenapa gue masih kepikiran ya sama kejadian tadi sumpah gue enggak nyangka banget bisa pulang bareng sama Juan ternyata ganteng bener-bener ganteng banget pas dekat tadi." Batin Giska yang belum lupa tentang kejadian tadi.


Suara dering ponsel pun berbunyi ternyata nama yang tertulis atau tertera itu adalah mama Giska pun langsung saja memencet telepon berwarna hijau ke atas. "Iya mah, aku udah sampai kok di rumah. Aku tadi dianterin sama teman jadi nggak kepanasan ke rumah dia baik banget nganterin aku ke rumah. Mama lagi di rumah sakit ya entar deh aku bareng-bareng sama papa ke rumah sakitnya ya salam buat nenek ya mah semoga lekas sembuh." Telfon pun dimatikan.


"Ini siapa Mbak yang bikin?"


"Ibu non."


"Oh." Singkatnya.