
Tania sengaja mematikan ponselnya dengan cepat karena tidak mau ada siapapun yang mengganggu. "Kamu kenapa kok diam aja sih dari tadi cerita dong?"
"Aku enggak kenapa-napa aku pengen santai doang jadi nggak ada masalah kenapa-napa, kita hari ini bakalan berlibur ke mana seharian?"
"Kita bakalan liburan ke rumah nenek seharian jni doang sih nggak jauh-jauh tapi nanti kayaknya kita bakalan kehilangan sinyal." Tania memejamkan kedua matanya karena sangat mengantuk banget ketika berada di dalam mobil rental karena mereka sengaja menyewa mobil rental seharian ini menuju ke arah rumah Nenek sedikit agak jauh jadi untuk menopang dan membawa sanak keluarga harus satu tumpangan menuju ke arah sana.
Ia yakin banget kalo misalkan Mario menghubunginya maka dari itu dengan sengaja mematikan ponsel agar tidak diketahui bahkan juga membuat sedikit mengurangi komunikasi hari ini bahkan tidak sama sekali. "Ya udah aku tidur dulu ya soalnya ngantuk banget."
Akhirnya sampai juga di rumah Mbak yang ada di desa, sekitar 1 jam-an sama ke rumah mereka, kita pun disambut hangat dan dipersilahkan untuk masuk ke dalam. Kedua mata Tania kelihatan banget kalau seperti orang yang baru bangun tidur.
"Ya udah kalau misalkan ngantuk silakan aja masuk ke dalam kamar buat tiduran di sana," ucap salah satu penghuni rumah tersebut mempersilahkan Tania untuk masuk ke dalam.
Karna sudah merasakan untuk sekali dan ia pun masuk ke dalam kamar yang sudah di suruh oleh penghuni rumah padahal kedua orang tua menyuruhnya untuk membasuh muka agar jauh lebih segar tapi karena udah ngantuk banget dan nggak bisa ditolerir akhirnya ia masuk ke dalam dan persilahkan saja.
"Tania mana? Kok gak kelihatan deh perasaan tadi dia ikutan." Salah satu saudara sepupu Tamiya yang menanyakannya bingung perasaan tadi ketika ia datang ada dia tapi sekarang udah nggak ada. Dengan cepat pulang Mama kasih tahu kalau misalkan Kania tidur di dalam kamar karena udah ngantuk banget katanya.
Perkumpulan keluarga pun akhirnya tergelar jadi sebelum mereka ke sini mereka sortir sortir mobil terlebih dahulu di rental buat membawa mereka ke sini karena mereka nggak ada alat transportasi buat mengantarkan mereka ke sini jadi harus nyewa mobil terlebih dahulu buat sampai ke sini.
"Pah, Mama sama sekali nggak enak deh kalau misalkan Tania tiduran di dalam kamar."
"Udah Mah, dia itu lagi ngantuk jadi biarin aja dia tidur nanti kalau udah acaranya mulai kita bangunin lagi deh pokoknya."
***
Suara ketukan terdengar dari luar dengan cepat sekarang pun membukakan pintu ternyata ada Mario dengan wajah yang sangat bingung dengan cepat pula ia menanyakan di mana keberadaan Tania. "Gue sama sekali enggak tahu Tania ada di mana soalnya sejak kemarin kita nggak ada komunikasi sama sekali, emangnya tadi nggak kasih kabar?"
"Iya nggak ada kabarnya sama sekali bahkan dia juga kaya mungkin menghindar atau marah gara-gara gue masa dia buat satu kampus sama gue?"
"Iya sih, tapi kayaknya nggak itu deh alasannya mungkin aja dia lagi sibuk terus nggak ada sinyal."
"Ya udah deh gue pamit dulu ya kali aja nanti kalau misalkan dia ada kabar tolong kasih tahu gue terlebih dahulu." Mario dengan cepat berpamitan lalu masuk ke dalam mobil mencari Tania kembali mungkin saja di tempat lain.
Mario sudah mencari kesana-kemari tapi tetap saja tidak mendapatkan kabar apapun selama seharian ini. "Sebenarnya Tania tuh ke mana sih kok nggak ada kabar sama sekali? Kenapa dia pergi gitu aja dan nggak kasih kabar ke gue? Apa dia marah sama gue?"
"Gue sama sekali enggak bikin salah dan gue nggak ngelakuin apapun jadi ngapain gue harus ngerasa bersalah padahal nggak ngelakuin apa-apa."
Mario seakan membantah kata-kata tersebut karena menurutnya ia tidak melakukan apapun bahkan kesalahan pun sudah tidak ada lagi semenjak ia sudah mulai mencintai Tania dan sayang dengan tulus tanpa ada embel-embel atau maksud yang jahat.
***
Ternyata obrolan ini sampai kepada sahabat-sahabat mereka yang sedang asik nongkrong di kafe.
"Eh Tania kok seharian ini nggak ada kabar sama sekali ya? Apa dia tiba-tiba aja kabur terus nggak akan pernah kembali lagi?" Giska keterlaluan negatif thinking karena dia merasa bisa aja pergi kalau terus aja dipaksa dan juga ditekan.
"Gue sebenarnya juga nggak tahu sih tapi kita do'ain aja yang terbaik semoga apa yang diambil oleh tanya itu adalah pilihan yang sangat baik juga."
Hari ini rencananya mereka bakalan double date dan juga merencanakan sesuatu. Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga Juan yang biasanya suka ngaret duduk di salah satu bangku yang sengaja kosong dan mereka semua menatap karena tatapan itu adalah tetapan yang sangat tajam. "Kenapa?"
"Gue juga bingung kenapa dia gak ada kasih kabar sama sekali ya? Dia ke mana ya? Duh gue jadi khawatir deh. Tapi semoga aja gak kenapa-napa ya. Kasihan sama Mario aja sih yang pastinya panik banget dan ngerasain takut, gue sebenarnya juga bingung harus bantuin yang mana biar bisa bahagia." Mereka sangat bahagia banget kalau semua sahabat mereka bahagia dan mereka juga sedih banget kalau sahabat mereka gak bahagia.
"Apalagi Mario selalu aja nelpon gue nanyain kabar Tania di mana, padahal gue juga nggak tahu Tania di mana ya emangnya gue itu emak bapaknya yang tahu kapan pun di mana pun?"
Namun tiba-tiba saja sebuah pesan singkat mengirimkan sebuah pesan dengan cepat Giska pun membuka pesan tersebut dan itu dari Tania.
"Gue lagi liburan dulu ke rumah keluarga gue soalnya ada yang nikahan sorry banget kalau misalkan gue nggak kasih tahu kalian." Tania
Mereka akhirnya merasa lega karena ada kabar dari Tania. Dan dengan cepat Giska pun menelponnya tapi tidak diangkat mungkin Kania sedang sibuk bersama sanak keluarga di sana dan Giska tidak melakukannya lagi.
Dengan cepat pula Giska pun menghubungi Mario memberitahu kalau misalkan Tania sedang berada di tempat keluarganya untuk menghadiri pernikahan keluarganya tersebut dan membuat Mario sedikit agak lebih tenang karena sudah tahu keberadaan Tania walaupun beberapa waktu yang lalu tidak bisa dihubungi mungkin karena sinyal yang tidak bisa menjangkau.
"Bentar lagi kita bakalan jadi anak kuliahan ya nggak nyangka banget ternyata secepat itu waktu berjalan."
Tapi ada hal yang bikin sedih ternyata Giska nggak bisa satu kampus dengan mereka dikarenakan dia jauh lebih memilih swasta dari pada negeri karena jarak tempuh antara rumah dan perkuliahan yang ia ingin tempati ini yang lebih dekat dari pada yang negeri.
"Ya udah pokoknya kalau misalkan kita ada waktu weekend atau waktu senggang kita bakalan kumpul-kumpul lagi jangan kayak sendiri-sendiri gitu."