
"Lo yakin bakalan melakukan itu ekstrem banget loh kalau misalkan lo ada kenapa-napa gimana?"
"Ya nggak bakal lah gue kenapa-napa gue juga tahu diri kali ya mana mungkin gue mau bunuh diri cuma gara-gara cewek cupu kaya dia, dan gue juga gak mau mati sia-sia gara-gara orang yang gue cinta! Lo tenang aja dengan apa yang gue lakukan nanti gue yakin kalau misalkan gue bakalan dapetin cinta dari Tania!" Tepuk Mario yang langsung saja menghampiri kelas Tania. Ia mengatakan kalau misalkan Tania tidak menerimanya sebagai pacar maka ia akan naik ke jembatan yang ada di depan sana, ucapan itu seolah-olah tidak digubris oleh Tania ia terus saja mengobrol kepada kedua temannya.
"Oh jadi lo gak percaya dengan apa yang gue ungkapin kali ini? Ya udah tunggu aja gue di jembatan gue bakalan bunuh diri karena lo udah nggak nerima gue jadi pacar!" Ancam Mario langsung pergi begitu saja ia berharap Tania akan mengejarnya kalau tidak mau mengejarnya bisa-bisa bakalan berantakan ini kan hanya sekedar ancaman doang untuk dapatin cinta Tania bukan karena bener-bener pengen bunuh diri ia juga tidak mau mati konyol.
Giska dan Sekar ketakutan dengan ucapan Mario tadi ya takut kalau misalkan Mario benar-benar ia menyuruh Tania langsung menuju ke arah jembatan.
Ini sudah mepet banget untuk menyatakan cinta kepada Tania apa yang harus Mario lakukan untuk bisa memenangkan pertaruhan atau memenangkan taruhan ini dengan Kevin bisa-bisa ia memberikan hadiah kepada Kevin. Ia memberanikan diri untuk mengajak Tania kembali dan merencanakan hal yang lebih ekstrem lagi bahkan lebih romantis agar lebih yakin dengan apa yang ia lakukan. "Tania, gue suka sama lo dan gue cinta sama lo gue harap lo terima gue sekarang! Kalau enggak gue bakalan loncat dari sini." Padahal secara realita dan dalam hatinya ia juga takut juga untuk loncat dari jembatan tapi karena demi taruhan Mario rela seakan-akan ia bunuh diri karena Tania padahal sama sekali nggak ada maksud buat bunuh diri ia pun juga takut ketinggian dan kedalaman. Dan hasilnya adalah berhasil membuat Tania ketakutan dan tangan kakinya gemetar begitu. Ia menyuruh Mario untuk turun dari jembatan dan tidak melakukan hal ini dia takut kalau misalkan ia dijadikan saksi atas sesuatu hal yang tidak diinginkan karena pikirannya sudah kesana kemari membayangkan apa yang terjadi ke depan ia takut Mario melakukannya. Perlahan Mario pun turun dari jembatan dan mengulangi pertanyaannya kembali kepada Tania apakah ia akan menerimanya sebagai pacarnya? Sempat Tania terdiam sejenak untuk menjawab pertanyaan dari Mario, ini bukan pertanyaan yang mudah tapi sulit sekali karena komitmen diantara keduanya apalagi mereka masih duduk di bangku SMA yang sama-sama belum bisa memikirkan ke masa depan. Ya walaupun bisa menjadi penyemangat tapi kedepannya bisa menjadi sesuatu yang mungkin lebih baik. Mario mendesak Tania untuk menjawab pertanyaannya.
"Ayo buruan lo jawab pertanyaan gue kalau nggak gue bakalan----" Tania langsung menjawab cepat untuk menyiapkan kalau misalkan ia ingin menjadi pacarnya Mario, rasanya lega banget untuk menjawab pertanyaan ini bukan maksud untuk senang tapi karena takut Mario melakukan bunuh diri. Akhirnya rencana Mario berhasil mengelabui Tania seakan-akan ia benar-benar bucin kepadatan ia padahal enggak sama sekali. Ia sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang disekitar seakan-akan ia beneran cinta. Ia pun mendekat kepada Tania mengucapkan terima kasih dan ketika ia ingin memeluk Tania, Tania langsung mengundurkan diri memberikan aba-aba kalau misalkan mereka belum pantas untuk berpelukan satu sama lain apalagi mereka memakai seragam. "Makasih banyak ya udah terima gue jadi pacar lo jadi kita sekarang udah resmi jadian nih?" Ia belum nyangka kalau misalkan Mario orang yang ada dihadapannya sekarang atau orang yang ia kagumi selama ini sudah resmi menjadi pacarnya tidak menyangka Maria bener-bener menembaknya cowok populer yang ada di sekolah.
"Ya habisnya lo sendiri nggak mau terima gue jadi pacar lo, ya mungkin ini adalah jalan yang paling terbaik gue lakuin ya udah deh gue lakuin aja kalau misalkan gue nggak bisa bahagia sama lo ya udah gue bunuh diri aja!" Speak Mario yang meyakinkan Tania yakin ketika ia mengatakan ini Tania pasti ke-gr-an seolah-olah dia adalah orang yang paling beruntung mendapatkan Mario karena berkorban sekali padahal enggak sama sekali.
"Jadi kita sekarang pacaran nih kok gue kayak aneh gitu ya?" Tania teringat dengan ucapan Bagus kalau misalkan Mario hanya menjadikannya bahan taruhan. Apakah ini adalah sebuah trik Mario untuk mendapatkan Tania menjadi seorang pemenang. Tania bukan orang yang bodoh seakan-akan atau seandai andai dengan cepet dikelabui.
"Apa ini ada hubungannya dengan sebuah taruhan itu?" Ungkapnya sambil menatap kedua mata Mario dengan tatapan yang tajam dan datar.
"Makanya kalau ditolak jangan main bunuh diri aja dong!" Ucap salah satu warga yang menegur aksi dari Mario. Perlahan mereka membubarkan diri masing-masing dan membiarkan Mario dan Tania dengan keadaan yang kondusif. Tania menaikkan jari kelingkingnya kepada Mario ia ingin kalau misalkan Mario berjanji kalau misalkan hubungan ini bukan hubungan settingan tapi melainkan hubungan yang benar-benar asli dan yang paling penting adalah Mario harus bisa meyakinkannya ini bukan karena taruhan. Awalnya Mario tampak ragu tapi urusan ini adalah urusan belakangan ia pun langsung saja mengaitkan tangannya kepada tangan kelingking Tania dan dia tersenyum. Rasa sedikit bingung pun terlihat sekali tapi mungkin ini adalah cara bagaimana dia bisa memenangkan sebuah taruhan tersebut. Tiba-tiba saja ia mendapatkan pesan notifikasi dari Kevin, ia melihat pesan teks tersebut apakah dia sudah melakukan aksi gila tadi Dani langsung saja membahas tanda jempol kepada Kevin dan ia kirim langsung.
"Gue kan cupu kenapa sih lo mau jadi pacar gue? Gue ini nggak cantik sama sekali gue cupu!" Tania lagi dan lagi insekyur dan tidak percaya diri dengan apa yang ia punya sekarang. Bahkan ia tidak pernah mengakui dirinya cantik.