
Giska gelisah sekali, ia melirik ke kanan dan ke kiri ia takut ada orang yang mengenalinya dari arah tak terduga, tapi Juan malah santai saja. Ia menyuapkan makanan ke mulutnya dengan santai. Kedua kaki Giska seakan dingin banget karna takut, banyak sekali pikiran-pikiran di pikirannya yang memikirkan dugaannya kalau ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Entah feeling dari manakah ini terjadi?
Langkah Mario langsung saja terhenti ketika ada seseorang yang tak asing menjadi pandangannya. "Siapa sih? Salah orang kali."
"Coba kita samperin aja yuk." Ajaknya yang lebih dulu berjalan ke arah sana.
"Hai." Sapa Mario yang berdiri di tengah-tengah mereka berdua.
"Kalian kenapa bisa berduaan?" Tania dan Mario memergoki mereka berdua. Pastinya panik banget dan terkejut sekali ketika Mario dan Tania mengejutkan mereka. Mereka langsung saja merenggangkan jarak satu sama lain. Juan langsung saja berdiri namun Mario menahannya dan tertawa dengan sikap Mario.
"Ehem ada apa nih? Kok bisa ada di sini sih? Kalian ngapain berduaan? Kalian mau makan ya?"
"Ya udah makan aja. Makan aja santai aja kalian berdua. Jangan panik gitu. Kita cuma kaget aja kenap kalian bisa makan di sini." Mario menggoda mereka berdua. Entah kenapa Giska terdiam kikuk seperti takut dan malu padahal gak papa juga kalah beneran.
Juan merapikan baju dan kerahnya seakan biasa saja tapi ada apa-apa. Mario berputar mengililingi Juan yang sedang ketakutan. "Beneran nih? Yakin? Hati-hati loh ya!"
"Hahahaha bisa aja lo ngomongnya! Jangan takutin gue ya!" Tepuk Juan dengan begitu aja.
"Kalian berdua pacaran ya? Kenapa malah sembunyi-sembunyi gini? Gak papa kali, ya ampun kalian ya!" Ucap Tania kepada Giska dan Juan yang ketahuan mereka berdua. Mereka hanya bisa tersenyum satu sama lain karna bingung harus seperti apa lagi.
"Duh gue malu banget sumpah." Batinnya dalam hati ia sama sekali tak menyangka kalau misalnya apa yang ia jalani hari ini terbilang apes sekali.
Karna takut malu Juan dan Giska pergi dari hadapan mereka berdua yang mengecengin dan memergoki mereka berdua setelah acara makan mereka telah selesai, ia pun langsung saja membayar ke kasir. Karna terlanjut malu Juan pun membawa pergi Giska. "Ya udah kalau gitu gue sama Giska permisi dulu ya! Maaf nih kita berdua gak bisa jalan bareng." Sahutnya yang pergi begitu saja.
Setelah pergi Mario hanya bisa tertawa dengan sikap Juan yang aneh banget kayak tadi. "Kenapa mereka gak ngaku aja sih kalau mereka itu lagi deket, Giska tertutup banget sih orangnya." Ucap Tania yang melihat keanehan Giska seperti bukan Giska banget yang malu-malu seperti itu. Karna tau mau ikut campur mereka pun jalan kembali.
"Aduh gue malu banget nih ketahuan mereka berdua kan, lo sih ngajaknya ke sini kan jadi malu ketemu sama mereka!" Giska panik banget pas tau Tania memergoki dirinya dan Juan. Sedangkan Juan malah terlihat santai sekali dengan hal ini ia sama sekali tak merasa ketakutan dengan apa yang terjadi, Giska malah berbanding terbalik karna ia terlalu pemikir dengan hal ini.
"Udah santai aja ngapain takut segala sih, gak usah takut santai aja. Kenapa malah di bawa ribet sih? Ya kalau ketahuan juga gak masalah kali." Mario meraih tangan Tania untuk berpegangan tangan, masa mereka jalan jauh-jauhan kan jadi gak lucu. Ia memejamkan kedua matanya sejenak lalu meraih tangan Tania. Pertama gagal karna tangan Tania yang seakan-akan menolaknya.
Mario menegur Tania untuk bisa bergandengan bersama. "Ayo, kenapa malah diam aja? Kita ini pacaran loh!" Bisiknya yang membuat Tania menggelitik.
"Ya udah." Mereka berdua bergandengan begitu erat sekali layaknya pacaran pada umumnya. Tak henti-hentinya Tania deg-degan banget dengan keadaan di tempat umum ini sama sekali deg-degan. Ia sama sekali tak menyangka kalau misalnya Mario bisa jadi pacarnya cowok populer yang ada di sekolah bisa memilihnya jadi pacar sebagai cewek cupu sekolahan.
Di dalam hati Mario yakin kalau Tania memiliki rasa yang lebih dan ia yakin ia sudah bisa mengambil hati Tania agar sebentar lagi taruhan ada berakhir. Dan sampai detik ini Tania masih masuk ke dalam perangkapnya, sampai waktunya tiba ia akan memutuskan Tania dalam hubungan ini. Mario adalah cowok yang tak punya hati sama sekali menyakiti Tania orang baik yang menjadi tumbal rencana ia dengan Kevin, ide gila emang mereka berdua.
***
Tania merebahkan kepalanya ke tempat tidur. Ia mendapatkan notifikasi dari Giska dan ia langsung saja mengangkat nomor tersebut. "Iya kenapa? Tumben nelfon? Udah selesai jalannya sama Juan?" Ledeknya dengan cepat namun di tanggapi Giska dengan gugup.
Giska
"Hahaha gak papa kali, santai aja jangan di bawa pusing, gue mah santai aja kalau lo suka sama Juan! Gue juga gak melarang mau lo dekat sama siapa!"
Giska bernapas dengan lega karna ternyata tidak seburuk apa yang ia pikir kali ini. Tapi tetap saja ia malu dan gengsi.
Giska
"Pokoknya gue gak mau ah, kalau ketahuan sama yang lain. Gue ogah pokoknya, gue malu. Gue mohon sama lo jangan kasih tau yang lain ya. Gue sama sekali mau!"
"Oke deh kalau gitu, gue bakalan tutup mulut kok supaya jangan sampai ketahuan siapapun oke?"
Giska
"Oke deh kalau gitu."
Telfon pun di matikan oleh Giska. Ia lega juga bisa kasih tau hal ini kepada Tania agar tak memberitahukan hal ini kepada Sekar. Giska hanya bisa mondar-mandir dengan hal ini. Ia bercermin di depan cermin untuk bisa setegar dulu. "Ya ampun kenapa gue jadi gugup begini sih?" Giska berdiri di depan cermin, ia masih ingat sekali ketika Mario dan Tania memergokinya di tempat makan tadi. Ia masih terasa malu sampai sekarang. Walaupun Tania sudah berjanji akan tidak membocorkan hal ini kepada Sekar tapi tetap saja malu. Ia menelfon kembali Tania untuk tidak mengatakan hal ini kepada Sekar.
Tania
"Iya hallo kenapa?"
"Gue mohon jangan kasih tau Sekar ya!"
Tania
"Iya, gue gak bakalan kasih tau ke Sekar kok. Kenapa sih lo kayak takut banget. Gak papa juga kali kalau dia tau soal ini. Kan dia sahabat kita juga toh?"
"Iya gue takut dia sahabat kita, tapi kan gue malu banget tau gak sih. Gue malu banget. Gimana dong?"
Tania
"Hahaha ya udah gue gak bakalan kasih tau kok. Tenang aja ya!"
"Ya udah makasih kalau gitu ya tan."