
Jadi rencananya hari ini bakalan ke pasar malam karena biasanya setiap hari selasa ada pasar malam. Giska dan mama hari ini ke pasar malam karena sudah lama banget. "Mah lama banget ya kita nggak ke pasar malam."
"Hah kamu mau ke pasar malam?"
"Hahaha ya udah lama banget kita enggak pasar malam temenin mama mau beli sayur sama ikannya di pasar!" Giska pun mengikuti suruhan dari mama. Kali ini tak perlu diantar oleh supir pasar malam yang begitu dekat sekali dengan rumah. Mamanya Giska membeli sayur-sayuran dan ikan karena tak hanya baju-baju dan sendal sendal tapi ada juga bahan pokok lainnya.
"Itu kan Juan? Dia sama siapa? Kok bisa ada di sini sih?" Ungkap dari Giska yang melihat dari kejauhan. Juan sedang asik mencari sesuatu yang ingin ia pilih di pasar malam. Giska mencoba untuk mendekat apakah benar apa yang ia pikirkan apa yang ia lihat itu adalah orang yang ia maksud karena pengunjung yang begitu ramai sekali ditambah juga ini malam.
"Mah bentar ya mah." Giska mendekat dan memperhatikan siapa cowok yang ada di depannya seperti sosok yang tidak pernah membuatnya melesat.
"Tumben banget cowok kayak dia bisa ada di sini?" Giska diam-diam mengambil foto dari kejauhan dan menyimpannya di dalam galeri. Semakin dekat dan semakin dekat.
"Juan?" Dan Juan berada di depan sekarang.
"Kok lo bisa ada di sini sih?" Ternyata Juan sadar kalau misalkan Giska sedang memperhatikannya dari kejauhan dan mereka kepergok ketahuan bareng.
"Loh seharusnya gue yang nanya sama lo kenapa lo bisa ada di sini? Lo ngikutin gue ya apa lo jangan-jangan punya CCTV ih gue takut deh?" Tanyanya balik kepada Giska.
"Ya gak papa, lo sendiri ngapain di sini? Jangan kepedean ya."
"Gue nemenin nyokap buat belanja sayur sama ikan." Tak berapa lama mamanya Giska menegur yang sedang asyik mengobrol dengan Juan.
"Hei ya udah yuk kita cari yang lain ini temen kamu?"
Dengan cepat Juan langsung saja memperkenalkan diri. Dan bersalaman kepada mamanya Giska. "Hallo, salam kenal tante saya Juan." Ucapnya yang begitu ramah sekali kepada namanya Giska. "Kamu sendirian aja disini?" Juan mengangguk dan tersenyum.
"Iya tante aku sendirian aja ya udah kalau gitu aku pamit permisi dulu ya tante!" Angguknya.
Sepanjang jalan mama mempertanyakan cowok yang baru saja tadi permisi yaitu Juan. Giska takut kalau misalkan mama salah paham. Karna seperti yang mama pikir selama ini kalau misalkan ia dan Juan tidak ada hubungan apa melainkan hanya teman sekolah.
"Dia itu pacar kamu ya kenapa kamu nyamperin dia tadi?" Dengan cepat Giska langsung saja menggelengkan kepala kenapa mama bisa mengatakan itu.
"Hahaha bukan kok mah, kok mama malah mengatakan hal ini sih?"
"Ya kali aja dia pacar kamu ya udah kalau misalkan kamu pengen pacaran sama dia Mama dukung kok selagi itu hal yang positif hal yang tidak merugikan satu sama lain dan bisa bikin belajar kamu lebih baik ya udah jalanin aja mama juga kayak gitu kok dulu buat penyemangat doang!" Kok mamah mendukung sih kedekatan Giska dan Juan padahal sama sekali tak ada niat untuk dekat. Apakah ini pertanda kalau misalkan mereka berdua memang ditakdirkan untuk bareng-bareng dan bersama?
"Enggak kok mas santai aja aku sama dia cuma temenan doang kok lagian juga kita nggak deket-deket amat." Ketawa Giska tak begitu semangat sekali seakan-akan tertekan.
Akhirnya sampai juga di rumah sekitaran pukul 09.30 malam. Sebelumnya dia menaruh ikan dan sayur-sayuran ke dalam kulkas tapi sebelum masuk ke kamar ia membersihkan tangan dan kaki terlebih dahulu agar lebih steril dan bersih begitupun dengan mama.
Giska merasa kalau misalkan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang ia pun memegang lehernya yang seketika merinding.
"Kok kayak ada yang ngikutin gue dari belakang ya!" Ternyata ada Juan di belakang, mana sopir lama banget nih jemput biasanya jam segini sudah pulang sudah dijemput di depan. Tapi sama sekali nggak ada ada batang hidung mobil putih yang ada di depan sekolah yang biasa menjemput.
"Hei lo mau pulang bareng sama gue nggak?" Tanya Juan kepada Giska dia takut perasaan yang kemarin yang menggebu-gebu berubah menjadi perasaan yang sama di hari ini. Ia terus saja berjalan ke arah depan. Namun Juan tetap saja mengikutinya dari belakang dan terus mengajaknya pulang bareng hari ini. Dan akhirnya Giska pun menyerah dan mau duduk di belakang bersama Juan. Jantungnya seketika langsung saja terpacu begitu kencang apa yang ia rasakan kemarin ternyata ia rasakan kembali sekarang apakah ini yang namanya jatuh cinta?
"Lo tadi malam mimpiin gue ya?"
"Hah? Maksud lo? Kok mimpiin lo sih? Aneh banget deh." Jantungnya berdebar lebih kencang banget.
"Ya kan kemarin kita ketemu di pasar malam ya kali aja gitu belum mimpiin gue gara-gara lo nggak bisa ngelupain muka gue jadi kebawa tidur gitu!"
Giska hanya tersenyum. "Makanya jadi orang jangan kaku-kaku banget santai aja kali nggak usah di kaku-kakuin, gara-gara lo suka sama gue?" Dengan pedenya Juan mengatakan ini kepada Giska.
"Lo mau nggak sama gue jadi pacar gue?"
"Hah pacar?" Entah kenapa jantungnya berdebar dan berdegup lebih kencang.
"Kenapa kok lo malah diem aja sih gue kan nanya lo mau enggak sama gue jadi pacar gue? tinggal di jawab aja mau atau enggak!"
"Haha kenapa lo malah diem aja gue kan nanya jangan panas dingin gitu dong kelihatan banget nih dari kaca spion motor gue!" Dibuat tak karuan oleh Juan, Giska merasa panas dingin badannya padahal sama sekali ia tidak merasa sakit mungkin gara-gara grogi kali.
"Tumben banget sopir lo nggak ngejemput lah biasanya dijemput juga?"
"Tau dari tadi ditelepon telepon enggak ngangkat dan gue chatting juga nggak dibalas ya udah deh gue jalan kaki eh ternyata lu malah ngajakin gue pulang bareng."
"Ya berartikan gue ada fungsinya juga nggak yang kayak gimana-gimana banget kan?"
"Ya ampun pedenya kebangetan banget sih jadi orang santai aja. Jangan sok-sokan kegantengan gitu deh!"
"Haha tapi karena emang gue ganteng kan makanya lo mau pulang bareng sama gue?" Giska sudah enek dengan ucapan dari Juan.
"Ya ampun gue mau loncat aja langsung ya!"
"Eh jangan entar kalau misalnya lo kenapa-napa gimana?" Motor secara tiba-tiba diberhentikan begitu saja.