
"Vit, menurut lo si Tania udah kapok nggak sih sama sesuatu yang kita lakuin kemarin eh maksud gue yang lo lakuin kemarin?" Tanya Tami sambil memasukkan buku-buku ke dalam tasnya karena ini sudah jam pulang sekolah.
Respon Vita hanya menggeleng karena sama sekali tak ada perubahan kita tetap saja melihat kedekatan antara Mario dan Tania.
"Kok bisa begitu ya gue sampai sekarang heran banget kenapa Mario bisa deket sama Tania padahal kan tipenya bukan dia banget kalau lihat aja penampilannya cupu begitu ya nggak sih?" Tami heran dengan tingkah Mario yang berubah 180 derajat.
"Iya gue bingung banget gue harus cari cara supaya mereka terpisah tapi gimana caranya bantuin gue ya nanti? Ya udah kalau gitu gue pulang duluan ya gue lagi nggak enak badan nih lo pulang hati-hati ya!" Tami mengangguk ucapan dari Vita, ia membiarkan pita keluar dari kelas sendiri.
Setelah mendengar kalau misalkan Mario ingin ke rumahnya ia pun langsung saja melontarkan Pertanyaan kenapa Mario malah ingin ke rumah ada apa ini seharusnya ia harus pulang ke rumah terlebih dahulu mengganti pakaiannya. "Kenapa sih lo mau ke rumah gue?" Tanya Tania yang melihat Mario ke rumahnya dengan begitu bersemangat sekali padahal Maria bisa saya belajar sendiri di rumah tanpa harus ke rumahnya.
"Ya gue kan pengen belajar jadi ya udah gue ke rumah lo aja emang enggak boleh apa? Boleh gak? Bolehlah masa enggak!"
"Ya udah deh kalau gitu boleh tapi kalau udah belajar langsung pulang aja ya soalnya gue mau istirahat badan gue belum terlalu fit." Mario tersenyum lalu mengangguk. Dari kejauhan Vita dan Bagus hanya bisa melihat kedekatan antara Mario dan Tania.
Deheman terdengar dari suara Vita kepada Bagus. "Kalau suka atuh bilang aja nggak usah sok-sokan lihat dari jauh ntar sakit hati." Bagus tak menggubris sama sekali ucapan dari Vita karena ia yakin semakin ditanggepin semakin menjadi-jadi jadi harus di diemin aja.
"Ternyata Tania belum kapok juga sama gue, ternyata dikunciin di gudang menurut dia kayaknya biasa aja deh nggak terlalu yang kayak gimana. Oke nanti gue bakalan bikin sesuatu hal yang bikin dia kapok dan gak mau deket deket lagi sama Mario lihat aja entar nanti." Batin Vita dalam hati.
***
Mario mampir sebentar ke pinggir jalan untuk membeli martabak dan lumpia jadi istilahnya tidak hanya membawa tangan kosong saja ke rumah Tania. Perasaan Tania sudah tidak enak karena Mario terlalu royal sekali sedangkan ia sama sekali belum membalasnya sedikitpun. "Bentar ya lo tunggu di sini dulu." Ia masuk ke dalam untuk membeli.
Setelah membeli mereka pun langsung saja pergi dan menuju ke rumah Tania.
"Makasih banyak ya udah bawain martabak sama lumpia makasih udah repot-repot." Ucap mamanya Tania kepada Mario.
Mereka pun memulai pelajaran hari ini walaupun mereka tidak sekelas tapi pelajaran yang diajarkan tetap sama materinya. Mario semenjak kenal dengan Tania atau semenjak dekat dengan Tania, Mario semakin rajin dalam belajarnya biasanya ia paling males banget untuk belajar makanya selama ini nilai-nilai di sekolah selalu jeblok dan tidak pernah masuk ke nilai 70. Dan sekarang perubahan itu sangat terlihat sangat jelas bahkan nilai-nilai Mario udah mulai tinggi dari awalnya tidak pernah 50 kini berubah menjadi nilai 60 dan bahkan pernah waktu itu dapat nilai 75 dan disangka teman-temannya dan kedua orang tuanya itu nilai dari hasil contekan padahal ia belajar dan salah satunya yang mendorong Mario seperti sekarang yaitu Tania secara tidak langsung walaupun Tania sendiri tidak pernah mengharapkan balasan sedikitpun kepada Mario ia seolah-olah ikhlas ingin membantu Mario untuk dapat nilai yang bagus di sekolah atau di kelas. Tania memberikan aura positif kepada Mario secara tidak langsung dan Mario pun kini berubah menjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya karena dulu sering bolos di kelas dan males banget untuk belajar matematika tapi sekarang matematika membuatnya candu dan suka.
"Kalau misalkan lo dapat nilai yang bagus berarti itu tandanya usaha lo selama ini berhasil."
"Inikan atas bantuan lo juga dengan nilai-nilai gue yang udah membaik nggak mungkinlah gue pintar sendirian pasti ada orang yang ngedukung gue untuk dapat dinilai itu semua. Makasih banyak ya udah ngajarin gue selama ini gue senang bisa temenan sama orang sepintar lo dan sebaik lo."
"Haha nggak apa-apa kok santai aja, tapi kalau boleh jujur gue sampai sekarang belum yakin kalau misalkan lo berubah tapi tenang dulu maksud gue, gue nggak yakin lo beneran temenan sama gue dengan hati yang tulus. Ya gue tahu sih apa yang gue omongin ini nggak baik tapi iya emang kayak gitu kenyataannya bilang rasanya!"
Mario menunduk kebawah seolah-olah Tania sudah mengetahui kalau misalkan pertemanan ya selama ini bukan karena ketulusan tapi karena taruhan. Misi belum selesai untuk mengatasinya ia pun langsung saja mengambil martabak dan memasukkan kedalam mulutnya untuk menghilangi rasa grogi dan kebingungan menjawab dari pertanyaan Tania. "Minum dulu ntar keselek." Tania mengambilkan minuman kepada Mario menyuruhnya untuk minum agar tidak tersedak.
"Kalau dilihat-lihat cantik juga ya?" Puji Mario yang membuat Tania tersipu malu dengan gombalan itu.
"Apaan sih, gue ini cupu bukan cewek cantik."
"Haha lo cantik kok walaupun bukan dari fisik tapi hati lo yang bikin lo cantik ibaratnya innerbeauty lo terlihat banget."
"Gue nggak boleh baper sama ucapan Mario bisa-bisa gue suka sama dia dan menaruh hati gue takut ekspetasi gue tidak sebaik apa yang diucapkan dia bukan gue maksud untuk berprasangka buruk tapi gue takut aja ketika gue udah jatuh cinta tapi ternyata jatuh cinta gue pada cinta yang salah!" Batinnya.
Mario melambaikan tangannya di depan muka Tania seolah-olah Tania sedang bingung memikirkan sesuatu hal. "Hei lo nggak papa kan kok kayak bengong itu?"
Tania menggeleng dan melanjutkan belajar mereka agar cepat selesai karena bisa-bisa jantung bisa copot karena terlalu menatap Mario yang begitu ganteng sekali. Gak nyangka banget bisa sedekat ini dengan Mario cowok yang dulu ya kagumi yang tidak akan mungkin atau mustahil untuk didekati tapi ternyata sudah sejengkal ini dekatnya. "Bentar lagi selesai nih coba dong lo cek apakah benar jawaban gue?"