
Dari pagi Giska tak makan atau bisa di bilang tidak sarapan yang padahal ia harus sarapan terlebih dahulu jika di rumah tapi kali ini telat. "Aduh gue pusing nih."
"Lo kenapa?"
"Eh lo nanti ke ulang tahun Vita kan?"
"Hm."
"Bagus deh gue pikir lo gak bakalan datang." Melihat ekspresi dari Juan ia pun langsung saja bingung dan menanyakan kepada Giska.
"Lo kenapa kok megang kepala gitu? Sakit ya?"
"Gak tau kenapa kepala gue pusing aja." Ucap Giska yang melihat Juan ada di hadapannya sekarang. Ia juga tak sadar.
"Mau gue anterin ke kelas?" Sahutnya yang malah membuat Giska tergelitik.
"Gue mau ke UKS bentar doang kok." Juan pun mengikuti Giska dari belakang menuju ke UKS. Bisa-bisanya mereka tak sejajar sama sekali untuk menuju ke sana. Giska sadar sekali kalau misalnya Juan mengikutinya namun ia tak mau membalikkan badannya ke belakang.
"Kenapa tuh orang malah ngikutin gue?" Batinnya yang senang melihat Juan yang malah menunggunya di belakang sampai di UKS. Ia yakin banyak orang-orang yang melihat keanehan yang begitu langka sekali menemani pikiran mereka.
Giska mengambil minyak kayu putih lalu oleskan ke kepalanya untuk membuat kepalanya tak sakit lagi. Tak perlu waktu lama ia pun keluar kembali dengan keadaan Juan menunggu di luar. "Kenapa?" Giska hanya bisa menggeleng melihat Juan bertanya seperti itu. Ia pun melangkahkan kaki menuju ke kelas.
"Ya udah gue ke kelas dulu kayak gitu." Ia masuk ke dalam kelasnya tapi sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.
Giska mengetuk pintu kelas di sela guru sedang mengajar di depan dan mengucapkan salam. Ia di persilahkan masuk ke dalam dan duduk. "Lama banget lo dari mana?"
"Gue tadi ke UKS bentar, di temenin sama Juan."
"Juan? Kenapa bisa dia?" Tanya Tania kepada Giska, di sela jam pelajaran sedang berlangsung.
"Enggak papa kok, ya udah yuk kita belajar." Sahutnya yang menggeleng mengatakan tak apa-apa.
"Mereka berdua pacaran? Kenapa bisa kayak Mario ya? Berbarengan gitu ngedeketinnya ada apa emang ya? Atau mereka merencanakan sesuatu di balik itu ya? Kayaknya di sesuatu yang harus ditanyain langsung deh sama Mario ya kalau nggak ditanyain enggak mungkin banget mereka bisa ngedeketin kita berdua soalnya kan selera mereka ya sama sama seperti mereka." Sahutnya dalam hati yang menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
***
Kevin dan Mario keluar dari kelas akhirnya pelajaran hari ini yang begitu melelahkan usai juga. Juan masih teringat tentang Giska tadi yang pusing. Ia masih memikirkannya. Ia pun melihat ke kelas Giska apakah sudah sembuh atau belum? "Kira-kira dia sudah sembuh atau belum ya?"
"Kita pulang duluan ya." Tepuk Kevin di bahu Juan.
"Ngapain lo ngeliat ke kelas geng cupu? Lo kayak Mario juga?"
"Apaan sih enggak kok. Gue cuma mau memastikan doang apakah dia udah sembuh atau belum. Udah gitu aja." Sahutnya yang asal tapi malah membuat Mario dan Kevin geli dan mereka berdua pun tertawa.
"Hahaha cie! Kenapa lo? Ada apa nih?" Tunjuk mereka berdua.
"Nggak ada apa-apa kok kalian aja yang terlalu berpikir serius dan curigaan ada enggak ada masalah apa-apa ya udah deh kalau gitu gue cabut dulu ya. Nanti kalau misalkan ke ulang tahunnya Vita kabar-kabarin aja ya."
"Juan kenapa sih kok jadi mendadak baper kayak gitu? Aneh banget! Biasanya juga santai banget nanggepinnya sama bercandaan kita apa dia lagi PMS ya?"
Mario tertawa dengan ucapan Kevin bisa-bisanya sahabatnya malah dikatain PMS seperti cewek. "Apaan sih lo dia kan cowok kenapa jadi ada PMS?"
***
Kenapa harus membeli hadiah berdua segala? Kenapa gak sendiri-sendiri? Mario sudah menunggu di luar rumah Tania. "Lo ngapain di sini?"
"Temenin gue ke mall mau? Beli hadiah buat Vita."
"Ya udah deh, tapi kenapa gak di kasih tau dulu? Biar gue siap-siap?" Ia hanya tersenyum saja dengan pertanyaan Tania. Jadi seperti itulah pertanyaan dari Tania tadi pada di rumah.
Mario dan Tania memilih-milih hadiah
ulang tahun yang akan ia berikan kepada Vita. Harga-harganya mahal banget dan tak ada satupun yang di ambil oleh Tania karna mahal dan uangnya tidak cukup sama sekali. "Kenapa kok nggak dipilih sih hadiahnya dari tadi?"
"Ini hadiahnya mahal-mahal ya di sini?" Dengan polosnya Tania mengatakan hal tersebut. Lantas membuat Mario malah tersenyum ucapan dari Tania. Dia pun hanya bisa menggeleng dan berjalan kembali untuk memilih hadiah yang lain.
"Gimana nih gue harus beli apaan ya gue kan cuma bawa uang Rp. 100.000 itu kan uangnya ada dalam celengan gue." Batinnya dalam hati.
Dia pun mengambil apapun yang ada di hadapannya sekarang. Mario sudah membayarkannya di depan. "Ayo buruan!" Dengan berat hati ia pun langsung saja membawanya. Untungnya Mario tak menertawakannya.
Mario hanya bisa diam saja dengan tingkah Tania yang seperti itu. Ia sama sekali tak bertanya sedikitpun. "Kenapa?"
"Gak kok gak papa."
"Lo ikut gue ya sekarang. Gue mau makan lagi."
"Makan lagi? Bukannya sudah makan ya?" Ucapnya yang membuat Tania bingung.
Mario mengajak Tania untuk makan bareng, padahal tadi pagi sudah makan bareng.
"Gimana udah kenyang belum seharian ini bareng sama gue?" Hampir 3 kali makan seharian ini Mario dan Tania, Tania merasa kalau misalkan an perutnya terasa kenyang sekali dan tak dapat memasukkan makanan berat lagi karena mungkin akan dan bakalan sakit perut. Tak berapa lama Mario pun mendapatkan notifikasi telepon yang berdering di sela-sela obrolan mereka berdua dan dia langsung saja mengangkatnya.
"Kenapa?"
"Tadi mama nelpon katanya harus jemput sekarang!"
"Oh ya udah kalau misalkan mama lo pengen di jemput, ya udah gue pulang sendiri juga nggak papa kok."
"Kok gitu sih? Kan tadi kita berangkatnya barang otomatis gue harus antar lo bareng juga ke rumah." Ia tak mau dibilang laki-laki terbaik karena harus mengantarkan Tania pulang ke rumah dengan selamat.
"Nanti lo berangkat ke ulang tahun Vita sama siapa? Mau bareng gue?"
"Gue sama Giska dan Sekar aja. Udah janji soalnya jadi ya bareng ke sana."
"Oh kali aja lo gak ada temannya buat ke sana. Ya udah deh kalau gitu."
Terpikir di pikiran Tania kalau misalnya
Sebagai laki-laki yang baik ia pun mengantarkan Tania pulang ke rumah. Walaupun ia lupa kalau misalkan hari ini sudah janjian sama mama sebelumnya tapi ternyata malah lupa dan jalan seharian sama Tania. "Ya udah deh kalau gitu makasih banyak ya gue langsung pulang aja soalnya habis dari sini gue langsung jemput mama."
"Ya sama-sama kok."