
"Tania?" Mereka benar-benar sangat terkejut sekali ketika Tania tak bersama Mario. Tapi mereka berpura-pura biasa aja dan Leo duduk di samping Tania dengan sangat santainya mereka berdua sama terpesona sekali melihat ada seorang laki-laki yang duduk di samping Tania tapi bukan Mario.
Yang mereka tahu kalau misalkan selama yang berpacaran dengan Tania itu adalah Mario bukan laki-laki yang ada di hadapan mereka berdua laki-laki dan laki-laki yang berpakaian sangat modis.
"Dia sebenarnya siapa sih kok kayaknya dekat banget sama Tania apakah mereka berdua udah putus?" batin Sekar dalam hati melihat laki-laki yang ada dihadapannya sekarang benar-benar laki-laki yang tampan dan juga berwibawa bahkan dari penampilannya saya bukan dari kalangan orang biasa melainkan kalangan orang kaya.
"Oh iya kenalin jadi dia ini adalah atasan gue dan kita berdua sengaja kesini ya karena dia pengen mampir aja gitu dan terima kasih banyak ya Pak udah nganterin saya ke sini!" Lantas membuat Leo benar-benar tersenyum dengan ucapan Tania dan mereka pun akhirnya bernafas lega karena ternyata hanya sekedar atasan doang mereka pikir ini adalah laki-laki atau pacar dari Tania tapi ternyata bukan.
***
Tak sengaja ke tempat ini Mario pun dengan cepat melihat Tania dengan seorang laki-laki dan kedua sahabatnya, dengan cepat pula ia menghampiri Tania dan menggebrak meja tidak terima melihat seorang laki-laki yang ternyata bukan dirinya yang padahal dia adalah pacarnya sendiri.
Dan mereka yang awalnya santai seketika langsung panik dan berdiri hanya berusaha untuk menenangkan Mario atau tidak salah paham dan memberikan penjelasan tapi nyatanya tidak sama sekali. "Kamu jangan ngomong kayak gitu dong kamu tuh cuma salah paham doang kamu nggak ada----"
"Apaan sih, jadi ini alasan kamu buat nggak mau satu kampus sama aku ya karena aku udah punya selingkuhan. Dan kamu itu emang murahan banget itu perempuan udah diberi hati ternyata minta jantung aku mencintai kamu terus kenapa kamu malah kayak gini sama aku tega banget tau enggak sih?" Sorot matanya bener-bener tajam banget ketika menyorot ke arah mata Tania, Tania aku sebagai seorang perempuan hatinya langsung bergetar bahkan ia tidak bisa berkata-kata setelah beberapa detik Mario mengatakan hal seperti itu. Lantas sebagai seorang laki-laki Mario sama sekali merasa tersaingi oleh laki-laki yang ada di samping Tania bahkan laki-laki tersebut dia sudah pernah melihat sebelumnya ketika di kantor mana di mana Tania bekerja.
"Hei kenapa sih lo salah paham sama gue gue sama lo nggak ada hubungan sama kamu ya dia itu adalah bawahan gue jadi lo nggak usah keterlaluan emosi kasian Tania tau nggak sih!" Naluri sebagai seorang laki-laki Leo merasa terkejut sekali ketika seorang laki-laki lain membentak seorang perempuan ya walaupun itu adalah pacarnya sendiri dengan cepat ia pun mengambil tisu yang ada dihadapannya lalu menyuruh Tania untuk menyeka air matanya tersebut agar tidak jatuh terlalu banyak.
Mario memang benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi bahkan orang-orang yang di sekitar sini melihat apa yang terjadi dan salat mata mereka langsung ke arah meja yang ada di nomor 32. Tania seketika sebagai seorang perempuan yang selalu meneteskan air mata karena kata-kata yang kasar terlontar langsung dari Mario. Ia sama sekali tidak menyangka kalau misalkan Mario bisa juga mengatakan hal kasar seperti ini kepadanya padahal selama ini ia tidak pernah berharap diperlakukan seperti layaknya seorang princess.
"Kamu sumpah sangat keterlaluan banget tau enggak sih dari dulu sampai sekarang ternyata aku pikir kamu udah berubah tapi nyatanya kamu enggak berubah sama sekali ya udah kalau gitu kalau misalkan kamu udah nggak mau ngejalanin hubungan sama aku, aku harap kita nggak usah di komunikasi dan aku harap kita putus!"
Jantung Sekar dan Giska benar-benar dak dik duk dan mereka berdua tidak bisa berkata apa-apa karena tidak mau ikut campur untuk urusan masalah pribadi seperti ini. "Gimana ini?" Giska dan Sekar sudah melihat Tania meneteskan air mata selalu laki-laki yang ada di samping kanannya yaitu Leo mencoba untuk menenangkan Tania menyuruhnya untuk duduk dan memberikan air minum agar lebih tenang dan tidak terlalu emosi.
Setelah Mario pergi akhirnya mereka pun berusaha untuk menang menenangkan lainnya agar tidak menangis terus menerus. "Kenapa ya Mario itu nggak bisa banget santai sama keadaan dia langsung saja menyalahkan semuanya padahal aneh banget tau nggak sih gue sama sekali nggak nyangka padahal kita udah sampai sekolah dari dulu?"
"Gue kalau misalkan jadi lo gue bakalan putusin dia juga sama sekali nggak mau kalau digituin enak aja dibentak-bentak gue belum nikah, udah ya nggak usah nangis lagi banyak laki-laki di luaran sana yang jauh lebih baik yang jauh lebih menarik dan banyak juga orang yang paling sayang sama kita!"
"Sudah, dan saya mau minta ma'af sama kamu kalau misalkan saya salah udah bikin kalian berdua putih saya janji bakalan memperbaiki hubungan kalian berdua!"
"Udah Pak nggak usah kayak begitu Tania sudah berhak mendapatkan pilihannya laki-laki kayak gitu nggak berhak dapatin Tania yang lemah lembut kayak begini tega banget sih dia seperti itu!"
***
Untungnya senyawa Mario diberikan kesempatan untuk masih hidup. Karna kalau tidak diberikan kesempatan mungkin saja mereka dilarikan ke rumah sakit atau sudah tidak ada lagi di dunia.
Mario dengan cepat menggeser bangku kosong ada di sampingnya membuat Kevin dan Juan benar-benar bingung apa yang sebenarnya terjadi. "Gue udah putus sama Tania ternyata selingkuh sama atasannya gue sama sekali gak nyangka dan sana tadi ada Giska dan juga Sekar?"
Hah? "Seriusan kalau misalkan kalian berdua udah putus ya ampun gue sama sekali nggak nyangka deh? Kenapa? Lo mungkin yang terlalu cemburu sama Tania itu nggak boleh dikekang, sebelumnya gue udah bilang 'kan kalau misalkan perempuan itu sama sekali tidak suka dikekang semakin kita kekang semakin dia menjauh!"
Mario marah-marah enggak jelas bahkan tadi hampir saja keserempet mobil lain karena tidak fokus membawa atau mengendarai mobil.