
Tiba-tiba hujan pun turun dan suara mama menyuruh untuk masuk ke dalam rumah di luar takut basah. Mario pun dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu. Tania takut kalau misalkan Mario dan mama akrab. Ia lebih memilih untuk mengganti pakaiannya di dalam kamar. "Rumah kamu jauh nggak dari sini?"
"Gak terlalu jauh juga sih tante, tapi kalau naik motor ya sekitar 20 menit sudah sampai kok."
"Oh gitu ya, tante boleh berpesan nggak sama kamu?" Kebetulan mereka mengobrol berdua sedangkan Tania mengganti pakaian di kamar.
"Apa tante?"
"Kamu bisakan jagain Tania kalau di soalnya dari dulu dia selalu dibully sama teman-temannya karena cupu dan dia dikit banget mempunyai seorang teman jadi dia kesepian kamu bisakan jagain Tania?"
"Em jagain kayak gimana ya tante aku jadi nggak ngerti deh maksud apa yang tante bilang?"
Mamanya Tania pun mendekat dan memegang pundak dari Mario ia menjelaskan secara detail kalau misalkan Tania memiliki teman yang sedikit di sekolah waktu SD dan SMP bahkan sampai SMA pun juga seperti itu dan ia sering cerita. Ia tahu kalau misalkan anaknya tidak sekeren dan tidak secantik perempuan-perempuan yang lain tapi ia percaya dalam masalah akademik Tania nomor satu untuk mendapatkannya tapi dalam hal pergaulan Tania sangat jauh sekali maka dari itu ketika ada seorang laki-laki yang mau berteman dengan Tania maka ia mengamanatkan untuk menjaga Tania ketika di sekolah agar tidak dibully lagi. Untungnya Mario mengerti dengan ucapan mamanya Tania, namun dia tidak berjanji untuk bisa menjaga Tania selalu. Tania pun keluar dari kamar dan melihat keseriusan antara mama dan Mario tapi untungnya ia tidak mendengar percakapan mereka tentang apa.
Hujan pun rada Mario berpamitan untuk pulang ke rumah, kalau ia berlarut-larut maka bisa jadi di senja pun datang dan berubah menjadi malam. "Ya udah kalau gitu tante dan Tania aku pulang dulu ya, ya sampai ketemu lagi makasih sudah ah diperkenalkan masuk kedalam untuk menunggu hujan reda."
"Hati-hati ya kamu, semoga sampai tujuan di rumah dan jangan lupa hubungin Tania kalau udah sampai." Tania mendengar hal itu langsung saja menyenggol mama dan Mario hanya tersenyum dengan apa yang mama ucapkan dia tidak berkomentar sama sekali.
Ia berinisiatif untuk mengajak Vita ketemuan. Ia yakin ini adalah ulahnya siapa lagi yang tidak suka hubungannya bersama Tania?
"Mau lo tuh sebenarnya apa sih? Kenapa lo kunciin Tania di gudang? Emang dia salah apa sama lo?" Tatap Mario dengan begitu tajam sekali. Vita bingung kenapa Mario bisa tahu? Pasti Tania yang mengadu-ngadu.
"Maksud lo apaan sih? Gue gak ngerti sama sekali apa yang lo bilang! Oh jadi nyuruh gue ke sini mau marah atau mau menuduh ya?" Sahut Vita yang duduk di pinggiran taman. Dandanannya kali ini seakan tidak berhasil semuanya yang awal moodnya baik berubah menjadi tidak baik dan berubah menjadi bad mood.
"Hahaha gak usah deh. Lo ternyata kayak gini ya? Ternyata lo licik banget. Kalau misalnya anak orang kenapa-kenapa gimana? Lo mau tanggung jawab? Enggak kan?" Desak Mario yang membuat Vita meneteskan air mata karna bentakan itu.
"Lo sebenarnya ngomong apa sih gue sama sekali nggak ngerti apa maksud lo!"
"Susah yah kalau udah ditanamkan rasa licik di pikirannya."
Vita langsung saja menahan Tania dan menampar Tania dengan cepat.
Plak.
"Gimana rasanya sakit nggak, perih nggak?"
"Makanya punya mulut tuh dijaga digunain dengan baik." Ia lupa kalau semua ini adalah ulahnya tapi ia bersandiwara dan drama seakan-akan dia yang dituduh padahal dia sendiri yang melakukannya.
"Hei ngapain sih lo nampar Tania emang dia salah apa sama lo?" Suara Mario langsung saja meninggi ketika apa yang dilakukan oleh Vita secara tiba-tiba.
"Biar dia tahu rasanya dituduh kayak gimana gue nggak ngelakuin kenapa dituduh kayak gini?" Tania terkejut sekali dengan apa yang dilakukan oleh Vita. Bagus pun langsung saja melawan Vita yang selama ini dia tidak berani tapi sekarang ia mulai memberanikan diri untuk melawan Vita dan untuk berlaku kepada siapapun yang jahat. Karena semakin dibiarin maka semakin ngelunjak.
"Lo kenapa sih suka banget menindas orang-orang yang nggak berbuat salah sama sekali lo tahu nggak semua orang tuh sama-sama punya hati, semua orang sama-sama punya perasaan nggak bisa semena-mena lo tampar gitu aja lo udah ngerasa paling oke di sini kita sama-sama sekolah Vita!"
"Maksud lo apa sih nampar Tania? Gue nggak pernah bilang kalau misalkan dia ngadu-ngadu sama gue kalo dia dikunciin di gudang gue dengar sendiri dan gue nggak pernah nyuruh lo buat nampar dia oke banget ya lo disini?"
"Kenapa sih kalian tu nuduh-nuduh gue gue sama sekali nggak ngelakuin kenapa kalian nuduh gue kayak gini?" Apa yang diucapkan Vita seakan drama Tania merasa sebagai seorang perempuan tahu sekali rasanya dituduh tuh kayak gimana ya pun mencoba untuk merangkul Vita untuk menenangkan maksud awalnya tapi ternyata di luar dari dugaan Vita mendorong Tania sehingga membuat Tania jatuh ke bawah. Ketika Mario dan Bagus ingin membantunya untuk berdiri tapi ia memutuskan untuk berdiri sendiri tanpa bantuan oleh siapapun.
"Gue nggak papa kok udah biasa diginiin sama orang-orang yang nggak suka sama gue, gue tahu gue cupu tapi gue juga punya harga diri sama seperti apa yang dibilang Bagus tadi."
"Ternyata sorot Tania terlalu dalam benar kata mamanya dia nggak punya temen dari dulu makanya dia kebal banget kalo di-bully sama orang gue kaya rasa bersalah banget ngebully dia." Batin Mario yang melihat lebih dalam kedua mata atau sorot matanya yang berbeda seakan akan merasa dan menahan pedih yang begitu banyak dan baru ia ucapkan atau ungkapkan sekarang.
Mario berhasil meraih tangan Tania ia mengajak Tania untuk pergi dari mereka semua. Tania memang tidak menangis tapi ia tahu rasanya dibully sama orang-orang yang ia kenal di sekolah terutama. Mungkin awalnya Tania menolak untuk ikut dengan Mario tapi karena tangan Mario begitu keras sekali memegang tangannya maka ia tidak bisa melepaskan dan hanya diam saja mengikuti arah Mario akan membawanya kemana. "Lo nggak perlu khawatir sama gue, gue nggak bakalan ninggalin lo kok, mulai sekarang sampai selamanya!" Tania tidak juga berharap terlalu jauh dengan ucapan Mario hari ini.
"Lo ngomong aja kalau misalnya Vita gangguin loh gue bakalan belain lo kok."
"Gue sama sekali enggak nyangka Vita tadi nampar lo! Kalau dia bukan perempuan ke udah nonjok dia dan berantem tapi gue sadar dia perempuan yang enggak seharusnya gue ladenin!"