Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 80. Vita dan Bagus Bekerja Sama



Vita menghentikan langkah kakinya sebentar melihat Bagus yang baru saja keluar dari kelas.


"Kenapa? Lo manggil gue?" ucapnya begitu ketuk sekali menjawab panggilan dari Vita.


"Gue pengen ngomong sama lo sebentar aja!"


"Mau ngomong apaan? Emang ada kaitannya ya sama gue!"


"Gue pengen ngomong sama lo gue harap lo mau bekerja sama, sama gue!" Vita sengaja mengajak Bagus untuk bekerja sama, agar apa yang mereka inginkan tercapai dan terealisasikan dengan baik.


"Mau kerja sama apa? Lo jangan aneh-aneh ya sama apa yang berhubungan sama gue." Vita sebenarnya sebelumnya sudah mengajak Bagus untuk bekerja sama namun karena Bagus menolak akhirnya ia mengulang kembali untuk mengajaknya.


"Dan lo bisa mendapatkan Tania, gue udah tahu dari lama kok kalau misalkan lo udah naksir sama dia? Jadi kalau menurut gue sih lo nggak usah malu-malu lagi buat mengakui apa yang lo suka itu gue bakalan bantuin kok asal lo juga mau membantu gue."


"Apaan sih, kenapa lo malah berpikiran kayak begitu aneh banget jadi orang!" jawabnya yang tak terima sama sekali dengan apa yang diucapkan oleh Vita.


"Gue pengen kalau misalkan kita kerja sama untuk mendapatkan apa yang kita mau!"


"Gue bakalan mau kalau misalkan ada hasilnya nanti tapi kalau misalkan nggak ada hasilnya ya percuma aja dong?" Vita malah tertawa dengan pertanyaan itu ia tidak main-main untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, jadi enggak mungkin banget kalau misalkan hanya sekedar main-main doang dan hanya omong kosong belaka.


"Ya udah kalau misalkan lo enggak percaya sama dengan ucapan gue ya udah gue bakalan lakuin apapun yang gue mau! Tapi lo harus setuju dulu dengan kemauan gue, gue bakalan bayar berapa pun kalau misalkan udah berhasil gue dapetin Mario kembali dan lo bakalan dapat Tania kayak gitu doang kok repot banget sih." Mereka pun bersalaman satu sama lain untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Vita merasa bahagia sekali akhirnya apa yang ia inginkan selangkah lagi akan lebih maju dengan cara-cara yang lain karena cara yang kemarin adalah cara yang gagal jadi ia mencari cara yang baru untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


Setelah Bagus pergi, Tami pun mendekat. "Lo ngapain ngomong sama dia? Lo mau kerja sama ya sama dia? Emangnya dia bisa diandalkan dan emangnya dia bisa ngebantu kita buat ngelakuin apa yang kita mau?"


"Ya jelaslah dia bakalan mau apa lagi kan gue bakalan kasih imbalan sama dia sejumlah uang ya bakalan mau lah dia! Lo tenang aja gue bakalan ngelakuin apapun yang pengen gue mau dan gue yakin banget Mario bakalan jadi milik gue lagi jadi buat siapa pun yang mungkin ngalah ngalangin gue buat dekat lagi sama Mario akan berhadapan langsung sama gue jadi jangan main-main deh!"


"Ya tapi kalau misalkan Mario nya kayak nggak mau gitu gimana dong? Masa lo harus paksa dia sih buat suka balik sama lo lagi? Apalagi kan Mario sama Tania udah balikan itu tandanya nggak ada kesempatan lagi buat lo buat deketin Mario." Mereka tak terima Vita pun seolah menatap kedua mata Tami.


***


"Makasih banyak ya udah anterin pulang ke rumah ma'af banget nih kalau misalkan ngerepotin." Jadi semenjak mereka berdua udah balikan rutinitas seperti dahulu pun terjadi kembali yaitu Mario mengantarkan pulang Tania ke rumahnya. Itu adalah hal yang sangat biasa sekali jadi nggak ada masalah kalau misalkan nganterin pulang bareng sekalian juga 1 jurusan.


"Ya udah kalau gitu aku pulang langsung aja ya soalnya mau jalan-jalan dulu sama Mama di rumah."


"Iya, sekali lagi terima kasih banyak ya hati-hati pulangnya semoga selamat sampai tujuan." Tania melambaikan tangan kepada Mario yang perlahan-lahan semakin menghilang ia pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Rasanya bahagia banget bisa seperti ini akhirnya Mario enggak jadi buat pindah sekolah.


"Kamu kenapa sih bahagia banget kayaknya ceritain dong sama Mama," ucapnya yang melihat Tania begitu sangat antusias sekali bahkan aura wajahnya tidak bisa dipungkiri kalau misalkan ia sangat bahagia.


"Aku balikan Mah sama Mario kayaknya dia baik banget sama aku dan aku sedih banget pas denger dia pengen pindah sekolah. Gak papa kan kalau misalkan kita balikan?" Mama tersenyum dengan ucapan Anaknya yang sudah semakin hari semakin dewasa ditambah lagi ia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tak ada larangan sama sekali perihal dekat dengan Laki-laki yang terpenting adalah bisa menjaga diri dan bisa menempatkan diri dengan baik dan benar.


"Pokoknya apapun yang terbaik buat kamu Mama selalu dukung dan mama selalu yakin pilihan yang terbaik buat kamu ya itulah yang terbaik jadi mama nggak mau paksain gimana ke depannya kamu sama siapa dengan siapa dan apa langkah yang kamu ambil." Dengan cepat dan refleks mereka berpelukan satu sama lain karena jarang sekali open minded dari seorang Ibu kepada Anaknya tidak ada batasan agar Anaknya tidak merasa minder dan takut untuk bercerita.


"Ya udah kalau gitu aku ganti baju dulu ya di dalam kamar."


Tania mengunci kamarnya untuk berganti baju. "Gue senang banget deh akhirnya bisa balikan lagi sama Mario semoga aja Mario adalah jodoh gue nanti dan sebentar lagi kita akan bakalan lulus sekolah itu tandanya kita nggak akan pernah ketemu lagi. Ah gue berharap semoga gue jodohnya Mario gue enggak mau kehilangan dia ternyata dia udah mulai berubah dengan dirinya sendiri dan gue juga yakin suatu saat nanti kita bakalan bahagia barang-barang sampai menua dan nggak ngerasain rasa sedih lagi dan gue yakin kalau misalkan apapun yang terjadi sama kita berdua dalam suatu hubungan pasti bakalan ada jalan keluarnya."


Mama mengetuk pintu kamar Tania karena dari tadi Tania tidak keluar sekitar 10 menit yang lalu padahal ia bilang tadi setelah ganti baju atau pakaian ingin makan siang di ruang makan. "Iya Mah, sebentar lagi kok bakalan selesai ganti bajunya. Mama duluan aja makannya."


"Ya udah kalau gitu Mama duluan ya makannya."


"Iya Mah, siap!"