
Giska dan mama hari ini rencananya ke mall untuk membeli bahan-bahan dapur yang sudah habis dan sudah menipis persediaan di rumahnya. "Ayo buruan nanti kemalaman kita di mall kan nggak kerasa nanti di sana. Soalnya mama banyak banget nanti belanjaan pasti kamu terkejut."
"Ya udah kalau gitu mau tunggu di bawah ya." Mama pun melangkah maju menutup pintu kamar Giska dengan rapat lalu ia turun ke bawah untuk menunggu anaknya ikut bersamanya bersama supir nantinya menuju ke mall.
Tak berapa lama Giska pun turun ke bawah siap untuk menemani mama ke mall untuk membeli bahan-bahan dapur yang sudah menipis.
"Ya udah ayo mah berangkat." Sopir sudah berada di dalam mobil di luar siap mengantarkan mereka ke mall.
***
Barang-barang yang dijual di mall khususnya kebutuhan yang di dapur hampir semuanya dibeli oleh mama. Karena menurutnya sangat penting untuk kebutuhan 1 bulan kedepan dan Giska hanya bisa mengangguk dan meneruskan ke dalam kereta dorong belanjaan yang berwarna merah. "Kayaknya ini penting juga deh soalnya kalau pagi suka sarapan gitu."
"Mah apa emang nggak kebanyakan ya? Rotinya itu bisa kayak berjamur gitu kalau misalkan kebanyakan?"
"Ya enggak lah kamu kan setiap hari bawa bekal nantinya."
"Nah ini selainya jangan yang ini aja, selainya bermacam rasa supaya kamu nggak bosan."
"Ya udah deh mah ambil aja yang menurut mama penting aku ngikutin aja."
Ternyata melelahkan sekali nemenin ibu-ibu untuk beli bahan-bahan dapur, enggak kebayang nantinya Giska akan menjadi ibu-ibu juga ketika nanti ia menikah. Mamanya adalah gambaran ketika menjadi seorang ibu-ibu mungkin lebih rempong dari sekarang karena memiliki generasi yang berbeda dengannya.
Akhirnya selesai juga beli bahan-bahan dapur yang begitu banyak ternyata mama seperti itu kalau misalkan beli sesuatu itu harus habis dulu atau hampir habis baru ke mall lagi supaya tidak kedua kali atau sering banget ke mall. Karena mama begitu sibuk sekali selama ini dalam pekerjaannya maka dari itu pertemuan kita agak sedikit jarang. Di sela-sela sudah merasa kelelahan tiba-tiba ada salah satu ibu-ibu yang memanggil mama dengan melambaikan tangan lalu mereka mendekat satu sama lain antara mama dan orang tersebut. Orang tersebut tak hanya sendiri saja ternyata ia memiliki seorang anak laki-laki yang tak asing bagi Giska. Karena penglihatannya kurang bagus ia baru sadar itu adalah mamanya Juan, layaknya anak muda pada umumnya yang sopan santun ia pun bersalaman kepada mamanya Juan bukan cari muka tapi memang menghormati kalau ketemu orang tua atau orang yang lebih tua darinya.
"Kalian baru beli apaan? Kok banyak banget sih belanjanya ngeborong ya?" Ucapnya pada umumnya biasanya kalau ketemu basa-basi.
"Iya nih tadi itu kita baru beli barang-barang dapur atau bahan-bahan dapur di rumah yang udah menipis banget eh nggak nyangka kita ketemu di sini deh."
"Ya udah kalau gitu kalian pasti capek kan nah kita makan malam aja yuk barang-barang kebutuhan kita mau makan malam kalian ikutan ya?" Giska melirik ke arah mama agar mama tak mengiyakan ajakan dari mamanya Juan. Namun mama nyatanya tak bisa diajak kompromi dikarenakan mungkin mama juga lapar dan mama tipenya adalah santai tidak seperti Giska yang sedikit gengsian dan jaim. Giska dan Juan hanya bisa saling tatap satu sama lain karena mereka benar-benar bingung harus ngobrol apaan. Juan pun memesan makanan begitupun dengan mama dan Giska. Pergi Giska keroncongan tapi untunglah ini terdengar oleh dirinya sendiri aja. Pelayan pun datang untuk menulis menu makanan yang mereka pilih nantinya.
"Tambah ganteng aja ya Juan? Pertemuan kita yang kedua ya?"
"Iya tante pertemuan kita yang kedua. Tapi kalau sama Giska udah sering sering di sekolah."
"Anak zaman sekarang tuh malu-malu nggak kayak kita dulu yang lebih agresif."
"Hahaha iya bener banget beda banget deh sama zaman kita ya!" Mama bisa banget asik itu dengan orang beda banget dengan Giska cara bergaulnya pun butuh waktu untuk bisa saling mengenal satu sama lain bahkan bisa dekat kalau mama enggak sekali ketemu pun bisa deket.
***
#MIMPI
"Kamu cantik banget ya malam ini. Aku beneran gak bisa berkedip sama sekali deh."
Giska hanya terdiam terbelalak ketika Juan memujinya. Malam ini Juan begitu ganteng banget bahkan keren dan bisa dikatakan lebih keren daripada Mario yang digilai kaum hawa selama ini. Emang dari dulu pusat perhatian Giska tertuju kepada Juan bukan kepada Mario karena daya tarik Juan begitu memikat bahkan berbeda dari cowok-cowok kebanyakan. Walaupun Juan juga putih tak kalah putih dengan Mario tapi memiliki tahi lalat yang begitu manis sekali ketika dia tersenyum. Malam ini begitu membahagiakan sekali ketika Juan menarik bangku kosong putih untuk mempersilahkannya duduk disana dan makanan diatas meja begitu rapi sekali ditata dari kiri ke kanan ujung ke ujung begitu rapi sekali tanpa ada jeda dan tidak berantakan walaupun banyak di atas meja. Giska sama sekali speechless dalam keadaan ini ia tak bisa berkata-kata hanya bisa tersenyum dan menelan salivanya dengan cepat. Lantas membuat Juan melontarkan sebuah pertanyaan kalimat sederhana. "Kamu kenapa kok tegang banget sih?"
"Aku nggak----" Entah kenapa lidahnya begitu susah sekali untuk mengatakan ini saking groginya kepada orang yang ada di hadapannya sekarang.
"Kamu mau makanannya aku ambilin?"
"Makasih banyak ya kamu udah ngambilin makanan padahal aku bisa ambil sendiri kok."
"Terus kamu mau aku suapin ya?"
"Nggak usah aku bisa suapin aku sendiri ke diri aku kok." Dia mengangguk dan berusaha untuk tenang dan tidak terlihat gugup. Ini adalah kali pertamanya dinner bersama cowok yang ia idam-idamkan tapi tanpa nama selama ini tanpa ia sadari cowok yang ia idam-idamkan selama ini ada di sosok Juan. Tak berapa lama Juan mengeluarkan bunga mawar merah yang tercium harum ia menariknya ke atas meja dan menyuruh Giska untuk mengambilnya dengan cepat.
"Ini buat kamu, cantik banget ya bunganya mewakilkan aura kamu hari ini." Perempuan mana yang tak merasa ke-gr-an dengan sosok yang memberikan pujian seperti ini dan cuaca pun mendukung.
"Aku sama sekali nggak nyangka kamu ngasih ini ke aku makasih banyak ya sumpah aku nggak bisa berkata-kata lagi karena saking bagusnya." Juan pun hanya tersenyum dengan ucapan dari Giska, senyuman itu sungguh membuatnya candu bahkan tak berkedip sedikitpun. Namun anehnya senyuman itu semakin tak bisa disadari dan membuat Giska akan ketakutan. Perlahan-lahan dia berdiri mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Juan. Karena saking takutnya tiba-tiba ia tersandung ke batu besar lalu terjatuh ke bawah.
"Sakit banget."
Tiba-tiba bisa terbangun dari tidurnya ternyata ini hanyalah mimpi atau bunga tidur yang tanpa ia sadari ia ternyata tadi mimpi indah bersama cowok yang ketemunya tadi bersama mama di mall. Seakan-akan di dalam mimpinya itu adalah mimpi yang benar-benar terjadi dalam kesungguhan dan seolah-olah ia melihat Juan didalam dunia nyata.