
"Kenapa ya Giska cantik banget tadi di sekolah?" Ucap Juan yang melihat Giska berubah drastis banget menjadi sosok yang cantik. Ia sama sekali tak menyangka perubahan itu karena ya Giska yang putih di antara Tania dan Sekar. Tapi kenapa ketika melihat Giska berubah menjadi cantik hatinya berdebar begitu saja ya bukan karena cantiknya tapi emang karena selama ini emang ada yang bergetar dan ada yang berbeda juga. Sempat terlintas di pikirannya untuk menyatakan perasaan kepada Giska, karena seperti yang ia tahu kalau misalkan menyatakan perasaan kepada seorang perempuan itu butuh waktu dan nyali yang kuat. Dan Juan belum mengumpulkan nyalinya itu ya walaupun di sekolah banyak cewek yang suka tapi tetap saja susah untuk mengungkapkan perasaan makanya Juan terkenal dengan cowok yang susah buat itu cinta.
"Apa gue deketin aja ya Giska karena menurut gue dia bakalan kepedean lagi kalau misalkan gue deket sama dia!" Juan menggaruk kepalanya yang tidak merasa gatal sama sekali.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk tidur.
***
Juan agak termenung dengan kejadian tadi malam, kenapa masih saja kepikiran dengan perubahan Giska yang terlalu signifikan. Sesuatu yang selalu membuatnya seakan-akan bingung dan sakit kepala. Disela-sela obrolan antara Tania dan Mario mereka saling pandang sesama lain. Giska merasakan ada hal yang aneh kenapa tiba-tiba Juan menampilkan aura yang berbeda malah ia seakan-akan menampilkan wajah nggak jelas kayak gitu. "Apa ini hanya sekedar perasaan gue aja ya tapi kayaknya Juan udah mulai kepencut nih sama gue?" Gumamnya dalam hati tapi ia tidak mau juga lagi kegeeran karena sulit sekali untuk memprediksi perasaan orang lain.
"Kalau misalkan gue suka sama Giska itu tandanya gue normal dong ya kan Giska kan cewek bukan cowok?" Gumamnya dalam hati yang seakan-akan tak mau bercerita kepada dua sahabatnya dan bisa-bisa akan di ledek.
Akhirnya bel pun berbunyi jam waktu istirahat kedua sudah selesai selama perjalanan ia memikirkan kenapa penampilan Giska begitu memikat sekali bahkan membuatnya seakan-akan kepikiran sampai di kelas ia duduk dan menunggu guru yang akan datang mengajar di jam pelajaran selanjutnya. Selama jam pelajaran berlangsung ia sama sekali tak memperhatikan pelajaran yang di depan ya terus saja memikirkan Giska apa yang sebenarnya ada dibenaknya namun apa yang ia pikirkan ini tidak bagus dia melanjutkan kembali pelajaran di depan mungkin hanya sekedar terkejut biasa karena tak biasanya melihat Giska yang tiba-tiba cantik yang biasanya pakai kacamata dan dikuncir satu seperti kuda.
***
Langit sudah begitu gelap sekali matahari pun sudah mulai 80% tertutup mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Giska bergegas untuk keluar melihat apakah sopir sudah menjemputnya sering sekali sopir pak mau jemput di sekolah memberi alasan tak memberi pesan juga tapi untungnya seringkali Juan mengajaknya untuk pulang bareng dan mengantarkannya pulang ke rumah opung itu enggak kepanasan kalau pulang jalan kaki Giska tidak diperbolehkan pulang naik angkot karena kata mama dan papa bahaya kalau anak perempuan pulang sendirian. Giska keluar dari pintu gerbang tiba-tiba langsung saja mengambil motornya yang ada di parkiran entah apa yang membuatnya begitu kecil sekali untuk mengambil motor padahal bisa saja menunggu hujannya reda ya walaupun bukan hujan yang besar melainkan hujannya rintik doang.
Hujan pun turun tiba-tiba, ia melihat kalau misalkan Giska ada di hadapannya sekarang. Ia mencoba untuk memberanikan diri mengajak Giska untuk ikut dengannya di motor. Namun mungkin awalnya ditolak oleh Giska tapi karena hujan terus saja tidak henti-hentinya akhirnya ia menurunkan rasa egonya atau rasa gengsinya dan mau untuk pulang bareng Juan. Ya duduk di belakang dengan jas hujan Juan seadanya. Cerita ini diibaratkan seperti drama yang ada di tv-tv drama sinetron lebih tepatnya rasa deg-degan pun ternyata beneran ada ia hanya bisa diam menatap kearah depan tanpa melihat jalanan karena tertutup dengan jas hujan Juan.
Keromantisan berjalan seperti biasa saja seakan-akan tidak bisa skanario dan tidak disuruh-suruh mimpi apa Giska kemarin? Selama di perjalanan Giska hanya menikmati saja tak ada obrolan sama sekali antara dirinya dan Juan. Timbullah pertanyaan di benak Juan menanyakan langsung kepada Giska kenapa bisa berubah seperti ini dan jawabnya adalah hal yang paling menyengangkan yaitu ia ingin dihargai orang sering dianggap kalau misalkan perempuan cukup seperti dirinya bisa juga glow up dan cantik. "Kenapa? Emang nggak boleh apa kalau misalkan gue terlihat cantik?"
"Cantik? Buat siapa lo berubah menjadi cantik apakah ada cowok yang bikin lo naksir?" Pertanyaan macam apa ini yang tiba-tiba keluar begitu saja dari ucapan Juan. Giska hanya diam saja sebenarnya bukan ini tujuannya tidak ada cowok yang ia taksir ya walaupun orang yang membacanya kali ini adalah orang yang ia kagumi tetapi bukan untuk ditaksirkan atau untuk menunjukkan kalau dia cantik di depan orang ya taksiran melainkan ia ingin membuktikan kepada semua orang kalau misalkan orang cupu itu bisa berubah menjadi cantik dan tidak patut untuk rendah-rendahkan hanya saja dia memiliki keterlambatan untuk menjadi cantik.
Hening. Giska sama sekali tak menjawab pertanyaan dari Juan dan Juan langsung saja meminta maaf karena mungkin bisa tersinggung dengan ucapan atau pertanyaannya itu. "Sorry gue enggak ada maksud buat nyindir lo!"
Giska tertawa dengan sahutan dari Juan yang meralat ucapannya tersebut. Ia sama sekali tak tersinggung kok dengan pertanyaan atau jawaban Juan itu dia cuma hanya diam saja tak ada maksud apa-apa. "Gue boleh enggak minta nomor lo?"
"Nomor hp?" Loh kenapa malah tiba-tiba minta nomor HP.
"Buat apa?"
"Ya nggak buat apa-apa sih pengen minta nomor HP lo aja boleh nggak sih?" Giska langsung menjawab iya tapi nomor HP itu akan ia berikan ketika sudah sampai di rumahnya yang sebentar lagi sampai.
Setelah sampai diska pun mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkan pulang ke rumah namun sebelumnya ketika ia ingin masuk ke dalam Juan menahan sejenak karena ia menagih janjinya yaitu untuk memberikan nomor hp-nya. Akhirnya Giska pun memberikan nomor tersebut. Dan siap-siap nanti bakalan diteror sama Juan. Dan ia pasrah.