Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 64. Masih



Giska sama sekali tak sabaran untuk menonton pertandingan sepak bola yang ada di lapangan Sekar dan Tania lambat sekali untuk menuju kesana Giska ingin sekali untuk duduk di bagian depan karena untuk lebih melihat jauh lebih terang daripada di barisan belakang, ia pun dari tadi mendumel nggak jelas sama sekali. "Ya ampun lama banget sih kalian berdua ayo buruan dong!"


"Iya sebentar dong lo dari tadi ngomel-ngomel mulu sih ini nih rambut gue nyangkut dan gak rapi!" Sekitar 20 menitan Sekar terus berdiri di depan cermin ia terus-terusan menyisir rambutnya padahal sudah rapi tapi tetap saja ia merasa rambutnya belum rapi.


Tania sudah lebih dulu berada di luar. "Ayo buruan gue duluan nih!" Giska pun juga mengikuti langkah dari Tania akhirnya Sekar pun menyudahi drama menyisir rambut.


Ini adalah yang ditunggu-tunggu yaitu permainan sepak bola mereka masing-masing duduk di tempat yang sudah disediakan tapi tidak boleh rusuh dan tidak boleh mengintimidasi satu sama lain antar pendukung. Tania, Sekar dan Giska memilih duduk di tengah-tengah saja karena mereka ingin melihat pemain sepak bola dengan jelas. Di depan sudah penuh dengan penonton yang jauh lebih awal duduk di depan jadi mereka bertiga tidak kebagian dan untungnya di bagian baris nomor 2 masih kosong jadi mereka memilih di sana. "Ya ampun ganteng banget sih bagian depan." Pujinya dengan cepat.


"Hei lo mah nggak bisa ngelihat cowok bening dikit udah deh disukain! Awas lo suka dan mau minta nomor hpnya ya!" Senyumnya yang menggoda.


"Ya nggaklah mana mungkin kan minta nomor hp-nya gue kan enggak berani berarti cuma kagum doang dan suka doang!"


"Haha ya iyalah gue kan masih normal jadi tahu yang mana yang ganteng yang mana yang biasa aja ya walaupun gue nggak cakep cakep amat tapi gue bisa ngebedain ya!"


Akhirnya permainan sepak bola pun dimulai, suara kisruh pun mulai terdengar dari kanan dan kiri apalagi mereka memiliki kubu masing-masing yang mendukung diantara mereka berdua. Tak cuma dari di bagian depan di bagian belakang pun tak mau kalah dari mereka dengan suarakan mereka sangat bergembira sekali dengan sepak bola yang ada di depan. Bahkan Tania pun juga merasakan hal yang sama ia juga merasa tegang dengan permainan sepak bola yang padahal baru-baru saja dimulai. Giska begitu bersemangat sekali ketika permainan sepak bola yang ada di depan. "Ya ampun disuruh banget sih lo nggak bisa diam dari tadi?"


"Maaf deh kalau misalkan gue terlalu bersemangat gue tegang banget nih padahal baru aja dimulai itu kenapa sih lawannya malah kayak caper gitu!"


"Hei ini cuma permainan sepak bola doang kenapa lo malah marah-marah enggak jelas santai aja kali!"


"Gue nggak bisa sampai sama sekali kalau misalkan semuanya bakalan kayak gini!"


"Hei kalian kenapa malah berdebat enggak jelas sih ih gue nggak bisa fokus nih ngelihat yang di depan. Udah kok diem aja deh kalian berdua kita fokus aja sama pertandingan yang ada di depan!"


Mario dan Tania hanya diam satu sama lain, melihat dari kejauhan saling lirik satu sama lain. "Kenapa Tania malah ngeliatin gue ya! Apa ada yang salah sama diri gue?" Ucap Mario yang seakan-akan sadar kalau misalkan Tania sedang memperhatikannya dari kejauhan. Tapi bukannya ia malah menghindar ia malah melakukan senyum dan melebarkan senyumnya bahkan membuat Tania mengarah kearah lain karena ia tidak mau salah paham antara dirinya dan Mario.


***


Sekar melihat aura dari Tania yang tampak beda ia pun langsung saja menyenggol. "Hei lo kenapa kok diem aja sih." Senggol Sekar yang menyenggol Laras yang sedang diam saja memperhatikan Mario yang tidak sengaja.


"Enggak kok, enggak papa santai aja." Lalu ia ngeh kalau misalnya apa yang terjadi sudahlah berlalu.


"Gue pikir lo kenapa, ya udah kita ke kelas aja yuk." Mereka pun menuju ke kelas masing-masing. Tania duduk di dalam kelas dan masih kepikiran tentang pandangan tadi kepada Mario.


Pelajaran pun dimulai akhirnya mereka kembali seperti rutinitas seperti biasa. Guru pun menjelaskan penjelasan yang ada di depan. "Duh kenapa gue sama sekali gak bisa konsen sih sama penjelasan yang ada di depan padahal kan minggu depan bakalan ulangan aduh gimana sih!"


"Tania kamu nggak papa kok kamu dari tadi kayak ngelamun gitu emang ada apa?" Tegur bu guru yang ada di depan.


***


Hai. Itulah sapaan dari Juan kepada Giska, ia hanya tersenyum ketika Juan menyapanya tampaknya ia menahan malu-malu yang begitu besar tapi kalau misalkan terlalu agresif maka semuanya seakan musnah. Ketika Juan pergi Giska langsung saja memegang jantungnya yang begitu berdebar lebih kencang dari sebelumnya sumpah rasanya deg-degan banget. "Kenapa Juan malah nyapa gue sih gue kan jadi deg-degan dan gue jadi suka sama dia?" Gumamnya dalam hati.


Karna saking senengnya ia tidak sadar kalau misalkan orang yang ada di hadapannya adalah orang yang melintas secara berhadapan satu sama lain. Minuman yang ia pegang itu mengenai baju dari seragam Giska. "Ya ampun makanya kalau misalkan punya mata tuh dilihat dulu jangan nabrak aja tuh baju lo kotor kan gara-gara minuman gue jadi jangan salahin gue salahin diri lo sendiri!" Benar, ucapan yang ada dihadapan kita sekarang ia tidak bisa mengelak sama sekali dikarenakan apa yang dia ucapkan itu benar jadi malah Giska yang meminta maaf duluan karena sudah tidak melihat dengan jelas.


"Ya gue minta maaf deh sama lo gue nggak sengaja tadi gue jalannya cepet-cepet!" Giska pun langsung saja menuju ke kamar mandi yang ada di sekolah untuk membersihkan bekas dari noda es jeruk tadi yang mengenai baju seragam yang ia kenakan.


Ia menyimpan nyipratkan dan mengucap walaupun tidak bersih-bersih amat. Tapi udah lebih baik mendingan daripada yang tadi.