Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 69. Ngajakin Balikan



Akhirnya pelajaran selesai juga kini siswa dan siswi merapikan buku-buku mereka ke dalam tas mereka mereka berhamburan keluar kelas masing-masing karena waktunya sudah pulang sekolah. "Gue pulang duluan ya guys kalian hati-hati pulangnya."


"Gak mau barang dulu?"


"Entar aja deh kayaknya gue capek banget deh mungkin next time aja ya kita bareng-bareng."


Mario sengaja menunggu di depan kelas sambil melihat Tania yang ingin keluar dari kelasnya. Karna rencananya ia ingin mengajak Tania untuk pulang bareng. Bagus juga sedang berdiri di depan kelas, Mario yakin sekali Bagus ingin mengajak Tania pulang bareng tapi ia yakin Bagus bakalan kalah saing.


"Tan kalau misalkan lo mau pulang bareng, kita pulang bareng aja yuk? Kayaknya bentar lagi hujan deh." Tania hanya diam saja ajakan dari Mario. Tania menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Maaf kayaknya nggak bisa gue pulang sendiri aja ya." Ujar Tania yang menolak halus ajakan dari Mario.


Namun tiba-tiba saja,


Bagus menghampiri mereka berdua yang sedang mengobrol membuat Mario marah dan kesal. "Jalan kaki bareng yuk biar kita bisa ngobrol-ngobrol?" Tania diapit oleh kedua laki-laki yang mengajaknya buat pulang bareng ia bingung harus memilih yang mana.


"Em gimana ya?"


"Mending mau bareng sama gue aja gue kan bawa motor biar lo nggak kepanasan dan cantik lo itu hilang mending lo bareng sama gue aja? Gimana?" Tawar Mario yang tak main-main menyindir bagus yang mengajaknya berjalan kaki. Ia mengambil helm dan memasangkan langsung di kepala Tania.


"Gue tunggu di depan gerbang ya jangan lama-lama ngobrolnya." Sambil melirik kearah


Bagus yang ada di samping Tania.


Dari kejauhan Mario hanya memperhatikan mereka berdua. Ia yakin kalau misalkan Tania akan mengajaknya pulang bareng. "Ya udah kalau gitu gue pamit pulang dulu ya sama Mario lain kali kita pulang bareng? Gak papa kan?"


Bagus menyeringai apa yang diucapkan oleh Tania ia pun mengangguk lalu tersenyum. "Iya nggak apa-apa kok santai aja." Tania menghampiri Mario yang sudah menunggunya lalu ia menaiki motornya dan motor pun perlahan pergi. Mario merasa senang sekali ketika tadi Tania lebih memilih dirinya ketimbang Bagus.


"Gue sama sekali nggak enak banget nolak Bagus untuk pulang bareng." Pekiknya yang merasa tidak enak hati.


"Oh iya by the way lo cantik banget sih hari ini." Sengaja memang Mario mengalihkan pembicaraan nya ke arah lain ia tidak mau Tania membahas Bagus.


"Makasih banyak ya." Sahutnya dengan cepat.


"Kalian bertiga udah pada glowing." Ia melanjutkan kembali pujian yang ia katakan tadi.


Mario langsung merasa tersinggung dengan ucapan Tania karena selama ini ia hanya menilai seseorang dari penampilannya saja. "Lo lagi nyindir gue ya?"


"Ya enggaklah, gue enggak nyindir siapapun kok. Gue cuma ngomong sama diri gue sendiri aja dan orang-orang yang selalu ngerendahin." Mario menelan air liurnya dengan cepat. Arahnya seperti bukan arah pulang ke rumah Tania, Tania pun sadar kalau misalkan itu bukan arah pulang ke rumahnya. Ia meminta berhenti kepada Mario untuk menurunkannya di sini.


"Gue gak bakal macam-macam kok gue cuma ngajakin lo ke suatu tempat aja." Walaupun Mario adalah teman sekolahnya tapi tetap saja ia merasa deg-degan banget akan dibawa kemana dirinya oleh Mario. Ia tidak segan-segan memukul Mario kalau misalkan Mario berbuat yang aneh-aneh.


Sampailah di suatu tempat Mario melepaskan helm yang dikenakan oleh Tania. Ia mengambil bunga yang sudah ia persiapkan di dalam. Tania bingung apa yang dilakukan oleh Mario, ia pun memberikan kepadatannya lalu menyuruh Tania untuk membaca tulisan yang terselip di dalam bunga tersebut.


"Gue pengen balikan sama lo!" Tulisnya seperti itu. Mario menunggu jawaban dari Tania karna Tania menatapnya begitu tajam.


"Oh jadi lo ke sini ngajakin gue balikan?" Mario mengangguk dengan cepat pertanyaan yang dilontarkan oleh Tania. Karna selama putus Maria selalu merasa kepikiran dengan Tania sampai detik ini maka dari itu tercetuslah pikiran untuk balikan dan mengajak Tania untuk bisa memulai dari awal dengan bersungguh-sungguh dan tidak ada kepalsuan lagi. Mungkin kesannya begitu sangat rumit namun Mario juga tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri karena yang menjalani hubungan mereka berdua bukan sendirian saja.


"Jadi gimana? Lo mau enggak balikan sama gue?"


"Gue nggak tahu untuk sekarang gue pengen fokus belajar dulu. Kalau misalkan emang kita bisa bareng-bareng lagi gue bakalan terima tapi untuk sekarang gue nggak bisa. Soalnya kan bentar lagi kita ujian jadi gue pengen fokus belajar dulu di sekolah dan dirumah buat mempersiapkan semuanya jadi nggak apa-apa kan untuk sementara gue nggak bisa jawab ini tapi setelah lulus gue bakalan jawab?"


"Hah setelah lulus? Itukan lama banget waktunya?"


"Ya kalau misalkan lo mau tapi kalau misalkan nggak mau juga nggak masalah!"


Mario menarik napas sejenak lalu bingung apa yang harus ia lakukan. "Ya udah deh kalau gitu aku siap nunggu kamu sampai kapanpun mau lulus kek mau 10 tahun lagi aku bakalan nunggu kamu."


"Ya udah kalau gitu. Gimana kalau misalkan kita langsung pulang aja?" Mario sudah tak bersemangat lagi yang memakai helm nya lalu menyalakan sepeda motornya menunggu Tania menaikinya.


Sepanjang jalan Mario hanya bisa termenung menikmati indahnya kota berdeburan angin yang begitu kencang begitupun seperti apa yang dirasakan oleh Tania ia belum siap untuk menerima Mario kembali. Mungkin semua butuh waktu dan proses bukan bermaksud ia menyakiti Mario dan bukan bermaksud untuk tidak mempercayai apa yang diucapkan Mario tapi ia ingin membuktikan apakah Mario benar-benar cinta setulus hati dan ingin mengulanginya dari awal lagi. Ia sempat terpikir kalau misalkan merasakan Mario berubah dan menjadi manusia yang lebih baik bahkan teman-teman sekelas banyak yang bilang kalau misalkan kelas sebelah Mario bisa mendapatkan nilai yang cukup baik daripada sebelumnya sebelum ia saling mengenal lebih dekat seperti sekarang.


"Makasih banyak ya lo udah anterin gue balik ke rumah." Ketika ingin masuk ke rumah Mario menghentikan langkahnya sejenak memberitahu kalau misalkan helm yang dikenakan oleh Tania harus ia kembalikan.


"Hahaha. Maaf ya kebawa masuk ke dalam rumah."


"Iya gak papa kok santai aja gue nggak papa kok lu cuma kasih tahu doang. Ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya langsung aja nggak mampir dulu." Tania mengangguk.