
Sekar dan Giska memutuskan untuk ke kantin namun Tania sama sekali menolak karena ia ingin ke dalam kelas terlebih dahulu karena sebelum ia ke sekolah tadi ia membawa botol minum yang sudah ia isi ke dalam botol. Ternyata ada bagus di depan kelas yang duduk di luar memegang buku yang sepertinya basah dan ia sengaja menaruhnya di depan cahaya matahari agar buku itu segera kering. Tanpa pikir panjang ia pun langsung saja menyapa dan menanyakan ada apa terjadi. "Hai Bagus, lo kenapa kok kayak sedih gitu sih?" Dan ia mendekat kearah Bagus teman sekelas dari Mario.
"Nggak papa kok tadi Mario ada orang gue nggak sengaja tiba-tiba buku ini basah jadi gue dikeluarin deh dari kelas karena dianggap ngerjain tugas." Ucapnya yang membuat Tania merasa kasihan ia pernah di posisi ini dan ia juga ingin menghargai siapapun orang yang mengerjakan soal di rumah dan ternyata malah dianggap remeh orang yang tidak sengaja ataupun sengaja melakukan ini tapi tidak meminta maaf sama sekali.
"Terus dia minta maaf gak sama lo?" Tania sama sekali tak terima, ia lebih suka sama orang yang melakukan kesalahan yang besar tapi meminta maaf daripada melakukan kesalahan kecil tapi seakan-akan tidak ada salah sama sekali.
Dia pun menggeleng dengan cepat seolah apa yang ia ucapkan itu adalah sesuatu hal yang benar yang tidak ditutup-tutupi sama sekali. "Gue sama sekali nggak bisa ngelawan siapa sih gue ini adalah cowok cupu yang nggak berani sama siapapun apalagi cowok populer yang ada sekolah ini." Kania tersenyum ternyata ada cowok yang juga ngerasain hal yang sama seperti dirinya bertiga bersama sahabat.
"Mereka cuma bikin kita susah aja mereka nggak pernah bersyukur dengan apa yang mereka miliki sampai-sampai orang lain aja masih mereka urusin. Mereka yang suka semena-mena sama kita yang cukup dan nggak populer sama mereka enggak punya hati banget."
"Padahal ini baru pertama kalinya gue dikeluarin dari kelas dan dia seenaknya aja ngomong itu gara-gara gue. Terus kenapa bisa terlihat lebih deket sama dia hati-hati kalau misalkan dimanfaatin biasanya cowok kayak gitu bisa dipercaya." Jawabnya yang seakan-akan sama dengan pikiran Tania selama ini kenapa tiba-tiba Mario mendekatinya.
Selama 2 jam pelajaran Bagus duduk di luar. "Kalian ngapain kok berduaan di sini?" Ucap Mario yang keluar dari kelas ternyata bel pun sudah berbunyi sekitar 5 detik yang lalu. Jadi kebetulan banget hari ini di kelas Tania jadwal olahraga.
"Enggak puas juga apa yang gue lakuin tadi di kelas?" Dengan pedenya Mario bangga dengan ucapannya kami hanya bisa diam tak peduli juga apabila Mario melakukan hal ini kepada siapapun tapi sekarang dia sudah mulai hilang respect bisa-bisa ini adalah rencananya untuk menghalalkan segala cara mendekati Tania tidak mungkin tiba-tiba baik begitu saja berubah 180 derajat.
"Oh ya kalau gitu gue ke kelas dulu ya semangat semoga enggak terjadi lagi kayak gini." Tania pun berdiri sebelum ia pergi ia pun menepuk bahu Bagus agar lebih sabar dan semoga kedepannya tidak terjadi lagi.
Namun ternyata ketika ia ingin pergi tiba-tiba saja tangan Mario langsung saja menggenggam tangan kanan dengan cepat. "Lo mau ke mana?" Tahannya sebentar dan kedua mata Tania melihat ke arah tangan yang menangani itu.
"Gue mau ke kelas gue ganti baju juga. Bisa lepasin tangan gue sekarang?"
"Tiba-tiba cuek sih yang jutek banget sama gue kenapa?" Tania pun melepaskan tangan Mario dengan cepat menyuruhnya untuk perlahan menjauh dengan gestur tubuhnya dan itu terlihat sekali sangat kentara.
"Lo masih marah sama yang cerita kolam renang itu ya? Apa gara-gara waktu itu nggak nolongin lo dan lo berpikir kalau misalkan gue bukan teman yang baik?"
"Ya udah deh kalau gitu gue minta maaf sama lo tapi gue sama sekali nggak ada maksud."
Dari kejauhan Vita melihat kedekatan Mario dan Tania kembali untuk kesekian kalinya. "Ternyata nggak kapok juga ya buat deket-deket sama Mario gue pikir setengah gue dorong kemarin dia udah kapok ternyata sama sekali nggak." Alisnya sedikit naik melihat kearah depan.
Dan ia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah kelasnya.
"Caper sama siapa?"
"Caper sama Tania kenapa deket-deket sama dia?"
Bagus pun tertawa dengan ucapan Mario yang seakan-akan mengancamnya. "Kenapa loctiba-tiba suka sama cewek kayak Tania dia sama cupu nya kayak gue? Gue kasian sama Kania makanya beli kasih tahu kalau misalkan harus hati-hati sama cowok kaya level lo gitu enggak mungkin banget sih kalau itu kayak dia pasti cari yang kayak seperti Vita kan?"
"Lo tau apa dari gue?"
Juan dan Kevin pun keluar mendengar keributan di luar antara Mario dan Bagus. "Ada apa sih kok kalian pada berantem kayak cekcok gitu?"
"Dia nih kompor-komporin gue sama
Tania seakan-akan gue itu salah terus." Kevin pun tersenyum melihat ucapan dari Mario yakin kalau misalkan Mario sudah mulai jatuh cinta kepada Amelia walaupun secara tidak sadar.
"Udah nggak suka ya sama Tania?" Pertanyaan itu malah membuat Mario seakan-akan yang sama sekali tak bisa menjawab dan menatap kedua mata Juan dan Kevin. Memutuskan untuk masuk ke dalam kelas kembali dan membiarkan cerita ini menggantung begitu saja.
Ya duduk di bangkunya dengan pikiran-pikiran yang amburadul sekali. Disampingnya pun Kevin langsung saja duduk karena ada bangku kosong juga di sana ia menepuk dan menatap kedua mata Mario dengan begitu tajam seolah ia tahu apa yang mereka lakukan tadi bukan karena sesuatu Tania dekat dengan Bagus tapi merasa rasa yang bebek yang belum ia sadar sama sekali sampai sekarang.
"Kenapa sih lo ke sini pikir gue suka sama Tania ya enggaklah. Gue ngomong kayak gitu tadi di depan bukan karena dia suka cemburu tapi karena taruhan gue yang harus menang. Kalau misalkan dia ngancurin semuanya gue yang bakalan kalah dan lo yang bakalan menang udah itu aja nggak usah nanya-nanya yang nggak sama gue ngerti kan maksudnya?"
"Curigaan banget jadi orang gue aja ngomong enggak lo mah udah ngomong dan jelaskan panjang lebar?"
"Ya habisnya kayak aneh banget bukan karena taruhan sih kalau menurut gue tapi karena masih suka kan sama dia udah mulai suka, suka, suka, suka banget udah tinggal tunggu waktunya ajalah yang bakalan kalah juga sama gue."
"Lo kenapa sih makin lama makin songong?"
"Nih orang kok makin lama makin kayak gini sih sifatnya berubah banget sih lo Vin?"