Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 34. Tania Ketakutan



Mario melempar senyum kepada Tania yang melintas di depan kelasnya tapi sayangnya Tania membuang muka ke arah lain dikarenakan ia masih teringat sekali ketika kemarin ia sengaja didorong dari belakang ia yakin sekali kalau misalkan itu adalah Mario siapa lagi kalau bukan Mario yang ngelakuin kan dia yang ngajak duluan ketemu di gudang. "Jutek amat sih mukanya!"


"Mungkin lo bikin salah kali makanya mukanya ditekuk kayak gitu makanya lo jangan bikin onar terus dong gimana menang taruhan!"


"Apaan sih nggak ada hubungannya sama sekali dengan kejutekan itu dan kalah taruhan masih lama juga kan?" Kevin menepuk-nepuk bahu Mario ini masih pagi tapi Mario sudah meradang.


Tania masuk ke kelasnya yang sudah disambut hangat oleh kedua sahabatnya Sekar dan Giska. "Tumben datangnya agak sedikit lama!"


"Soalnya udah nggak bareng lagi sama Mario jadi agak lama berangkatnya soalnya nungguin papa dulu kan!"


"Hahaha nggak juga sih ntar kapan-kapan bareng sama gue berangkatnya gue jemput ke rumah lo. Pokoknya hubungin gue aja kalau misalkan ada masalah apa-apa atau misalkan pengen jemput atau kayak gimana kita kan sahabat udah gue anggap kayak saudara gue sendiri!"


"Gue nanya sesuatu nggak? Kenapa gue bisa dikunciin di gudang gue kaget banget loh pas denger lo cerita kemarin di video call ya enggak sih?" Tania menaruh tasnya di atas meja lalu mereka duduk di bangku masing-masing mendengarkan Tania bercerita. Tania bercerita persis seperti kejadian yang kemarin ia benar-benar takut dan benar-benar merasa pengap sekali berada di dalam gudang karena udara yang tidak begitu banyak dan gelap bahkan kotor karena sudah tidak pernah dibersihin lagi.


"Tapi masa iya sih kalau misalkan yang ngelakuin itu Mario? Kok gue nggak yakin sama sekali kalau misalkan itu Mario sejahat-jahatnya Mario, Mario nggak pernah ngelakuin kayak gitu deh tapi bukannya gue membela Mario ya tapi firasat gue bilang kalau misalkan itu sih Vita kan Vita nggak suka sama lo?" Muncullah nama Vita di benak Giska.


"Iya bener juga ya apa yang lo bilang apa ini kita bukan Mario!"


Tania mengeluarkan kembali tulisan yang ada di bawah lacinya itu tulisan misterius. Mereka sama sekali tak mengenali tulisan tersebut. "Tapi ini tulisan siapa dong?"


"Ya gue nggak pernah sekelas sama mereka berdua apalagi jadi enggak bisa ngenalin tulisan siapa!"


"Iya gue juga enggak pernah sekelas sama mereka selalu beda jadi maaf ya kalau misalkan gue nggak bisa ngebantu siapa yang ngunci lo di gudang!"


"Hahaha nggak papa kok santai aja!"


***


Bagus sengaja menunggu di depan kelas Tania. Mereka memutuskan untuk pulang bareng sama-sama. Sekar dan Giska sudah paham karena tadi malam kan ia memberitahukan tentang kejadian ia dikunci di gudang dan ia yakin sekali kalau yang melakukan itu adalah Mario. "Ya udah yuk pulang bareng!" Tania pun mengangguk.


Bagus mengambil atau meraih tangan Tania mengajaknya untuk pergi agar Maria tidak mengganggu mereka. "Sok iya banget lo ya!"


"Lo bisa nggak sih nggak usah ngalangin jalan di sini itu jalannya luas banget!"


"Oh jadi ceritanya udah berani nih sama gue udah lupa lo siapa gue siapa?" Senyum Mario kepada Bagus tapi Bagus malah tidak memperdulikan ucapan tersebut.


"Ya udah yuk kita pulang aja ngapain sih dengerin orang yang bikin salah tapi nggak pernah minta maaf!" Tania bergeming dan mengatakan hal ini kepada Mario.


"Maksud lo?" Ia tidak akan pergi kalau misalkan tidak dijelaskan oleh Tania perasaan kemarin-kemarin biasa-biasa aja kenapa sekarang malah seakan marah.


"Udah nggak usah pura-pura lo kan yang mungkin gue di gudang?"


"Hah di gudang maksud lo apaan sih gue sama sekali nggak ngerti?"


Bagus mematahkan obrolan mereka dan menarik Tania untuk pulang bareng. Vita pun datang seolah-olah mendukung hubungan antara Tania dan Bagus. "Ya ampun kalian romantis banget sih berdua jangan terlalu romantis loh ntar ketahuan sama guru kan dipanggil ke BK?"


Semakin ngaco dan semakin aneh mereka pun memutuskan untuk pulang dan menghiraukan dari obrolan-obrolan mereka yang tidak penting. "Lo kenapa sih ikut campur terus sama urusan gue lu bisa kan pulang sendiri?"


"Kok bisa tahu banget sih kalau misalkan gue pengen nebeng di----" Mario pun pergi meninggalkan Vita.


"Gue bakalan pasang badan untuk selalu melindungi lo!"


"Gue tau banget kok kalau misalkan lo trauma kan sama kejadian kemarin?"


"Makasih banyaknya udah baik banget sama gue nggak nyangka ternyata kita seprei kuensi dan senasib dibenci sama semua orang karena mereka dan kita tuh beda mereka keren sedangkan kita cupu lihat aja penampilan kita yang kayak gini!" Senyum Tania.


"Udah enggak usah berkecil hati kayak gitu pokoknya semangat aja semoga kedepannya kita bisa membuktikan kalau misalkan kita juga bisa lebih baik dari mereka dengan cara kita."


***


Mario sengaja ke rumah Tania menunggu penjelasan Tania apa yang dimaksud tadi perasaan dia sama sekali tidak pernah mengunci Tania di gudang. "Tania sudah pulang tante?"


"Loh bukannya biasanya bareng sama kamu pulangnya kok duluan kamu pulang?"


"Tadi Tania nggak mau ikutan pulang bareng sama aku makanya aku langsung ke sini deh buat pastiin dia udah pulang atau enggak soalnya aku khawatir tante."


"Ya udah duduk aja sambil nungguin bentar ya tante bikin minum dulu."


"Gak usah repot-repot ke tante aku nungguin di depan sini aja." Sembari menunggu Tania pulang dia pun memainkan ponselnya agar tidak terlalu lama banget dalam menunggu.


Akhirnya Tania pun datang dan Mario langsung saja mematikan layar ponselnya. "Tania?"


"Lo ngapain ke sini ada urusan apa?" Tania yang baru saja sampai, sedangkan Mario sudah dari tadi sekitar 20 menitan perbedaannya karena Mario membawa motor sedangkan Tania jalan kaki jadi sedikit ada perbedaan.


"Gue cuma mau memastikan apakah udah pulang atau belum." Tania terkekeh pelan seperti anak kecil saja yang di khawatirkan.


"Gue mau tanya dong kenapa lo tiba-tiba tadi pas di sekolah sama bagus bilang gue kunciin lo di gudang padahal gue sama sekali nggak pernah ngunciin lo gudang?" Tanya Mario.


"Duduk dulu deh." Tania melepas tali sepatu kanan dan kirinya.


"Emang lo kan yang kunciin gue di gudang? Gue tau gue cupu tapi gue juga punya perasaan kok." Sahutnya yang sedikit emosi, kalau bukan ini di rumah maka Tania sudah marah dan langsung pergi ia takut di marahi oleh mama di dalam.


"Gue berani sumpah kalau emang bukan gue yang kunciin lo di gudang!"


"Trus ini tulisan siapa?" Tania keluarkan tulisan tersebut dan menunjukkan kepada Mario kalau misalkan tulisan itu adalah tulisan Mario siapa lagi kalau bukan dia.


"Ini bukan tulisan gue bentar gue ambil buku gue dulu biar dibandingin!" Mario pun mengeluarkan bukunya dan menyandingkan antara tulisan yang ada di secarik kertas itu dan tulisan di buku tulis, keduanya benar-benar berbanding terbalik tulisan yang ada secarik kertas itu sedikit lebih besar sedangkan tulisan yang ada di buku Mario itu sedikit lebih kecil dan lebih rapat.


"Percaya kan?"


"Ini bukan tulisan gue, lo di kunciin di gudang ya? Siapa yang kunciin?"


"Gak tau!" Singkat Tania.


Tiba-tiba hujan pun turun dan suara mama menyuruh untuk masuk ke dalam rumah di luar takut basah. Mario pun dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu. Tania takut kalau misalkan Mario dan mama akrab. Ia lebih memilih untuk mengganti pakaiannya di dalam kamar.