Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 110. Sandiwara



Leo sengaja menjemput Tania untuk berangkat bareng hari Ini pertama kalinya sebagai pasangan pura-pura. Mereka sama-sama canggung untuk memerankan sandiwara ini dikarenakan ini hanya sekedar pura-pura doang dan berusaha untuk senatural mungkin agar orang-orang percaya dengan rencana mereka berdua atau ambisi dari Leo terutama.


Namun sebelumnya Leo mengajak sarapan barang terlebih dahulu di depan salah satu tempat ada gerobak bubur setiap paginya yang terus nongkrong di sana. "Ya udah bang pesan bubur ayamnya dua ya!"


"Kalau saya sukanya bubur diaduk kalau misalkan kamu sukanya diaduk atau nggak diaduk?"


"Kalau saya adalah tipikal orang yang suka bubur diaduk kalau nggak dia dokter rasanya enggak enak banget rasanya nggak gimana gitu!" Mereka berdua pun saling ngobrol satu sama lain sehingga membuat situasi seakan tidak terasa padahal ini sudah sekitar pukul 07.15 pagi.


Tak rasa bubur ayam di pesan pendatang dan ditaruh di atas meja dengan cepat mereka pun melahap sarapan pagi hari ini yang nantinya bakalan lapar kembali. "Pokoknya apapun yang ditanyain sama orang-orang yang di sekitar kita anggap aja kita berdua ini lagi mempersiapkan semuanya ya sebenarnya rasanya males sih untuk pura-pura kayak begini, tapi ya sudahlah namanya juga sandiwara!" ucap Leo sambil menyiapkan bubur ke dalam mulutnya dengan cepat.


"Oh iya tolong ambilin kecap yang ada di ujung sana." Karna jarak yang tidak terlalu jauh dengan cepat ia pun mengambil lalu menuangkan ke bagian bubur yang ada di dalam mangkok milik Leo. Dari jaraknya sangat dekat sekali mereka berdua makan bareng sarapan pagi hari ini.


"Oh iya makanya jangan terlalu cepat cepet juga kita nggak usah buru-buru buat berangkat ke kantor karena ngapain juga 'kan bosnya atau atasnya ada di sini?"


Bubur yang mereka singgahi kali ini rasanya enak banget bahkan bisa membuat Tania menambah di dalam mangkoknya.


Dengan cepat Leo mengambil tisu yang ada di hadapannya lalu membersihkan mulut Tania yang penuh dengan bubur yang tidak ia ketahui lalu kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. "Kenapa?"


"Itu ada bekas bubur yang ada di atas bibir!"


"Oh iya makasih banyak!" sahutnya dengan sangat cepat sekali.


Tania masa gelisah karena ketika ia melihat atau melirik kearah jam tangan yang melingkar di sebelah kirinya waktu sudah menunjukkan pukul sekitar 07.30 pagi.


Leo dengan cepat membayar sarapan pagi hari ini yaitu sarapan bubur. Leo sengaja membukakan pintu mobil mempersilahkan Tania untuk masuk ke dalam mobil dan mereka bakalan ke kantor bareng hari ini.


***


Leo membukakan pintu mobil ketika sudah sampai di kantor para karyawan sebagian memperhatikan mereka berdua yang kenapa tiba-tiba bisa berangkat bareng, ada salah satu mereka yang tidak suka dengan mereka berdua yang semakin hari semakin dekat antara karyawan baru dan juga atasan. Tania sebenarnya merasa tidak enak tapi di karenakan ini adalah rencananya dengan cepat Leo malah menarik tangan Tania dan menempelkan ke tangan yang sudah disediakan untuk bisa bergandengan tangan.


Roni adalah orang yang paling tahu segalanya tentang Leo maka dari itu ia pun mengalah melanjutkan dari aksi yang Leo lakukan hari ini yaitu dengan menggoda mereka berdua yang baru saja datang dari dalam mobil. "Kalian ngapain sih ada di sini mereka berdua tuh udah jadian jadi bukan urusan kalian lagi bentuk menerka-nerka apa yang ada dipikiran kalian oke?"


Ketika Tania berada di dalam ruangan dengan cepat ia memegang jantungnya karena depan banget karena tatapan itu adalah tetapan yang sangat dekat dan tatapan itu seperti tatapan seorang Mario dan bahkan tadi sempat oleng.


Ia pun membuyarkan kedua matanya lalu menyalakan layar komputer yang ada dihadapan.


***


Jam makan siang pun dan ia pikir ia bisa bebas ternyata lewat sudah menunggu di depan pintu utama ketika hanya ingin keluar tidak ada jalan lagi tempat disana ia pun berusaha untuk menarik napas sejenak lalu ingin keluar dari pintu ruangannya. "Hei gimana kalau misalkan kita makan bareng aja dulu di kantin soalnya perut saya udah lapar banget!" Tania mengangguk lalu ketika Roni mendekat mereka pun saling saling tatap satu sama lain dengan cepat Roni mengajak kami untuk segera ke kantin tapi dengan cepat pula Leo menarik kerah Roni agar tidak bisa menarik Tania semudah itu.


"Hei kalian mau pesan apa biar gue yang traktir hari ini!"


Karna ingin mengerjai Roni akhirnya Leo pun memesan beberapa mangkok bakso dan itu adalah ia habiskan dalam satu waktu yang membuat Roni benar-benar tercapai.


"Kenapa?"


"Eng---enggak kok, enggak kenapa-napa santai aja ya udah silakan aja makan gue bayar dulu ya ke depan!"


"Bu, buat hari ini saya mau pulang dulu ya soalnya uang saya lagi nggak masuk belum saya juga nggak bawa uang cash cuma segini doang!" Ketika pengin marah-marah ia pun mencoba untuk menenangkan ibu kantin tiba di kantor.


"Ya sudah kalau misalkan kayak begitu nanti tinggal di bayar aja ya!"


"Oke deh kalau gitu awas aja kalau nggak bayar utang yang kemarin juga belum bayar!" gagasan seperti itu mengatakan langsung kepada Roni.


Roni pun akhirnya untuk bergabung kepada Leo dan juga Tania yang lebih dulu mau makan bakso, seakan-akan seperti drama yang ia tonton di televisi maupun menyebabkan bakso ke dalam mulut Tania dengan sendok yang dipegang sebelah kanan. "Kamu makannya pelan-pelan aja jangan terlalu yang kayak gimana-gimana!"


Suara deheman sangat terdengar sangat jelas seakan-akan Roni ini adalah tipe orang yang sangat cuek padahal ia sangat peka banget dan bingung dengan sikap bahkan dengan cepat ia pun berbisik. "Kenapa sih ini adalah kesannya seperti orang yang sangat berlebihan banget tau enggak sih!"


"Lo mendingan diam aja deh daripada ketahuan sama yang lain udah ikutin aja alurnya yang diciptakan ini cepat atau lambat orang-orang bakalan percaya kalau gue beneran pacaran sama Tania bahkan sebentar lagi akan tunangan!" jawab Leo dengan cepat merapikan kerah yang sudah rapi sebenarnya.


Roni pun hanya mengganggu mencoba untuk menerka apa yang diucapkan Leo, dan seolah adalah ucapan itu sesuatu yang benar.