
Curhatan yang paling ampuh adalah ketika menceritakan ini semua kepada orang yang paling sayang dan paling tahu apa aja yang ia jalani selama ini. "Mah aku boleh nanya sesuatu hal yang penting enggak tapi Mama harus jawab dengan jujur ya?"
"Iya, ya udah kalau gitu kalau misalkan punya cerita-cerita aja Mama bakalan dengerin kok."
Mario mulai ingin menceritakan kalau misalkan dia pengen menikah dengan orang yang paling dia sayangi itu Tania, mungkin kata-kata tersebut sangat wajar banget bagi seorang laki-laki yang semakin lama semakin dewasa dan juga berpikir sangat baik untuk masa depannya nanti dengan perempuan mana yang bisa menemaninya sepanjang hidup. Mama yakin banget keinginan tersebut pasti dimiliki oleh semua laki-laki yang ada di dunia ini bukan hanya sekedar Mario. Sebagai seorang Ibu sampai kapanpun ia akan terus mendukung apapun yang terbaik untuk anaknya.
"Tapi gimana caranya supaya kita berdua bisa satu kampus aku nggak mau mah kalau misalkan dia itu sama yang lain dan juga aku nggak mau nanti waktu aku terbang dengan pelajaran yang ada di kampus dan aku ngelupain dia?"
"Iya sayang, tapi kita nggak bisa juga maksa dia buat satu kuliah sama kamu dia bilang kan dia nggak mau ngerepotin kita dan juga dia nggak mau kalau misalkan perkuliahan kalian itu cuma gara-gara kalian pengen bareng terus berdua." Mama pernah juga di posisi ini bahkan mungkin jauh lebih sakit daripada yang dirasakan oleh Mario tapi semua sudah terlewati begitu saja setelah lika-liku yang terjalani.
"Iya Mah, tapi gimana caranya supaya kamu berdua tuh bisa deket terus aku pengen deh nikah sama dia kira-kira setelah kuliah aku langsung lamar atau gimana?" Mario merapikan posisinya jauh lebih rapi dan menyenderkan kepalanya ke atas paha Mama yang ditaruh bantal di bawahnya. Mungkin Mario bukan anak kecil lagi yang harus di beri penjelasan dengan panjang lebar tapi dengan pemikiran pemikiran yang akan membuatnya percaya kalau kehidupan pernikahan itu tidak semudah dengan egoisnya atau hanya sekedar keinginan doang untuk bersama pasti ada lika-liku yang terjalani yang harus dihadapi.
"Mending kamu tanya dulu deh sama sahabatnya dia kali aja sahabat-sahabatnya dia bisa cerita dan juga memberikan solusi apa yang harus kamu lakukan supaya kamu nggak ambil langkah yang kilat."
"Oh iya ya, aku aku sama sekali enggak kepikiran ke arah sana ya ya udah kalau gitu aku chatting mereka dulu ya buat ngajak ketemuan nanti besok." Dengan cepat Mario mengambil ponselnya lalu mengirimkan sebuah pesan singkat kepada mereka berdua mengajak mereka berdua untuk ketemuan.
Dan mereka berdua mengiyakan pertemuan tersebut besok nanti. "Mah, makasih banyak ya udah kasih solusi dan juga jadi orangtua yang paling baik yang aku kenal Dan aku nggak akan pernah ngelupain apa aja yang kita jalani selama ini."
***
Pertemuan mereka pun terjadi atas keinginan Mario tapi di sini hanya mereka bertiga saja tidak ada Tania karena bakalan runyam kalau misalkan ada Tania di tengah-tengah mereka. "Gue sebenarnya ngajak kalian kesini mau pengen dikasih pendapat sama kalian nggak tahu kenapa ya gue tuh kayak pengen banget cerita ini sama kalian tapi jangan ketawain gue ya."
"Ya udah kalau misalkan pengen cerita atau pengen nanya-nanya sama kita ya udah tanya aja." Mario yang mereka kenal bukanlah Mario yang dulu lagi yang sombong di juga angkuh bahkan Mario yang sekarang adalah Mario yang banyak berubah dan juga banyak banget terjadi dalam hidupnya yang jauh lebih baik daripada sebelumnya tapi bayang-bayang negatif yang dulu masih melekat di dalam diri Mario masih sangat tergambar sekarang, dan mereka sangat menerima perubahan tersebut perlahan-lahan.
Mario menjelaskan hal awal yang pengen diceritakan juga bagian akhir mereka berdua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap Mari yang terlalu berlebihan dan juga sangat ambis disebabkan untuk terus bersama dengan Tania. "Emangnya lo pengen banget ya kuliah bareng berdua?" Pertanyaan Giska mewakili pertanyaan diluar rencana sebagai seorang sahabat yang tahu banget kehidupan atau percintaan mereka berdua selama ini tuh nggak mudah dan juga banyak banget rintangan.
"Ya gue sih sebagai se perempuan dia bakalan juga nanya kayak begini karena lo terlalu ambisi banget untuk mendapatkan apa yang lo mau? Dan apakah Tania sudah mengiyakan apa yang lo pintar hari ini?" Dengan sangat cepat Mario pun menggelengkan kepala Tania belum menerima atas arahnya tersebut Dan sampai detik ini malah membuatnya semakin bingung melakukan berbagai macam cara agar bisa mendapatkannya.
Mereka berdua hanya bisa menarik napas sejenak mengatakan mereka akan membantu. "Iya kalian harus benderanya bantu gue gue nggak akan pernah biarin kalo misalkan gue lepasin Tania dengan perlahan apalagi ada laki-laki nantinya ngambil dia?"
"Tapi, apakah lo menerima Tania apa adanya bukan karena sesuatu?"
Mario mengangguk ia benar-benar yakin mungkin banyak perempuan yang cantik di luaran sana yang lebih Tania Sampai detik ini tetap dengan jawaban yang sama tidak ada perubahan.
Sekar mengambil ponselnya lalu menghubungi Tania dengan speaker ponselnya tersebut di panggilan telepon. Basa-basi adalah kata-kata yang keluar terlebih dahulu. "Tan, gue pengen nanya deh sama lo kira-kira lo beneran masih cinta nggak sih sama Mario?"
"Iya, gue masih cinta kok sama Mario tapi ada hal yang bikin gue sampai saat ini bingung kenapa dia terus maksa gue buat masuk ke kuliah ke universitas yang sama sama dia gue nggak ada uang buat kuliah makanya gue pengen kerja aja."
"Tapi kata Mario dia benar-benar cinta sama lo, masa lo sia-siain laki-laki tulus kayak dia sih?"
Mario tegang sekali mendengar jawaban-jawaban yang keluar dari mulut tanya di panggilan telpon ia berharap tanya juga merasakan yang sama dan merupakan hal-hal terburuk yang Mario lakukan kepadanya. "Pokoknya dia itu kayak maksa gue banget itu tapi gue nggak marah kok gue cuma bingung aja gimana nanti kalau misalkan gue kuliah dan tiba-tiba aja kita putus di tengah jalan gimana gue bayar kuliah gue?"
"Kok lo malah ngomong kayak begitu sih jangan putus lah kalian itu udah cocok banget kenapa malah berpikiran negatif kayak begitu dalam hubungan kalian berdua?"
Tania hanya bisa diam tidak menjawab apa-apa karena selama ini ya itu adalah hal yang paling ditakutkan karena antara bumi dan langit yang emang bener-bener gak bisa disatukan. Sekar mematikan ponselnya lalu menaruh ponselnya kembali di atas meja melihat raut wajah Mario yang seakan tidak optimis mendengar jawaban Tania yang sangat jelas sekali ia katakan.
Sekar dan Giska meyakinkan kepada Mario kalau misalkan hubungan mereka bahkan tetap lanjut dan ini adalah mungkin ujian dari Tuhan supaya mereka bisa ngejalanin dengan baik dan juga dengan lapang dada apalagi mereka perlahan-lahan akan menjadi sosok yang dewasa.