Mario & Tania

Mario & Tania
Bagian 108. Mario Memohon Kembali



Perasannya sudah sangat gelisah sekali entah kenapa apa yang ada di dalam pikiran dan juga hatinya kenapa bisa tiba-tiba seperti ini.


"Kayaknya gue harus ke sana juga deh buat konfirmasi langsung kayaknya enggak bisa kalau misalkan cuma ngedenger kabar kayak begitu!" Mario langsung masuk ke dalam mobil rasanya sudah dicampur aduk bahkan beberapa waktu di saat dia mengendara rasanya nggak fokus banget untuk melihat ke arah depan mobil yang berlalu-lalang bahkan hampir saja menyerempet motor yang ada di samping yang sedang berdiam diri.


Ketika Mario ingin mengajak Tania untuk ketemuan tadi, Tania langsung menolak karna ia mengatakan sudah menemukan laki-laki lain untuknya. Mario langsung saja terkejut sekali ketika m mendengarkan seperti ini, ia benar-benar merasa deg-degan banget bahkan sangat terkejut sekali. Kenapa bisa seperti ini? Ada apa.


Padahal Mario baru saja ingin cerita kalau ia sedang merintis usaha kecil-kecilan yang sudah ia keluarkan modal dengan modal sendiri dari uang tabungan yang selama ini ia tabung di dalam celengan dan ingin ia beritahukan Tania. Eh ternyata malah seperti ini.


Keesokannya Mario sudah berada di depan rumah Tania yang tampak sepi, karna masih pagi sekali. Ia melihat Tania dengan dua jam menunggu di pagi hari. Dengan cepat Tania menghampirinya dan menanyakan kedatangan Mario ke rumah dengan cepat Mario pun memegang kedua tangan Tania tangannya sangat bergetar sekali bahkan seperti tidak bisa berkata apa-apa kedua matanya bener-bener ingin menangis tapi mencoba untuk menahannya, karena sebagai seorang laki-laki yang selama ini bersama Tania ketika duduk di bangku SMA merasa gagal di karenakan mungkin Tania lebih memilih laki-laki lain dan ia ingin menikah dengan laki-laki tersebut yang baru saja ia kenal.


Sebenarnya tampak sulit sekali untuk menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kalau misalkan mereka berdua belum untuk segera menikah tapi ini hanya sekedar rekayasa belaka dan Tania tidak mungkin menceritakan hal ini langsung kepada Mario. Tania mencoba untuk menenangkan Mario lalu mempersilakan untuk duduk di teras rumah dengan bangku yang setiap hari ada di sana dan juga meja tua yang sudah menemaninya dari dulu sampai sekarang ketika waktu SD bahkan sudah bekerja seperti ini.


"Kamu kenapa sih giniin aku aku kan udah berubah menjadi lebih baik dan aku juga pengen memperbaiki semuanya bareng sama kamu, apakah ini adalah alasan kamu enggak mau masuk ke perguruan negeri tinggi gara-gara kamu pengen nikah sama orang lain dan orang lain itu sebenarnya atasan kamu sendiri?"


"Aku nggak bisa menjelaskan apapun sama kamu yang terpenting adalah kita udah nggak ada hubungan lagi dan kamu berhak bahagia dengan perempuan yang lain dan aku juga berhak dengan laki-laki pilihan aku maafin aku ya!"


Mario sama sekali tidak merasa terima dengan ucapan Tania seakan-akan ia dicampakkan begitu saja perjuangannya selama ini seolah-olah terbuang sia-sia dan nggak akan pernah mungkin untuk kembali dan ia berusaha untuk berjuang malah hanya seorang diri tidak bersama-sama.


"Kamu ternyata tega banget sama aku tahu nggak sih!"


"Aku sama sekali enggak bisa ngomong apa-apa lagi sama kamu yang paling penting adalah ya seperti aku jelaskan waktu yang tadi dan seperti waktu yang kemarin-kemarin kalau misalkan aku nggak bisa lagi sama kamu!" suara Tania benar-benar merasa bergetar sekali ketika Mario mengatakan hal itu dan tidak bisa dibendung oleh apapun sangat banget mengecewakan dan terjebak dalam keadaan.


"Loh ada Mario, loh bukannya kalian berdua udah nggak bersama lagi? Dan Tania sebentar lagi bakalan tunangan dengan laki-laki lain jadi Tante harap kamu jangan ganggu-ganggu dia lagi!" Rasanya mama nggak tega banget ketika mendengar ucapan mereka berdua seperti tadi tapi karena nggak mau bikin suasana semakin runyam dan gak mau bikin suasana semakin sakit maka dari itu ia sengaja mengatakan hal ini langsung kepada Maria laki-laki yang pernah bersama Kania beberapa tahun ke belakang.


Mario memutuskan untuk permisi meninggalkan rumah Tania mungkin ini adalah jawaban yang tepat dari selama ini aku yang dia jalani dan Mario mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi bagian hidup Tania dalam beberapa waktu ke belakang.


***


Mama sangat khawatir banget karena Mario nggak kunjung pulang untuk rumah. walaupun notifikasi ponsel yang masih aktif tapi tetap saja Mario tidak membalasnya. Suara petir pun sangat terdengar sekali bahkan bergelegar membuat mama memang benar-benar khawatir dengan anak laki-lakinya tersebut.


Tak berapa lama terdengar suara ketukan dari luar dengan cepat ia keluar dan membukakan pintu dan ternyata Mario yang masih utuh seutuhnya. Sudah basah kuyup.


Rentetan pertanyaan sudah bergerombol di dalam pikirannya dan langsung menanyakan kepada Mario apa yang sebenarnya terjadi dan tiba-tiba saja Mario tidak bisa dihubungi. "Hei kamu kenapa kok bisa diam kayak begitu cerita dong sama Mama apa yang sebenarnya terjadi?"


"Tania sudah mau nikah sama orang lain aku pikir dia bareng terus sama aku ternyata enggak padahal aku pengen banget memperjuangkan dia dan menikah sama dia tapi ternyata kayak begitu!"


"Ya kalau misalkan kalian memang berjodoh kalian bakalan bareng-bareng tapi kalau misalkan kalian enggak berjodoh masa kamu harus memaksakan suatu keadaan dan juga takdir kamu enggak boleh ngomong kayak begitu kamu juga berhak bahagia?"


"Ya udah kalau gitu aku ke kamar dulu ya buat ganti baju soalnya udah basah banget nanti aku bakalan sakit kalau misalkan pakai bajunya!"


Mama pun sedikit merasa tenang banget dengan cepat ia membiarkan mari untuk menenangkan terlebih dahulu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya tapi sebelum ia membuatkan teh panas terlebih dahulu di dapur.


Mario duduk di ruang tamu lalu menceritakan tragedi apa saja yang terjadi hingga membuatnya seperti ini. Mama hanya bisa mengelus dada ternyata sedalam itu perasaan Mario kepada Tania hingga membuatnya sedikit agak brutal dan sedikit agak frustasi.


"Ya sudah kalau misalkan kalian berdua yang berjudul Mama salah Mama bakalan berdoa untuk cariin kamu pasangan yang jauh lebih baik lagi dan mungkin aja ini adalah jalan Allah untuk memisahkan kalian berdua, iya Mama dulu juga kayak begitu enggak mulus-mulus aja kayak sekarang ya namanya hidup akan banyak ujian nggak mungkin nggak ada ujian!"


"Ya udah aku minum terlebih dahulu ya. Makasih sudah repot-repot bikinin aku minum makasih banyak udah perhatian sama ini sama aku ya Mah."


"Iya sayang."