
"Sebentar ya gue mau nyamperin Mario dulu soalnya gue pengen gabung bareng sama mereka." Vita melebarkan sini bergabung di antara mereka semua terutama Mario.
"Ya udah kalau gitu." Sahutnya dengan begitu pasrah banget membiarkan Vita menghampiri Tami yang masih makan di meja makan yang berada di kantin.
"Lo kenapa malah gabung bareng kita? Kasihan Tami sendirian." Tami hanya tersenyum saja ketika Mario menatap kedua matanya. Ia menghirup bakso yang sudah hampir habis.
Mario tak merasa nyaman ketika berada di kantin karena kita terus saja mendekatinya.
"Lo tadi itu nggak ngerjain PR ya? Kenapa? Kenapa nggak dikerjain di rumah seharusnya lo kerjain biar lo nggak dijemur di panasnya matahari! Itu bisa bikin nilai rendah gara-gara kelakuan minus lo kenapa sih enggak berubah sama sekali?"
"Em, gue lupa kalau misalkan ada PR tapi enggak cuma gue doang kok yang dijemur yang lain juga soalnya emang bener-bener lupa bukan nggak mau ngerjain." Mario sudah berbeda sekali ketika yang dulu dan dengan yang sekarang dikarenakan mereka memiliki pola pikir yang beda banget Maria dulu paling males namanya ngerjain PR tapi sekarang ketika ia mengenal dengan Tania maka pekerjaan pekerjaan yang harus diselesaikan sebagai seorang siswa atau sebagai seorang pelajar emang harusnya kayak begitu.
Suara bel berbunyi itu tandanya istirahat pertama sudah selesai namun ketika Mario ingin berdiri tiba-tiba saja Vita menahan tangan Mario yang membuat kedua sahabatnya tersenyum diam-diam. "Maaf, oh iya nanti pulang sekolah bareng ya?" Mario hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Vita sendirian.
"Cie lo udah mulai balikan lagi sama Vita?"
"Ngomong apaan sih? Iya udah balikan sama dia tapi gue atas dasar kasihan doang sih nggak ada macam-macam dan nggak ada perasaan sama sekali lagi sama dia!" Tegas Mario yang berjalan dengan begitu santainya.
***
Mario sudah menunggu di depan kelas dari Vita. Vita mencoba untuk menggandeng Mario namun Mario menurunkan tangan tersebut karena nggak etis banget ketika berada di sekolah malah berpegangan tangan atau bergandengan. Mungkin cerita dulu adalah Mario dengan gampangnya menggandeng Vita bahkan nggak ada rasa malu sama sekali tapi sekarang karena mungkin cara berpikirnya sudah beda dan semenjak kenal dengan Tania maka dari itu perubahan sangat signifikan sekali. "Kok lo malah nggak mau gini sih kita kan udah balikan seharusnya lo harus romantis?" Vita tidak terima karena sikap Mario yang tidak sesuai dengan ekspektasinya dulu yang sebenarnya romantis banget bahkan bisa bucin dan gak peduli sama orang-orang sekitar dan bahkan orang-orang sekitar malah menganggap mereka adalah pasangan yang benar-benar romantis dan diidolakan.
Mario memakaikan helm dengan sedikit agak kasar berbeda dengan ia memakaikan helm kepada Tania. "Lo kenapa sih jadi orang kasar banget gue ini kan pacar lo sekarang bukan siapa-siapa kayak Tania lagi kenapa lo kayak begini sih sama gue!"
"Vit bisa nggak sih lo nggak usah berisik kayak gitu lo mau gue anterin pulang nggak? Perasaan dari tadi lo berisik banget gak bisa diem ikutin aja gue anterin pulang nanti sampai tujuan nggak usah banyak ngomong deh." Vita menarik nafasnya sejenak lalu iya menaiki motor Mario.
"Kalau bukan karena gue sayang dan cinta sama lo mungkin gue udah enggak mau diginiin!" Vita hanya diam saja dan tak mau menjawab sama sekali.
Bruk..
"Emang kenapa emang ada yang salah kan masih----"
"Ngomong apaan sih," Mario sangat menolak keras apa yang diucapkan oleh pita sepanjang jalan Ia hanya diam saja dan bete nggak merasa nyaman nggak seperti yang dulu lagi.
"Ya kali arogan banget sih jadi cowok santai aja kali gue juga sebenernya ya emang sayang juga sama lo tapi ya udahlah karena lo udah bikin gue kayak gini ya udah gue lanjutin aja." Batinnya dalam hati yang merasa tertantang kalau misalkan bersikap dingin dan merasa kalau misalkan Mario udah nggak suka dan cinta lagi itu adalah hal yang paling membuatnya terpacu untuk bisa maju dan balik lagi seperti yang dulu.
"Aduh kenapa tiba-tiba perut gue sakit banget ya lo bisa nggak anterin gue ke tempat makan sebentar ya di pinggir jalan juga nggak masalah kok."
"Ya kan sebentar lagi bakalan sampai juga di rumah lo kenapa harus makan di pinggir jalan?" Mario memang pintar untuk mencari jawaban yang membuat lawan bicaranya skakmat tapi Vita tidak sampai di sana saja ia mencari cara untuk bisa makan bareng walaupun sebentar.
Karna Mario teringat tentang apa yang diucapkan oleh Tania waktu itu kalau misalkan Vita sedang sakit dan waktu hidupnya tidak sebentar lagi maka ia mengiyakan langsung saja tanpa Vita mencari alasan yang lain. "Ya udah deh kalau gitu gue anterin aja lo mau makan ke mana tapi jangan lama-lama ya soalnya gue pengen rebahan dulu di rumah!"
"Iya gue nggak bakalan lama-lama kok soalnya kan gue ada penyakit maag gitu di perut gue!"
Yes akhirnya!
Sampailah mereka di suatu tempat makanan yang dijual di pinggir jalan Mario hanya menunggu di sepeda motornya, sedangkan kita makan lebih dulu di sana. "Lo enggak mau makan juga biar gue bayarin deh?"
"Gak gue nanti makan di rumah aja buruan lo makan ya lama-lama!"
"Sialan, gue kan pengennya makan berdua suap-suapan gitu eh dia malah nunggu di motor nyebelin banget sih jadi orang! Kenapa malah kayak gitu banget gue kan pengen banget kayak dulu lagi sama Mario apa ini gara-gara Tania ya yang udah merubah Mario bisa berubah kayak begini?" Pikirannya sudah berprasangka buruk kesana kemari malah menyudutkan Tania karena perubahan Mario yang keras banget berubah dan tidak seperti dulu dan perhatian.
"Emang lo pikir gue mau makan bareng sama lo yang enggak lah gue juga nggak sebodoh!" Melihat dari gerak-gerik Vita yang sepertinya tidak seperti orang sakit dia sedikit merasa curiga. Mario tidak secepat itu mempercayai apa yang diucapkan oleh Tania kalau misalkan Vita tinggal sedikit lagi usianya.
"Kok kayak orang gak sakit sih kayak orang sehat-sehat aja apa dia selama ini bohong? Dan bohongin gue Tania dan yang lain? Apa gue tes aja ya kalau misalkan dia beneran sakit?"