
Akhirnya Bagus berubah pikiran ia pun akhirnya mau untuk bekerja sama dengan Vita. "Ya udah gue mau kok bikin perjanjian sama lo kalau misalkan kita harus sama-sama saling menguntungkan satu sama lain gue mau pisahin Tania dari Mario dan lo dapatin Mario dan gue dapetin Tania?" Mereka pun bersalaman satu sama lain seolah-olah apa yang mereka ucapkan itu memang benar dan mereka bekerja sama akhirnya satu sama lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Apa yang gue lakukan untuk memisahkan mereka berdua?" Pikirannya sudah ke mana-mana dan bingung.
"Ya lo bikin hanya salah paham, dan lo fitnah Mario. Bisa kan lo fitnah Mario?" Ucap Vita yang begitu menggebu sekali.
"Dan tugas kue adalah untuk menyuruh Tania untuk bisa deket sama lo. Sebenarnya ini sudah terlambat banget sih kalau misalkan mereka berdua pacaran sekarang seharusnya dari kemarin-kemarin supaya Tania tidak menerima Mario sebagai pacarnya tapi ternyata lo baru berpikiran sekarang ya syukur deh belum terlambat juga yang penting mereka harus secepatnya putus!"
"Oke deh kalau gitu!" Vita dan Bagus bersalaman satu sama lain karena mereka untuk merencanakan sesuatu yang mereka ingin dapatkan walaupun dengan cara yang salah untuk mendapatkannya.
Namun tak sengaja Juan dan Giska melihat obrolan antara Vita dan Bagus. "Mereka ngapain ngobrol berdua apa jangan-jangan mereka?" Pikiran sudah kemana-mana.
"Lo ngapain ngeliatin mereka?" Ucap Juan kepada Giska yang sedang memperhatikan mereka berdua ia terkejut sekali kenapa tiba-tiba ada Juan disampingnya dan ini tidak direncanakan.
"Ya kayak ada hal yang aneh gitu dari mereka berdua kira-kira mereka lagi ngobrol apa ya tumben banget bisa akrab segitunya?" Ucap Giska yang menatap kearah mereka berdua dan kebetulan ada Juan juga disampingnya.
"Ya kalau menurut gue sih ada hal yang aneh gimana kalau misalkan kita tungguin aja sampai mereka selesai ngobrolnya?"
"Tungguin?" Untuk apa di tungguin?
"Kenapa? Kita tungguin berdua maksudnya gitu?" Ucap Juan yang begitu tajam sekali.
"Iya gue penasaran aja sama yang mereka bicarain gitu. Gue yakin pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan." Jawab dari ucapan dari Juan kepada Giska, mereka akhirnya melihat dan mendengarkan obrolan mereka berdua dengan diam-diam.
"Sumpah gue deg-degan banget ngeliat Juan ada di samping gue. Kenapa bisa begini sih berdebar banget deg-degannya." Gumamnya dalam hati.
Halu On
Giska berjalan dengan begitu elok sekali di depan orang-orang yang lain. Ia menguraikan rambut yang begitu panjang dan lurus hitam legam dan membuat orang-orang yang pangling melihatnya membuat dirinya seakan-akan primadona dan begitu cantik sekali untuk dipandang dia menuju ke arah kelasnya namun sebelum ke arah kelas banyak sekali orang yang bersiul seolah-olah sedang menggodanya tapi ia sama sekali tak menggubris dan ia tetap saja terus berjalan tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampirinya mendekat seolah-olah memberikan bunga dan tatapan yang begitu tajam seakan ia sedang jatuh cinta kepada orang yang di hadapannya sekarang yang begitu cantik rupawan. Ia memberikan bunga di sebelah kanan membuat Giska termenung sejenak menatap kedua matanya yang begitu Itu tajam dan begitu cantik sekali untuk dipandang walaupun dia seorang laki-laki. "Ini untuk cewek cantik yang gue kasih coba cium sebentar bunganya apakah wangi?"
Giska pun mengikuti suruhan dari laki-laki tersebut dan ternyata wangi banget karena yang dikasih adalah bunga mawar merah yang masih segar. Ia pun ingin melanjutkan berjalan namun tiba-tiba saja cowok itu menahan tangan sebelah kirinya mengatakan kalau misalkan hari ini bisa begitu cantik sekali dan wajahnya begitu malu-malu untuk mengatakan hal ini. "Ya ampun dah cantik banget sih kalau misalkan lo mau sama gue boleh nggak kita pacaran?" Ia raja mengatakan sesuatu hal ini secara blak-blakan kepada Siska yang membuat Giska menaikkan atau memiringkan wajahnya ke arah lain. Ternyata enak sekali kalau misalkan dibilang cantik. Ia menuju ke arah kelasnya ternyata tak cuma hanya di lapangan saja melihat kecantikannya ternyata teman-temannya juga memperhatikan yang sama apalagi Sekar dan Tania yang tidak henti-hentinya terpana dengan kecantikan Giska. Mereka memutar badan Giska dengan begitu cepat. "Ya ampun kok cantik banget sih hari ini beda banget dari biasanya kenapa nggak kayak gini aja sih dari dulu." Giska benar-benar bingung kenapa mereka begitu memujinya dengan keadaan yang digunakan sekarang padahal kalau misalkan dipikir-pikir ya biasa aja.
"Lo sebenarnya perawatan di mana sih kok cantik banget kalau di lihat-lihat?" Puji Sekar yang tak ada hentinya sama sekali memuji dari Giska. Ternyata jadi cantik lu enak ya selalu dihargai dan selalu disukai oleh banyak orang. Ia pun tersenyum dengan sendirinya.
Halu Off
"Hei, hello."
"Hei kenapa lo senyum-senyum gak jelas gitu sana woi lo kenapa?" Ternyata hanyalah sebuah mimpi yang ternyata cuma sekedar hal biasa ya ampun kenapa bisa seperti ini ternyata penampilannya tidak ada perubahan sama sekali. Giska kepikiran untuk berubah menjadi cantik yang berubah menjadi sosok yang mungkin bisa diterima oleh banyak orang. Mungkin sepulang hari ini ia ingin membuat pakaiannya dan penampilannya jauh lebih menarik supaya orang-orang bisa menghargai.
Juan pun melambaikan tangannya ke depan wajah dari Giska. "Lo kenapa sih bengong enggak jelas sekarang?" Ia melambaikan tangannya di depan wajah Giska.
"Ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya sopir gue sudah nunggu di depan tuh dia chatting gue." Giska langsung saja pergi tanpa mengingat apa yang diucapkan dari Vita dan Bagus tadi karena mungkin dia terlalu halu.
Juan pun menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali dia bingung kenapa Giska bisa seperti ini mengandung nggak jelas sama sekali. "Loh mereka berdua pada kemana sih?" Melihat ada lagi mereka berdua keadaan terlihat sepi.
Ia masuk ke dalam mobil karena sopir sudah menunggu dari tadi dia duduk di dalam dan memikirkan apakah iya harus berubah cantik dulu baru bisa dihargai orang banyak? Ya sepertinya ide yang bagus untuk mendapatkan itu semua pasti ada hasil dibalik suatu usaha yang terjadi.