
"Bagus?" Tau dari mana alamat Tania? Perasaan ia tak pernah ke rumah Tania ini adalah pertemuan pertama mereka di rumah tepatnya di rumah Tania. Tania mempersilahkan duduk atas kedatangan dari Bagus. Ia membuatkan minum terlebih dahulu di dapur.
"Hei kaget ya kenapa bisa disini? Tegang amat mukanya." Tanyanya.
"Gue boleh ngomong sesuatu nggak sama lo ini penting banget ada hubungannya sama Mario!" Ucapnya yang tegang memegang kedua jari telunjuknya. Karna takut kalau misalkan Tania sedih.
"Ya udah cerita aja sama gue lo mau ngomongin apa dan pengen cerita apa sama gue? Kalau boleh tahu tuh alamat gue dapet di mana ya? Perasaan gue nggak pernah kasih tau rumah gue dimana?"
Bagus menarik napas sejenak, lalu ia mengatakan kalau misalkan alamat rumah Tania ia dapatkan dari Giska. "Oh gitu."
"Ya udah silahkan minum." Bagus merasakan kalau misalkan tenggorokannya begitu kering sekali ia pun memegang tenggorokan itu dan mengambil air minum yang sudah disediakan oleh Tania di atas meja lalu ia minum dengan begitu cepat.
"Jadi Mario cuma ngejadiin lo bahan taruhannya doang makanya dia ngedeketin lo?"
"Hah? Gue sama sekali nggak ngerti deh maksud lo apa? Coba Lo jelasin ulang sama gue supaya gue ngerti apa maksud lo sumpah beneran gue nggak ngerti!" Sahutnya dengan cepat, merubah posisi dan menatap tajam Bagus.
"Jadi selama ini itu Mario cuma jadi ilmu bahan taruhan sama Kevin dan juga dia beneran nggak mau sahabatan sama lo dengan hati yang tulus tapi ada sesuatu hal yang mereka sembunyiin sampai Mario mau deketin lo. Gue bukan mengompor-ngomporin ya tentang Mario tapi ini emang beneran nyata."
"Jadi selama ini Mario deketin gue karena gue jadi bahan taruhan gitu maksudnya?" Bagus mengangguk dengan ucapan Tania.
"Trus berarti kebaikan yang selama ini cuma ada maunya doang dong sama gue?"
"Ya sangat jelas sekali." Tegas Mario yang menatap kedua mata Tania yang tidak menyangka sekali kalau misalkan Mario bisa berbuat seperti itu.
"Lalu tahu dari mana kalau misalkan dia deketin gue gara-gara itu pastilah dapat diinformasikan?"
"Ya gue kan sekelas sama Mario sama temen-temen yang lain juga otomatis secara tidak langsung dia tahu apa yang mereka obrolin dan apa yang mereka bicarakan di kelas jadi lo nggak usah ragu lagi deh dengan apa yang gue omongin ini!" Masuk akal sekali ucapan dari Bagus.
***
Bagus menghubungi Vita, memberitahu kalau misalkan tadi ya sudah ke rumah Tania. Ia yakin sekali kalau misalkan Vita bahagia banget bisa tahu ini.
Vita
"Trus ekspresi Tania kayak gimana setelah dia denger kalau misalkan Mario itu cuma jadiin dia bahan taruhan?"
"Iya kaget banget lah tapi nggak kaget yang gimana-gimana juga lu tau sendiri kan kalau misalkan dia itu tipe orang yang gak terlalu ambisius dan tipe orang yang sabaran jadi kalau misalnya denger sesuatu hal yang gak baik ya dia lebih santai aja gitu nanggepinnya. Trus sekarang mau apa?"
Vita
"Gila, ternyata licik banget ya ternyata?"
Vita
"Gak usah banyak omong ngikutin aja kemauan gue gue bakalan bayar berapa pun yang lo mau kalau misalkan ini semoga berhasil. Dan gue bakalan jamin kalau misalkan gua pengen deket sama Tania gue bisa wujudkan apa yang lo mau!"
Bagus berpikir sejenak ia mengambil handphone cadangannya lalu merekam ucapan dari Vita ia menyuruh Vita untuk mengulangi ucapan yang kembali lalu dengan sengaja ia merekamnya. Apa yang disuruhnya ini terlalu beresiko jadi kalau misalkan ada apa-apa ya bisa mengeluarkan bukti ini sebagai bukti yang kuat kalau misalkan pelaku itu tidak sendirian saja tapi melebihi dari 1 orang. "Ya udah kalau gitu gue bakalan ngelakuin besok!"
***
Keesokan harinya Bagus langsung saja mengikat tali sepatunya lalu berpamitan kepada mama dan papanya beserta adik-adiknya terlebih dahulu mereka bingung kenapa tiba-tiba Bagus berangkat lebih awal dari sebelumnya biasanya ia berangkat pukul sekitar jam 7.15. Ia beralasan kalau misalnya berangkat ke sekolah karena ada tugas dan harus duluan berangkatnya supaya tidak ketinggalan dan mereka percaya-percaya aja karena selama ini bagus tidak pernah neko-neko dan berulah.
Sejak tadi dia tidak sabaran ia terus-terusan mengecek jam yang melingkar di sebelah kirinya dan bergerak cepat untuk sampai ke sekolah.
Bagus sengaja datang lebih awal dari biasanya ia menaruh ke bawah laci mereka masing-masing dengan tulisan Mario hanya melakukan dekat dengan Tania kalau misalkan itu hanyalah sekadar taruhan belaka Dan tulisan itu sama persis semuanya dan ditaruh di bawah laci. Tak perlu lama untuk menaruh iya pun langsung saja pergi tapi sebelumnya ia akan terlebih dahulu untuk menghilangkan jejak dan untuk supaya tidak dituduh. Untungnya sekolah tidak begitu ramai dan tidak banyak siswa atau siswi yang datang karena ini masih pagi banget. Akhirnya naga juga untuk menaruh itu semua karena satu-persatu laci yang ia ntar itu membuatnya deg-degan banget karena ini adalah kali pertamanya untuk melakukan sesuatu hal yang memfitnah. "Ah akhirnya selesai juga tugas gue semoga aja ini semua berhasil dan semoga aja Tania terbebas dari orang seperti Mario yang berbuat jahat."
"Semoga aja orang-orang Zainuddin gue karena ini demi kebaikan." Batinnya. Ia menarik napas sejenak untuk mengatur pernapasannya agar lebih stabil karena jantungnya terus saja berpacu dak dik dug.
07.20
Ia tampak ragu untuk menuju ke arah kelas namun ia memberanikan diri untuk kelas ia akan melihat ekspresi Mario dan teman-teman sekelasnya apa yang ada di dalam laci mereka.
1
2
3
"Astaga? Ini apaan?" Kisruh kelas begitu berkecambuk sekali. Ia lebih fokus ke arah Mario yang begitu tegang menatap tulisan yang ada di bawah lacinya ia mengintimidasi satu persatu orang yang ada di kelas siapa pelakunya yang memberanikan diri untuk menaruh tulisan ini di bawah laci mereka masing-masing. Walaupun Mario tak tahu kalau misalkan dirinyalah yang pelakunya tapi ia berusaha untuk santai dan tidak grogi karena bisa-bisa Mario bisa menuduhnya dengan cepat.
Bersambung...
Apakah Mario akan tahu siapa pelakunya? Yuk kalian baca di bab selanjutnya ya jangan lupa untuk stay tune!