
Juan memberanikan diri untuk mengirimkan pesan teks kepada Giska. Dengan pemikiran yang begitu matang sekali karna ia mondar-mandir sekitaran satu jam-an untuk mengirimkan hal ini agar bisa dengan yakin untuk mengajak Giska untuk jalan.
Dan akhirnya....
Juan
"Hei, nomor gue Juan!"
Giska
"Iya. Gue save ya!" Singkatnya seperti itu. Juan seakan-akan tidak cukup puas dengan jawaban dari jika ia pun mengirimkan sebuah pesan kembali kepada Giska kalau misalkan ia ini lebih dekat kepada Giska ia mungkin sedikit merendahkan diri tapi ia ingin melihat respon dari Giska karena tidak ada pertemuan langsung antara mereka berdua. Giska terkejut sekali dengan ucapan dari Juan di dalam pesan teks wa namun karena penasaran ia pun meladeni dari sikap Juan.
Karena kebetulan hari ini adalah hari minggu ia pun memutuskan untuk mengajak Giska untuk jalan-jalan dan di iyakan oleh Giska. "Ya udah deh kalau gitu gue mau jalan-jalan sama lo!" Sahutnya yang begitu simpel sekali Juan pun sangat bahagia mendengar jawaban dari Giska akhirnya ia bergegas untuk ke rumah Giska dan berdandan terlebih dahulu walaupun pakaian ia simple juga.
***
Ajakan pertemuan kedua entah kenapa hari ini juga ingin mengajak Giska untuk bertemu. Akhirnya mereka berdua pun bertemu di sebuah taman dan terlihat sekali ada kecanggungan diantara mereka berdua. Giska mempersilahkan jual untuk duduk seolah-olah seperti mereka baru saja mengenal satu sama lain. "Kenapa lo tiba-tiba ngajakin gue jalan. Eh maksud gue ngajakin gue ketemu di sini ada apa?" Ucap Giska yang langsung saja mempertanyakan hal ini kepada Juan, Juan juga bingung apa yang akan ia jawab.
"Ya nggak apa-apa gue pengen ngajakin lo ke sini aja emang gak boleh?" Sahutnya yang begitu cepat sekali dalam mengatakan hal ini kepada Giska.
"Ya boleh sih tapi rasanya aneh aja gitu lo tiba-tiba ngajakin gue ke sini bukannya lo gak suka sama gue kenapa tiba-tiba ngajakin gue ke sini?" Heran Giska.
Mereka bingung apa yang harus mereka obrolin satu sama lain, karna yang mereka bingung kan adalah kenapa bisa ketemu di sini padahal di sekolah juga bisa. Akhirnya tak mau berbasa-basi terlalu banyak dan tidak mau kebanyakan canggung, Juan sebagai cowok yang gentle ia pun mengajak Giska untuk jalan-jalan. Dengan mendengar Juan mengajak jalan-jalan kedua mata Giska langsung terbelalak begitu saja karna bingung banget kenapa tiba-tiba dia malah ngajakin buat jalan-jalan kena angin apa tiba-tiba Giska merasa jantungnya berdegup lebih kencang banget deg-degan banget bisa jalan bareng berdua dengan Juan apakah ini adalah mimpi buruk atau mimpi indah? Akhirnya ia mengikuti aja apa yang dilakukan oleh Juan selagi itu tidak hal yang memburuk kan atau hal yang negatif ia pun langsung saja duduk karena Juan sudah menyalakan motornya. "Emang hari ini mau ke mana kata nyokap tadi nggak boleh lama-lama?"
"Iya gue tahu kok, sebelum lokasi udah izin dulu sama nyokap lo karena gue nggak sengaja waktu itu kemarin gue ketemu nyokap lo di pasar ya udah gue minta nomor hp-nya nyokap lo diam-diam tanpa sepengetahuan lo dan sekarang sebelum kita ketemuan dulu beliau minta izin dulu sama nyokap lo jadi tenang aja lo nggak bakalan dimarahin sama beliau!"
"Hahahaha santai aja kali gak usah setegang itu, santai aja gue yakin lo tegang banget kan jalan sama gue!" Karna merasa terus dan terus di ejek oleh Juan, ia pun memutuskan untuk turun dan kalau misalnya Juan tetap saja mengejeknya.
"Apaan sih belum Juan sampai udah marah-marah aja. Ya udah deh gue gak lagi kok kayak gitu, bercanda kali."
"Ya habisnya lo sih bikin gue kesel mulu ya kali gue bakalan kayak begini terus!" Jawab Giska dengan begitu ketus sekali hingga membuat Juan terdiam kikuk dengan ucapan dari Giska.
Juan mengajak Giska untuk kesejukan di sore hari, mampirlah mereka di suatu keramaian yang membuat mereka terkesan seperti orang pacaran. Juan melepaskan helm yang di pakai oleh Giska. "Makasih."
"Hahaha mukanya jangan mau nangis gitu dong, gak boleh entar gue lagi yang di tuduh bikin anak orang nangis!" Kedua mata Giska malah melotot gak jelas karna marah banget dengan tingkah laku Juan, ia dengan refleks mencubit pinggang Juan dan berjalan ke depan tanpa menunggu Juan.
"AW sakit."
"Bodo amat gue gak perduli kalau pinggang lo sakit, siapa suruh ngejek gue mulu!" Juan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karna gemas sekali dengan sikap Giska. Ia menyusul ke dalam dan mengikuti langkah Giska yang sudah lebih dulu di sana. Ia menawarkan untuk membeli apa yang Giska mau.
"Mau beli apa? Biar gue beliin!"
"Gak usah. Gue pengen duduk di sana aja." Melihat anak kecil laki-laki berkelompok sedang bermain sepak bola. Rasanya sudah lama sekali tak melihat anak-anak kecil bermain sepak bola karna semenjak remaja sudah jarang sekali bermain di lapangan bersama teman-teman ketika zaman dulu di SD. Giska juga termasuk anak yang gemar sekali bermain sepak bola dengan teman-teman sekelasnya dia walaupun bermain sepak bola merupakan condong ke arah anak laki-laki namun dia juga menggemari olahraga ini karena menurutnya bermain bola itu seakan-akan titik fokus kita terhadap suatu benda untuk mendapatkan gol yang tepat menurut kita.
"Gue juga suka main bola." Ucap Juan.
"Gue dulu waktu SD sampai SMP suka banget yang namanya main sepak bola. Karna menurut gue bola itu bikin kita fokus dan bisa yakin kalau misalnya kita fokus pasti bola itu masuk ke dalam gawang dan gue yakin dan akhirnya masuk deh." Seakan sama dengan apa yang di pikirkan oleh Giska di dalam hati.
Bersambung...