He'S Back

He'S Back
Episode 97



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagi...


"Wow benar-benar sangat ajaib luar biasa, sungguh ini adalah pengalaman pertamaku, sangat menakjubkan, apakah benar-benar senyata ini ? dan aku melihatnya sendiri dan mengalaminya sendiri, wow benar-benar berkat Tuhan itu memang ada".


Dokter Stefan tak bisa berkata apapun. Ia hanya bisa menggeleng penuh takjub menatap Ethan yang semula terbaring lemah. Kini duduk dengan santai tanpa merasakan apa pun.


"Luar biasa, kasih sayang ibu adalah penawar dari segala macam penyakit di dunia ini itu benar-benar ada wow benar-benar sangat menakjubkan".


Bahkan Sean sendiri menatap bingung pada Ethan yang sedang menatapnya kembali. Dua minggu lebih tak pernah sadar berbagai macam obat bahkan banyaknya dokter yang menanganinya tak mampu membuat ia keluar dari zona nyamannya. Kini hanya dengan suara Allis bahkan hanya dengan suara, Ethan langsung terbangun dari tidur panjangnya.


Begitu kuatnya doa seorang ibu hingga membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dokter Stefan keluar dari kamar setelah memeriksa keadaan Ethan. Ia bahkan masih linglung antara percaya atau tidaknya pada kejadian yang dialaminya saat ini.


Jangankan dokter Stefan Sean saja sampai tak bisa berkata-kata dia sangat amat terkejut. Ingin tidak percaya semuanya terjadi di depan matanya. Ingin percaya namun semuanya terasa sangat diluar nalar. Dia sama bingungnya dengan dokter Stefan.


"Bagaimana bisa ?".* Batin Sean bertanya-tanya.


"Terima kasih Tuhan terima kasih sekali lagi ah tidak terima kasih banyak-banyak, a-aku aku tidak bisa mengatakan apa pun, bagaimana aku harus berterima kasih padamu Tuhan ? katakan Tuhan aku juga ingin membalas semua yang kau berikan padaku".


"Ethan sayang".


"Tidak usah menangis aku tidak apa-apa".


"Huhuhu polisi sialan bisa-bisanya ia mengatakan putraku meninggal, mereka begitu bodoh hiks hiks hiks".


"Sayang bolehkah aku menciummu, mommy belum percaya apakah kau nyata atau tidak boleh kah ?".


"Ayo peluk aku mommy".


Allis berhamburan memeluk tubuh kecil Ethan. Ini nyata pikir Allis ia mencium kening Ethan lalu mencium pipinya. Tak kuasa melihat ibunya menangis Ethan pun ikut juga meneteskan air matanya.


"Sayang maafkan mommy maafkan mommy tidak bisa menjagamu dengan baik".


"Sekarang katakan apa yang kau inginkan mommy akan menuruti semua keinginanmu".


"Kau lapar ? kau ingin makan sup atau bubur atau apa ayo katakan mommy akan memasak semuanya untukmu".


"Mom permintaanku memang sedikit berat, maafkan aku, aku selalu memberatkan mommy dengan semua hal".


"Setelah tidur panjangmu kau menjadi berubah seperti ini, biasannya kau hanya menanggapi sekena saja, apakah kau baik-baik saja sayang, apakah ada yang sakit kepalamu, dadamu, tanganmu atau kakimu atau apa katakan mommy akan memanggilkan dokter untukmu".


"Mommy aku baik-baik saja, hanya saja aku merasa sedikit pusing".


"Aku akan memijat kepalamu sayang".


"Tidak usah, mommy cukup disini saja menemaniku".


Allis tersenyum menanggapi perkataan Ethan. Dia mencium tangan Ethan yang ia genggam. Ujung mata Allis melirik Sean yang tengah duduk di sofa yang tak jauh dari meja rias.


"Pergilah kata anakku dia hanya butuh aku bukan kau".


"Kau cks dasar wanita".


"Apa ? kau ingin protes apa lagi ? kau dengar sendiri kan bahwa putraku meminta aku diam disini hanya berdua dengannya".


"Ini rumahku berani-beraninya kau mengusirku dari rumahku sendiri, kau pikir kau si-".


"Daddy cukup".


"Hah ? What ? Apa ? kau memanggilnya apa sayang ? Daddy ? dia ? kau menyebut dia daddy ? sejak kapan ?".


"Mommy maafkan aku karena berbohong sangat lama padamu".


"Lihatlah dia menunjukkan pada kau bahwa dia bukan hanya milikmu tetapi milikku juga".


"Daddy berhentilah kekanak-kanakan".


Deg


Benar Sean seperti tidak mengenali dirinya sejak Allis datang di rumahnya. Ia yang tak suka banyak bicara terus saja berdebat dengan Allis. Bahkan tiada habisnya mereka memperdebatkan masalah yang itu-itu saja.


"Mommy maafkan aku".


"Sejak kapan kau mulai mengetahui ini sayang dan sejak kapan kau mulai menyembunyikannya dari mommy".


"Sejak mommy mengajakku ke kantor mommy dulu, lalu aku bertemu melihatnya dan mengikutinya, entah mengapa aku merasa bahwa dia adalah ayah Ethan, padahal Ethan tak pernah sekalipun bertemu atau melihat wajah ayah Ethan sebelumnya, insting Ethan mengatakan bahwa dia adalah ayah Ethan, akhirnya aku mengikutinya dan memberikan darahku padanya dan juga rambutku, bukankah aku anak yang pintar kata mommy sekarang aku membuktikannya sendiri kan bahwa aku adalah anak yang benar-benar pintar, selepas itu kami bertemu kembali dia mengatakan semuanya padaku dan kami terus saja bertemu padahal aku tidak mau namun asistennya selalu membawaku huh aku kesal sekali dengan asistenmu itu daddy".


"Apakah secepat itu kasih sayang mommy tergantikan dengan hadirnya daddy-mu Ethan ?".


"Mommy maafkan aku karena berbohong sangat lama padamu, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mommy berbicara jujur padaku, namun penantian itu tak kunjung berakhir sampai sekarang akhirnya takdir lah yang memilih untuk jujur padaku mommy, takdirlah yang membawa mommy padaku dan mengatakan semuanya padaku".


Allis terpaku kala mendengar penuturan Ethan, anaknya yang baru berumur tujuh tahun. Coba bayangkan anak umur tujuh tahun bisa-bisanya berpikir seperti itu. Cara berpikir dewasa membawa Ethan pada kebenaran yang selama ini tersembunyi. Allis benar-benar kalah telak oleh kepintaran Ethan.


"Setelah kau menemukan daddy-mu sayang, apakah kau akan meninggalkan mommy ? Apakah kau tidak mengingat semua janji kita sayang ?".


"Mommy bolehkah aku meminta satu hal saja setelah ini aku tidak akan meminta apa pun ?".


"Katakan sayang mommy akan memberikannya untukmu".


"Bagaimana jika dia meminta hidup di bulan ? bagaimana cara kau akan memenuhinya ?".


"Oh iya tuan muda sebaiknya kau diam saja, kau ini tidak diajak berbicara sebaiknya kau dengar dan pahami saja".


"Hah apa katanya oh ya Tuhan mengapa kau menciptakan wanita seperti ini ?".*Batin Sean.


"Ayo sayang katakan mommy akan berusaha untuk mendapatkannya untukmu".


"Menikahlah mom and dad".


"Hah ?".


"Apa ?".


"Menikah ?".


"Mommy ?"


"Aku ?".


"Dengan wanita ini ?".


"Dengan pria kurang waras ini ?".


"Hey ada apa dengan kalian berdua ?".


"Yang benar saja ?".


"Ethan sayang mommy ingin menikah tapi tidak harus dengannya sayang".


"Aku juga, aku juga tidak ingin menikah dengan wanita sinting sepertimu".


"Siapa yang ingin menikah denganmu juga dasar pria tua gila"


"Kau wanita sinting".


"Mom, daddy cukup mengapa kalian bertengkar terus aku sedang sakit".


"Sayang mana yang sakit katakan".


"Aku akan memanggil dokter untukmu".


"Jangan daddy, aku tidak apa-apa mommy aku hanya ingin kebersamaan yang seperti ini".


"Aku hanya menginginkan hal sederhana ini, mengapa kalian tidak bisa memberikannya untukku ?"


"Apakah aku harus sekarat dahulu ?".


"Sayang jangan katakan seperti itu, mommy hanya mommy hanya".


"Hanya apa mommy ?".


"Mommy tidak bisa memaafkan kesalahan daddy kah ?".


Allis terdiam. Selama ini ia melakukan semuanya sendiri. Ia check up ke dokter sendiri tanpa seorang suami yang menemaninya. Melahirkan serta mengajari banyak hal ini dan itu, itu semua ia lakukan seorang diri. Sekarang secara tiba-tiba ia harus berbagi. Berbagi kasih sayang dari anaknya untuknya. Berbagi Ethan dengan orang lain ahh bukan maksudnya ayahnya. Namun ia rasa ia sangat tidak rela ia ingin semuanya sendiri. Allis egois.


"Ethan mommy tidak, mommy rasa mom tidak ikhlas membagi kasih sayang yang kau berikan pada mommy dengan orang lain".


"Aku bukan orang lain aku ini daddy-nya"


"Kau hanya ayah biologisnya camkan itu"


"Mommy maafkan aku, tidak bisakah mommy memikirkan atau memposisikan diri mommy menjadi aku, aku juga ingin seperti anak-anak yang lain berjalan bersama dengan ayah mereka".


"Apakah mommy saja tidak cukup untukmu sayang ?".


"Kau egois Allis".


"Kau juga jauh lebih egois tuan muda, aku tahu isi pikiranmu itu".


Sean tak memungkiri ia juga menginginkan hal yang sama dengan Allis. Ia ingin Ethan ikut dengannya apa pun yang terjadi. Bagiamana mungkin ia berpikir seegois ini. Ia sangat lancang berpikir merebut anak dari ibunya namun disisi lain ia juga ayah dari anak itu ia juga berhak bukan.


"Aku juga berhak atas Ethan Allis".


"Aku jauh lebih berhak darimu tuan muda aku yang melahirkannya, aku yang melakukan semuanya sendiri sedangkan kau apa ?".


"Aku memberikan benihku".


"Cihh itu saja bangga".


"Jika tidak ada benihku, dia tidak akan ada bodoh".


"Kalian selalu memperdebatkan hal yang sama, lebih baik kalian keluar saja aku lelah dan muak melihat kalian".


🌼 Bersambung 🌼


Hallo up lagi kakak-kakak readers selamat membaca semuanya btw selagi mimin belum update di lapak ini mampir ke novel mimin yang _Si cowok cuek itu milikku_ tolong bantu mimin dapat reward dong🙏🥺 dan juga jangan lupa selesai membaca sempatkan memberikan like, komen jangan lupa, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya sebagai bentuk dukungannya, follow akun mimin juga yah.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨