
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagii...
Hari ini tepat satu minggu setelah kemalangan yang menimpa keluarga Allis. Tanda-tanda ditemukannya Ethan pun tak kunjung muncul. Jangankan dalam bentuk yang masih utuh dan masih bernyawa, andai kata sudah meninggal jasadnya pasti di temukan. Allis menatap televisi yang menampilkan banyaknya petugas yang berwajib terjun ke bawah jurang mencari keberadaan Ethan.
Surat kabar, berita di televisi, berita di sosial media bahkan kertas-kertas bergambarkan wajah Ethan yang ditempel diberbagai tempat tersebar dengan luas di seluruh pelosok negeri.
"Dimana kau sayang, mommy sangat merindukanmu".* Batin Allis.
Sebuah notifikasi masuk menyadarkan lamunannya. Allis segera mengusap air mata yang terus saja membanjiri pelupuk mata dan pipinya. Ia membulatkan matanya kala melihat berita bahwa kasus menghilang dan kecelakaan yang menimpa putranya telah di putuskan pada konferensi pers. Putranya dikatakan meninggal dunia akibat dimangsa oleh hewan buas di bawah jurang yang tak jauh dari hutan belantara.
"Apa-apaan ini, pemikiran sialan apa ini, siapa yang membuat keputusan ini, mengapa mereka memberhentikan pencarian putraku, mereka belum menemukan putraku".
Allis berteriak histeris dan melempar barang-barang dengan membabi buta. Para pelayan yang melihatnya segera merapat dan membantu menenangkan Allis. Bibi dengan air mata yang membanjiri pipinya memeluk Allis yang terus meraung keras sembari menangis. Memukul kepalanya berharap dirinya tak salah dengar.
"Aku akan pergi menemui polisi sialan itu".
"Nyonya tenanglah".
"Tidak bibi aku harus menemukan putraku hidup atau mati".
"Nona Sonia dampingilah nyonya saya mohon".
"Baik bibi, bibi tenanglah".
Allis segera berlari keluar di susul dengan Sonia dibelakangnya. Ia langsung masuk kedalam mobil lalu menghidupkan mesin.
"Tunggu Mrs, saya akan ikut bersama denganmu menepilah biarkan saya yang mengemudi Mrs terlihat sedikit kurang sehat".
Allis mengangguk cepat karena memang faktanya dia sangat pusing. Satu minggu terakhir ini ia hanya tidur satu jam saja selebihnya ia menangis. Ia bahkan bolak-balik ke kantor polisi untuk menanyakan perkembangan kasus putranya. Tak lama mereka sampai di kantor polisi, Allis bergegas turun dengan cepat.
"Hey kalian para pihak berwajib yang terhormat".
Ia memekik keras kala ia sampai di depan kantor pihak berwajib. Para polisi yang mendengar keributan di depan segera bergegas keluar. Mereka melihat Allis sedang mengamuk dan di tahan oleh dua orang polisi begitu juga dengan Sonia.
"Apa kau tahu tugasmu hah mengapa kau tak membawa putraku kepadaku, mengapa kalian hanya bersantai dan meminum kopi hangat di tengah seorang ibu yang sedang putus asa karena kehilangan putranya, berapa berapa uang yang kalian inginkan supaya kalian bisa bekerja dengan baik, begitu cara kerja kalian hah bekerja hanya saat media menyorot kalian dan tidak saat para media tidak ada, apakah begitu ?".
Teriakan Allis menggema dan mengatakan semua isi hatinya. Saat atasan mereka datang dan meminta untuk melepaskan Allis barulah Allis dilepaskan.
"Minumlah nyonya tenangkan dirimu ayo bicarakan perihal ini di dalam ruangan".
"Kau, kau yang mengatakan putraku meninggal di mangsa hewan buas kan, kau orangnya kan, berani sekali kau, apa kau pikir saat kau menjadi polisi semuanya ada dibawah kendali mu".
"Nyonya tenanglah".
"Hey kau pikir nyawa putraku hanya kertas hah".
"Mrs tenanglah ayo kita bicarakan dengan baik-baik di dalam ruangan".
"Sonia lihat hiks lihat mereka mengatakan putraku meninggal dimangsa hewan buas di bawah jurang itu".
"Ayo tenanglah Mrs kita bicara di dalam ruangan".
Dipaksa tenang oleh keadaan Allis mau tak mau ia harus mengikuti langkah polisi masuk kedalam ruangan. Sonia pun tak tertinggal ia juga ikut masuk.
"Minumlah nyonya".
"Sebenarnya nyonya kami akan menuju ke kediaman anda setelah konferensi pers selesai namun kami memiliki beberapa kendala sehingga kami menunda".
"Tidak usah menjelaskan hal yang bertele-tele saya tidak ingin tahu kendala apa dan mengapa, saya meminta penjelasan kalian mengapa kalian menarik kesimpulan itu".
"Begini nyonya".
Polisi menyerahkan beberapa potong pakaian dan juga tas yang berlumuran darah. Sepatu yang sudah tak terbentuk dan juga rambut.
"Tidak, tidak mungkin".
"Benar nyonya kami sudah mencocokkan semua hal yang anda berikan kepada kami dan semuanya cocok".
"Ohh ya Tuhan putraku Sonia".
Brughh
Allis terkulai lemas tak berdaya, Sonia ia pun tak kalah terkejut. Matanya terpejam ikut merasakan pedihnya kebenaran yang baru saja ia dengar. Rasanya dunia berhenti berputar, udara terasa sangat sesak saat di hirup.
Karena Allis tak kunjung sadar mereka diantar pulang oleh salah satu polisi. Saat sampai dokter pun sudah memeriksa keadaan Allis. Selang infus mengikat pergelangan tangannya.
"Dia tak pernah istirahat dokter, makan hanya beberapa sendok".
"Ia sangat lemah".
"Tolong berikan obat ini dan mintalah ia untuk mengisi perutnya, vitamin ini akan memberikan dia tenaga jangan lupa untuk memberikannya".
"Baik dokter".
Sonia menyimpan beberapa tablet obat kedalam laci. Dia pun segera mengantar dokter kebawah. Saat dia kembali dia belum juga melihat tanda-tanda Allis akan sadar. Ia mengusap pelan tangan Allis yang mengurus karena tak makan teratur satu minggu terakhir.
Perlahan air matanya kembali lolos, ia mengusap air matanya. Ia pun rasanya sangat tidak percaya akan fakta yang mereka dapatkan beberapa saat lalu. Rasanya bagai mimpi terburuk yang pernah mereka alami.
"Bangunlah kak aku tau kau adalah wanita paling kuat yang pernah aku temui di dunia ini, kau adalah wanita paling pemberani, kau hiks hiks hiks kau wanita kuat kak ayo bangunlah".
Lirih Sonia, ia menatap wajah Allis yang memucat. Bibir kering dan lingkaran hitam pada matanya. Menandakan bahwa wanita itu tak pernah istirahat cukup. Tubuh kurus yang tak pernah diberikan asupan nutrisi beberapa hari. Wajah kusam dan sedikit tirus.
Mata Allis perlahan mengerjap berusaha untuk menerobos cahaya. Sonia segera bergegas menghapus sisa air matanya.
"Kak kau sudah bangun".
"Sonia dimana Ethan ?".
"Ethan sangat menyayangimu kak Allis, selama ini dia adalah anak yang baik, dia pintar dan juga pemberani".
"Sonia dia putraku kan dia sangat menyayangiku kan kau tau itu kan Sonia".
"Iya kak Allis namun kau tahu kak Allis ternyata Tuhan menyayangi Ethan jauh lebih besar dari kita, sehingga Tuhan mengambilnya dari kita".
Begitu sesak dadanya saat mengatakan kalimat yang penuh dengan fakta. Sonia terisak dalam diam, dia mengusap air mata yang mengalir di pipi Allis.
"Apa maksudmu Sonia ?".
"Tidak mungkin kan putraku meninggal, dia itu anak yang kuat".
"Iya kak Allis aku tahu dia anak yang kuat, namun Tuhan sangat menyayangi dia".
"Tuhan dosa apa, seberat apa dosaku Tuhan sehingga kau menghukum diriku begitu berat, kembalikan putraku padaku Tuhan aku janji akan menebus dosaku dengan apa pun walaupun dengan nyawaku, dia masih terlalu kecil Tuhan dia belum mengenal dunia, dia belum merasakan indahnya dunia Tuhan, ku mohon kembalikan dia Tuhan".
Rintihan Allis membuat semua orang yang mendengarnya ikut menangis. Ikut merasakan rasa sedih yang ia alami. Mereka menatap penuh iba Allis yang sedang terbaring di ranjang. Kepergian paman meninggalkan luka yang mendalam baginya. Dan kini ditambah lagi dengan kepergian putranya satu-satunya.
Harus bagiamana ia akan menghadapi dunia lagi. Harus menjadi sekuat apa dirinya lagi setelah ditinggalkan oleh putranya. Bagiamana ia harus belajar ikhlas. Dimana dan berapa nominal yang harus ia bayar untuk membeli rasa ikhlas, ketenangan dan juga kekuatan. Ia pun hanya manusia biasa, ia bukan malaikat yang sempurna.
Setiap insan pasti akan merasakan mati tak peduli kau masih bayi, anak kecil, remaja, dewasa bahkan lansia sekali pun. Ajal tak pernah memandang bulu, ia tak dapat di hindari walaupun kau berlari sejauh mungkin. Allis menatap langit-langit rumahnya menatap penuh iba didalam hati. Faktanya dia belum siap menerima takdir yang terasa sangat amat berat.
🌼 Bersambung 🌼
Up lagi kak selamat membaca semuanya btw jangan lupa like, komen, tekan favorit dan juga jangan lupa VOTE sebanyak-banyaknya dan satu lagi follow akun mimin yah.....
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨