
Agneta dan Dave sudah kembali ke Indonesia setelah menghabiskan waktu hampir satu minggu di Negara tetangga. Sesampainya di rumah, Regan menyambut Agneta dengan sangat antusias dan bahagia sekali.
Agneta membawa Regan pulang dan segera memberikan beberapa hadiah yang sebenarnya di beli oleh Dave karena Agneta tidak bisa menolaknya. Dave dengan segala kekuasaan dan intimidasinya membuat Agneta sungguh tak berdaya.
"Wah Batmannya bagus bagus, Bunda." Regan tampak bahagia melihat beberapa kumpulan robot Batman bahkan ada miniaturnya. Ada seperangkat superhero lainnya selain Batman. Superman, Robin, Wonder woman dan masih banyak lagi membuat Regan begitu bahagia.
"Bunda dapat uang bonus gede yah? Bisa belikan mainan sebanyak ini buat Egan!" anak polos itu bertanya dengan sangat menggemaskan membuat Agneta tersenyum. Regan memang selalu memahami dan mengerti dirinya dan kondisi keuangan Bundanya. Selama ini Regan tak pernah rewel dan meminta barang-barang mahal, ia akan selalu menerima apapun yang di belikan Agneta.
"Iya sayang," ucap Agneta terpaksa menyembunyikan kenyataan bahkan Dave lah yang membelikan semua ini. Entah kenapa, Agneta masih merasa takut dan tak rela Regan dekat dan sayang pada Dave, walau dia Ayah kandungnya. Bagaimanapun dia telah mencampakkan Agneta dan Regan dulu, 5 tahun yang lalu. Dan sekarang dengan seenaknya akan mendekati mereka berdua dan mengambil perhatian putranya. Agneta sungguh tak akan biarkan itu.
"Bunda." Agneta tersadar dari lamunannya mengingat masa lalu sungguh sangat menyesakkan dadanya. Dave sudah menghancurkan hidupnya.
"Bunda hanya lelah," ucap Agneta mengusap kepala Regan dan memangkunya hingga Regan ada di atas pangkuannya. Agneta memeluk pelita hatinya dengan penuh kasih seraya mengecup kepala Regan. "Regan mau berjanji pada Bunda kan. Kalau suatu saat nanti ada sesuatu yang lebih menarik dan membahagiakan buat Regan, Regan tidak akan pernah meninggalkan Bunda?" gumam Agneta tanpa terasa air matanya luruh membasahi pipi.
Regan melepaskan pelukan Agneta dan menengadahkan kepalanya. "Bunda kenapa nangis? Apa Egan nakal?" tanya Regan menatap Agneta dengan sedih.
"Tidak, Regan anak yang pintar dan sangat baik. Jadi berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkan Bunda." Agneta menangkup kedua pipi Regan yang sedikit chubby.
"Egan tidak akan mungkin meninggalkan Bunda, Egan sayang banget sama Bunda." Tangan kecil Regan terulur untuk menghapus air mata di pipi Agneta. "Bunda jangan nangis lagi yah, Egan akan selalu belsama Bunda."
Agneta mengangguk dan mengecup kening Regan sebelum akhirnya memeluknya dengan erat. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, apapun yang terjadi dia tak akan membiarkan Dave merebut Regan darinya.
***
"Oh Dave sayang, kau sudah kembali dari luar Negeri?" pertanyaan itu membuat Dave menoleh saat hendak menaiki tangga di penthousenya.
"Mommy Elenna," gumam Dave tersenyum misterius. "Ada kejutan apa sampai Mom mau datang ke tempatku." Dave berjalan dengan angkuh menghampiri Elenna yang merupakan Ibu Aiden.
"Dave sudah makan," ucap Dave masih dengan nada datarnya.
"Mommy sudah bawakan jauh-jauh dari rumah," ucap Elenna dengan nada memelas.
"Baiklah," ucap Dave.
Elenna mengikuti Dave ke ruang makan, ia sendiri yang menyuguhkan soup itu untuk Dave dan mempersilahkan Dave untuk memakannya.
Tanpa merasa curiga apapun, Dave menyicipi soup itu dengan tenang dan dingin. Elenna tersenyum misterius menatap ke arah Dave dengan tatapan yang sulit di artikan.
***
Pagi itu Dave mendatangi kediaman Agneta berniat mengantarkan Regan sekolah. Sebenarnya sejak semalam ia merasa tubuhnya kurang sehat karena keringat dingin terus keluar dan wajahnya tampak pucat. Tetapi Dave mengabaikannya dan ia dengan cepat hingga melewatkan sarapannya hanya untuk menjemput Agneta dan putra kecilnya yang sungguh ia rindukan. Dave ingin melihat apa Regan menerima hadiah darinya dan apa Regan menyukai hadiahnya.
Gerakan Dave terhenti dan dia hanya bisa duduk di dalam mobilnya sendiri saat tatapan tajamnya yang penuh intimidasi dan begitu tajam menangkap pemandangan yang membuat dadanya sesak dan emosinya membuncak. Rahangnya jelas sekali mengeras dan cengkraman kedua tangannya pada setir mobil tampak kuat hingga buku-buku tangannya memutih.
Tepat di teras rumah Agneta, ia melihat Aiden sedang memeluk Agneta lalu tampak Aiden memangku tubuh Regan dan mengecupinya. Mereka bertiga tampak tertawa dan tersenyum layaknya keluarga kecil bahagia.
Ada amarah yang ingin meledak dalam diri Dave melihat pemandangan menjijikan itu. Ada rasa tak rela melihat Aiden yang bisa sedekat itu dengan Regan. Sudah cukup Aiden menguasai Agneta dan sekarang ia tak akan membiarkan Aiden menarik perhatian Regan.
Dave meninggalkan tempat itu dalam perasaan tak menentu antara sakit dan gejolak amarah. Ia benci seseorang merebut apa yang menjadi miliknya.
***