He'S Back

He'S Back
Episode 42



Dave sudah menyiapkan liburan mereka menuju ke Palmas - Brasil yang merupakan ibu kota Negara bagian Tocantins, Brasil. Di sana terdapat sebuah pantai yang membentang indah. Dan Dave memiliki satu pulau pribadi di sana tanpa ada yang mengetahuinya. Dave sengaja membawa Agneta dan Regan ke sana untuk keamanan mereka.


Dave memberi kabar kalau dia ada perjalanan bisnis ke London, dan tak akan ada yang menanyakannya. Agneta masih belum memberi kabar apapun pada Sonya maupun Aiden terkait keberadaannya. Setelah menikah dia sibuk di rumah sakit dan Dave melarang dirinya untuk kembali ke rumah kontrakannya. Agneta sempat kebingungan dan bertanya-tanya. Apa rencana Dave sebenarnya? Dia menyembunyikan status pernikahan mereka dari publik dan seakan ingin menyembunyikan Agneta dan Regan dan jangkauan orang-orang luar.


Agneta bersama Regan dan Dave sudah sampai di sebuah rumah besar yang ada di pesisir pantai Tocantins, Brasil. Rumah itu tak terlalu besar, tetapi nyaman untuk di huni. Regan bahkan tampak bahagia saat mereka sampai di sana, ia membawa bola kecil dan berlarian ke arah pantai dengan senang. Agneta mengikutinya dan mengajaknya bermain bersama. Sedangkan Dave masih berdiri di balkon teras rumah yang tampak seperti rumah panggung yang mewah.


Dave tampak santai dengan kaos putih dengan celana kain selutut. Segelas wiski berada di tangannya, dan mata tajamnya yang penuh misterius terus memperhatikan dua orang yang berada di bibir pantai tak jauh darinya.


Agneta tampak anggun memakai gaun putih polos seatas lutut dengan tali spageti di bagian atasnya. Tatapan Dave tak lepas dari sosok itu, wanita sederhana yang mampu membuat Dave melupakan segalanya.


"Ya Rey," ucap Dave menerima telpon.


"....."


"Kau urus segalanya, dan ikuti pergerakan Mr. Ali. Aku merasa dia mengetahui sesuatu tentang perusahaan."


"....."


"Untuk sementara Agneta dan Regan aman di sini, kalian fokuslah pada pekerjaan kalian. Aku ingin segera mendapatkan siapa dalang utama dari segala kehancuran keluargaku!" mata Dave menyala tajam.


Sudah beberapa tahun dia berusaha diam dan mencari cara untuk menyelidiki segalanya. Dave dulu yang masih kuliah berusaha fokus pada pendidikannya, dan sekarang saatnya Dave menangkap dalang di balik semuanya. Ia yakin bukan hanya Elena di balik semua ini.


"......"


"Aiden? Kenapa dengannya?"


"......"


"Biarkan saja, aku sengaja membuatnya sibuk supaya dia tak memiliki waktu mencari tau keberadaan Agneta."


"......"


"Dia tidak akan mencurigainya, biarkan saja. Dia bukan seseorang yang berbahaya untuk saat ini. Kau fokuslah pada pekerjaanmu."


"....."


Dave menutup sambungan telponnya. Dan kembali menatap ke depannya. "Ayah!" teriak Regan.


"Ayah ayo ikut main!" sekali lagi Regan berteriak sambil melambaikan tangannya ke udara. Dave melihat Agneta memalingkan wajahnya saat dia menatap ke arahnya.


"Oke," ucap Dave menyimpan gelas yang sejak tadi ia genggam dan memasukan handphone nya ke dalam saku celana.


Dave berjalan mendekati Regan dan mengambil bolanya, mereka bermain bersama, tetapi Dave dengan jahil selalu menghalangi Agneta yang ingin menerima lemparan bola dari Regan. Jelas saja Agneta tak bisa menggapai bola, karena badan Dave lebih tinggi dan besar dari dirinya. Karena kesal terus di halangi Agneta sengaja menginjak kaki Dave membuatnya mengaduh dan berhasil menerima bola dari Regan.


"Ada apa denganmu?" tanya Dave menatap Agneta yang mendelik padanya.


"Tidak ada," jawab Agneta enteng dan kembali melemparkan bola pada Regan. Regan lalu kembali melemparkan bolanya dengan semangat hingga melambung tinggi. Agneta terus fokus pada bola dan berjalan mundur hingga dia tak sadar keberadaan Dave di belakangnya. Agneta terjatuh begitu juga Dave yang di tindih Agneta karena tak sadar Agneta akan menabraknya dan mereka sama-sama terjatuh pada pasir pantai yang lembut. Regan tertawa puas melihat orangtuanya yang saling menatap satu sama lain.


"Ayah dan Bunda sebaiknya masuk kamal gih bikin dede buat Egan. Egan mau main sendili aja," ucap Regan menyadarkan mereka berdua. Keduanya sama-sama menoleh dan melongo mendengar penuturan Regan barusan.


Regan sudah berlari dengan bola menjauhi mereka. Keduanya bingung tau darimana Regan mengenai kamar dan membuat Dede bayi.


"Sampai kapan kau ingin berada di atasku, Neta? Sebenarnya aku tidak suka di kendalikan perempuan, aku terbiasa berada di atas bukan di bawah." Mendengar penuturan Dave yang frontal membuat Agneta menggeram kesal dan segera bangun. Ia sedikit menepuk-nepuk gaunnya yang kotor karena pasir, sedangkan Dave masih duduk di atas pasir.


"Ahh!" pekik Agneta saat angin berhembus hingga membuat dressnya terangkat ke atas hingga memperlihatkan CD berwarna putihnya. Dave sampai terpaku di tempat saat sesuatu yang indah terpangpang jelas di hadapannya.


"Apa yang kau lihat!" pekik Agneta berusaha memegang dressnya dengan perasaan malu.


"Kenapa?" tanya Dave masih dengan ekspresi datar.


"Jangan melihat!" pekik Agneta sedikit berjalan mundur.


"Kau yang memamerkannya, jadi kenapa aku harus menyia-nyiakan pemandangan itu." Seringai menyebalkan terukir jelas di bibir Dave yang sungguh seksi. Agneta hanya mendengus kesal dan berlalu pergi meninggalkan Dave sendirian.


***


"Besok kita akan memancing."


"Asyik!" Regan bersorak senang.


"Makan habiskan dulu Regan, jangan terus berbicara."


"Iya Bunda."


Selesai makan, Agneta menemani Regan untuk tidur. Selang beberapa menit dia kembali keluar kamar karena Regan sudah terlelap. Ia celingak celinguk mencari sosok Dave tetapi tak menemukannya di ruang makan. Mereka memang satu kamar, tetapi mereka hanya berbagi ranjang tak lebih dari itu. Agneta berjalan menyusuri lorong rumah yang sepi hingga ia sampai di depan pintu kamar mereka. Sebelum sampai menekan knop pintu, Agneta mendengar suara piano yang mengalun indah.


Ini sudah sangat malam, siapa yang memainkan piano di jam segini. Pikirnya. Agneta mencari asal suara itu hingga ia menemukan sebuah ruangan dengan pintu besar berwarna putih yang terbuka lebar. Ia mengintip dari balik pintu dan ruangan itu begitu temaram karena hanya lampu sudut yang dinyalakan. Tetapi fokus Agneta tertuju pada sosok yang berada di balik kegelapan itu. Dave tampak duduk memainkan piano dengan wajah tanpa ekspresi.


Agneta mendengar alunan musik itu yang seakan menyembunyiikan banyak misteri di dalamnya. Terkadang Agneta merasa penasaran ada apa di balik kehidupan Dave sebenarnya. Di saat seperti ini ia tak melihat seorang Dave dengan segala kelicikan, arogant dan menyebalkannya. Sekarang Agneta melihat Dave sebagai sosok lain, sosok yang seakan terbelenggu dalam satu tempat. Seperti seseorang yang kebingungan dan tersesat.


"Mau sampai kapan kau berdiri di sana?" ucapan itu menyadarkan lamunan Agneta yang tak sadar kalau Dave telah menyelesaikan permainannya.


"Kamu bisa bermain piano." Agneta tidak tau akan berkata apa hingga dia mengucapkan kata-kata itu.


"Masuklah Agneta," ucap Dave yang kini terdengar begitu lembut.


Agneta berjalan memasuki ruangan itu dan mengambil duduk di samping Dave.


"Regan sudah tidur?" Agneta mengangguk sebagai jawabannya.


"Dave, sebenarnya aku merasa penasaran. Dimana keluargamu, dulu bukankah kamu memiliki seorang kembaran?" tanya Agneta.


"Kenapa? Kamu mulai penasaran dengan kehidupan pribadiku?"


Dave beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja sudut tepat di atas perapian yang menyala kecil. Dave mengambil satu botol wiski dan menuangkannya ke dalam 2 gelas kecil. Agneta menatap lukisan yang menempel tepat di atas meja sudut itu.


"Itu keluargamu?" mendengar ucapan Agneta, Dave menengadahkan kepalanya dan menatap lukisan itu sekilas sebelum dia berbalik dengan membawa dua gelas wiski dan menyodorkannya kepada Agneta.


"Aku tidak minum," ucap Agneta menolaknya membuat Dave mengedikkan bahunya acuh dan menyimpan gelas itu di dekat piano. Ia menyesap minumannya dengan tenang. Dan tatapan Agneta masih tertuju padanya.


"Mereka telah meninggal."


"Apa?" ucap Agneta dengan keterkagetannya. "Maksudmu-"


"Dalam sebuah kecelakaan 5 tahun lalu," ucap Dave masih tanpa ekspresi.


"5 tahun lalu?" gumam Agneta.


"Mereka semua pergi begitu saja meninggalkanku sendiri yang saat itu berada di Semarang."


"Apa menghilangnya kamu saat itu karena ini?" tanya Agneta dan kali ini Dave terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain penuh arti.


"Begitulah," ucap Dave kembali menyesap minumannya. "Sebaiknya kau beristirahat, besok pagi kita akan berlayar untuk memancing."


Agneta menghela nafasnya dan berusaha memaklumi kalau Dave masih belum mau terbuka padanya. Ia beranjak pergi meninggalkan Dave yang masih termenung sendiri.


Dave menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam, pikirannya berkecamuk dan luka itu masih sangat menganga lebar di dalam tubuhnya hingga saat ini.


***


Yang ingin memesan Novelnya atau pembelian ebooknya bisa kontak :


wa 081321079375


ig : indriani_sonaris