
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagii
Allis sampai di rumahnya dengan Sonia yang membantunya berjalan. Dia terlihat sangat memprihatinkan make up yang hancur, ditambah lagi rambut yang semula terkuncir indah kini terurai berantakan. Dia berjalan dengan sempoyongan sembari menatap sembarang arah dengan tatapan kosong.
"Nyonya kau baik-baik saja".
Bibi bergegas menghampiri Sonia yang terlihat sangat payah karena tak tahan menumpu berat badan Allis. Dia pun ikut memapah Allis lalu mendudukkan tubuhnya di sofa. Allis tak berkata apapun barang satu patah kata ia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata indahnya.
Matanya terlihat sangat sembab akibat menangis terlalu lama. Kala itu ia harus bersiap-siap untuk pulang. Dengan semangat empat lima ia mengemasi barang-barangnya. Namun sebuah panggilan telepon menyadarkan dirinya.
Hingga sebuah berita di seberang sana mengatakan bahwa putranya kecelakaan lalu menghilang di tempat kejadian. Allis terduduk dengan tatapan kosong sembari air mata yang tanpa sadar mengalir di pipinya.
Ia benar-benar syok mendapatkan berita yang sangat besar dan juga menyakitkan. Sonia pun tak kalah terkejut dengannya, ia dengan sekuat tenaga menahan keterpurukannya lalu membantu atasannya untuk kembali pulang.
"Maafkan kami nyonya maafkan kami, kami lalai nyonya".
"Apakah paman yang menjemput Ethan hari ini ?".
Allis bertanya tanpa menoleh ke siapa ia harus bertanya. Matanya menatap lurus ke depan.
"Benar nyonya benar".
"Lalu dimana paman ?".
"Dia hiks hiks dia suamiku meninggal di tempat nyonya".
Jedarrr
Bagai di sambar petir di siang bolong, berita kedua benar-benar membuatnya semakin hancur. Allis luruh lemas rasanya ia benar-benar tak kuat menahan berat badannya. Ia terkulai lemas tak berdaya dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipi.
"Mengapa Tuhan begitu membenciku bibi ?".
"Tidak tidak ini bukan salahmu nyonya ini adalah permainan takdir, ini memang takdir".
"Kita yang menentukan kemana arah takdir itu bibi Tuhan hanya mencatatnya, dan kita yang menjalaninya".
"Nyonya ayo minumlah".
"Apakah air itu bisa mengubah takdir bibi ?".
"Tidak, ayo minumlah dulu nyonya".
"Jika tidak aku tidak akan meminumnya".
Allis bangun dengan susah payah ia berjalan dengan sempoyongan menuju tangga. Sonia mengikutinya dari belakang.
"Tidak Sonia, istirahatlah Sonia".
"Tapi Mrs".
"Pergilah Sonia".
Allis kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Sampai di kamarnya ia menatap bingkai foto yang berukuran besar. Senyum Ethan kecil yang manis terbingkai dengan rapi. Allis terduduk dilantai sembari menangis, tangisan pilu yang menyayat hati.
Sore hari Allis kembali turun karena bibi memanggilnya. Ia harus menemui beberapa orang dari pihak berwajib yang menangani kasus kecelakaan yang menimpa putranya.
"Selamat sore nyonya Allis".
"Selamat sore pak".
"Mohon maaf menganggu waktu istirahat anda".
"Tidak pak ini memang sudah tugas anda".
"Terima kasih atas pengertiannya nyonya, baik untuk mempersingkat waktu siapa saja yang terlibat di dalam kecelakaan tersebut".
"Putra saya dan sopir saya".
Ketiga polisi tersebut terkejut karena faktanya saat mengevakusi korban. Mereka hanya mendapati satu orang saja mereka tidak mendapati seorang anak.
"Mohon maaf nyonya apakah nyonya tidak salah ingat".
"Tidak pak, sopir saya kala itu pergi menjemput putra saya yang akan pulang sekolah".
"Kira-kira berapa umur putra nyonya ?".
"Baru tujuh tahun, ia baru saja memasuki kelas satu sekolah dasar".
"Lalu ciri-cirinya ?".
"Pak sepertinya ini kasus penculikan".
"Mohon maaf nyonya kami tidak bisa menarik kesimpulan secepat ini, kami harus memeriksa tempat kejadian dan mencoba bertanya-tanya pada masyarakat setempat".
"Pak ku mohon temukan putraku, bawa dia kembali kepadaku".
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin dan juga nyonya berdoalah supaya semuanya dimudahkan".
"Terima kasih pak terima kasih".
"Baiklah nyonya kami akan undur diri, selamat sore".
"Terima kasih pak, selamat sore".
Beberapa pihak berwajib meninggalkan kediaman Allis. Allis termenung sendiri di sofa memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Ada apa dan mengapa terjadi semua pertanyaan berputar di otaknya sehingga membuat kepalanya berdenyut nyeri.
Televisi di hidupkan semua siaran menayangkan berita kemalangan yang menimpa keluarganya. Foto putranya terpampang dengan jelas dilayar televisi, berita tentang menghilangnya putranya sudah tersebar dengan cepat ke seluruh pelosok negeri.
Berbagai ucapan semangat dari semua kalangan artis, selebriti, pengusaha bahkan kalangan masyarakat biasa tersebar luas di sosial media. Apa yang harus ia perbuat, ia hanya bisa menangis dan menangis.
"Apa yang diperbuat nenek moyangku dulu sehingga aku mendapatkan hukuman seberat ini Tuhan".* Batin Allis.
Keesokan harinya tepat hari ini akan dimakamkannya sopir yang menjadi korban kecelakaan. Allis memanggilnya paman selain dengan bibi Allis juga dekat dengan paman. Mereka adalah suami istri yang begitu menyayanginya dengan tulus merawat Ethan setelah ibu angkatnya tiada.
Aroma bunga semerbak memenuhi rongga hidung. Allis menatap kosong kala peti jenazah di masukkan kedalam tanah.
"Terima kasih paman, kau selalu ada dan memberikan yang terbaik, aku selalu berpikir bahwa kau akan menjadi pendampingku kelak disaat aku berjalan di atas altar pernikahan, mengapit serta berjalan bersama denganku, berlaku selayak ayahku aku selalu bermimpi kau memberikan doa dan restu dikala suamiku meminta izin untuk membawaku, paman kau adalah ayah terbaik yang pernah ada, terima kasih paman istirahatlah dengan tenang, aku akan membawa dan menjaga bibi kemanapun aku pergi".* Batin Allis.
Acara pemakaman selesai, Sonia menatap Allis yang masih dirundung duka yang teramat dalam dan besar. Dia menghembuskan nafasnya pelan, bagiamana ia bisa membantu sedangkan kemampuannya sangat terbatas.
"Mrs ayo istirahatlah saya akan menemanimu".
"Sonia hiks hiks kemarin ibuku, sekarang paman, lalu siapa lagi, apakah mungkin Ethan akan ditemukan dan kembali, apakah mungkin Sonia ?".
"Sutttt Mrs tenanglah pihak berwajib sedang berusaha mencari dan menggali semua informasi, ayo bantu mereka dengan berdoa mintalah pada Tuhan supaya semuanya dilancarkan".
"Aku bingung Sonia, aku linglung aku tidak bisa berpikir dengan jernih, aku tidak bisa menentukan apa langkah yang harus aku ambil, a-aku aku tidak bisa menjadi ibu yang baik Sonia".
"Tenanglah Mrs semuanya akan membaik aku yakin tuan muda akan ditemukan".
"Semoga saja Sonia semoga".
"Sebentar lagi pihak berwajib akan datang Mrs ayo minumlah tenangkan dirimu".
Selang beberapa saat kemudian pihak berwajib datang kembali. Allis menatap kantong plastik hitam yang berada ditangan salah satu polisi.
"Apa itu ? apakah itu kepala Ethan atau tangan Ethan atau apa ya tuhan mengapa aku setakut ini ?".*Batin Allis.
"Selamat pagi nyonya Allis".
"Selamat pagi pak, pak apa itu ? apakah itu kepala putraku, apakah itu tangannya atau kakinya atau apa katakanlah pak katakan aku tidak tenang".
"Sabarlah nyonya".
"Mrs tenanglah".
"Sonia apa menurutmu itu ? jika bukan kepala putraku lalu apa ?".
"Tenanglah nyonya, ini mungkin milik putra anda".
"Kenakanlah sarung tangan ini dan bukalah nyonya mungkin kau tahu ini milik siapa".
Allis menerima sarung tangan kemudian mengambil bungkusan plastik hitam. Dia mengeluarkan barang ternyata itu adalah seragam Taekwondo Ethan. Cipratan darah bertebaran di sekitar seragam itu.
"Ini milik putraku, ini sabuknya dan lihat ini adalah nama putraku".
"Nyonya kami akan mencarinya di jurang dibawah jalan raya".
"Pak saya akan ikut".
🌼 Bersambung 🌼
Up lagi hehehe semangat bacanya jangan lupa like, komen, tekan tombol favorit dan kasih VOTE sebanyak-banyaknya dan jangan lupa untuk follow akun mimin yah.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨