He'S Back

He'S Back
Episode 32



Dave menghubungi Kay dan memintanya mencari keberadaan Regan secepatnya. Dave bahkan mengancam Kay kalau kali ini dia melakukan kesalahan dan membuat putranya terluka.


Dave terdiam mengingat Agneta yang menangis terisak tadi, isakan yang memilukan dan entah kenapa itu mampu membuat Dave merasa sesak.


"Honey," seruan itu membuat Dave menoleh ke ambang pintu dimana Natalie berdiri dan berjalan dengan anggun ke arah meja kebesaran Dave.


"Kenapa kau datang kesini?" tanya Dave sangat dingin.


"Aku merindukanmu, kenapa kau selalu bersikap dingin padaku," ucap Natali mengusap pundak Dave saat dia sudah sampai di kursi kebesaran Dave yang tengah Dave duduki.


"Aku sedang tidak ingin di ganggu, Natalie. Pergilah," usir Dave, tetapi Natalie tak menghiraukannya dan malah memeluk leher Dave dari belakang.


"Kamu terlihat lelah, bagaimana kalau kita berlibur atau sekarang kita mencari hotel. Aku akan membuat lelahmu hilang seketika," bisik Natalie dengan sangat nakal.


"Aku sedang tidak ingin di ganggu, tolong pergilah," ucap Dave melepaskan rangkulan Natalie.


"Permisi tuan," seruan itu membuat Natalie melepaskan rangkulannya pada Dave.


"Ada apa?" tanya Dave masih dengan nada sedatar jalan tol.


"Ada tuan Kay dan Key," ucapnya membuat Dave mengangguk.


"Suruh mereka masuk," ucap Dave yang di angguki sekretarisnya itu. "Kau pulang saja Natalie, aku sibuk."


Natalie mendengus kesal dan beranjak pergi bahkan sempat berpapasan dengan Kay dan Key. Pintu tertutup rapat dan mereka berdua duduk di kursi yang berhadapan dengan Dave.


"Dia putri dari pria itu?" tanya Key yang di angguki Dave.


"Kalian masih bersama?" tanya Kay menatap penuh selidik.


"Kau tau alasannya," ucap Dave penuh penekanan dan dingin membuat Kay menghela nafasnya.


"Kami baru saja dari sekolah putramu," ucap Key.


"Lalu?"


"Kami mendapat hasil CCTV yang ada di jalanan itu dan hanya terekam sedikit, Regan dalam keadaan pingsan saat di bawa ke dalam mobil."


"Apa security di sana tidak becus bekerja?" sentak Dave sungguh kesal.


"Dalam kamera tak terlihat adanya Security, Pos itu kosong dan hanya ada Regan yang duduk di depan pos sepertinya menunggu jemputan." Kali ini Key yang berucap.


"Apa terlihat plat nomornya?" tanya Dave.


"Tidak," ucap Kay menghela nafasnya.


"Aku mencurigai seseorang, tolong kalian awasi dia diam-diam."


"Siapa?" tanya Key.


"Elenna."


"Ya, karena musuhku belum tau Regan adalah putraku. Kemungkinan besar adalah seseorang yang menentang keras hubungan Agneta dan Aiden, dan siapa lagi kalau bukan ibunya."


"Masuk akal," ucap Key.


"Kami akan terus mengawasinya sampai mengetahui dimana keberadaan Regan," ucap Kay yang di angguki Dave.


***


"Bunda, apa benal Bunda akan menikah dengan Ayah Aiden?" tanya Regan saat Agneta tengah menemaninya untuk tidur.


"Kata siapa?" tanya Agneta.


"Egan dengel kemalin saat Bunda dan Ayah Aiden belbicala," ucapnya.


"Apa kamu keberatan?" tanya Agneta mengusap rambut Regan.


"Kenapa tidak dengan Om Velo?" Agneta mematung mendengar penuturan Regan yang tiba-tiba, dulu dia sangat mendukung pernikahan Agneta dengan Aiden tetapi sekarang ia tampak kurang merespon.


"Apa kamu tidak menyukai om Aiden?" tanya Agneta.


"Tidak, tapi Egan Cuma melasa lebih sayang sama om Velo. Apa Egan salah Bunda?" tanya Regan dengan tatapan polosnya membuat Agneta tersenyum masam. Mungkin ikatan batin anak dan ayah memang sangatlah kuat.


"Tidak, kamu sama sekali tidak salah. Kalau Regan tidak suka dengan Ayah Aiden, Bunda akan-"


"Tidak Bunda bukan sepelti itu, Egan nggak kebelatan kok kalau Bunda mau nikahnya sama Ayah Aiden. Dia juga kan baik sama kita." Ucapan polos Regan selalu menjadi penyemangat untuk Agneta.


Agneta tersenyum gemas dan mengecup pipi gembilnya. "Sekarang tidur dan berhentilah memikirkan urusan orang dewasa."


"Olang dewasa selalu libet," kekeh Regan sebelum akhirnya memeluk Agneta untuk tidur.


*


Agneta menangis mengingat hal itu, baru saja semalam mereka membicarakan hal yang sungguh menyenangkan dan sekarang dia tidak tau dimana keberadaan putranya.


Tidak ada hati seorang Ibu yang bisa tenang saat tak mampu mendengar kabar dari anaknya. Agneta masih menangis terisak di taman kantornya. Saat tadi ia mendapat kabar kalau bukan Dave yang membawa Regan, kekhawatirannya semakin bertambah besar juga rasa takutnya. Ia takut Regan di lukai atau di celakai, dia masih sangat kecil dan tak seharusnya mengalami hal buruk seperti ini.


"Kau terus menangis," ucap seseorang mengusap air mata di pipi Agneta membuatnya menoleh ke sampingnya dimana Aiden berada.


"Minumlah, kafein bisa membuatmu lebih tenang," ucap Aiden menyodorkan satu cup kopi yang di terima oleh Agneta.


"Aku sudah menyewa beberapa detektif untuk mencari keberadaan Regan," ucap Aiden.


"Terima kasih," ucap Agneta "Aku berharap segera ada kabar baik mengenai Regan."


"Pasti, aku akan berusaha mencarinya sampai ketemu," ucap Aiden mengusap kepala Agneta. "Dia juga sudah ku anggap sebagai putraku, dan aku tidak akan pernah membiarkannya terluka sedikitpun."


Agneta menatap Aiden dengan tatapan yang sulit di artikan. "Terima kasih banyak Aiden, kamu selalu ada di saat aku membutuhkanmu," ucap Agneta yang di angguki Aiden diiringi senyuman manisnya.


***