He'S Back

He'S Back
Episode 60



Aiden berjalan tak tentu arah malam itu dengan menenteng jas abu miliknya, dasinya sudah tak beraturan. Tatapannya hampa tak bersemangat dan seakan tak ada gairah hidup.


Bulir bulir air mata masih memenuhi kelopak matanya dan kapan saja siap meluncur membasahi pipi.


Bayangan saat pertama kali bertemu. Saat itu Agneta tak sengaja menumpahkan coffee yang dia pegang mengenai jas milik Aiden. Awalnya Aiden ingin marah, tetapi saat matanya beradu dengan mata indah milik Agneta yang ketakutan saat itu membuatnya luluh dan langsung jatuh cinta pada Agneta.


Aiden mulai menelusuri kehidupan Agneta, dan dia sempat kecewa dan patah hati mengetahui Agneta memiliki seorang putra san pastinya memiliki suami. Tetapi Aiden keliru, ternyata Agneta sudah tak bersama Ayah Regan dan itu membangkitkan kembali semangat dari Aiden.


3 tahun berlalu dan selama itu juga dirinya terus berjuang untuk bisa menarik hati Agneta. Dia pikir saat ini dirinya telah berhasil mengambil hati Agneta, gadis yang sangat dia cintai.


Tetapi sayangnya semua itu tak berarti dan tak pernah ternilai di matanya. Kenyataannya Agneta salah menilai kebaikannya selama ini. Bukan cinta yang bisa Aiden dapatkan melainkan rasa balas budi karena kebaikannya selama ini. Cintanya tetap untuk pria lain.


Tak terasa air mata itu meluncur bebas dari pelupuk matanya. Ia menghentikan langkahnya di halte bus dan menatap taman di sebrangnya yang sepi. Di sana dia menyatakan perasaannya pada Agneta dan ternyata di terima.


Untuk beberapa saat Aiden bisa bahagia bersama Agneta tanpa gangguan apapun sampai Dave datang dan menghancurkan segalanya.


Aiden masuk ke taman dan duduk di salah satu kursi taman. Pikirannya di penuhi oleh bayangan Agneta juga kata-kata Agneta tadi yang mengatakan dirinya begitu mencintai Dave. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan gusar.


Di sisi lain, Agneta berdiri di balkon kamar. Kamar yang dulu ia dan Dave gunakan, kini dia harus menempatinya hanya sendirian tanpa adanya Dave. Biasanya jam segini ia akan melihat Dave berdiri dengan meneguk minumannya, terkadang juga Dave menggoda dirinya hingga dirinya merasa kesal.


Senyuman itu, senyuman devil yang selalu Agneta rindukan, walau tampak sekali senyuman itu mengandung beribu misteri, tetapi Agneta tetap menyukainya.


Agneta menangis dalam diam, sudah berkali-kali ia mencoba menemui Dave tetapi kenapa sulit sekali di temui.


****


Agneta baru saja sampai di kantor, dan dia berpapasan dengan Aiden yang juga hendak masuk ke dalam ruangannya.


"Aiden," gumam Agneta.


"Emm hai," sapa Aiden dengan senyuman kecilnya. Keduanya kembali terdiam satu sama lain seakan canggung dan tidak tau harus mengatakan apa.


"Aku ke ruanganku," ucap Agneta yang di angguki Aiden. Agneta berjalab melewati Aiden.


"Ah!"


Hampir saja tubuh Agneta membentur lantai kalau sepasang tangan kekar milik Aiden tak segera menahannya dengan merengkuh pinggang Agneta hingga kini posisi mereka seperti berpelukan satu sama lainnya.


Ting


Pintu lift terbuka lebar dan kedua orang itu keluar dari dalam lift. Baru beberapa langkah, langkah mereka terhenti saat melihat Aiden dan Agneta yang berpelukan. Itu adalah Dave dan Devara.


Dave membeku di tempatnya melihat pemandangan di depannya. Vara menoleh ke arah Dave dan berusaha membaca raut wajah dingin Dave yang sulit di tebak.


Agneta dan Aiden masih saling menatap satu sama lain. Dave mampu melihat tatapan penuh cinta yang di berikan Aiden pada Agneta.


"Dave," gumam Devara mengerti kembarannya itu tak baik-baik saja.


Dave menoleh ke arah Devara dan beranjak pergi menuju ruangannya melewati mereka berdua yang kini tampak sudah sadar satu sama lainnya dan saling melepas pelukan mereka.


Agneta menoleh ke sampingnya saat mendengar langkah kaki.


"Dave," panggil Agneta, tetapi Dave tak menghiraukannya dan berjalan lurus tanpa menatap Agneta maupun Aiden.


"Dave tunggu," panggil Agneta.


"Vara, katakan pada siapapun, aku sibuk dan tak ingin bertemu dengan siapapun," seru Dave dan menutup pintu ruangan tepat di saat Agneta sampai di depan pintu itu.


"Dave, aku perlu bicara," ucap Agenta dengan sedih.


Apa salahnya? Kenapa Dave bersikap seperti ini. Dulu dia yang selalu mengusik dirinya, bahkan tak bisa di cegah. Dia selalu memaksakan kehendaknya, tetapi kenapa sekarang dia bersikap seperti ini seakan Agenta berbuat kesalahan yang fatal. Kenapa Dave seperti ini? Kenapa dia senang mempermainkan hati Agneta.


"Sepertinya bukan saat yang tepat untuk berbicara dengannya," seru Devara yang kini berdiri di belakang tubuh Agneta.


Agneta segera menghapus air matanya dan berbalik ke arah Devara.


"Biarkan saja dulu," seru Devara. "Aku akan mencoba berbicara padanya."


Akhirnya Agneta mengalah dan memilih menganggukkan kepalanya lalu berlalu pergi.


Aiden masih berdiri di tempatnya memperhatikan Agneta yang melewatinya tanpa melihat kepadanya dengan menghapus air matanya. Ia terus memandangi punggung Agneta hingga menghilang di balik pintu lift.


***


Devara masuk ke dalam ruangan dimana Dave tampak sibuk dengan dokumen di atas mejanya.


"Kenapa kau menghindarinya seperti itu?" Tanya Devara seraya duduk di atas sofa dengan anggun.


"Aku tidak menghindarinya," ucap Dave tetap fokus pada dokumen dokumen di depannya.


"Benarkah? Bukan karena cemburu melihat Agneta dan Aiden berpelukan?" Goda Vara.


"Sama sekali tidak benar," kelak Dave masih berusaha fokus pada map di tangannya.


"Dave," Devara merebut map di tangan Dave membuatnya melihat ke arah Devara. "Aku ini kembaranmu, dan aku tau apa yang sedang kamu rasakan pada Agneta."


Dave segera memalingkan wajahnya dan beranjak dari duduknya. "Kalaupun memang aku ada rasa cinta padanya, buat apa? Semuanya percuma, aku lelah memaksanya terus bersamaku."


"Kau seperti bukan Dave yang ku kenal. Dave biasanya begitu keras kepala dan apapun keinginannya pasti harus terpenuhi bagaimanapun caranya. Dab sekarang kau berkata seperti itu, sungguh bukan Dave kembaranku." Vara berceloteh panjang lebar.


"Aku memang selalu bisa mendapatkan apa yang ku mau dengan cara apapun juga harus ku dapatkan. Begitupun juga dengan Agneta. Tetapi entah kenapa seketika hatiku lemah dan egoku luntur saat melihat dia menangis terisak dan meminta kebebasan. Dan sekarang aku mengabulkannya dengan mencoba meredam egoku sendiri."


"Itu dulu, kamu belum bertanya sekarang. Mungkin saja saat ini Agneta sudah mencintaimu, Dave."


"Imposible," jawab Dave terkekeh meremehkan. " kalau dia benar mencintaiku, dia tidak akan diam saja seperti ini. Dan kenyataannya dia tak melakukan apapun."


"Tapi Dave, cobalah untuk berbicara kembali berdua dari hati ke hati." Vara masih terus membujuknya.


"Untuk apa lagi? Semuanya sudah jelas." Kelak Dave.


"Dave-"


"Berhentilah membahas masalah ini Vara. Aku sedang tak ingin membahasnya. Bukankah kamu harus menemui Kevin sekarang?" Ucapp Dave.


"Baiklah, tapi coba kau pikirkan dulu ide ku." Devara berlalu pergi meninggalkan Dave yang termenung sendiri menatap ke luar jendela.


Kejadian tadi kembali menghantui pikiran Dave. Agneta dan Aiden berpelukan.


Dave berusaha menerima dan mengikhlaskannya, tetapi rasanya sangat sulit. Dan sungguh semakin hari dadanya semakin terbakar karena  perasaan yang ia pendam sendiri.


Dave berjalan mengambil botol wiski dan menuangkannya ke dalam gelas kecil. Gerakannya terhenti di udara saat hendak meneguknya.


Mr. Dave, saya tidak bisa menjamin keselamatan anda kalau anda tetap mengkonsumsi minuman beralkohol. Walau sedikit saja, itu akan sangat berpengaruh pada kondisi tubuh anda. Jadi saya sarankan ikutilah aturan dadi Dokter.


Dave *** gelas di genggamannya hingga pecah. Darah tampak menetes dari tangannya. Dave berpegangan pada ujung meja dengan helaan nafas panjang dan berat.


Hatinya seperti terbakar oleh api yang membara. Dave merasa ini bukan dirinya. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia merasa kegelisahan campur dilema yang menderanya.


"Sial!" Umpatnya.


Ia tak bisa mengendalikan perasaannya. Sebenarnya ia begitu kesal dan murka melihat kejadian tadi Agneta dan Aiden. Bukankah dirinya masih suami Agneta?


Kenapa kamu terus menghancurkan hidupku, Dave? Tidak bisakah kau buat aku dan Regan hidup tenang? Kenapa kamu kembali mengusik kami? Apa salahku Dave? Sampai kamu tak bisa melepaskanku dari penderitaan ini?


Ucapan itu kembali terngiang di telinganya. Terasa bagaikan cambuk untuk hatinya. Dia hanya ingin melindungi putra dan wanitanya dari mereka orang-orang yang selalu merenggut orang-orang tersayang Dave, tetapi kenapa Agneta tak paham dan malah merasa di kurung oleh dirinya?


****


"Mr. Arman?" Seru Agneta mengernyitkan dahinya bingung saat ia membuka pintu dan ternyata ada pengacara Dave di sana. "Ada apa?"


"Saya ingin memberikan ini kepada anda." Mr. Arman menyerahkan amplop coklat pada Agneta.


"A-apa ini?"


"Dokumen gugatan cerai dari mr. Dave yang harus anda tanda tangani."


Deg


Agneta mematung di tempatnya. Rasanya seluruh atap rumah telah runtuh menimpa dirinya.


Mr. Arman berpamitan pergi dan mengatakan akan datang lagi besok untuk mengambil dokumen itu. Agneta membuka amplop itu dan melihat isinya. Di sana sudah terlampir tanda tangan Dave sebagai penggugat.


Kenapa?


Seketika tubuh Agneta ambruk ke lantai dengan bertopang pada kedua lututnya. Dirinya mendadak tak memiliki tenaga untuk tetap berpijak di atas kakinya.


Kenapa?


"Hikzzzzz......." Agneta menangis terisak dan begitu memilukan dengan kepala yang menunduk.


Haruskah dia kembali kehilangan cintanya ?


Tidak adakah sedikit saja perasaan Dave untuk dirinya.


"Kenapa Dave? Hikzzz.... kenapa kamu harus melakukan ini? Kenapa kamu selalu saja menyakitiku, hikz........"


Aiden memperhatikannya dari dalam mobil miliknya. Aiden sejak tadi memang mengikuti Agneta hingga ke kontrakannya dan entah kenapa dia ingin berdiam di sana dan memperhatikan Agneta dari jauh.


Raut wajah Aiden berubah menjadi keras dan kedua tangannya mencengkram kuat setir di depannya.


"Dave! Tak akan ku lepaskan kau sekarang!"


Aiden melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


***