
Dave baru saja masuk ke penthouse nya dan berjalan ke kamarnya, tetapi seketika langkahnya terhenti saat rasa sakit mendera perut bagian kanannya.
"Oh Shitt!"
Ia memejamkan matanya sekuat tenaga menahan rasa sakitnya, dengan berpegangan pada dinding di sampingnya. Ia berjalan cepat menuju kamarnya dan mengambil obat yang ada di dalam laci kamarnya. Segera ia meminumnya dan memejamkan matanya.
Perlahan Dave membuka matanya dan menghela nafasnya perlahan. Rasa sakit itu berangsur menghilang.
***
Agneta mondar mandir di dalam kamarnya dengan gelisah dan perasaan tak menentu. Ia masih gelisah memikirkan ucapan Dave kemarin. Kenapa Dave harus mengatakan semua itu dan akan menceraikannya. Agneta kira Dave benar-benar mencintainya, tetapi ternyata tidak. Dave bahkan tak ingin bersamanya kembali.
"Bunda,"
Agneta menoleh ke ambang pintu dimana Regan berdiri.
"Hai Sayang," ucap Agneta berjalan mendekati Regan dan memangku tubuhnya.
"Bunda, kenapa Ayah tidak pulang ke lumah ini. Apa Ayah masih sibuk sama penjahat-penjahat itu?" tanya Regan yang membuat Agneta merenung.
"Regan ingin Ayah di sini?" tanya Agneta yang di angguki Regan.
"Egan kangen Ayah Velo," ucapnya.
Agneta hanya tersenyum kecil padanya.
***
Pagi itu Agneta sampai di WT Croup Grop. Dave masih belum datang dan Agneta memilih berdiri menunggu kedatangannya di depan pintu ruangannya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki membuatnya menatap ke arah pintu, dan ternyata seorang wanita cantik yang baru saja masuk.
"Eh?"
"Hai," sapa wanita itu dengan senyuman lebarnya. Padahal wajahnya terlihat begitu dingin, tetapi ternyata dia baik.
"Emm, Agneta kan?" tanyanya yang di angguki Agneta.
"Aku Devara, kembarannya Dave atau Kakaknya Dave," kekehnya begitu ramah.
"Ah iya Nyonya Devara."
"Tidak, cukup panggil Vara saja yah," ucapnya. "Ayo mari masuk ke ruangan." Agneta berjalan mengikuti Vara masuk ke dalam ruangan Dave dan mereka duduk berhadapan di sofa yang ada di ruangan itu.
"Jadi begini Agneta, untuk sementara aku yang memegang kendali pada perusahaan ini di bantu Aiden. Nanti setelah usia Regan 22tahun seperti yang di katakan Dave, maka posisi direktur utama perusahaan ini adalah Regan." Devara mengatakannya dengan santai.
"Ah iya, kamu juga tidak usah khawatir, kamu boleh bekerja di sini. Tetapi kalau kamu memilih berhenti, maka perusahaan akan tetap mengirimkan uang ke rekeningmu sebagai gaji bulanan yang di terima Regan juga biaya pendidikannya sampai dia kuliah nanti. Aku akan pastikan kalau Regan akan terjamin pendidikannya."
"Maaf, tetapi apa Dave-" belum sempat ucapan Agneta selesai, raut wajah Devara berubah murung.
"A-aku tidak bisa menerima semua ini," ucap Agneta.
"Kenapa Agneta? Regan adalah pewaris dari keluarga Wiratama," seru Devara.
"Aku ataupun Regan tidak membutuhkan semua ini. Tetapi kalau boleh, aku ingin bicara langsung bersama Dave."
"Dave." Devara merenung mendengar permintaan Agneta.
"Aku mohon biarkan aku bertemu dengan Dave."
"Sebenarnya aku tidak bisa mengatakannya, ini keinginan Dave.."
"Aku mohon, kita sesama wanita dan aku tidak ingin bercerai dengannya," ucap Agneta membuat Devara memicingkan matanya.
"Apa kamu mencintai Dave?" tanya Devara.
"Ya, aku mencintainya," ucap Agneta akhirnya mengakuinya.
"Kalau begitu bawalah dia kembali," ucap Devara dengan senyuman lebarnya.
***
Disinilah Agneta berada, di penthouse milik Dave. Ia masuk ke dalam penthouse dan tampak sepi. Hingga dia mendengar suara orang berbicara, iapun mencari asal suara dan sampai di depan kamar Dave.
Agneta melihat Dave tengah berbicara melalui telpon dengan seseorang. Mereka membicarakan masalah bisnis yang tak di ketahui Agneta. Cukup lama Agneta menunggu di depan pintu hingga Dave mematikan sambungan telponnya.
"Key, apa kau sudah menemuinya?" tanya Dave saat Agneta mengetuk pintu kamar yang terbuka itu, dan posisi Dave berdiri memunggunginya.
Agneta berjalan perlahan memasuki kamar Dave dan berjalan mendekati Dave yang masih berdiri di tempatnya.
"Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Dave kembali merubah raut wajahnya dengan datar.
"Regan mencarimu," ucap Agneta tidak tau harus memulai dari mana.
"Aku belum bisa menemuinya, mungkin weekend ini aku akan menemuinya. Ada lagi yang ingin kau beritahu? Kalau tidak ada, aku ada urusan bersama Key." Dave beranjak melewati tubuh Agneta.
"Apa kau akan terus menghindar Dave?" pertanyaan itu spontan menghentikan langkah Dave.
"Sebenarnya apa yang kamu harapkan dariku? Kenapa kamu selalu seperti ini?" tanya Agneta berbalik menatap punggung lebar Dave.
Dave berbalik menghadap Agneta dengan tatapan tajam dan datarnya.
"Kenapa kau bertanya padaku, Neta? Bukankah kau selalu mengatakan kalau kau membenciku dan ingin aku menghilang dari kehidupanmu juga Regan? Dan sekarang aku berikan itu, aku berikan kebebasan yang selama ini kamu inginkan. Dan kamu juga bisa kembali pada Aiden dan menikah dengannya. Aku tidak akan pernah mengganggu kehidupan kalian lagi. Sekarang apalagi masalahnya?" tanya Dave begitu dingin membuat Agneta diam seribu bahasa.
"Sekarang mulailah nikmati kehidupanmu yang tenang dan damai. Aku tidak akan pernah mengganggumu lagi."
Setelah mengatakan itu Dave kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Agneta yang mematung di tempatnya dengan tatapan sendu dan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.
Dave menghentikan langkahnya saat sudah berjalan cukup jauh dari kamarnya. Ia kembali menoleh dengan tatapan sendu menatap ke pintu kamarnya. Tetapi hanya sebentar dan kembali melanjutkan perjalanannya lagi.
***
"Neta."
Agneta menoleh saat merasakan tepukan ringan di pundaknya.
"Sonya," gumamnya.
"Kau ini kenapa? Sejak tadi aku memanggilmu."
"Ah maafkan aku," ucap Agneta.
"Kau ini kenapa? Kau tampak tak baik-baik saja. Ada apa Neta?" Tanya Sonya semakin penasaran.
"A-aku," seketika air mata Agneta luruh membasahi pipi membuat Sonya kaget.
"Neta ada apa? Ayi kemarilah." Sonya membawa Agneta ke dalam kubikel miliknya, kebetulan sekarang sedang jam istirahat membuat ruangannya sepi sekali.
Aiden yang saat itu baru saja keluar dari ruangan manager divisi marketing bersama managernya, melihat Agneta dan Sonya berjalan bersama menuju kubikel Sonya.
"Ada apa Pak?" Tanya managernya karena Aiden menghentikan langkahnya.
"Anda pergilah makan siang terlebih dahulu," ucap Aiden yang di angguki managernya yang berlalu pergi.
Setelah kepergian manager itu, Aiden berjalan mengikuti Sonya dan Agneta. Ia bersembunyi di balik dinding yang berada tak jauh dari kubikel Sonya.
"Apa yang terjadi Agneta?" Tanya Sonya. "Apa dia menyakitimu lagi?"
"Sonya, aku bodoh," isak Agneta yang tak bisa menahan air matanya.
"Apa maksudmu?"
"Aku pikir aku memang membencinya, tetapi... tetapi ternyata aku tidak pernah bisa membencinya." Agneta menangis terisak dengan ucapan yang terbata-bata.
"Sejak dulu aku mengaguminya, dia adalah cinta pertamaku. Walau dia tak pernah melirikku sama sekali, dia tidak pernah berlaku baik padaku dan hanya menyakitiku dan memberikan luka terdalam dalam hidupku. Tetapi kenyataannya aku tak pernah bisa membencinya."
"Aku tidak pernah bisa membencinya, hikzzz." Sonya ikut sedih melihat isakan dari Agneta yang sangat menyakitkan.
"Saat kabar kematiannya kemarin, aku begitu kesakitan hingga rasanya sulit untuk bernafas. Aku merasa hatiku telah mati, jantungku terasa sudah berhenti berdetak. Aku merasa sangat kesakitan karena kehilangannya."
"Kau boleh mengatakan aku adalah wanita yang bodoh, wanita bego juga tak tau malu. Tetapi aku sangat mencintainya, aku begitu mencintai Dave, hikzzzz....." Sonya ikut menangis melihat Agneta menangis terisak dan begitu menyakitkan.
"Aku tidak ingin kehilangannya lagi, aku tidak bisa berpisah dan jauh darinya. Aku tidak bisa melupakannya sampai kapanpun juga, hikzzz... a-aku sangat mencintainya, dan sekarang aku tidak tau harus bagaimana, hikzz....."
"Dia ingin menceraikanku, hikzzzz...." Sonya menarik Agneta ke dalam pelukannya.
"Aku sangat mencintai Dave, Sonya. hikzzzz."
Aiden bersandar lesu ke dinding dengan air mata yang luruh membasahi pipi. Hatinya semakin hancur berkeping-keping.
Apa salahnya? Dia hanya mencintai seorang wanita, tetapi kenapa rasanya sesakit ini?
***