He'S Back

He'S Back
Episode 119



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagi...


"BAJING*AN".


Prang


Pyaar


BRAKKK


Sean melempar semua barang-barang dan juga berkas-berkas yang tertata rapi diatas meja ke seluruh penjuru ruang kerjanya. Komputernya, laptopnya habis berserakan terpecah belah kesana kemari. Pecahan kaca berserakan dimana-mana.


Dia terlihat begitu hancur Jhon yang baru tiba segera membuka pintu ruangan itu dengan tergopoh-gopoh. Dirinya nampak sangat terkejut ketika melihat betapa hancurnya putranya dan juga ruangan itu saat ini. Andrew pun begitu ia sama terkejutnya dengan tuan besarnya. Sean menumpu berat badannya diatas meja menunduk dengan dalam sembari mengatur nafasnya.


"Boy, apa yang terjadi ? mengapa ini ? semua ini ? apa ini ?".


"Bajing*an ini sialan Andrew siapkan senjataku aku akan membunuhnya sekarang juga detik ini".


"Baik Mr".


Andrew sesuai perintah segera berlari menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh Sean. Jhon melangkah dia begitu hati-hati karena banyaknya pecahan kaca pada lantai.


"Duduklah, tenangkan dirimu".


"Berengs*ek sialan bajing*an benar-benar pecundang".


"Tenangkan dirimu Sean tenangkan dirimu".


Jhon menarik tangan Sean menuju sofa mendudukkannya kemudian mengusap pundak putranya lembut. Untung saja istrinya tengah tertidur pulas bersama dengan Ethan jadi mereka tak dapat melihat kekacauan ini. Jhon memberikan segelas air putih pada Sean yang terlihat begitu berantakan.


"Minumlah air ini kau akan sedikit lebih tenang".


"Katakan pada daddy apa yang sebenarnya terjadi ?".


"Lihatlah sendiri mulutku terlalu suci menyebut nama bajing*an sialan itu".


Jhon menerima handphone yang Sean berikan. Dirinya terdiam menatap wajah seseorang yang amat dikenalinya itu sedang tersenyum bangga. Ditambah wajah menantunya yang babak belur sedang terbaring diatas ranjang.


"Istrimu sangat nikmat". *Isi pesan dan sejumlah potret Allis dengan.


"Lucas Andrews Jackson, rupanya kau kembali".


"Katakan bagaimana aku harus menghancurkannya, memberikannya kematian yang sepadan atas apa yang dia lakukan, kematiannya bahkan tidak cukup untuk menebus semua dosa-dosanya Dad".


"Mr senjata anda".


"Andrew kemarilah letakkan senjata itu kita harus bicara, tutuplah pintunya".


"Apakah aku terlalu lama membawa ini sehingga kedua orang kejam ini marah kepadaku".*Batin Andrew bertanya.


"Aku percaya kau masih memiliki kemampuan yang sama bahkan lebih meningkat dari yang sebelumnya Andrew, bisakah aku meminta nyawamu sekarang Andrew ?"


"Permintaan mendadak seperti apa ini ?".*Batin Andrew


Tak membiarkan pertanyaan tuan besarnya mendingin atau menganggur. Andrew dengan mantap menjawab.


"Saya siap menyerahkan nyawa saya jika untuk menyelamatkan kehidupan tuan besar dan keluarga anda tuan besar".


"Bagus".


"Lalu jika untuk menyelamatkan orang lain apakah kau siap kehilangan nyawamu Andrew ?".


"Saya akan berusaha menjaga nyawa saya ketika berhadapan dengan orang lain Mr, saya tidak rela kehilangan nyawa untuk orang yang tidak menyelamatkan nyawa saya".


"Pemikiran aneh macam apa itu ?".


"Ini bukan pemikiran aneh tuan besar ini adalah salah satu arti dari mata dibalas mata dan nyawa dibalas nyawa".


"Istri putraku berada dikandang singa Andrew kau harus menyelamatkannya".


"Nyonya Allis ?, apakah polisi menemukan nyonya Allis ?".


"Belum Andrew, namun putra tuan Jackson menyekapnya hah aku kira menantuku diculik oleh orang lain taunya adalah seorang pecundang".


"Tuan besar dan Mr tenang saja, saya akan membawa kepalanya untuk anda sekarang juga".


"Tidak Andrew tunggulah kita akan lihat apa yang akan dia lakukan".


"Dad, aku tidak bisa menunggu terlalu lama istriku sedang bersama dengan psikopat cab*ul itu aku tidak bisa membiarkannya".


Kringgg Kring kring


Pembicaraan mereka terhenti kala melihat ponsel genggam Sean berbunyi. Secepat kilat Sean menjawabnya nomor asing. Sean segera menggeser tombol hijau pada layar.


"Bagaimana harimu tanpa istrimu yang cantik dan lezat ini ?".


"Bajing*an sialan dasar berengs*ek keluar dan hadapi aku".


"Hahahaha kulihat dirimu sangat tersiksa tanpa adanya istrimu di sisimu".


"Aku pikir kau sama saja, tidak bisa marah dan tetap selalu diam dan juga datar".


"Dan ternyata kau adalah orang yang emosian".


"Sialan aku akan membunuhmu bajing*an".


"Aku akan menantikan itu, ahh iya aku akan mengakhiri panggilan ini sepertinya ini sudah waktunya untuk bermain-main dengan istrimu".


"Sialan kau jangan sentuh istriku aku akan membunuhmu bajing*an".


Terdengar panggilan telepon itu terputus Sean mengamuk dengan beringas. Jhon membiarkan putranya mengamuk sejadi-jadinya. Andrew bahkan meringis melihat banyaknya barang-barang berharga yang menjadi pelampiasan amarah Sean.


"Tenang kita akan mengatur semuanya, dinginkan kepalamu Sean bersiaplah temui daddy di ruang kerja daddy kau juga Andrew".


"Baik tuan besar".


"Hah sialan". Umpat Sean.


Mereka masing-masing masuk kedalam kamar masing-masing. Membersihkan diri dan menenangkan diri. Andrew menyiapkan segala keperluan yang mungkin saja dibutuhkan. Baik dari persenjataan maupun alat-alat elektronik seperti komputer, laptop maupun ipad.


"Ada apa boy ? kau terbangun ?".


"Tidak".


"Lalu apa yang membawamu kemari ?".


"Kabar tentang mommy-ku, kau sudah mengetahui dimana mommy-ku bukan ?".


"Tidak, pergilah tidur biarkan orang dewasa yang melakukan hal ini".


"Orang dewasa cihhh bahkan aku tidak mempercayai dirimu dad, apalagi orang dewasa lainnya".


"Aku akan mencari grandpa sepertinya berbicara dengan daddy membuang waktuku saja".


"Tidurlah Ethan, kau harus beristirahat".


"Istirahat ? aku tidak membutuhkan hal semacam itu yang aku butuhkan mommy-ku".


"Tidak usah keras kepala pergilah tidur".


"Lalu lihat kau masih santai saja setelah semua yang terjadi dad ? atau kau mau mengamuk lagi seperti yang kau lakukan di ruang kerjamu tadi ? katakan dimana usahamu untuk menemukan mommy-ku ? tidak ada kan ? jadi tidak usah berusaha untuk menghalangiku".


"Dan satu lagi berhenti untuk berpura-pura peduli pada mommy-ku, aku bisa melindunginya seorang diri".


BRAKKK


"Ohh God aku benar-benar tidak menduga ini, dia benar-benar duplikatku".*Batin Sean.


Jhon, Andrew, Sean dan juga Ethan tengah saling menatap satu sama lain. Ketiga orang dewasa itu kebingungan mendapati Ethan duduk diantara mereka bertiga.


"Bukankah aku sudah memintamu untuk kembali beristirahat Ethan ?".


"Lalu apakah daddy tidak melihat wajahku ? adakah ekspresi wajahku peduli dengan ucapan daddy ?".


"Wahhh benar-benar duplikat".* Batin Andrew berdecak kagum.


"Ishh kau akan berdebat dengan dirimu sendiri Sean ?".*Batin Jhon meringis.


"Dad mintalah dia untuk pergi kita tidak bisa membuang-buang waktu lagi".


"A-".


"Tidak usah membuang-buang waktu untuk mengusirku grandpa aku tidak kan pergi".


"T-".


"Jika dia tidak ingin pergi maka kau harus menariknya dad".


"T-".


"Jika aku tidak ingin pergi, mengapa tidak kau saja yang pergi dad ?".


"Ethan Sean kalian ini memintaku untuk menjadi apa hah ? aku benar-benar bingung oleh tingkah kalian berdua, kau memintaku untuk berbicara sedangkan kau sendiri selalu memotong ucapanku sebelum aku berbicara".


"Ethan, daddy minta sekali lagi kau pergilah tidur istirahat jika tidak".


"Jika tidak ? kau yang akan pergi kan daddy".


"Pergilah istirahatlah Ethan".


"Tidak".


"Kau akan pergi Ethan".


"Aku atau kau dad yang akan pergi, apa sebaiknya daddy saja yang pergi ?".


"Kau benar-benar".


Sean dibuat panas oleh kelakuan Ethan yang keras kepala. Jhon bahkan sampai memijat keningnya karena pusing melihat tingkah dua manusia beda usia itu. Apa lagi Andrew dia hanya bisa menatap perdebatan antara bos-nya dan juga anaknya yang baru berumur kurang lebih delapan tahun.


"Diamlah Ethan, Sean duduklah kita akan memulainya sekarang juga tidak ada bantahan, kita sudah membuang banyak waktu".


"Andrew, bantu aku melacak sinyal ponsel yang mengirimiku pesan ini laptopku hancur beserta komputerku".


"Berpikirlah sebelum bertindak, berikan ponsel itu uncle Andrew aku akan memeriksanya".


"T-tuan muda ? apakah kau bisa ?".


"Mengapa aku selalu diremehkan ? inilah yang menjadi alasanku untuk tidak mempercayai orang dewasa".


"Tuan besar ?".


"Berikan Andrew, aku yakin dia jauh lebih pintar dari anakku sendiri".


"I-ini tuan muda maafkan saya".


"Terima kasih uncle Andrew, sepertinya aku sedikit menyukaimu".


Ethan menarik laptop milik Jhon lalu menyalakannya. Mengetik dan masuk web yang dia tahu dan sudah lama ia pelajari. Sean melihat pergerakan putranya yang sedikit lebih lincah darinya. Cara berpikir yang hampir sama dengannya cepat dan juga tepat sasaran.


"Sinyalnya mengarah pada jalan xxx menuju kejalan yang sepi lumayan jauh dari kota, bangunan itu hanya satu kita akan lebih mudah untuk menemukan mereka, namun keamanan rumah itu tak tanggung-tanggung kita harus menyiapkan segalanya untuk melawan keamanan mereka".


Jhon dan Andrew saling menatap pemikiran mereka sama. Sama-sama mengagumi sosok Ethan yang masih kecil dengan kemampuannya yang luar biasa.


"Pikirkan strategi untuk memasuki rumah ini, aku yang akan mengendalikan sistem keamanan mereka".


"Kau bisa ?".


🌼 Bersambung 🌼


Hallo semuanya up lagi nih semangat membacanya dan juga sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lapak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.


Btw selepas membaca jangan lupa rutinitasnya klik like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin ya.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨