He'S Back

He'S Back
Episode 25



Sepanjang pekerjaan, Dave sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Ia merasa tubuhnya semakin tak nyaman. Keringat dingin terus saja keluar dari tubuhnya, kepalanya terasa berdenyut sakit dan perutnya terasa melilit. Nafasnya terasa sesak dan berat, Dave berusaha berkonsentrasi mengerjakan dan memeriksa beberapa dokumen yang menumpuk di atas meja kebesarannya.


"Permisi Sir," seruan itu membuat Dave mengangkat kepalanya dan berusaha menyembunyikan rasa sakit itu.


"Ya..."


"Apa anda baik-baik saja?" tanya sekretarisnya yang melihat wajah pucat Dave.


"Ya, ada apa Siska?" tanya Dave masih berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.


"Ini saya mengantarkan dokumen yang anda butuhkan untuk pertemuan dengan kolega dari Dubai nanti sore." Siska sedikit mengernyitkan keningnya saat melihat wajah Dave.


"Baiklah, terima kasih. Kau boleh keluar," ucap Dave yang di angguki Siska dengan perasaan cemas melihat atasannya.


Dave menatap jam mahal dan elegant di pergelangan tangannya. Sudah waktunya Regan pulang, ia sangat merindukan bocah itu. Dengan bergegas Dave beranjak dari duduknya dengan sedikit terhuyung. Ia memijit kepalanya dan berusaha melawan rasa sakit itu. Ia menyambar kunci mobilnya dan beranjak keluar dari ruangan tanpa menghiraukan ucapan Siska yang jelas mengkhawatirkannya.


Dave sampai di sekolah Regan, ia tersenyum saat melihat anak yang begitu ia rindukan tengah duduk di atas ayunan seperti biasanya menunggu jemputan. Dave tersenyum, senyuman yang tak pernah oranglain lihat dan bahkan tidak pernah ia tunjukkan selama ia hidup. Senyum penuh kasih sayang dan rasa rindu.


Putranya...


Ini seperti mimpi, bagaikan air jernih di dalam neraka yang selalu membakar dirinya. Ia kehilangan semua keluarganya dan tanpa ia sadari, ia memiliki keluarga lainnya. Dan Dave bersumpah untuk kali ini, ia akan melindungi Regan juga Agneta dari siapapun yang berusaha mencelakai mereka. Dave tidak akan pernah percaya lagi pada siapapun seperti dulu.


Dave beranjak menuruni mobil mewahnya tanpa mengenakan jas miliknya. Kemeja puti yang ia gunakan sudah ia lipat hingga siku di bagian tangannya. Ia berjalan dengan angkuh dan tanpa suara.


"Hai Bocah," ucapnya membuat Regan menengadahkan kepalanya.


"Om Velo!" pekiknya begitu senang dan bahkan meloncat menuruni ayunan untuk menerjang Dave yang sudah berjongkok di hadapannya. Regan langsung memeluk Dave yang sudah merentangkan kedua tangannya. Dave merasa hatinya menyejuk dan nyaman.


Putranya...


Kata itu seperti mantra yang terus terngiang di dalam kepala dan hatinya. Dave melepaskan pelukannya dan tatapannya beradu dengan mata polos milik Regan dengan pipi gembilnya yang merah karena kepanasan.


"Belum ada yang menjemput, eh?" tanya Dave.


"Belum, katanya Bunda yang akan jemput Egan tetapi sampai sekalangpun Bunda gak nongol nongol." Seru anak itu dengan nada kesal yang membuatnya semakin lucu dan menggemaskan. Dave tak mampu menyembunyikan senyumannya, senyuman Regan sungguh menular padanya.


"Regan!" panggilan itu membuat Dave dan Regan menoleh sama-sama ke asal suara.


Tubuh Agneta seketika kaku dan bergetar saat melihat wajah mereka berdua yang seperti pinang di belah dua. Dua pria yang berhasil merubah hidupnya. Agneta menatap Dave dengan tatapan tajamnya yang di balas dengan tatapan tenang seorang Dave. Lalu ia berjalan mendekati mereka berdua dengan tatapannya yang kini mengarah pada Regan.


"Maaf Bunda telat menjemputmu, ayo kita pulang," ucap Agneta.


"Bunda dali mana saja? untung ada Om Velo yang menemani Egan," ucap Regan dengan nada polosnya membuat Agneta merasakan perasaan yang aneh di dalam dadanya.


"Maaf, tadi Bunda terlalu lama menunggu taxi online," serunya mengusap kepala Regan yang berkeringat.


"Om akan mengantarmu pulang, ayo." Belum sempat Agneta menolak, Dave sudah menggendong Regan dan membawanya menuju mobil miliknya membuat Agneta mendengus kesal tetapi tetap mengikuti Dave menuju mobilnya.


Dave mendudukan Regan di kursi penumpang belakang, dan ia berkata pada Agneta untuk duduk di depan tepat di sampingnya. Agneta hendak menolaknya tetapi tatapan Dave tidak menerima bantahan. Agneta benci menurut seperti ini dan selalu di atur oleh Dave.


Tak ada yang berbicara selama perjalanan selain dari celotehan Regan mengenai sekolahnya dan mengatakan akan ada acara liburan bersama dan Regan harus mengajak serta Ibu dan Ayahnya karena ada beberapa permainan untuk orangtua di sana. Tanpa di minta, Dave dengan cepat mengajukan dirinya akan menemani mereka berdua berlibur dan menjadi Ayah Regan saat kegiatan lomba anak bersama Ayahnya. Tanpa di sangka, Regan langsung sangat antusias dan bahagia. Melihat respon Regan yang seperti itu membuat Agneta meringis ngilu, ia sungguh tak bisa berbuat apapun di hadapan dua lelaki ini selain menurut.


Agneta sempat kaget saat Dave tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia memegang perutnya yang semakin sakit.


"Sir.." gumam Agneta kaget melihat Dave yang tampak kesakitan.


"Aku tidak apa-apa," gumamnya melirik ke arah Agneta berusaha menenangkan walau itu tampaknya tak berhasil. Agneta dapat meliat tatapan Dave tak setajam biasanya. Tatapan itu terlihat sedikit redup dan juga wajahnya begitu pucat. Agneta baru menyadari itu semua.


"Bunda, Om Velo kenapa?" tanya Regan ikut khawatir.


"Kau baik-baik saja, Dave?" Dave merasakan tangan Agneta memegang lengannya dan berusaha membantunya.


"Ya," ucap Dave berusaha tegar dan tidak ingin terlihat lemah sama sekali.


"Biar aku saja yang menyetir mobil, kita ke rumah sakit."


"Kau tidak baik-baik saja, Dave!"


"Aku-"


"Aku tidak ingin kita bertiga kecelakaan karena kekeras kepalaanmu itu!" ucap Agneta begitu tajam. Tatapan mereka beradu satu sama lain seakan menyiratkan sesuatu yang sulit di pahami dan hanya mereka yang memahami. Tampak jelas dinding kokoh yang menjulang tinggi di hadapan mereka berdua, menyembunyikan isi hati dan tatapan penuh kerinduan dari keduanya.


Dave menurut dengan menganggukkan kepalanya sedikit. Agneta segera menuruni mobil dan sedikit berlari ke arah pengemudi. Ia membantu Dave melepaskan sabuk pengamannya dan membantu Dave untuk pinda ke kursi penumpang di sampingnya.


"Om Velo, ini minum air dulu, mungkin om Velo kehausan." Dave tertegun di tempatnya saat bocah berusia 4 tahun itu dengan tatapan polosnya menyodorkan tempat minumnya ke arah Dave.


Ada rasa sakit di dada Dave, ini bukan pertama kalinya ia merasakan sakit seperti ini. Ia pernah sakit hingga tubuhnya begitu sulit untuk bergerak. Ia pernah kehausan bahkan kelaparan selama 3 hari di jalanan tanpa ada yang menolong dan membantunya. Mereka hanya melirik jijik pada Dave yang terluka berat dan seperti pemulung. Ia merasa tak sendirian lagi, ia merasa tak kesepian lagi.


Dan sekarang bisakah Dave berlaku egois dan menarik dua orang ini kembali ke dalam hidupnya yang tak berwarna dan suram?


***


Aiden yang baru saja menyelesaikan meetingnya bersama beberapa manager, sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat Nyonya Ellena Pratama tengah duduk angkuh di kursi kebesarannya.


"Mom? Ada apa?" tanya Aiden mengernyitkan dahinya.


"Emm ku dengar sore ini kita kedatangan seorang kolega dari Dubai? Mr. Abdullah," ucapnya dengan nada angkuh.


"Ya, dan Dave yang menemuinya," ucap Aiden beranjak dan mengambil duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Kau yang akan datang Aiden, bukan Dave." Mendengar pernyataan Ibunya itu membuat Aiden mengernyitkan dahinya.


"Apa maksud Mom?" tanya Aiden.


"Kau tau siapa Mr. Abdullah, bukan? Dia pengusaha dunia yang akan bekerjasama dengan perusahaan kita. Dan kalau kau berhasil memenangkan tender kerjasama ini, itu akan membuat pengacara bodoh itu mempertimbangkan kembali presdir di perusahaan ini. Kau lah calon yang tepat untuk menjadi calon penerus Wiratama Group. Jadi bersiaplah dan menangkan tender ini."


"Aku tidak mau, ini tender milik Dave dan biarkan dia yang datang." Aiden terlihat jelas enggan menuruti Ibu nya itu.


"Dave tidak akan datang, anak itu terlalu sibuk dengan para pelacurnya." Mendengar ucapan Ellena, kecurigaan Aiden semakin jelas.


"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Aiden.


"Tidak ada, hanya saja Mom tau kalau dia tidak akan datang. Maka kau yang akan mewakilkannya dan berusahalah mengambil perhatian Mr. Abdullah."


Aiden hanya terdiam saat Ellena melenggang pergi dengan langkah angkuh dan tas mahalnya meninggalkan ruangan Aiden. Aiden menghubungi Dave tetapi tak ada tanggapan dari sang empu. Ia menghubungi sekretaris Dave, dan sekretarisnya mengatakan Dave pergi sejak 2 jam lalu entah kemana.


"Kemana kau," gumam Aiden mendengus kesal. Ia sudah ingin bersama Agneta malam ini, dan ia benci saat acaranya dan Agneta gagal karena pekerjaan.


***


Dave tersenyum simpul saat mendengar penjelasan dokter yang mengatakan ia keracunan makanan. Ia sudah tau saat semalam Ellena datang dan membawakan soup padanya secara tiba-tiba. Dave sudah tau pemikiran licik Ellena. Nenek sihir itu memang selalu ingin bermain-main dengannya.


Dave mengirimkan pesan pada Sekretarisnya dan meminta dia mengatakan kalau ada yang menanyakannya katakan kalau Dave pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Setelahnya Dave menghubungi seseorang.


"Kau benar," ucap Dave pada seseorang di sebrang sana.


"....."


"Aku tidak perduli, aku akan memberikan peluang ini padanya."


"....."


"Kita lihat saja nanti." Dave menampilkan seringai menyeramkannya.


Dave sudah mengetahui niat busuk Ellena, dan dia memberikan jalan mudah untuk Ellena dan dia akan tertawa melihat hasilnya nanti.


***