He'S Back

He'S Back
Episode 38



"Kalau begitu tinggalkan Aiden, dan menikahlah denganku!"


Deg


Agneta membelalak lebar mendengar ucapan Dave barusan, ia masih berusaha mencerna ucapan Dave barusan.


"Kau sungguh iblis yang licik!" umpat Agneta membuat Dave terkekeh renyah.


"Kau sangat memahamiku, Neta." Dave beranjak masih dengan kekehan menyeramkannya dan beranjak keluar ruangan meninggalkan Agneta yang menatapnya penuh kebencian dan mengepalkan kedua tangannya.


***


Aiden masih berdiri dengan sabar di depan rumah kontrakan Agneta, siang sudah berganti malam dan Agneta masih belum pulang, nomornyapun tak dapat di hubungi sejak siang membuat Aiden kehilangan jejak dan memilih menunggu Agneta di kontrakannya.


Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumah Agneta, seorang sopir berpakaian hitam-hitam turun dan membukakan pintu belakang dimana Agneta menuruni mobil dengan wajah yang suram dan lesu. Ia tak mengucapkan terima kasih dan memilih berjalan memasuki pagar rumahnya dan massih belum menyadari keberadaan Aiden.


"Kau baru sampai?" ucapan Aiden membuatnya terpekik hingga ia mengangkat kepalanya dan menatap Aiden dengan tatapan sendu.


"Ada apa?" tanya Aiden menangkup wajah Agneta dengan tatapan teduhnya yang selalu mampu menenangkan Agneta.


Agneta hanya bisa menangis terisak hingga Aiden menariknya ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala Agneta. Ia membiarkan Agneta menangis terisak dalam pelukannya.


Setelah merasa lebih tenang, Aiden membawa Agneta masuk ke dalam rumah dan memberinya segelas air putih. Ia masih menatap Agneta yang menatap nyalang ke depan.


"Apa dia menipumu?" tanya Aiden mengusap kepala Agneta. Agneta masih tidak menjawab sama sekali.


"Agneta, katakan padaku apa yang terjadi?"


Agneta menghela nafasnya perlahan lalu menoleh ke arah Aiden dengan mengusap air matanya. "Aku butuh sendirian," ucapnya.


"Agnet-"


"Aiden, aku sungguh butuh waktu sendiri," ucapnya masih berusaha mengabaikan pertanyaan Aiden. "Aku mohon."


"Baiklah, besok aku akan kemari. Istirahatlah," ucapnya mengecup kepala Agneta lalu beranjak pergi dengan perasaan berat. Di ambang pintu, Aiden kembali menoleh ke arah Agneta yang mengusap wajahnya gusar dengan tatapan khawatir. Setelahnya iapun berlalu pergi meninggalkan Agneta sendirian.


"Hikzzz...." isakan itu kembali keluar dari bibir Agneta. Sungguh tak ada satu orang Ibu pun yang bisa jauh dengan putranya, dengan darah dagingnya juga nyawanya.


Kenapa Tuhan begitu kejam padanya, kapan hidupnya akan tenang dan bahagia? Dia tak banyak keinginan, cukup tetap hidup tenang bersama putra semata wayangnya.


Dave memiliki kekuasaan yang tak di miliki Agneta, dia bisa melakukan apapun sesukanya termasuk mengajukkan hak asuh anak ke pengadilan walau tanpa ada status pernikahan, atau entah apa yang sudah di lakukan iblis licik itu. Dan sekarang Agneta tidak tau harus bagaimana menghadapinya, dia tidak tau bagaimana cara mengambil Regan dari Dave. Kalau saja dia memiliki kekuatan, dia akan merebut Regan dan membawanya pergi jauh dari sini. Dari iblis seperti Dave.


Bukan karena Aiden bukan juga karena cinta yang membuatnya tidak ingin menerima tawaran Dave. Agneta sudah terlanjur sangat terluka oleh pria itu, dan dia tak ingin masuk lagi ke dalam lubang yang sama. Jatuh pada pesona pria tak bertanggung jawab seperti Dave.


"Ya Tuhan!" keluhnya sungguh frustasi.


***


Di kediamannya, Regan tampak duduk di atas ranjang dan tak lama Dave datang menghampiri dan ikut duduk di samping Regan.


"Ayah,"


"Iya,"


"Bunda kenapa tidak menginap di sini?" tanya Regan.


"Dia masih butuh waktu, Regan."


"Apa Bunda sedih?" tanya Regan dengan wajah sendu membuat Dave mengusap kepalanya. "Kasian Bunda."


"Apa Ayah mencintai Bunda? Kalena itu Ayah mau Bunda kembali sama Ayah?" mendengar pertanyaan Regan, Dave terpaku di tempatnya.


Benarkah dia mencintai Agneta? Atau sekedar obsesi tertahan dari 5 tahun lalu? Atau karena adanya Regan yang merupakan darah dagingnya?


"Ayah." Dave tersentak saat tangan mungil Regan menyentuh tangannya. Dave menatap Regan yang tampak masih menunggu jawabannya.


"Emm, ya," jawab Dave tersenyum kecil. Benarkah dia mencintai Agneta?


Saat ini yang dia inginkan adalah bersama Agneta dan merebutnya dari Aiden. Dia ingin melindungi keluarganya setelah dia kehilangan keluarganya. Apa itu bisa di katakan cinta? Atau karena rasa bertanggung jawab dan ingin balas dendam pada Aiden?


"Sebaiknya kamu tidur," ucap Dave membuat Regan mengangguk dan merebahkan tubuhnya di samping Dave.


Dave masih diam dalam kesunyian malam dengan bersandar ke kepala ranjang, sedangkan Regan sudah terlelap di sampingnya. Pikirannya melalang buana memikirkan Agneta dan perasaannya yang tak ia pahami sama sekali.


***


"Neta!" panggil Soraya memasuki rumah Agneta. Ia melihat Agneta duduk melamun memeluk guling dengan kepala Batman kesayangan Regan. Soraya merasa sedih melihat kondisi Agneta saat ini. Ia berjalan perlahan mendekati Agneta dan duduk di sisi ranjang. Ia menyentuh pundak Agneta membuat sang empu menoleh padanya dengan air mata yang masih basah. Bahkan wajahnya sangat sendu dan matanya bengkak. Soraya yakin semalaman Agneta tak tidur dan terus menangis. Bahkan dia masih mengenakan kemeja dan celana jeansnya sepertinya tidak berganti pakaian.


"Apa sebaiknya kita lapor polisi supaya Regan cepat ketemu."


"Regan sudah ketemu Aya," jawab Agneta dengan nada serak.


"Lalu dimana dia? Dan kenapa kamu masih sesedih ini kalau Regan sudah ketemu?" tanya Soraya bertubi-tubi.


"Regan di bawa oleh Ayah kandungnya."


Mata Soraya membelalak lebar mendengarnya, ia tau cerita dari Agneta segalanya.


"A-ayah kandungnya? Tetapi bagaimana bisa? Kamu bertemu dengan pria brengsek itu dimana?" tanya Soraya yang tidak mengetahui kalau pria brengsek yang dia sebut adalah atasan yang menjadi idolanya di kantor.


"Dengan segala kekuasaan yang dia miliki, dia mengambil Regan dariku, hikzzz...." isak Agneta membuat Soraya semakin merasa sedih.


"Dia mengambil Regan begitu saja setelah meninggalkanku dan mencampakkan kami."


"Sebenarnya apa mau pria itu? Kenapa dia masih mengusik kehidupan kalian? Dan bagaimana bisa dia menemukan kamu dan Regan?"


"Segalanya mudah bagi dia," ucap Agneta.


"Apa Aiden tau?" tanya Soraya yang di jawab gelengan kepala oleh Agneta. "Kenapa? Sebaiknya kamu mengatakan padanya dan meminta bantuannya. Siapa tau dengan koneksinya kita bisa membawa Regan kembali."


"Tidak semudah itu," isaknya. "Dia ingin aku kembali padanya dan menikah dengannya."


"What?" pekik Soraya. "Tapi bagaimana bisa? Dia sungguh tak merasa malu, setelah apa yang dia lakukan pada kalian!" sungut Soraya sungguh berapi-api.


"Aku tidak tau harus bagaimana, aku bingung. Aku hanya menginginkan Regan," ucap Agneta.


"Lalu Aiden?" tanya Soraya.


"Entahlah, sejak awal aku bersamanya karena kebaikannya. Aku berusaha untuk mencintainya tetapi aku sama sekali tidak bisa. Di tambah orangtuanya yang tak menyukaiku. Kalau aku harus memilih, aku lebih baik pergi jauh dari mereka dan hidup bahagia hanya bersama Regan."


"Kau masih mencintai Ayah kandung Regan? Lalu bagaimana perasaanmu setelah kembali bertemu dengannya?"


"Aku tidak tau, aku merasa sangat takut dan membencinya. Apalagi apa yang dia lakukan sekarang dengan kelicikan dan Arogansinya. Aku semakin membencinya," isaknya membuat Soraya menarik Agneta ke dalam pelukannya.


"Kita akan mencari jalan keluarnya, kamu tenang saja Agneta. Aku yakin Regan pasti ingin kembali bersamamu, daripada bersama orang asing yang mengaku Ayahnya itu." Agneta hanya diam dan masih menangis di pelukan Soraya.


***