
Agneta mengernyitkan dahinya menatap jalanan yang mereka lalui, mereka sudah keluar dari daerah Jakarta dan memasuki kota Bekasi.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Agneta penuh pertanyaan.
"Untuk menjenguk Regan," jawab Dave dengan enteng dan masih dengan nada datarnya.
"Tetapi kenapa sampai keluar kota? Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan Dave?" tanya Agneta menoleh ke arah Dave yang tampak tenang menyetir mobilnya.
"Nothing!"
Agneta mengeram kesal, ia semakin mencurigai Dave. Apa mungkin benar prasangka Aiden, bahwa Dave lah yang menculik Regan dan dia sedang berusaha memanipulasi segalanya. Dan berusaha memanfaatkan kepolosan Agneta.
"Aku tidak menculiknya, kalau itu yang kau pikirkan tentangku." Agneta sedikit terpekik mendengar ucapan Dave yang seakan mengetahui apa yang sedang dia pikirkan. Bagaimana dia bisa tau? Pikir Agneta.
"Aku semakin mencurigaimu," ucap Agneta masih menatap Dave yang tampak menarik sudut bibirnya sedikit dan tak bisa di pungkiri kalau Agneta masih terpesona oleh ketampanan Dave. Ia segera memalingkan wajahnya dan kini Dave yang menoleh ke arah Agneta yang terlihat membuang muka dengan wajah kesal. Dave sungguh menyukai ekspresi Agneta, dia selalu terlihat cantik dan mempesona dalam ekspresi apapun.
"Aku tidak berniat menculik Regan darimu," ucap Dave.
Agneta kini hanya terdiam dan berusaha mengenyahkan pikiran buruk di kepalanya.
***
"Aku tidak berniat menerima perjodohan ini." Aiden menoleh ke sampingnya saat mendengar ucapan Cathrine barusan.
"Begitupun denganku, aku memiliki kekasih dan aku tak berminat padamu."
"Baguslah, jadi kita bisa sama-sama bekerjasama untuk membatalkan rencana perjodohan ini. Aku sungguh tak menyukai berkomitmen."
"Baiklah, kita bisa bekerjasama dalam hal ini." Catherin mengangguk setuju dan kembali terdiam menatap jalanan ibu kota yang ramai.
Aiden sebenarnya tidak tenang sejak tadi, ia terus memikirkan kemana Dave membawa Agneta. Dia sungguh tak bisa membiarkan Dave semakin mendekati Agneta. Agneta adalah miliknya, dan dia tak akan membiarkan siapapun merebut miliknya.
Aiden mencoba menghubungi seseorang dan memintanya untuk melacak keberadaan Agneta melalui GPS. Catherin hanya memperhatikan interaksi Aiden yang tengah berbicara dengan seseorang di sebrang sana.
"Kau tampaknya begitu posesive pada kekasihmu," ucap Catherin yang tak di gubris oleh Aiden dan lebih fokus menyetir.
"Ah, aku turun di depan sana." Catherin menunjuk sebuah gedung di depan mereka dan tak lama mobil Aiden berhenti di sana. "Terima kasih untuk tumpangannya Mr. -"
"Aiden."
"Yah, Aiden. Maaf aku memang tak bisa menghapal nama orang yang baru ku kenal dengan cepat," serunya dengan suara lembut dan menggoda. Aiden tak menggubrisnya, setelah Cathe menuruni mobil, Aiden segera melajukan mobilnya menuju tempat yang di tunjukkan oleh orang kepercayaannya.
***
Agneta baru saja menuruni mobil Dave, ia menatap rumah di depannya yang begitu mewah dan besar. Bahkan ini lebih besar dari penthouse milik Dave. Rumah bergaya Eropa yang sungguh menawan bak sebuah istana kerajaan.
"Masuk," seru Dave menyadarkan Agneta dari keterpakuannya.
Mereka berdua berjalan melewati air mancur yang terbuat dari kristal dan berkilau indah. Mereka terus berjalan menuju pintu utama yang menjulang tinggi. Seorang pelayan segera membukakan pintu dan sedikit menunduk saat Dave dan Agneta melewatinya.
Agneta masih berjalan mengekori Dave sambil menatap suasana dalam rumah. Rumah itu begitu mewah dan terawat, aroma kayu begitu mengguar dan menyegarkan penciuman. Mereka berjalan melewati sebuah ruangan besar yang hanya di lapisi kaca bening, hingga suasana taman yang seperti hutan buatan itu terlihat tampak jelas, sinar mataharipun mampu menerobos ke dalam ruangan. Mereka terus berjalan hingga sudut ruangan dimana mereka menemukan pintu pembuhung yang di biarkan terbuka dan seakan tak ada penghalang apapun.
Itu adalah pintu penghubung menuju ke area belakang rumah dimana terhampar luas taman bak lapangan golf. Rumput hijau yang bersih dan di sisi kanannya terdapat pohon-pohon hijau yang tak begitu rindang menyerupai hutan buatan. Agneta masih menatap sekelilingnya hingga tatapannya terhenti pada sosok yang sangat amat di rindukannya.
"Ayo uncle kembal tangkap bolanya!" teriak Regan melemparkan bola ke arah Kay dan Key. Regan tampak tertawa senang dan tak ada kesedihan sedikitpun.
"Regan!" panggil Agneta berjalan melewati Dave dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Ketiga orang itu menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke sumber suara.
"Bunda!" teriak Regan langsung berlari dengan senang menerjang Agneta yang sudah duduk rengkuh merentangkan kedua tangannya. "Bunda, Egan kangen banget!" ucap Regan saat sudah berada di dalam pelukan Agneta.
"Apalagi Bunda sayang, Bunda sangat merindukanmu. Sangat," isak Agneta mengecupi seluruh bagian wajah Regan membuat Regan terkekeh senang.
"Kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang menyakiti kamu?" tanya Agneta melepaskan pelukannya dan menatap Regan dengan intens. Ia menyusuri seluruh tubuh Regan seakan mencari sesuatu yang menyakiti anaknya.
"Tidak Bunda, Egan baik-baik saja. Bunda jangan sedih," ucap Regan menghapus air mata Agneta.
Dave berdiri di belakang mereka dengan ekspresi misterius. Kay dan Key pun memperhatikan mereka dan menatap ekspresi Dave yang sulit di baca, tetapi mereka bisa melihat kelegaan di wajah Dave.
"Ayo kita pulang?" ucap Agneta hendak menarik tangan Regan, tetapi Regan hanya diam saja seraya melirik ke arah Dave. "Ada apa?" tanya Agneta bingung.
"Kita perlu bicara Agneta," ucap Dave membuat Agneta mengernyit.
"Bicara apa?" tanya Agneta masih dalam kebingungan.
"Regan, kamu main dulu dengan om kembar yah."
"Baik Ayah," ucap Regan dan berlari ke arah Kay dan Key.
"A-ayah?" gumam Agneta semakin terpekik kaget menatap ke arah Dave penuh tanya.
Dave tak menggubrisnya dan berlalu pergi, Agneta tak berpikir panjang langsung mengikuti Dave di belakangnya.
"Apa yang sudah kau katakan pada putraku? Bagaimana bisa dia memanggilmu Ayah?" tanya Agneta semakin geram, sedangkan Dave masih tenang dan terus berjalan.
"Bagaimana bisa dia memanggilmu Ayah? Apa yang sudah kau lakukan pada putraku!"
Agneta masih mengekori Dave dengan bertubi-tubi pertanyaan walau tak ada satupun yang mendapat jawaban dari Dave. Hingga mereka memasuki sebuah ruangan yang di yakini sebagai ruang kerja Dave.
"Kau baca ini," ucap Dave menyerahkan sebuah kertas pada Agneta. Membuatnya segera membukanya dengan tak sabar.
Matanya membelalak lebar saat membaca setiap tulisan di dalam kertas putih itu. "APA MAKSUDMU DAVERO?" pekik Agneta tampak sangat emosi.
"Kau tidak memiliki hak asuh lagi atas Regan. Sekarang akulah yang mengambil hak asuh atas putraku. Kau masih boleh menemuinya atas ijinku," ucap Dave dengan begitu kejam. Ia bahkan mengacuhkan tatapan menyakitkan dari Agneta.
"Kau-"
"Aku hanya ingin kehidupan yang layak untuk putraku dan keamanannya terjamin." Dave masih berbicara dengan nada tenang dan datar.
"Kau sungguh seorang iblis Davero! Apa hak mu atas Regan? Dia putraku! Hanya putraku!" jerit Agneta. "Ini-" ia menunjukkan kertas di depan Dave dan merobeknya hingga menjadi beberapa kepingan lalu melemparkannya ke wajah Dave yang masih menampilkan wajah datarnya.
"Sejuta kalipun kamu merobeknya, aku masih memiliki yang asli karena itu hanya copyannya saja." Dave berkata dengan tanpa perasaan dan mengabaikan air mata yang berurai di wajah Agneta yang tampak memilukan.
"Kau jahat! Kau benar-benar bastard Dave! Dulu kau mengambil kehormatanku dan membuatku hamil, kau meninggalkanku dan membiarkanku berjuang sendiri melahirkan dan mengurus hasil perbuatanmu! Dan sekarang setelah aku berusaha menerimanya dan hidup bahagia bersama Regan, kau ingin merebutnya kembali dariku! Kau iblis, kau sungguh tak memiliki hati... hikz..." isak Agneta memukuli Dave walau berkali-kali di cekal oleh Dave hingga dia merasa lelah.
"Aku membencimu! Kau tak pantas hidup di dunia manusia! Tempatmu adalah di neraka!" sembur Agneta.
"Seberapa kalipun kau memaki dan menghinaku, jangan pikir aku akan mengalah dan memberikan Regan padamu!" ucap Dave dengan nada yang sangat kejam membuat Agneta lemas. Ia melepaskan pegangan tangan Dave dan menunduk diiringi isakan tangisnya yang memilukan.
"Tenangkan dirimu dan bersikap baiklah, supaya aku tak sampai melarangmu menemui Regan," ucap Dave berlalu melewati Agneta.
Tetapi langkah Dave terhenti saat Agneta bersujud dan memeluk sebelah kakinya dengan tubuh yang sangat bergetar dan isakan yang memilukan.
"Aku mohon Dave, jangan pisahkan aku dengan putraku! Ha-hanya dia yang aku miliki di dunia ini. Dia adalah segenap jiwaku dan juga nyawaku. Aku mohon jangan pisahkan anak dari Ibunya, aku mohon!" isakannya sangat memilukan.
Dave memejamkan matanya tanpa bergerak sama sekali, kedua tangan yang berada di dalam saku celananya mengepal kuat, dia berusaha menekan emosinya di dalam dirinya. Dia tidak suka Agneta memohon seperti ini padanya, sungguh hatinya melemah mendengar isakannya.
"Aku mohon, jangan pisahkan aku dengan putraku! Aku mohon, aku akan melakukan apapun asalkan kau tidak memisahkan aku dengan Regan, jangan lakukan ini Dave. Aku mohon, aku mohon! Demi putraku, aku rela melakukan apapun," isaknya sangat memilukan.
Dave berbalik dan duduk rengkuh tepat di hadapan Agneta yang menangis terisak, ia menarik dagu Agneta hingga tatapan mereka beradu. Mata biru sejernih lautan itu menyala tajam membuat Agneta merasa ketakutan. Tetapi seketika sebuah seringai menyeramkan terukir di bibirnya yang seksi.
"Kau yakin akan melakukan apapun asal bisa bersama Regan?" tanya Dave yang langsung di angguki Agneta. Dan sekali lagi seringai licik terukir dibibirnya.
"Kalau begitu tinggalkan Aiden, dan menikahlah denganku!"
Deg
***
TBC...