
Agneta dan Dave sudah kembali ke Indonesia. Setelah mengantarkan Regan ke sekolahnya, Dave bersama Agneta pergi bersama ke kantor. Awalnya Agneta meminta turun di sebuah halte yang tak terlalu jauh dari kantor. Tetapi Dave seperti biasanya menulikan telinganya dan tetap menjalankan mobilnya hingga memasuki area parkiran khusus para petinggi.
Mereka bersama-sama menuruni mobil dan memasuki lift, beberapa karyawan yang juga parkir di sana seperti Manager bagian melihat ke arah mereka dengan memberi hormat pada Dave. Mereka sedikit heran karena Dave memegang tangan Agneta. Dan yang lebih membingungkan, setau mereka Agneta adalah kekasih dari Aiden.
"Kau tidak perlu melakukan ini!" ucap Agneta melepaskan pegangan tangan Dave, membuat Dave menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa? Kau ini istriku, apa ada yang salah?" tanya Dave dengan tenang.
"Status itu masih di rahasiakan, jadi tolong jangan sampai ada gosip yang tidak-tidak."
"Karena kau kekasih dari wakil CEO?" Agneta mendelik kesal pada Dave mendengar penuturan Dave barusan.
"Ah yah, aku belum memberitahukan sesuatu padamu," ucap Dave masih dengan nada datar dan tenang. Agneta masih melihat ke arahnya dengan tatapan bertanya.
"Mulai hari ini kau menjadi sekretarisku."
"APA?" pekiknya.
"Kenapa? Bukankah itu kesempatan yang sangat di minati perempuan apalagi seorang istri, jadi kamu bisa mengawasi suamimu ini setiap saat." Dave mengucapkannya dengan senyuman yang sangat menyebalkan.
"Hanya dalam mimpimu, Dave. Aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi sekretarismu!" ucap Agneta dengan nada sengit.
"Aku CEO perusahaan ini Ny. Davero kalau kau lupa. Jadi aku bebas memindahkan setiap karyawanku sesuka hatiku," bisik Dave membuat Agneta geram sendiri. Dave hanya menampilkan senyuman menyebalkannya.
"Istriku semakin cantik kalau cemberut," godanya.
"Berhenti menggodaku, Dave!" pekiknya semakin kesal dan terus menatap angka yang tertera di atas pintu lift dengan tak sabar karena tak kunjung sampai. di tempat tujuan.
Agneta pasrah mengikuti perintah Dave menuju ke ruangannya dan menjadi sekretarisnya mulai hari ini. Bahkan yang bikin mencengangkan saat sampai di meja sekretaris, semua barang Agneta dari ruangan sebelumnya sudah di pindahkan ke meja ini dan entah kemana sekretaris Dave sebelumnya. Ada rasa tak enak pada sekretaris Dave sebelumnya, tetapi Agneta berharap dia di pindahkan ke bagian yang lebih baik.
"Ini mejamu mulai hari ini, dan kalau ada yang tidak kau pahami. Kau bisa bertanya padaku, aku akan menjawab semuanya dengan senang hati." Agneta menatap Dave yang hari ini tampak berbeda dari biasanya.
"DAVERO!"
Agneta memekik saat seperdetik kemudian tubuh Dave sudah tersungkur ke karpet bulu. Aiden menerobos masuk dan langsung meninju wajah tampan Dave.
Dave bangun mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan senyuman devilnya dan menaikkan sebelah alisnya.
"Ikut denganku!" Aiden menarik pergelangan tangan Agneta meninggalkan Dave yang hanya tersenyum misterius menatap kepergian mereka berdua.
***
"Kemana saja kamu selama ini, Agneta?" tanya Aiden tampak emosi saat mereka sampai di bagian atap gedung pencakar langit itu.
Agneta masih diam membisu, ia tidak tau harus menjawab apa. "Agneta, aku begitu mengkhawatirkanmu selama ini! Jangan hanya diam saja, katakan kemana saja kamu selama ini dan apa yang terjadi? Kamu tak bisa aku hubungi selama ini!"
"Aiden, a-aku-" Agneta merasa bingung dan kasian pada Aiden, ia merasa sudah mengkhianati Aiden.
"Neta, katakan segalanya." Aiden mulai melunak dan menggenggam erat kedua pundak Agneta membuat bola mata mereka beradu dan bertatapan satu sama lain. "Aku sungguh mencemaskanmu dan Regan. Apa yang sudah pria gila itu lakukan pada kalian?"
Tanpa sadar air mata Agneta mengalir membasahi pipinya membuat Aiden mengernyit, ia mengusap air mata di pipi Agneta. "Apa dia menyakitimu? katakan segalanya."
Aiden masih diam menunggu kelanjutan ucapan Agneta. "Aku-, aku-" Agneta memejamkan matanya untuk memantapkan hatinya dan beribu kata maaf ia ucapkan di dalam hatinya.
"Aku sudah menikah dengan Dave."
Deg
Agneta menatap Aiden yang hanya terpaku mematung di tempatnya. "Kamu bercanda?" tanya Aiden dan hanya gelengan kepala sebagai jawaban dari Agneta.
"Maaf Aiden, sungguh aku tak bisa menolak dan menghindarinya."
"Kenapa Agneta? kamu bilang kamu membenci dia, bahkan sangat."
"Ini demi Regan," gumam Agneta membuat Aiden berjalan mundur mengusap wajahnya gusar. Agneta melihat kedua kelopak mata Aiden memerah dan matanya berkaca-kaca, ia sudah terlalu dalam menyakiti Aiden.
"Maafkan aku, Aiden."
Aiden hanya menatap Agneta penuh kekecewaan bercampur sakit hati, Aiden seakan ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan hanya mampu menghembuskan nafasnya kasar. Ia berkacak pinggang di hadapan Agneta dengan kepala menunduk dan air mata yang jatuh perlahan. Sungguh merasa berdosa Agneta pada Aiden, tetapi ia juga tak bisa berbuat apapun. Dave selalu berhasil mendominasi dirinya dan kehidupannya. Ia hanya zat cair yang hanya bisa menyesuaikan diri dengan bentuk zat padat.
Tak banyak kata, Aiden langsung melewati tubuh Agneta dengan kedua tangan yang mengepal kuat juga urat-uratnya yang tercetak jelas.
Aiden berjalan penuh emosi menuju ke ruangan Dave, bahkan beberapa karyawan yang menyapanya di lorong kantor di buat takut dan heran karena tak biasanya Aiden menunjukkan wajah murkanya.
Tanpa permisi Aiden menerobos masuk ke dalam ruang rapat dimana Dave tengah melakukan rapat dengan beberapa manager perusahaan. Baru saja rapat akan dimulai, Aiden berjalan cepat mendekati Dave.
"Sialan kau DAVERO!" tanpa kata Aiden menarik kerah jas Dave dan meninjunya hingga tersungkur ke lantai, beberapa perempuan di dalam ruangan itu menjerit kaget dan semuanya langsung berdiri dari duduk mereka.
"Apa yang kau rencanakan? kenapa harus Agneta, hah?" pekik Aiden hendak meninju Dave kembali tetapi Dave menghadangnya dan membalas pukulan Aiden hingga Aiden tersungkur.
"Karena aku menginginkannya!"
"Bajingan!"
Mereka berkelahi di dalam ruang rapat tanpa perduli orang-orang yang ada di sana, dan tak ada yang berani memisahkan mereka berdua. Hingga Kay dan Key datang dan langsung memisahkan mereka berdua.
"Lepas! aku harus membunuh pria bajingan itu!" pekik Aiden penuh emosi.
Dave melepaskan pegangan Key dan merapihkan jasnya dengan gerakan elegant. Ia berjalan melewati Aiden yang masih berontak dalam pegangan Kay dan juga beberapa orang karyawan pria di sana.
"Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, Kakak Sepupu!" bisik Dave penuh intimidasi dan ancaman membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa merinding.
Dave berjalan dengan langkah angkuh dan elegant keluar dari ruang rapat seakan tak pernah terjadi apapun.
Aiden melepaskan pegangan Kay dan yang lainnya dengan kesal. "Kalian berdua bersekongkol dengannya!" ucap Aiden menunjuk si kembar dan langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggalan mereka, semua karyawan langsung menggunjingkan apa yang terjadi, mereka menganggap Agneta sebagai dalangnya. Jalang yang menggoda Aiden dan Dave. Gosip itu menyebar luas hingga ke bagian pelosok kantor dalam sekejap.
***