
Agneta menangis dalam diam di dalam kamarnya, hatinya sakit. Dia merasa sakit karena hidupnya selalu penuh dengan hinaan orang-orang. Bahkan anaknya yang tak berdosapun harus menanggung hinaan itu. Tak jarang Agneta melihat Regan menangis sepulang sekolah atau saat dia menjemput karena orang-orang menghina nya sebagai anak haram yang tak memiliki Ayah.
Selama 5 tahun Agneta berjuang sendiri, bahkan dia di usir dari keluarganya sendiri. Ayahnya bahkan menganggap Agneta sudah meninggal dan membuatkan makam untuknya. Dia menganggap Agneta tak pernah ada di dunia ini. Agneta berjuang sendiri dengan seorang anak yang menjadi pelita dan penyemangatnya di tengah cacian dan hinaan oranglain.
Dia adalah putraku!
Ucapan Dave seperti belati yang menyusuk dadanya, kemana saja Dave selama ini? Dave hanya bersenang-senang dengan para wanita malamnya dan tak memikirkan Agneta sama sekali. Setelah menorehkan luka, Dave begitu saja pergi meninggalkannya. Dan sekarang dia dengan mudahnya ingin mengakui Regan dan menjadi sosok pahlawan. Agneta tak terima semua itu.
Sedangkan Aiden? Pria itu sangatlah baik dan Agneta banyak berhutang budi padanya, tetapi hatinya sulit menerima kehadiran dia. Dia masih belum bisa mencintai Aiden setelah sekian lama bersama.
***
Siang itu Dave datang menjemput Regan di sekolahnya, ia melihat seorang gadis muda tengah berusaha membujuk Regan yang menangis terisak dan sedikit mengamuk.
"Ada apa?" suara bass milik Dave membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara.
"Om Velo," gumam Regan.
Dave berjalan ke hadapan Regan dan duduk rengkuh di hadapannya. "Kenapa menangis?" tanya Dave mengusap pipi gembil Regan yang basah.
"Meleka kembali mengejek Egan, katanya Egan gak punya Ayah dan Egan anak halam. Egan bilang Egan punya Ayah Aiden," isaknya dan itu membuat Dave termangu.
'Bukan Aiden, tetapi akulah Ayahmu Regan! Aku ayahmu!!!'
"Tetapi kata Mamahnya temen aku katanya Bunda belum menikah jadi aku tetap gak punya Ayah," isaknya.
"Apa Regan sering mendapat penghinaan seperti ini?" tanya Dave yang jelas tertuju pada Iren yang terpaku sekaligus terpesona oleh ketampanan Dave. Pesona Dave memang tak dapat di pungkiri, walau selalu menampilkan wajah dinginnya, pesonanya tak pernah pudar sedikitpun malah semakin bertambah.
"Eh, itu. Benar tuan, Regan sering seperti ini tetapi dia tidak pernah mau menceritakannya pada Kak Agneta." Jawaban Iren membuat Dave paham.
"Kau boleh pulang, Regan biar aku yang mengantar," ucap Dave.
"Ta-tapi kalau Kak Agneta bertanya."
"Aku yang akan memberitahunya," ucap Dave yang di angguki Iren lalu berpamitan. "Seorang superhero tidak ada yang cengeng, berhentilah menangis," ucap Dave menatap Regan.
Dadanya seperti di remas-remas sakit mendengar penghinaan yang di dapatkan oleh putranya, mungkin kalau dia tidak pergi dulu, semua ini tak akan pernah terjadi.
Aiden.....
***
Aiden mengantarkan Agneta pulang malam itu, awalnya Aiden tidak ingin turun tetapi Agneta masih tidak banyak bicara padanya.
"Agneta," panggil Aiden membuat Agneta menghentikan gerakannya di depan pintu rumahnya. Aiden berjalan mendekati Agneta dan menarik Agneta ke dalam pelukannya. "Maafkan aku," bisiknya.
Mereka tak sadar Dave berdiri di dalam rumah Agneta yang bagian ruang tamunya masih gelap, matanya mengkilat tajam menatap mereka berdua yang tengah berpelukan di depannya. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Ingin sekali sekarang juga ia menarik Agneta dan memukul Aiden hingga mati.
"Maafkan perlakuan Ibuku," ucap Aiden mengecup kepala Agneta dan masih memeluknya.
"Khem!"
Suara deheman Dave menyadarkan mereka berdua, keduanya sama-sama melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke arah dalam. Dave keluar dari kegelapan membuat Agneta tersentak kaget.
"Dave?" tanya Aiden kebingungan. "Kau- kau sedang apa di rumah Agneta?" tanya Aiden semakin bingung.
"Untuk apa? Apa kekasihmu tidak mengatakan sesuatu?" ucap Dave masih menampilkan wajah tenang dan misteriusnya.
"Agneta, apa maksudnya ini?" tanya Aiden semakin penasaran.
"Tidakkah kau ingin menjelaskannya Neta," ucap Dave diiringi seringai menakutkannya. Agneta menelan salivanya sendiri menatap kilatan di mata tajam Dave, yah Dave tetaplah Dave. Iblis yang sangat licik.
"Ada apa ini?" tanya Aiden sangat kebingungan.
"Perlu kau tau, Brother. Aku datang ke sini hanya untuk menengok putra kandungku saja, Regan."
Deg
"Apa? Putra?" tanya Aiden memekik kaget.
"Ya, karena ternyata Regan adalah anak biologisku 5 tahun lalu, bukan begitu Neta," ucap Dave dengan seringai kemenangannya yang snt licik membuat Agneta menatapnya tajam.
"Kau?"
Aiden tak bisa berkata apa-apa, dia mengetahui kisah mengenai masalalu Agneta tetapi tidak dengan sosok prianya. Dan sekarang pria itu berdiri di hadapannya, dan sialnya itu adalah sepupunya sendiri.
***