He'S Back

He'S Back
Episode 28



Agneta masih diam di dalam kubikel kerjanya, semalaman dia tak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin malam. Aiden melamarnya, tetapi kenapa dia membayangkan itu Dave? Apa sebegitu inginnya dia di lamar oleh Dave?


Agneta sungguh tak paham dengan perasaannya, ia menyayangi Aiden tetapi itu sebagai bentuk rasa terima kasihnya karena betapa baiknya Aiden pada dirinya. Dan Dave, sudah jelas dia membenci Dave karena baginya Dave adalah mimpi buruknya. Agneta menundukkan kepalanya dan menatap cincin berlian indah yang melingkar di jari manisnya.


"Apa ini tidak salah?" gumamnya.


"Hey kau melamun saja, manager memanggilmu Neta." Sonya menyadarkan lamunan Agneta membuatnya segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan managernya.


Ternyata Agneta di minta mengantarkan berkas ke ruangan Dave, ini sudah biasa tetapi setiap kali dia ingin menghampiri Dave, kenapa rasanya ia akan masuk ke dalam wahana rumah hantu, atau kandang singa. Seperti biasanya di dalam lift, ia akan menggunakan kesempatan itu untuk mengatur deru nafasnya yang seperti biasanya tak tenang.


Ting


Pintu lift terbuka lebar dan red carpet menyambutnya. Ia melangkahkah kaki jenjangnya keluar dari dalam lift dan seperti biasanya berjalan dengan tenang menuju meja sekretaris Dave.


Siska menyambutnya dengan senyuman lebar, lalu mempersilahkannya untuk masuk ke dalam ruangan Dave. Agneta menghela nafasnya cukup panjang sebelum akhirnya dia memasuki ruangan Dave. Ia melihat Dave tampak sibuk dengan pekerjaannya, jas berwarna coklat menempel pas di tubuhnya yang kekar. Wajah itu sama dengan wajah yang semalam dia khayalkan, tetapi kenapa?


"Apa kau hanya ingin berdiri di sana seperti satpam?" pernyataan itu sontak membuatnya sadar dan beranjak mendekati meja kebesaran Dave.


"Saya mau mengantarkan laporan yang anda minta," serunya menyerahkan berkas itu dengan kedua tangannya.


Dave mematung melihat cincin berlian yang melingkar indah di jari manis Agneta. Dia tidak bodoh apa arti cincin itu, apalagi dia tau jenis berlian apa yang ada di cincin, tak sembarang orang dapat membelinya.


Dave berdehem kecil untuk menetralkan suaranya yang jelas akan terdengan emosi dan serak. Ia menekan kekesalan di dalam hati sekaligus rasa sakit yang seakan meremas jantungnya. Dia terlalu percaya diri dengan mengancam Agneta dan dia akan meninggalkan Aiden, tetapi Dave salah.


Dave tersenyum misterius dan begitu samar. "Cincin yang indah," serunya seraya merebut berkas dari tangan Agneta dan memalingkan wajahnya ke dalam berkas itu.


Agneta segera menarik tangannya dan menunduk menatap cincin itu, lalu ia menoleh ke arah Dave yang tak menunjukkan ekspresi apapun dan hanya menampakan wajah tenang dan datarnya.


'Untuk apa sebenarnya ancamannya selama ini? Dia tampak tak perduli sama sekali,' batin Agneta.


"Kau boleh kembali ke ruanganmu, Nona Agneta." Seruan dingin yang jelas sekali ingin mengusirnya membuat Agneta tersadar dan bergegas meninggalkan ruangan itu tanpa mengatakan apapun.


"Sial!" umpat Dave menggebrak meja kerjanya. "Aiden, kau sudah melewati batasanmu!" gumamnya menatap tajam ke satu titik dengan mengepalkan kedua tangannya.


***


Agneta bergegas hendak menjemput Regan di sekolahnya saat dia sudah memasuki jam makan siang. Ia masih berada di dalam lift hingga pintu lift terbuka lebar dan ia berjalan keluar lift dengan anggun.


Langkahnya terhenti saat di depannya ada Nyonya Elenna yang tampak di temani dua orang bodyguardnya. Kaca hitam bertengker di hidungnya dan tampak elegant juga angkuh.


Elena berhenti tepat di hadapan Agneta membuat Agneta bingung harus bersikap bagaimana, di sekitarnya banyak sekali karyawan berlalu lalang.


"Wah lihatlah siapa ini," seru Elena melepaskan kacamatanya dan menatap Agneta dengan tatapan mengejek dari atas hingga bawah. "Seorang jalang!" ucapnya dengan nada mengejek dan bahkan tak merendahkan suaranya membuat semua orang menatap ke arah mereka dengan bertanya-tanya dan rasa ingin tau.


"Permisi Nyonya, saya ada keperluan," ucap Agneta bergegas karena tidak ingin memancing keributan.


Tetapi gerakannya terhenti saat Elenna mencengkram tangan kiri Agneta. "Wah lihatlah, seorang janda miskin memiliki berlian seindah dan semahal ini," ucapnya membuat Agneta membelalak matanya. Ia berusaha melepaskan cengkraman Elenna tetapi sangat sulit.


"Apa kau sudah merayu seorang pengusaha kaya?" tanya Elenna dengan sengaja menekan kencang pergelangan Agneta membuatnya meringis.


"Jalang sepertimu sungguh tak pantas memakai cincin ini, kau paham. Kau ingin memeras putraku dengan meminta berlian berlian semahal ini hah!" pekiknya membuat semua orang berbisik-bisik.


"Kau sungguh janda tak tau di untung! Ah aku lupa, kau bukan janda. Kau belum pernah menikah tetapi kau memiliki seorang anak haram!"


Plash


Seperti tamparan keras untuk Agneta hingga semua orang mengetahui dan berbisik-bisik menghinanya. "Berapa gen yang tumbuh di tubuh putra harammu itu?" ejek Elenna membuat Agneta tak kuasa lagi menahan air matanya yang siap luruh. Ia rela di hina, tetapi tidak dengan putranya.


"Ada apa ini?"


Ucapan itu membuat mereka semua menoleh, tampak Dave berdiri dengan Natalie yang merangkul lengannya mesra dan itu sungguh semakin menyakiti hati Agneta.


Dave beradu tatapannya dengan mata Agneta yang sudah berkaca-kaca dan terlihat begitu terluka. Tanpa berkata apapun lagi, Dave melepaskan rangkulan Natalie dan berjalan mendekati mereka. Ia melepaskan cengkraman Elena pada Agneta.


"Kau bisa mematahkan tangannya, Mom!" ucap Dave penuh penekanan lalu berjalan menarik Agneta pergi dari situasi itu.


"Dave kenapa kau meninggalkanku?" teriak Natalie yang memekik kaget karena Dave begitu saja berlalu pergi dengan menarik tangan Agneta.


Agneta masih diam membisu mengikuti Dave yang membawanya menaiki mobilnya, air matanya luruh membasahi pipinya. Betapa sakit hatinya menerima penghinaan itu, apalagi dia mengatakan Regan anak haram. Walaupun ia, dia sungguhh tak bisa menerima itu.


"Apa kau bodoh!" ucap Dave menyadarkannya. Agneta hanya diam di tengah isakannya. "Kenapa kau diam saja saat mereka menghinamu!" pekik Dave tampak emosi.


Dave sudah meminggirkan mobilnya di pinggir jalan, dan kini menghadap ke arah Agneta dengan emosinya yang memuncak. "Apa kau selalu senang menjadi bahan ejekan mereka, hah?"


"Kenapa kau diam saja? jawab aku, AGNETA!"


"Lalu aku harus bagaimana?" pekik Agneta dengan isakannya menatap ke arah Dave yang kini terdiam. "Menurutmu aku harus bagaimana? Membela diri? Semua yang dia katakan benar adanya! Aku- aku hanya wanita murahan dan memiliki anak haram di luar pernikahan."


"Regan bukan anak haram! Aku Ayahnya!" ucap Dave tak terima.


"Benarkah?" ucap Agneta. "Lalu kemana saja kau selama 5 tahun ini, hah?" tanya Agneta tampak berbeda dari biasanya, kali ini dia tampak rapuh di depan Dave. "Aku sudah terbiasa di hina Davero, baik dulu maupun sekarang. Hidupku penuh dengan cacian dan hinaan, dan sekarang kau datang berlaga kau Ayah yang baik dan ingin menyelamatkan kami? Terlambat Davero, kau terlambat!"


"Dengan kau menerima lamaran Aiden, mereka akan semakin menghinamu!" ucap Dave tetap tak mau kalah.


"Lalu kalau aku tak menerima lamaran ini, apa aku tidak akan di hina? Setidaknya Aiden mengerti dan mau mengangkat martabat dan harga diriku dengan menjadikanku istri dan Regan putranya. Jauh sebelum kau datang, dia sudah menjadi pahlawan untukku, jadi sekarang kau jangan berlaga kau adalah seorang pahlawan!"


Setelah mengatakan itu, Agneta beranjak keluar dari dalam mobil Dave dengan sedikit membantingnya. Dave mengumpat kesal seraya memukul setir mobilnya. Hatinya bergemuruh seakan ingin meledak, tatapannya begitu tajam dan siap mengeluarkan laser untuk membunuh siapa saja.


"Kau tidak tau apa yang terjadi, kau tidak tau!" gumamnya dengan amarah yang masih memuncak, kedua tangannya mengepal kuat hingga memutih dan urat-uratnya tercetak jelas di sana.


***