He'S Back

He'S Back
Episode 48



"Aiden!"


Aiden menoleh saat mendengar panggilan itu.


"Natalie," gumamnya dan ia menunggu Natalie menghampirinya yang saat ini berdiri di samping mobilnya hendak memasuki mobilnya.


"Kita butuh bicara," ucap Natalie


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Aiden dengan nada datar.


"Mengenai kekasihmu!" Aiden terdiam menatap Natalie yang tampak emosi.


"Aku tak memiliki kekasih," ucap Aiden akhirnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Dave bisa bersama dengan Agneta?" tanya Natalie.


"Kenapa kau bertanya padaku? tanyakan saja pada tunanganmu itu," jawab Aiden dengan sinis dan beranjak masuk ke dalam mobilnya lalu beranjak pergi meninggalkan Natalie sendirian.


"Apa jangan-jangan Agneta sengaja menggoda Dave?" gumam Natalie.


Ia hendak berlalu pergi menuju mobilnya, tetapi tak sengaja mendengar obrolan 3 orang wanita yang berjalan dan membicarakan Agneta dan Dave. Natalie mengepalkan kedua tangannya.


"Jadi benar Agneta dalangnya, Dasar Jalang!" geramnya. "Kau pikir bisa menyaingiku!"


***


Gosip bagaikan angin bergulir cepat hingga terdengar media. Dave yang merupakan pengusaha muda dan terkenal langsung heboh di media masa mengenai kedekatannya dengan seorang janda beranak satu. Agneta sudah 3 hari ini pergi dan berangkat diam-diam karena banyak media yang mencarinya. Bahkan di kantorpun dia seperti tersangka dan buronan, hampir tak pernah dia keluar dari ruangannya. Bahkan tak jarang ia tak makan kecuali Sonya datang mengantarkan makanan.


Dave seperti biasa menanggapi semua berita itu layaknya angin lalu. Dia tak memperdulikan beberapa wartawan yang mengejar-ngejarnya. Dan tak menanggapi gosip itu.


Saat ini sesuai undangan, Dave datang menemui ayah Natalie Mr. France William.


"Davero apa-apaan ini!" pekiknya saat mereka hanya berdua di dalam ruang kerja France.


"Ada apa Dad?" tanya Davero masih dengan nada datarnya..


"Kau masih memanggilku Dad? Kau sudah membuatku malu! Siapa wanita itu? apa benar kau sudah menikah dengannya?" pekik France.


"Kau percaya dengan gosip murahan itu?" tanya Dave duduk santai di atas sofa dengan mengangkat sebelah kakinya.


"Jadi siapa janda itu? Kau tidak lupa kan pernikahanmu dan Natalie sudah dekat."


"Aku tidak melupakannya, dia hanya wanita yang bekerja menjadi sekretarisku. Dan aku hanya membantunya, gosip terlalu berlebihan," ucap Dave meneguk sampanye yang tadi di siapkan pelayan France.


"Benarkah?" France menatap tajam ke arah Dave.


"Aku tidak suka sesuatu mengganggu rencanaku." Dave tersenyum misterius.


"Good, jangan sampai rencana kita hancur. Dan aku tidak ingin memberikan saham pada pengkhinatan." France tersenyum sinis seraya meneguk minumannya yang di tanggapi dengan santai oleh Dave.


"Pekan nanti saat ulangtahun perusahaan, aku akan mengumumkan presdir perusahaan terbaru yaitu kau. Dan juga hari pernikahanmu dengan Natalie akhir bulan ini."


Dave menaikkan sebelah alisnya mendengar kabar pernikahan itu yang di undur secara tiba-tiba. "Aku tidak ingin terlalu lama menunda pernikahan kalian."


"Terserah kau saja Dad, aku hanya harus menurut bukan?" ucap Dave dan ekspresinya berubah gelap saat France tertawa seraya mengangguk.


"Kau memang putraku," ucapnya.


***


Acara ulang tahun perusahaanpun di gelar di salah satu hotel bintang 6 di Jakarta. Semua tamu tampak sudah hadir dan kebanyakan beberapa pengusaha, owner perusahaan dan orang-orang yang cukup terkenal di Indonesia.


Agneta pun tampak hadir bersama Sonya, ia awalnya tak ingin datang tetapi Sonya memaksanya. Mereka memilih duduk di pojokan yang jauh dari beberapa orang. Sonya paham dan tetap menemani Agneta tanpa ingin bergabung dengan yang lain.


Di depan tampak keluarga Aiden datang. "Lihat Neta, Aiden datang bersama seorang perempuan," tunjuk Sonya.


Agneta melihat Aiden datang bersama kedua orangtuanya dan seorang perempuan cantik. "Wah, gak nyangka yah. Dia bilang mencintai kamu, tetapi dengan cepat dapat penggantinya."


"Apa semua pria kaya seperti itu yah? mudah mendapatkan perempuan dan tinggal pilih saja." Sonya terus berucap, Agneta hanya diam memperhatikan Aiden bersama wanita itu. Entah kenapa perasaannya tak merasakan apapun bahkan Agneta merasa tak perduli.


"Neta! kenapa diam saja? Kamu sakit hati?" tanya Sonya merasa simpati.


"Tidak Sonya, aku malah senang dia menemukan wanita lain. Setidaknya rasa bersalahku berkurang," ucap Agneta tetapi tatapannya terhenti saat melihat Natalie datang bersama seorang pria paruh baya dan Natalie tampak cantik sekali dengan gaun berwarna gold nya.


Natalie dan pria paruh baya itu duduk terpisah setelah menyapa keluarga Aiden. Tetapi sejak tadi Agneta tidak melihat Dave, bahkan sebelumnya Dave meminta penjaganya mengawasi Regan supaya dia tidur dan tak kemanapun. Dia juga tak mengajak Agneta datang bersama ke pesta ini dan pergi sejak siang tadi.


"Ini minumlah," ucap Sonya menyodorkan segelas orange jus ke Agneta yang di terima olehnya.


"Acaranya cukup ramai," ucap Agneta saat acara sudah di mulai.


Tak lama tampak datang Kay dan Key dengan setelan jas elegant mereka. Si kembar itu menyapa keluarga Aiden dan juga Aiden, tetapi tak di respon oleh Aiden yang tampaknya masih marah.


Mereka lalu memilih duduk di salah satu meja, sampai Dafa datang bersama seorang gadis yang duduk di atas kursi roda. "Si Dafa noh," seru Kay.


"Ah benar, dia datang bersama ceweknya. Gue denger mereka akan menikah."


"Benarkah? Lalu gimana ibunya yang gila itu?" tanya Kay.


"Entahlah, si Dafa mana perduli dengan restu dari wanita itu." Key berucap santai seraya mengangkat tangannya ke udara untuk menyapa Dafa.


Tak lama Dave datang dengan setelan jas mewah dan elegantnya. Dia tampak begitu tampan dan menawan sehingga semua mata tertuju padanya termasuk Agneta yang terus memperhatikan dia yang kini duduk satu meja bersama Natalie dan pria paruh baya itu. Ada rasa sakit melihat semua itu. Dia merasa sebagai istri yang tak di anggap sama sekali.


Beberapa ucapan demi ucapan terucap di ballroom, hingga MC memanggil Direktur Utama WT Corp Group yang memiliki pemegang saham paling besar yaitu France William. Pria paruh baya yang duduk bersama Natalie dan Dave beranjak dari duduknya dan menaiki ballroom membuat mata tertuju padanya.


Pria paruh baya yang masih tampak gagah dan elegant. Hampir semua karyawan WT Corp Group tak mengetahui bahwa pria paruh baya itu atasan Dave dan Aiden.


Suara bariton menggema di seluruh area dan terdengar tegas, dia menyapa semua orang termasuk rekan pengusahanya yang dia undang secara khusus seperti Oktavio Adelio Mahya yang merupakan owner perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan merupakan kolega yang menyuntikkan dana investasi terbesar di perusahaan WT.


Awalnya hanya basa basi seperti biasa mengenai perusahaan WT Corp Group yang telah ia bangun dari nol. Tanpa ada yang tau di tempat duduknya Dave menatap penuh kegelapan dan dalam mode pembunuh menatap ke arah France dan kedua tangannya mengepal kuat. Perusahaan ini adalah usaha yang di rintis oleh ayah kandungnya dari nol. Pria sialan di depannya telah berkhianat dan Dave tak akan membiarkan seorang pengkhianat tetap hidup berkeliaran.


"Dave, kita di panggil ke depan." Natalie menyadarkan lamunan Dave. Senyuman devil itu berubah menjadi senyuman manis yang menawan.


Dave bersama Natalie menaiki ballroom dimana Natalie menautkan tangannya ke lengan Dave. Beberapa karyawan berbisik-bisik dan memuji mereka, bahkan ada yang menghina Agneta yang bermimpi bersanding dengan seorang Dave.


Sonya mendengar itu dan merasa geram, tetapi Agneta berusaha menenangkannya dan dia mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.


"Di sini saya akan mengumumkan bahwa akhir bulan ini Davero akan menikah dengan putri saya Natalie William."


Deg


Seketika tatapan Agneta melebar menatap Dave yang tersenyum bersama Natalie yang bahagia dan menyandarkan kepalanya di bahu Dave. Bukan hanya Agneta juga Sonya yang kaget tetapi juga Aiden yang tampak mengepalkan kedua tangannya menatap ke arah Dave.


Tepuk tangan menggema di sana dan banyak orang yang langsung berbisik-bisik. Karyawan WT banyak sekali yang mencibir dan menghina Agneta terang-terangan bahkan mentertawakannya.


"Kasihan sekali jalang itu, dia pasti sudah di buang oleh pak Dave. Dia kan hanya pemuas di atas ranjang saja," sahut beberapa dari mereka.


"Dia terlalu bermimpi untuk menjadi Ny. Dave. Lihatlah jauh sekali dirinya dengan Nona Natalie," sahut yang lainnya.


"Jelas jelas pak Dave sangat cocok dengan Natalie, dia ingin jadi pelakor atau jalang simpanannya para ceo," kekeh mereka.


"Ini sudah keterlaluan!" ucap Sonya emosi.


"Tidak Son, cukup!" ucap Agneta.


"Tapi mereka sudah keterlaluan menghina kamu, dan lagi pria itu sungguh brengsek!" ucap Sonya berapi-api.


"Cukup! biarkanlah, Biarkan mereka melakukan sesuka mereka," ucap Agneta dengan tatapan yang berkaca-kaca.


"Neta," ucap Sonya merasa simpati dan ikut sedih.


"Aku pulang." Agneta berlalu lebih dulu meninggalkan tempat itu diikuti Sonya.


***


"Kenapa anda mengingkari janji anda, Dad?" tanya Davero tampak geram karena France mengingkari janjinya yang berkata akan mengumumkan berita di angkat dirinya menjadi seorang presdire.


France duduk di sofa hitam dengan tenang dan tertawa kecil. "Dave, aku berubah pikiran. Sepertinya aku akan mengangkatmu menjadi presdire saat nanti kau sudah menikahi Natalie."


"Apa-apaan ini?" ucap Dave masih menahan emosinya.


"Aku takut kau memilih janda anak satu itu daripada Natalie, putriku." France berucap santai dengan meneguk minumannya.


"Sudahlah Dave, toh setelah kita menikah nanti kamu akan mendapatkan semuanya," ucap Natalie bermanja di lengan Dave yang terdiam kaku. Jelas sekali France memanfaatkannya.


"Aku sudah menutup mulut semua media yang memberitakan tentang kau dengan janda itu, Dave. Dan jangan sampai aku mendengar berita itu lagi." France menautkan sebatang rokok di mulutnya dan seorang pelayan menyalakan api untuk membakar rokok itu.


"Bukan Dave, Dad. Tetapi jalang itu yang gatal, dia sudah menggoda Aiden dan sekarang Dave ku. Pokoknya aku akan kasih pelajaran dia kalau berani mendekati Dave lagi." Natalie berucap santai.


"Dad serahkan wanita itu padamu, Sayang. Lakukan sesuka hatimu," ucap France mendukung Natalie.


"Kau tidak minum, Dave?" tanya Frnace.


Dave meneguk minumannya sedikit dengan tatapan tajam bak elang yang mengintai mangsanya.


***


Agneta berdiri di balkon kamarnya dengan air mata yang terus luruh membasahi pipi. Sakit, ya rasanya sangat sakit.


Kenapa hidupnya seperti ini? kenapa harus di manfaatkan dan tak pernah bisa tenang. Dia hanya ingin hidup tenang dan bahagia tetapi kenapa dia hanya bisa di manfaatkan dan di sakiti. Apalagi oleh Dave, hatinya terasa tak berdaya dan sekarang hanya bisa menahan rasa sakit.


Tanpa Agneta sadari, Dave berdiri tak jauh darinya karena baru masuk ke dalam kamar. Jasnya tampak sudah terlepas dan ia jinjing di tangannya. Dave menghela nafasnya dan menyimpan jasnya di atas sofa. Ia berjalan mendekati Agneta.


Dave menyentuh pundak Agneta, dengan segera Agneta menghapus air matanya dan melirik Dave. "Kau baik-baik saja," serunya.


Agneta tak menjawab dan beranjak pergi tetapi Dave menahan lengannya. "Aku bertanya padamu, Agneta."


"Lepaskan aku!" ucap Agneta dengan sinis. "Tolong lepaskan tanganku dan jangan pernah menyentuhku!"


Agneta dengan kasar menghempaskan tangan Dave dan beranjak pergi tetapi Dave kembali menahan lengannya dan mencengkram kedua lengannya hingga Agneta menatap ke arahnya.


"Ada apa denganmu, Neta?" tanya Dave. "Sudah aku katakan, aku tidak suka di acuhkan!"


Agneta masih diam dan keduanya saling bertatapan, Agneta meringis pelan seraya melirik ke arah lengannya yang di cengkram Dave. Dave yang sadar telah menyakiti Agneta, segera melepaskan cengkramannya dan terlihat bekas merah di lengannya Agneta.


"Apa kau puas Dave?" tanya Agneta hingga air matanya luruh membasahi pipi membuat ekspresi Dave yang tadinya keras menjadi melembut. "Apa salahku padamu?"


"Dulu aku tak pernah menyakitimu ataupun keluargamu, aku tak pernah juga mengganggumu, kita tak saling kenal. Tetapi kamu merenggut kehormatanku dan dalam sekejap kamu membuatku kehilangan keluargaku dan mereka membenciku. 5 tahun aku berusaha bangkit dan hanya Regan penyemangatku, tetapi sekarang kamu juga merenggutnya dariku. Kamu kembali menghancurkan hidupku." Air mata Agneta terus luruh membasahi pipi.


"Kamu menarikku ke dalam pernikahan yang tidak jelas ini hanya untuk mengurungku dan membuatku terpenjara. Kamu bebas melakukan apapun di belakangku dan menikah dengan Natalie, lalu aku dan Regan bagaimana? Apa kamu hanya ingin menghancurkan hidupku? Apa kamu hanya ingin aku semakin tersiksa dan mati perlahan karena penyiksaan darimu?"


"Apa itu membuatmu puas dan senang, Dave?" ucap Agneta dengan air mata yang tak berhenti terurai. Dave masih diam membeku di depannya. Entah kenapa melihat Agneta menangis seperti ini, hatinya ikut sakit.


Agneta menghapus air matanya dan berbalik bergegas meninggalkan Dave.


"Maafkan aku!" langkah Agneta terhenti mendengar suara lembut itu. Suara yang tak ada nada perintah, geraman, paksaan ataupun sinis. Ini suara yang terdengar lembut dan tulus.


Dave berjalan mendekati Agneta dan berdiri di hadapannya membuat Agneta menengadahkan kepalanya hingga tatapan mereka beradu. Dave mengangkat kedua tangannya hendak menghapus air mata Agneta tetapi Agneta menghindar membuat tangan Dave terapung di udara. Ia kembali menurunkan tangannya dan menghela nafasnya.


"Maafkan aku Agneta, sungguh maafkan aku."


Agneta semakin membelalak kaget, ia masih tak percaya kalau orang yang berdiri di depannya adalah Davero, seorang pria arogant dengan sikap kasar dan selalu semaunya. Dia untuk pertama kalinya mengucapkan kata maaf, yang bahkan Agneta yakin seorang Dave tak pernah mengucapkannya sekali saja.


"Maafkan aku," ucap Dave sekali lagi dan berlalu pergi meninggalkan Agneta yang mematung kaku di tempatnya menatap punggung Dave yang berlalu pergi meninggalkan kamar mereka.


***