He'S Back

He'S Back
Episode 82



Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh ✨


Up lagi...


Agatha tak berani menatap sosok pria yang berada di depannya. Allis yang bingung dengan apa yang terjadi diantara mereka hanya menatap secara bergantian mereka berdua.


"Agatha".


"Aku bisa jelaskan kak".


"What ? Kakak ?".


"Sutttt diamlah, jika tidak manusia itu pasti akan berubah wujud menjadi serigala".


"Kau berhutang penjelasan padaku".


"Dimana pakaianmu yang lain Agatha bukankah kau membeli banyak pakaian lalu mengapa kau mengenakan pakaian yang kurang bahan seperti ini, lihat mereka menatapmu seakan-akan mereka menelanjan*gi dirimu".


"Maafkan aku kak".


"Kau serius ?".


"Iya Allis dia kakakku".


Allis dan Agatha berbisik-bisik sembari mencuri pandang dari Sean.


"Jadi kau ?".


"Aku Agatha Christie Smith dan itu kakakku Sean Kingston Smith".


Deg


Allis merasa seakan dunia berhenti berputar. Ternyata benar ucapannya beberapa waktu yang lalu tentang dunia itu sempit apa pun bisa kau dapatkan kembali. Allis tersenyum kecut mengingat beberapa kejadian yang menarik dirinya dan Sean bertemu di titik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Ternyata aku pergi tak begitu jauh, aku kira aku meninggalkan orangnya namun ternyata aku hanya meninggalkan kenangan dan kisahnya, aku sudah membayar mahal untuk semua ini namun takdir malah kembali mempertemukan kami sebagai rekan bisnis dan kakak dari sahabat karibku Tuhan rencanamu sungguh luar biasa".* Batin Allis.


"Pantas saja kau tak berani memukulnya".


"Kau ingin melihat pemakamanku besok pagi".


Allis dan Agatha terus saja berbisik-bisik tanpa memperdulikan tatapan Sean pada mereka. Tiba-tiba mereka dikejutkan karena suara pukulan pada meja.


Brakkk.


"Kakak aku, aku hanya ingin bermain-main dengan temanku, benar, aku hanya bermain kak aku tidak macam-macam".


"Kau minum Agatha ?".


"Tidak, iyakan Allis kita hanya duduk sembari meminum air mineral".


"Hmm benar".


"Soju ?".


"Ahh itu itu hanya kebetulan saja".


"Lima botol ?".


"Itu maksudku".


"Pulang".


"Tidak ahh maksudku baik tapi tidak tunggu dulu, Allis ? Allis bagaimana dengan kau ?".


"Entah".


"Tunggu bukannya kita memiliki misi".


Allis menggelengkan kuat kepalanya untuk mengisyaratkan supaya Agatha diam. Jangan kembali mengungkit hal itu namun Agatha mengangguk mantap.


"Kak aku ingin mengatakan sesuatu".


"Hmm".


"Kakak mengapa kau seperti itu aku tidak menyangka namun aku senang kau tidak jadi menyukai Andrew".


"Jangan bicara aneh Agatha".


"Aku serius kak kalau kau menyukai seseorang katakan saja".


"Agatha Christie Smith, cukup".


"Maksudnya tuan Sean ?".


"Diam !!".


Seketika nyali Allis menciut kala mendengar suara bariton milik Sean. Padahal perkataan Agatha sempat membuat ia gagal fokus. Apakah maksudnya Sean menyukai sesama jenis ? Andrew ?.


"Kau akan menikah bulan depan bukan lalu kakak mengapa melakukan ini ?".


"Melakukan apa Agatha jangan mengulur waktu cepatlah pulang selesaikan masalah ini di rumah, bicarakan bersama dengan daddy dan mommy".


"Tunggu".


"Aga...".


"Mengapa kau diam-diam mencium temanku, Allis".


Deg


Teman, Sean menatap Allis dengan tatapan mata elang namun tersirat makna yang sulit di mengerti antara percaya dan tidak. Dia tak menyangka bahwa teman yang dimaksud-maksud oleh Agatha selama ini adalah Allis, rekan kerja barunya. Memang benar ia pernah meminta Andrew untuk menyelediki teman Agatha. Dan dia mendapatkan informasinya namun saat ia tahu bahwa itu tidak bahaya pada keluarganya Sean membiarkannya.


"Kakak tidak menciuminya hanya sekali tapi sudah tiga kali, kau menyukainya ?".


Sean kembali terdiam dirinya pun tak tahu harus menjawab apa. Dia bingung. Sedangkan Allis mencubit kecil lengan Agatha agar ia berhenti bicara.


"Agatha diamlah".


"Biarkan saja siapa suruh menjadi pria brengse*k tidak cukup satu wanita".


"Aku bukan pria yang seperti kau katakan itu Agatha".


"Jangan menuduhku yang tidak-tidak Agatha".


"Itu memang fakta".


Sontak kedua kakak dan adik menoleh secara bersamaan pada Allis. Allis bukannya takut malah menatap balik Sean dengan nyalang.


"Nyonya Allis anda tak lebih dari wanita-wanita lain".


"Yang aku katakan memang benar, aku mempunyai segala buktinya mantel yang kau kenakan ini tak semua orang memilikinya dan juga bau parfum ini hanya kau yang memilikinya".


"Apakah kau yakin Allis ?".


"Tentu saja Agatha, aku tak akan pernah mengatakan sesuatu yang belum aku ketahui dulu kebenarannya".


Allis mengeluarkan handphonenya memperlihatkan kepada Agatha dan Sean. Bahwa ia telah menghubungi satu perusahaan yang memproduksi parfum yang sama seperti parfum milik Sean. Dia berniat ingin memesannya namun apa yang dia dapatkan. Keinginan untuk membeli parfum itu malah di tolak mentah-mentah oleh pihak perusahaan.


Kata mereka parfum yang Allis maksud hanya di produksi untuk satu orang saja dan satu orang itu adalah Sean, Sean Kingston Smith. Sean menggeram dia mengepalkan tangannya dibalik saku mantelnya. Dia tak menyangka bahwa Allis bisa berpikir seperti itu dan mencari hal yang menurutnya tak ada orang yang perduli.


"Ini memang benar kak".


"Bagaimana anda akan mengelaknya lagi tuan Sean Kingston Smith ?".


Pertanyaan bodoh ia layangkan entah mengapa ia sampai berpikir seperti itu.


"Tuan Sean hanya anda tidak ada yang lain ".


"Kak apakah kau menyukai Allis katakan saja sejujurnya aku akan membantu kakak berbicara kepada mom and dad".


"Diamlah Agatha ini hanyalah kesalah pahaman".


"Nyonya Allis sampai bertemu di perusahaan aku akan meminta Andrew untuk menjemputmu".


Sean berdiri dari duduknya lalu meraih tangan Agatha untuk ikut bersama dengannya. Kini tinggallah Allis sendiri menatap dua punggung yang perlahan semakin menjauh.


Saat dirinya hendak pergi namun tangannya di cekal oleh seseorang. Allis mendongak menatap sosok yang berdiri disampingnya dengan lebih tanya.


"Kau disini tuan Lucas ?".


"Aku memiliki beberapa urusan namun saat aku melihat dirimu sendiri aku menghampirimu, bolehkah aku duduk ?".


"Ahh duduklah".


"Apakah kau benar-benar kesini seorang diri ?".


"Hmm benar, aku ingin menjumpai temanku namun ia baru saja menghubungiku ia tak dapat datang".


"Ouhh sepertinya kita memang lah jodoh".


.


.


.


Brugh


Sean menghempaskan kasar mantelnya lalu keluar kamar. Dia menyegarkan tubuhnya lalu mengganti pakaian yang ia kenakan. Dia berdiri menatap ke lantai bawah lalu berteriak sekuat mungkin.


"Semuanya berkumpul".


Para maid dan para pengawal buru-buru berkumpul di lapangan. Tepatnya di samping dua helikopter yang sedang terparkir apik.


"Semuanya sudah siap Mr".


"Hmm".


"Andrew ambilkan mantel panjang yang aku kenakan tadi".


"Minta para maid bersamamu, mantel dan pakaian yang aku kenakan tadi itu tidak ada yang boleh memegangnya secara langsung kecuali kau".


"Baik Mr".


"Dan lipat dengan bagus Andrew lalu masukkan kedalam koper tapi aku tidak ingin koper bekas".


"Baik Mr".


Andrew pun bergegas bersama dengan beberapa maid. Sesuai dengan perintah Andrew mengenakan sarung tangan bukan karena jijik tapi itu adalah perintah. Dia segera mengambil mantel dan pakaian itu lalu mengambil salah satu koper yang masih terbungkus dengan rapi. Memasukkannya kemudian buru-buru keluar jika terlambat maka angka nol pada rekeningnya akan berkurang.


"Mr".


Andrew menyerahkan koper hitam itu kepada Sean.


"Siapkan api".


"Baik Mr".


Dari balik pintu belakang Agatha dengan kedua orang tuanya mengintip kegiatan Sean.


"Apa yang terjadi ?".


"Entahlah mom".


"Apakah selalu seperti ini ?".


"Dia pasti memiliki misi yang gagal".


Agatha dan Esmeralda sontak melirik pada Jhon. Pria itu menatap arah luar tanpa geming. Dirinya begitu paham akan watak Sean. Jika memiliki misi yang gagal segala hal yang bersangkutan dengan misi itu pasti akan ia musnahkan entah itu manusia atau pun barang.


"Harus begitu ?".


"Hmm".


"Lalu apa maksudnya itu mengumpulkan banyak orang ?".


"Untuk memberi peringatan bahwa ia tak suka kegagalan, ia akan memusnahkan hal yang membuat misinya gagal".


"Apa pun ?".


"Benar".


"Termasuk manusia sekalipun".


"Benar".


"Lalu kenapa disana tidak ada yang terdakwa hanya ada koper hitam ?".


"Agatha itu artinya kakakmu hanya menjalani misinya seorang diri".


Glek


Agatha menelan ludahnya kasar setahunya hanya misi rahasia yang kakaknya jalani seorang diri. Selebihnya pasti ada Andrew. Matanya terbuka sempurna kala melihat pakaian dan mantel yang baru kakaknya kenakan sedang dibakar habis-habisan.


Artinya misi rahasia misi yang kakaknya jalani seorang diri adalah misi menemui dan mencium Allis secara diam-diam. Apa yang membuat dirinya tak percaya dengan semua ucapan-ucapan Allis beberapa saat lalu.


Semuanya benar adanya bahkan mantel itu hanya keluarga dari kalangan atas yang punya. Itupun hanya beberapa orang termasuk sebagian besar hanya keluarganya yang memilikinya. Tidak dipungkiri Allis memang orang yang cerdas nan cermat tak heran ia menjadi wanita karir yang sukses.


"Mommy lindungi aku dari amukan kakak".


"Memangnya apa yang telah kau lakukan sayang ?".


"Aku pergi ke bar mommy".


"Apa ?".


"Pantas saja kakakmu marah pasti dia merasa telah gagal menjagamu".


"Aku, aku hanya".


"Diamlah lihat kakakmu pasti sangat marah".


Api berkobar dengan panas menelan habis mantel bermerek dan langka. Ditambah setelan pakaian mahal habis tak tersisa. Sean menatap datar api yang menyala-nyala bagai rasa amarah dan kesalnya.


"Mantel sialan"*. Batin Sean.


🌼 Bersambung 🌼


Up lagi bih author usahain biar tetap up yah teman-teman btw jangan lupa like, komen, tekan favorit dan VOTE sebanyak-banyaknya dan jangan lupa klik profil dan bantu follow yahh.


Terima kasih.


SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1444H.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨