He'S Back

He'S Back
Episode 106



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagi....


"Cepatlah Jhon astaga mengapa lama sekali mereka menunggu kita ?".


"Sabarlah sayang".


"Bersabar apanya aku sudah cukup sabar menghadapi mu astaga, ayo cepatlah".


"Tunggu sayang dimana Ethan ?".


"Ethan sudah berada di mobil kau saja yang paling lama, berdandan seperti wanita saja".


"Agar kau tak malu berjalan denganku".


"Hey sejak kapan aku malu memilikimu, ini bukan waktunya berdandan Jhon ini sedang darurat".


"Iya sayang iya maafkan aku".


"Oh iya kabari putrimu dia langsung pulang ketika aku mengabarinya, katakan untuk langsung ke rumah sakit".


"Iya sayang".


"Ayo cepatlah".


Ethan, Esmeralda dan juga Jhon segera bergegas menuju rumah sakit. Ketika Sean memberikan kabar buruk yang menimpa menantu mereka. Mereka bergegas dengan cepat bahkan Ethan tanpa ba bi bu segera memasuki mobil karena ia tak ingin tertinggal nanti apa lagi di situasi genting seperti ini.


Begitu juga dengan Agatha ia berada di Paris sedang menjalankan bisnis. Saat dikabari oleh ibunya ia segera terbang pulang tanpa memikirkan apa pun lagi. Baginya keluarganya adalah segalanya, lebih-lebih Allis ia sudah menganggapnya sebagai saudara kandung.


Tiba di rumah sakit tanpa berpikir panjang tanpa menunggu mobil terparkir dengan baik. Ethan langsung membuka pintu mobil ia melompat dan langsung berlari masuk kedalam rumah sakit. Esmeralda berteriak memanggilnya namun Ethan mana peduli.


"Permisi suster".


"Hallo anak tampan, ada yang bisa kami bantu ?"


"Kamar atas nama Allisya Lesham Smith bisakah kau antarakan aku kesana ?".


"Kau bersama siapa anak tampan ?"


"Dia bersama dengan kami".


Suster yang menjaga meja resepsionis terkejut melihat tuan besar datang. Dia segera menunduk hormat, sebelumnya tidak ada konfirmasi dari pihak rumah sakit bahwa pemilik rumah sakit akan datang.


"Selamat datang tuan besar dan nyonya besar maafkan kami, kami tidak tahu bahwa anda akan mampir kemari jadi maafkan kami kami tidak menyiapkan segalanya".


"Tidak perlu ini memang keadaan darurat, baiklah kembali bekerja kami akan melihat keadaan menantu kami".


"Baik tuan besar silahkan lewat sini tuan besar, nyonya besar dan tuan muda".


Seorang suster mengantarkan mereka menuju kamar Allis. Sepanjang perjalanan semua pegawai rumah sakit membungkuk hormat kepada mereka. Sampai di depan ruangan VVIP rumah sakit.


"Silahkan masuk tuan besar dan nyonya besar".


"Terima kasih".


"Jika begitu saya pamit tuan dan nyonya besar".


"Iya pergilah kau harus bekerja".


Esmeralda menekan handle pintu dengan hati-hati. Nampak Sean duduk di sofa dengan pandangan dingin kearah brangkas rumah sakit. Yang dimana ada Allis yang sedang terbaring lemah tak berdaya.


Esmeralda tak kuat berdiri ia merasa tak bisa menahan berat badannya sendiri. Jhon memegangi lengannya dan membawanya mendekat. Ethan tanpa di duga-duga ia berlari mendekati Sean lalu memukul wajah Sean dengan tinjunya..


"Bukankah sudah aku katakan padamu, mengapa kau tidak mengerti juga hah ? Sayangi mommy-ku seperti kau menyayangiku, jaga dia seperti kau menjagaku, mengapa kau tak paham-paham juga ?, bagaimana aku harus menjelaskannya padamu ?".


"Ethan tenanglah sayang lihatlah mommy dia sedang istirahat".


"Cukup grandma kau selalu saja membela putramu ini, sesekali marahi dia seperti grandma memarahi grandfa".


"Ethan, cucuku tenanglah".


"Kau juga grandfa tak bisakah kau memarahinya ?, marahi putra kalian ini".


"Boy kau boleh bersikap seperti ini padaku namun kau tidak boleh berkata dan seperti ini kepada grandma and grandfa".


"Dad diam kau tidak boleh berbicara, tidak ada yang memintamu untuk bersuara disini".


Ethan memukul wajah Sean lagi dan lagi hingga sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah. Jhon bergerak untuk melerai mereka namun Sean memberikan isyarat agar jangan lakukan apa pun.


Ethan terengah-engah wajahnya memerah karena amarah yang teramat besar. Tangannya terasa keram dan pegal karena memukuli ayahnya dengan bertubi-tubi. Ia menatap wajah Sean yang babak belur bahkan sudut matanya membiru karena pukulannya.


"Kau lelah boy ?".


"Arghhh".


Ethan turun dari pangkuan Sean lalu dia menyambar sebotol air mineral dan meneguknya. Jhon dan Esmeralda menatap dengan linglung kearah Ethan. Dia tak seperti anak kecil yang lain cucu mereka berbeda.


"Tenanglah boy, duduklah kemari".


"Bicarakan padaku, mengapa kau tidak mau menjaga mommy-ku atau jika kau tidak bisa menjaganya maka lepaskan kami, kami akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan pernah mengganggu kehidupan kalian".


"Cukup Ethan".


"Mengapa ? Mengapa kau bersikap seperti ini ? Kau marah cihhh dengan segala kekuasaan yang kau miliki begitu mustahil jika kau tidak bisa menjaga satu orang saja".


"Tidak ada yang bisa pergi dan tidak ada yang harus aku tinggalkan, kalian harus tetap bersamaku"


"Duduklah kemari dengarkan daddy".


Akhirnya Ethan luluh karena elusan lembut Esmeralda pada lengannya. Rasanya begitu damai rasa damai itu sampai menyeruak masuk kedalam hatinya.


"Paman Andrew adalah pria yang sejati tak seperti dirimu dad".


Ethan menjauh dari Sean dan yang lainnya ia menghampiri sang ibu yang terbaring tak berdaya di brangkas rumah sakit.


"Mom i'm here, kuatlah ayo bangunlah untukku aku merindukanmu"


Isak tangis Ethan mulai terdengar ia memeluk tangan Allis. Ia tidak bisa berkata-kata hatinya terlalu sakit dan sangat perih melihat ibunya seperti ini. Rasa sakit yang teramat tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


"Bagaimana ?, apa kata dokter ?".


"Semuanya sudah dilakukan kita tinggal menunggu dia siuman saja".


BRAKKK


Pintu terbuka dengan keras nampaklah Agatha dengan nafas yang terengah-engah. Tatapan matanya menyiratkan amarah yang besar kepada kakaknya Sean.


"Kau".


"Agatha ?".


Plakkk


Suara tamparan memenuhi ruangan Agatha menampar pipi yang berjenggot Sean dengan keras. Memusatkan semua kekuatannya pada tangannya.


"Jika tidak bisa menjaganya dengan berat hati aku mengatakan padamu lepaskan dia, aku tidak ingin dia terluka jika terus berada di sisimu".


"Agatha apa-apaan ini ? Kau datang-datang membuat kegaduhan tenanglah lihat Allis ia tengah beristirahat".


"Cukup daddy, berhenti membela putramu ini"


"Agatha turunkan nada suaramu, kau tidak melihat dengan siapa kau berbicara ?".


"Aku sangat tahu betul dengan siapa aku berbicara kak, tapi kau haish ya Tuhan aku sangat malu mengakuimu sebagai kakakku, kau adalah orang yang berkuasa dan sangat berpengaruh di dunia ini dengan kekuasaan mu, dengan kekuasaan mu yang sebesar itu apakah menjaga satu orang saja kau tidak bisa cihhh menyedihkan sekali, maka tinggalkan dia dia akan tersiksa jika terus saja bersama denganmu, berada di sisimu".


"Sudah aku katakan tidak ada yang pergi dan tidak ada yang ditinggalkan, duduk dan diamlah".


"Kau sangat tidak becus kak".


"Agatha duduk dan diamlah di tempatmu".


"Tak bisakah kalian diam dan duduk dengan tenang mommy-ku terganggu dengan suara bising kalian, jika kalian tidak bisa diam lebih baik kalian keluar".


Semuanya hening.


"Sayang duduklah tidak baik jika kalian bertengkar disini, kau tidak boleh seperti itu pada kakakmu dia pun telah mengerahkan semua tenaga dan upayanya namun semua itu kembali pada takdir".


"Arghhh takdir sialan".


Agatha duduk dengan wajah masam ia jauh-jauh terbang dari Paris untuk memukul Sean dan mendapatkan ceramah dari orang tuanya.


"Bagiamana keadaanmu sayang ?".


"Tidak usah bertanya dad, simpan saja pertanyaan daddy untuk nanti kali ini aku masih marah".


Jhon mengatupkan bibirnya karena wajah Agatha yang menatapnya tajam. Sean hanya melihat sejenak lalu berlalu mendekati Ethan.


"Tidak tunggu diamlah disitu kak, kau tidak boleh melihatnya".


Agatha berjalan dengan cepat dan menahan tubuh Sean. Dia mendorong Sean sampai kembali duduk lalu dia mendekati Allis.


"Aunty bukankah kau begitu pintar ?".


"Ethan kau baik-baik saja ?".


"Aku baik-baik saja hanya saja bisakah kau mengganti takdir ini, menghapus takdir yang menyeramkan ini buktikan kepintaran aunty".


"Ethan a-aku hanyalah manusia biasa, jika takdir itu bisa dibeli dengan uang aku akan membeli takdir yang baik, takdir yang tanpa harus mengeluarkan air mata seperti ini".


"Aku begitu muak dengan takdir aunty".


"Maafkan aku dan kakakku Ethan, dia memang sedikit tidak peka".


"Tidak aunty, hanya saja aku yang terlalu memberikan ekspektasi yang berlebihan kepadanya".


"Tidak Ethan, k-kau hiks hiks maafkan aku maafkan kami".


"Semuanya terasa begitu cepat, ada rasa menyesal dalam hati ketika aku meminta mommy-ku menikah dengannya jika aku tahu akan seperti ini lebih baik aku tidak bertemu dengannya bahkan tidak menikahkan mommy-ku dengannya".


"Tidak, jangan berkata seperti itu Ethan keberuntungan memang belum berpihak pada kita, kita harus lebih bersabar lagi".


"Ayo kabari bibi Sonia saat ini ia pasti akan sangat khawatir".


"Beberapa saat yang lalu ia kembali, dia terlihat begitu lelah".


"Tidak ada yang memintamu untuk berbicara kak".


Astaga lihat dirinya menjadi serba salah. Sean meringis ketika merasakan ngilu dan perih pada wajahnya lebih lagi pada sudut bibirnya. Esmeralda memanggil seorang dokter untuk mengobati luka pada wajah Sean.


🌼 Bersambung 🌼


Hallo up lagi kakak-kakak readers selamat membaca semuanya btw sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lampak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.


Dan jangan lupa setelah membaca jangan lupa untuk like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨