He'S Back

He'S Back
Episode 44



Agneta merasa terganggu tidurnya, karena di sebelahnya tampak bergerak gelisah. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan menoleh ke sampingnya. Ternyata Dave tertidur dengan gelisah, peluh tampak membanjiri pelipisnya.


Agneta segera bangun dan menyalakan lampu tidur. Ia menepuk pelan kedua pipi Dave. "Dave bangun Dave!"


Hanya suara erangan menyakitkan yang keluar dari bibirnya. Keringat sebesar biji jagung tampak sudah memenuhi pelipisnya. "Dave, bangun Dave!"


Dave menangkap pergelangan tangan Agneta yang hendak menyentuh keningnya, dan mata abu gelap itu sudah terbuka kini beradu dengan mata hitam milik Agneta.


Dave menjauhkan tangan Agneta dan ia beranjak dari rebahannya. Ia duduk memunggungi Agneta yang tampak kebingungan. Dave mengusap wajahnya berkali-kali, sebelum dia beranjak menuju kamar mandi. Agneta masih memperhatikan pergerakan Dave yang berlalu menuju kamar mandi tanpa berkata sepatah dua patah kata.


Selang 10 menit, Dave keluar dari kamar mandi dan Agneta masih duduk di atas ranjang dengan berbagai pemikiran. "Kenapa tidak tidur?" pertanyaan Dave menyentakkan Agneta ke dunia nyata.


"Emm, itu- kamu, baik-baik saja?" tanya Agneta tampak ragu.


"Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Dave masih dengan nada datar yang sangat menyebalkan.


"Tidak! Aku hanya tidak ingin bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu padamu," ucap Agneta segera merebahkan tubuhnya dan memunggungi Dave dengan perasaan kesal dan meruntuki dirinya sendiri yang bertanya seperti itu pada Dave.


"Aku baik-baik saja, Agneta." Agneta masih diam saat sisi ranjangnya terasa bergerak. "Aku hanya tidak terbiasa ada yang mengkhawatirkanku dan bertanya apa aku baik-baik saja."


Agneta menoleh mendengar penuturan Dave yang terasa lebih menyakitkan. "Aku bersyukur Regan memilikimu, dia tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya di buang, bagaimana rasanya sendirian dan bagaimana rasanya kesepian." Dave duduk bersandar ke kepala ranjang dan mata tajamnya menembus kegelapan kedepan. Agneta berangsur bangun dan ikut duduk di samping Dave dengan memegang selimut.


"Kalau kau butuh sesuatu, kau boleh meminta bantuanku, Dave."


"Apa kau sudah tidak membenciku?" tanya Dave menoleh ke arah Agneta dengan senyuman kecilnya yang selalu membuat Agneta terpesona.


"Aku sangat membencimu!"


"Kalau begitu kenapa kau tidak membunuhku? Bukankah banyak kesempatan untukmu mencoba mencelakai dan membunuhku? Jadi kau bisa bebas hidup bersama Regan dan juga Aiden." Agneta terdiam menatap manik mata Dave yang menyiratkan sesuatu yang sungguh membuat Agneta merasa sedih dan malah merasa iba pada Dave.


"Aku bukan seorang pembunuh," ucap Agneta memalingkan wajahnya.


"Agneta,"


"Iya,"


"Aku ingin meminta bantuanmu sekarang," ucap Dave dan seketika membuat Agneta menjadi gugup dan jantungnya berdebar kencang karena tatapan Dave padanya.


"A-apa?"


""Saat Regan bermimpi buruk, kau selalu merebahkan kepalanya di pahamu dan membelai kepalanya hingga dia terlelap. Bisakah aku merasakan itu?" tanya Dave.


Malam ini Agneta seperti melihat sosok Regan yang sedang manja padanya pada diri Dave. Bukan lagi Dave yang selalu arogant dan seenaknya. Agneta akhirnya menganggukkan kepalanya, dan tanpa menunggu lama lagi, Dave merebahkan kepalanya ke atas paha Agneta dengan nyaman. Walau ragu, Agneta tetap mengusap kepala Dave dengan lembut seperti yang sering dia lakukan pada Regan. Merasakan sentuhan hangat dan lembut dari Agneta membuat mata Dave terpejam.


"Nyaman sekali, rasanya aku sudah sangat lelah," gumam Dave dalam mata yang terpejam.


15 menit masih hening, dan Agneta merasakan deru nafas Dave mulai teratur. Ia masih membelai kepala Dave dan melirik wajah Dave yang terlelap tenang. Entah kenapa melihat Dave seperti ini ada perasaan khawatir, dan merasa iba. Ia merasa Dave tidak baik-baik saja dalam hidupnya. Dave terlalu misterius baginya dan banyak menyimpan segudang rahasia dalam hidupnya.


Apa kehidupan orang kaya memang seperti ini, pikir Agneta. Dan tanpa bisa di tahan lagi, di dalam hatinya terselip sebuah keinginan. Ingin menemani Dave dan selalu berada di sampingnya dalam setiap saat. Membuatnya merasakan kebahagiaan dan tak merasakan kesepian lagi.


***


"Aiden, bisakah kau antarkan aku ke club XX."


"Aku hanya bisa mengantarmu pulang, Catherin!"


"Kau ini kenapa sih? Sejak tadi kau terus uring-uringan. Apa ada masalah?" tanya Catherin yang duduk di samping Aiden. "Ya, aku tau pertemuan keluarga ini sungguh membosankan. Mereka menjual kita hanya untuk bisnis mereka saja," keluhnya.


"Hmm,"


"Kau tidak memiliki rencana apapun untuk membatalkan perjodohan ini?" tanya Catherin.


"Saat ini belum ada, mungkin kedepannya. Aku sedang banyak sekali masalah, Cat."


"Seorang Aiden? Wow? Aku pikir kau pria yang santai dan masa bodo," ucap Catherin dan hanya di jawab dengan lirikan sinis dari Aiden.


"Sudah sampai di rumahmu," seru Aiden setelah lama terdiam.


"Oke, aku tidak akan mengajakmu untuk mampir. Jadi terima kasih tumpangan Aiden. Night!" setelah mengucapkan itu, Catherin keluar dari mobil milik Aiden dan berlalu memasuki area rumahnya yang besar.


Aiden menyandarkan kepalanya ke sandara jok mobil dan menghela nafas panjang. "Sebenarnya kau ada dimana Agneta, kenapa kau meninggalkanku seperti ini."


"Hallo,"


"....."


"Baiklah, terima kasih." Aiden mematikan sambungan telponnya dan berlalu pergi meninggalkan area rumah Catherin.


***


Dave terbangun dari tidurnya, ia merasakan masih berada di atas paha seseorang. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan menoleh ke atasnya. Agneta tampak terlelap dengan posisi duduk bersandar ke kepala ranjang. Ada rasa bahagia di dalam hatinya, juga tak tega. Ia yakin Agneta sudah kesemutan karena di timpa beban dirinya.


Dave bangun dari tidurnya dan menarik tubuh Agneta agar rebahan lebih nyaman. Agneta tampaknya begitu mengantuk hingga ia tak merasa terusik dan malah mencari posisi nyaman untuk tidur. Tanpa di sangka-sangka Agneta memeluk pinggang Dave dan merebahkan kepalanya di dada bidang milik Dave. bahkan kakinya membelit kaki Dave seakan Dave adalah bantal guling.


"Kau akan menyiksaku kalau seperti ini, Neta." Dave menghembuskan nafas berat tetapi tak urung menurunkan Agneta dari tubuhnya, ia malah memeluk Agneta dan mengecup keningnya.


"Terima kasih," gumamnya dan ikut bergabung ke dalam mimpi bersama Agneta.


***


"Bun-" teriakan Regan tertahan saat ia membuka pintu kamar orangtuanya. Regan tersenyum senang melihat mereka berdua. Ia mengingat ucapan uncle Key yang mengatakan kalau Regan harus bisa membuat Ayah dan Bundanya bermesraan dan tidur bersama supaya Regan cepet dapat adek bayi. Kebetulan sekali Regan sangat ingin adik, jadi dia menyetujui usul Key dan menuruti perintahnya.


Regan melihat ponsel Dave tergeletak di samping ranjang, ia cukup mahir menggunakan Handphone untuk permainan game dan camera. Dan dengan ide cerdiknya Regan mengambil ponsel itu dan memotret Agneta bersama Dave yang begitu mesra dan intim. Selain itu, Regan juga menjadinya walpaper di handphone Dave.


Setelah melakukan keisengan itu, Regan perlahan keluar kamar dan menutup kembali pintu kamar. Biarkah saja orangtuanya, dia akan meminta sarapan sendiri ke pembantu rumah tangga di bawah.


Selang 10 menit dari kepergian Regan, Agneta mengerjapkan matanya. Lehernya terasa kaku karena tiduran di sesuatu yang keras dan hangat.


Dan seketika matanya membelalak lebar dan menjauhkan tubuhnya ke sisi ranjang, saat tau dia tidur di atas tubuh Dave dengan tangan dan kakinya yang membelit Dave layaknya ular. 'A-apa yang sudah aku lakukan?' batinnya.


Agneta bergegas ke kamar mandi sebelum Dave terbangun dan dia akan merasa sangat malu sekali.


Agneta baru saja menyelesaikan ritual mandinya, ia sudah mengenakan pakaian lengkapnya dengan rambutnya yang basah. Ia keluar dari kamar mandi dan tampak Dave sudah terbangun dan duduk santai di atas ranjang dengan memainkan handphonenya. Agneta berusaha mengabaikan keberadaan Dave dan berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdyer.


"Kau tidur nyenyak sekali semalam." Ucapan Dave menghentikan gerakan Agneta yang sedang menyisir rambut.


"Hmm." Agneta berusaha bersikap biasa saja, walau sebenarnya dia sangat gugup.


"Aku sangat menikmatinya," ucap Dave dengan seringai menyebalkannya. Ya, Davero sang Devil kini telah kembali.


***


Agneta berjalan menghampiri Regan yang tengah menikmati sarapannya sendirian.


"Lho anak Bunda sarapan kok gak bangunin Bunda sih?" ucapnya mengusap kepala Regan yang tengah menikmati nasi goreng omlet.


"Abis Bunda dan Ayah tidulnya lelap banget, jadi Egan gak mau ganggu."


"Kamu masuk ke dalam kamar kami?" tanya Agneta memicingkan matanya dan hanya di balas dengan cengiran polos.


"Kamu-"


"Pagi Jagoan Ayah," ucap Dave yang baru bergabung dengan mereka mengecup kepala Regan. Agneta segera memalingkan wajahnya dan mengambil sarapan untuk dirinya sendiri.


"Ayah, gimana kado dali Egan?" tanya Regan membuat Dave mengernyit bingung tetapi setelahnya dia mengerti maksud ucapan Regan.


"Perfect."


Regan terkekeh senang di balas dengan senyuman dari Dave, Agneta hanya melirik mereka berdua dengan tatapan curiga juga bingung.


"Besok pagi kita kembali ke Indonesia," ucap Dave tanpa menoleh ke arah yang lain.


"Yah, padahal Egan betah di sini."


"Tapi kamu harus sekolah," ucap Agneta.


"Dan Bundamu memiliki banyak pekerjaan untuk menjelaskan sesuatu pada seseorang yang ada di sana." Sindiran Dave membuat Agneta terdiam, hampir saja ia melupakan Aiden. Tetapi kenyataannya dia memang sama sekali tak memikirkan Aiden, entah kenapa selama di sini dia malah terfokus pada anaknya dan juga Dave yang sungguh misterius.


***