
"Bagaimana dia?"
Key tau siapa yang di maksud Dave. "Dia terlihat murung dan sering menyendiri."
"Benarkah? Apa semuanya aman?" tanya Dave menuangkan wiski ke dalam gelas berkaki.
"Semuanya baik-baik saja, sepertinya belum ada pergerakan dari musuh." Key mengambil botol wiski dari depan Dave membuatnya melotot. "Untuk kali ini turutilah perintah Dokter." Dave hanya mendengus.
"Bagaimana Aldo? Apa dia masih bungkam?" tanya Dave.
"Dia tetap mengatakan tak tau menau, dia di bayar oleh pria yang sudah kita bunuh kemarin. Sialnya mereka berdua tetap bungkam. Sebenarnya siapa musuh kita ini. Baik France maupun Robert, keduanya tampak aman-aman saja."
"Mungkinkah ada musuh yang lain?" tanya Key kembali.
"Tidak, feelingku mengatakan di antara mereka berdua."
Suara ketukan pintu menyadarkan mereka berdua. "Ada apa?" tanya Dave dengan tajam pada salah seorang bodyguardnya yang baru saja masuk.
"Kami berhasil membawa seseorang untuk anda," serunya membuat Dave dan Key saling melihat. Dave beranjak pergi setelah menyimpan gelas dalam genggamannya diikuti Key.
"Pak Ali, ada apa?" tanya Dave saat melihat Mr. Ali berdiri di depan pintu utama.
"Davero!"
Seruan itu membuat Dave menoleh ke arah parkiran mobil yang baru saja datang dan berhenti di depan pintu masuknya.
Mata Dave membelalak lebar, tubuhnya membeku kaku dan matanya perlahan melembut juga memerah menahan air matanya. "Devara!"
"Dave!" gadis itu menangis terisak dan berjalan tertatih di bantu Kay untuk mendekati Dave. Keadaan Devara jauh dari kata baik-baik saja. Tubuhnya tampak begitu kurus sekali, kotor, dan luka lecet juga perban di kepala juga tangannya. Kaki kirinyapun tampak di perban dan keadaannya sungguh mengkhawatirkan.
Dave melangkah lebar menghampiri Devara yang berdiri kaku di tempatnya dengan air mata terus luruh membasahi pipi. Dave kini berdiri di hadapannya, kedua tangannya bergetar dan terangkat ke udara membelai pipi tirus kembarannya.
"Devara," gumamnya dan Devara langsung memeluk tubuh Dave tanpa bisa menahannya lagi. "Dave, hikzzzz...." Dia menangis meraung dan memeluk tubuh Dave dengan sangat erat.
Dave membalas memeluk Devara dan mengecup puncak kepala kembarannya itu. "Aku mencarimu kemana-mana," gumam Dave terdengar serak, bahkan matanya memerah dan air mata menggantung di kelopak matanya.
"Hikzzz... Dave,,," isak Devara semakin memilukan. "Mereka menahanku dan membunuh Mom dan Dad." Devara semakin meraung tak kuasa di pelukan Dave. Ia tak bisa mengontrol emosinya lagi yang kini tumpah ruah di dada Dave.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Setelah kabar kecelakaan Dad dan Mom, kamu menghilang begitu saja dan bahkan sudah menikah."
"Sebaiknya kamu beristirahat dulu, Devara. Dan nanti kita berbicara," seruan dan usapan lembut di kepala Devara membuatnya melepaskan pelukannya dan menatap ke samping Dave dimana Pak Ali berdiri.
"Syukurlah kau kembali dengan selamat," ucapnya mengusap kepala Devara.
***
"Agneta,"
"Aiden." Agneta menoleh ke sumber suara dimana Aiden baru saja datang. "Kau datang?"
"Bagaimana kabarmu?" tanya Aiden menghampiri Agneta yang tampak tengah berdiri di belakang rumah memandang kolam renang.
"Seperti yang kamu lihat," ucapnya kembali memandang ke depan dengan memeluk tubuhnya sendiri.
"Kamu terlihat begitu pucat, apa kamu sakit?" tanya Aiden masih memperhatikan Agneta yang menatap kosong ke depan.
"Aku baik-baik saja, kalau kau ingin menemui Regan. Dia sedang ada di kamarnya bersama baby sister," ucapnya bahkan terdengar dingin.
Terdengar helaan nafas dari Aiden dan ikut menatap ke depan dengan memasukan kedua tangannya ke saku celana. "Memang benar yah, kita menyadari cinta setelah kehilangan," ucap Aiden membuat Agneta menoleh dan Aiden juga ikut menoleh hingga mereka berdua saling bertatapan satu sama lain.
"Sampai sekarang aku masih sangat iri dan cemburu pada Dave, dalam sekejap dia mampu membuatmu kehilangan harapan hidup dan tersiksa karena kehilangannya." Aiden tersenyum pilu dan seakan mentertawakan dirinya sendiri. "Mengakui semua itu sungguh menyakitkan."
Setelah mengatakan itu Aiden berlalu pergi meninggalkan Agneta yang mematung di tempatnya menatap kepergian Aiden. "Ya, aku baru menyadari rasa cinta ini setelah kehilangannya. Dan aku menyesal karena tak bisa menjaganya untuk tetap berada di sini," gumam Agneta hingga air matanya kembali luruh membasahi pipi.
Agneta kembali berpaling menatap ke depan dan dia melihat bayangan Dave yang berdiri angkuh dengan tangan memegang gelas berisi minuman dan sebelah tangan yang masuk ke dalam saku celananya. Bayangan Dave itu tampak menampilkan senyuman menyebalkan yang paling Agneta benci tetapi juga sangat ia rindukan.
"Aku sangat merindukanmu, Dave. Hikzz......." isak Agneta sungguh hatinya begitu sakit.
Di tempat lain Dave berdiri menatap keluar jendela yang kini tampak turun hujan. Perapian menyala untuk menghangatkan tubuhnya, dan kepalanya terus membayangkan wajah Agneta juga perhatian Agneta beberapa hari terakhir sebelum mereka berpisah.
Sesungguhnya ini sangat berat untuk Dave, tetapi ia harus memilih mana yang akan dia perjuangkan dan mana yang harus dia korbankan. Apalagi sejak awal Agneta tak pernah bisa menerimanya dan malah membencinya.
Apa kau puas Dave...? Apa salahku padamu?
Dulu aku tak pernah menyakitimu ataupun keluargamu, aku tak pernah juga mengganggumu. Kita tidak saling kenal, tetapi kamu merenggut kehormatanku dan dalam sekejap kamu membuatku kehilangan keluargaku dan mereka membencinku. 5 tahun aku berusaha bangkit dan hanya Regan penyemangatku. Dan sekarang kamu juga merenggutnya dariku. Kamu kembali menghancurkan hidupku...
Dave menghela nafas panjang seraya meneguk minuman coklat itu hingga tandas dan membakar kerongkongan juga hatinya.
"Agneta, tidak bisakah kau bahagia di sisiku?" gumamnya.
*