
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagi...
Sepulangnya sore itu Allis berusaha melupakan kejadian yang ia alami akhir-akhir ini. Dia menyibukkan dirinya mencuci memasak bahkan mengepel dia meliburkan semua maid kecuali satpam yang berjaga dipagar rumahnya.
Niat ingin beristirahat karena lelah mengurusi rumah. Allis malah mendapatkan telepon dari Agatha sembari menangis-nangis ingin bertemu dengannya.
"Baiklah kau kirimkan saja alamatnya dan aku akan menunggumu disana".
"Tenang Ethan masih latihan".
"Iya iya tenanglah jangan menangis oke".
Allis menghembuskan nafasnya pelan ia segera bersiap-siap untuk mandi dan berpakaian dan segera pergi ke tempat tujuan. Allis sudah mengabari Ethan bahwa akan pulang terlambat dan berpesan jangan pernah ikut pulang bersama siapa pun jika tidak bersama dengan supir.
Setelah sampai Allis memarkirkan mobilnya. Dia terbelalak kaget karena tempat yang dimaksud oleh Agatha bukanlah restoran melainkan sebuah bar yan cukup terkenal. Allis bimbang bagaimana ia harus masuk dia tak pernah kesini sebelumnya.
Allis menelan ludah kasar saat para pelanggan bar tersebut berdatangan. Bahkan dirinya menatap malu wanita-wanita yang baru saja datang yang hanya mengenakan tanktop dan hotpants saja.
Sampai di depan pintu Allis bertanya meja atas nama Agatha. Segera seseorang mengantarnya ke sebuah meja pojok. Tak berselang lama Agatha datang dengan mengenakan mantel panjang selutut syal rajut putih yang menggemaskan.
Agatha tersenyum sembari melambaikan tangannya. Agatha yang melihatnya segera bergegas untuk menemuinya. Di sepanjang jalan menuju meja Agatha melepaskan mantel dan juga syal.
Nampak lah tubuh seksi Agatha dengan gaun hitam pendek sepaha. Gaun tanpa lengan itu membuat Agatha nampak sangat cantik dan juga seksi. Penampilannya berkesan lebih mewah karena bertenggernya kalung bermerek Cartier pada lehernya.
Sangat cantik, kalung bertipe 1895 necklace berantai platinum, dihiasi berlian, mulai dari 5 hingga 6 karat. Kalung dengan merek Cartier itu dibanderol dengan harga 1,2 miliar rupiah.
"Apakah kau sudah lama menunggu ?".
"T-tidak baru saja".
"Agatha bukannya kata kau kakakmu adalah monster posesif lalu kau keluar dengan mengenakan pakaian kurang bahan ini bagaimana caranya ?".
"Aku sedang marah padanya, jadi aku mengelabui dirinya dengan mantel panas sialan ini".
"Matamu sangat sembab ada apa denganmu ?".
"Huhuhu kakakku akan menikah bulan depan aku belum siap kasih sayang kakak berkurang padaku".
Agatha meraung keras sembari menghentakkan kakinya. Allis mengusap lengan Agatha untuk menguatkannya. Namun solusi apa yang harus ia berikan pada Agatha. Semuanya adalah masalah pribadi keluarganya dia tak pantas untuk ikut campur.
"Bos Soju lima botol".
"Hey apakah kau gila ingin minum disini lihatlah para pria itu menatap lapar dirimu".
"Ahh aku sudah tak perduli kakakku sudah tak menyayangiku lagi".
"Hey bukan begitu kakakmu bukan tak menyayangimu tapi menikah adalah suatu kewajiban dan kau pasti akan menikah juga kelak ayolah jangan seperti ini".
Telat sudah Soju sudah didepan mata, Agatha menatap Soju itu dengan tatapan mata yang berbinar. Namun,
"Aku ingin buang air kecil".
Bagai di berikan restu oleh Tuhan Allis langsung saja menganggukan kepalanya. Niatnya ingin mengembalikan Soju saat Agatha pergi adalah sebuah ide yang cemerlang bukan.
"Pergilah hati-hati dan perbaikilah riasan wajahmu".
Allis segera memanggil pelayan dan memintanya untuk membawa kembali beberapa botol Soju. Namun dia di tolak mentah katanya barang yang sudah di pesan tidak bisa dikembalikan demi kenyamanan pelanggan lain.
Allis mengangguk mengerti dengan ucapan dari pelayan tersebut. Ahh sial sekali padahal idenya sudah sangat cemerlang dan waktunya pas sekali. Agatha kembali dengan wajah yang segar .
"Ayo minumlah bersama denganku Allis hilangkan rasa lelah saat bekerjamu itu".
Allis mengangguk ragu menanggapi ucapan Agatha. Agatha meraih satu botol Soju lalu menyodorkannya pada Allis dan mengambil satu botol juga untuknya. Mereka melakukan cheers kemudian meneguk Soju masing-masing.
"Ahh i like it".
"Rasanya sangat aneh sekali".
"Apakah kau tak pernah minum ?".
"Tidak".
"Aahh sayang sekali, ayo bersenang-senang".
"Tunggu dulu rasanya aku ingin membuang air kecil".
"Ahh cepatlah menganggu saja".
Allis buru-buru berjalan melewati orang-orang yang sedang menari untuk menuju ke toilet umum. Lorong demi lorong di lewati sampai di toilet. Selepas itu dia kembali membenarkan pakaian dan keluar dari toilet.
Berjalan melewati lorong lagi dan dia tak sadar telah berpapasan dengan seseorang. Sesosok pria tinggi dengan masker hitam setelah melihat Allis dia kembali mengikuti Allis dari belakang.
Saat hendak keluar lorong tangan Allis ia tarik lalu menguncinya di tembok. Allis menatap bingung orang itu.
"Hey apa maksudnya ini dasar tidak sopan".
"Lepaskan aku".
"Pria cab*ul mana lagi ini ya Tuhan mengapa kau selalu mengahdirkan pria cab*ul didekatku".
Disaat ciuman panas mereka tanpa disangka-sangka Allis menarik topi hitam yang menutupi kepala lawannya. Dirinya ternganga tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kau".
.
"Ya tuhan mengapa dia lama sekali bisa-bisa aku akan menunggunya sampai berlumut".
"Nahh itu dia".
Agatha menggerutu kesal karena Allis tak kunjung datang setelah berpamitan untuk ke toilet namun setelah dua puluh menit tak kunjung kembali.
"Hey apakah kau sedang bertelur di sana ?".
Bukannya menjawab Allis malah menangis membuat Agatha panik bukan kepalang. Agatha memeluk Allis sembari mengusap-usap punggung untuk menguatkannya.
"Ada apa denganmu ?".
"Apakah kau dipukuli oleh seseorang atau ada yang nakal padamu".
"Tunjukkan lelaki mana yang berani mengganggu sahabat cantikku ini".
Allis menangis tersedu-sedu Agatha memesankan satu botol air mineral untuknya.
"Minumlah dan tenang ayo ceritakan padaku apa yang terjadi padamu ?".
"Kau ingat pria yang selalu menerorku bahkan menciumiku".
"Iya tentu saja pria cab*ul yang berengs*ek itu".
"Iya aku menemukannya dan aku tahu siapa orangnya".
"Siapa ?".
Allis menceritakan semuanya, sedari Agatha memeana minuman untuk mereka. Pria yang dimaksud baru saja datang dengan mengenakan pakaian yang sama. Bagaimana dia bisa mengenalinya yahh dia tahu karena mantel hitam yang ia kenakan selalu sama dan jarang sekali orang memliki mantel tersebut.
Dia pun beralasan untuk pergi ke toilet dan pasti pria itu langsung mengikutinya. Dan benar sesuai dugaannya pria itu benar-benar mengikutinya.
"Jadi kau melihat wajahnya kau mengenalinya".
"Benar, aku tidak menyangka bahwa dialah pelakunya".
"Bagaimana kalau kita cari dah pukuli dia sampai pingsan ?".
"Sepertinya itu bukanlah ide yang bagus secara dia adalah orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis dan juga kalangan keluarga konglomerat dan ternama".
"Ahh tenang saja jika ada apa-apa aku akan meminta kakak untuk membantu kita".
"Kau tidak apa-apakan ? Idemu ini terbilang sangat berbahaya".
"Tenang saja".
"Baiklah".
"Ayo".
Kedua wanita itu berjalan melewati kerumunan orang yang sedang menari-nari dengan lincah. Sampai di sebuah meja mereka berhenti tak begitu jauh.
"Mengapa berhenti ?".
"Itu dia Agatha".
"Punggung itu, sepertinya akuu mengenalinya".* Batin Agatha.
"Lalu bagaimana selanjutnya ?".
"Tunggu dia berbalik atau bagaimana ?".
"Ayo kita menemui dia dan hajar habis-habisan".
"Benarkah ?".
"Ayo percaya padaku".
Mereka berjalan dengan pasti menuju meja tersebut. Di belakang Allis ragu-ragu ingin menepuk pundak pria itu. Namun Agatha mengangguk mantap menyetujui perlakuan Allis saatnya membalas dendam bukan pikirnya.
"Kau pria cab*ul".
🌼 Bersambung 🌼
Allis senuanya author usahain biar setiap hari up yah biar cepet masuk kontrak minta doa yah teman-teman semoga diterima.
Jangan lupa klik like, komen, tekan favorit dan VOTE sebanyak-banyaknya.
Terima kasih.
***SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1444H.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh***.