
Pagi itu Agneta terpaksa pergi mengantarkan Regan dan ke kantor hanya di antar oleh sopir pribadi Dave, karena Dave sudah pergi pagi-pagi sekali entah ada urusan apa. Yang jelas dari semalam dia menjadi sosok pendiam dan bahkan tak keluar dari kamarnya. Agneta hanya melihat dia duduk termenung menikmati wiskinya.
Agneta ingin sekali tidak memikirkan dia dan tidak memperdulikannya, tetapi pikiran dan hatinya selalu saja penasaran dan ingin mengetahui segalanya. Entah kenapa ia merasa Dave sedang tak baik-baik saja.
"Bunda, Bunda kenapa?" tanya Regan yang duduk di sampingnya. "Dali tadi Egan tanya kok gak di jawab."
"Ah tidak apa-apa, Bunda hanya sedang memikirkan pekerjaan di kantor."
"Bunda nggak lagi malahan sama Ayah?" tanyanya penuh rasa ingin tau.
"Tidak kok, Bunda beneran memikirkan pekerjaan di kantor. Maaf yah Bunda mengacuhkanmu."
"Tidak apa-apa Bunda, Bunda jangan cape-cape yah keljanya, nanti Bunda sakit." Agneta tersenyum mendengar perhatian dari Regan. Ia memeluk putra kesayangannya dan mencium pipinya. Regan sungguh moodbosternya.
***
Agneta sampai di kantor setelah mengantar Regan, ia harus kuat menahan dan menutup telinganya dari berbagai cibiran dan tatapan sinis semua karyawan di kantor. Berkat 2 saudara itu, kini ia menjadi terkenal di kantor. Padahal sebelumnya dia bahkan tak di kenal sama sekali.
Agneta tersentak saat di dalam lift ada Aiden. Mereka berdua saling bertatapan cukup lama, sampai Agneta masuk dan menunduk sedikit memberikan hormat layaknya pada atasan. Aiden memalingkan wajahnya. Mereka berdua kini berdiri tanpa kata dan seakan tak saling mengenal satu sama lainnya. Agneta melirik Aiden yang masih memalingkan wajahnya, sungguh rasa bersalah kini memenuhi relung hatinya. Ia merasa menjadi seorang wanita yang tak tau diri dan terima kasih.
Kesunyian masih menyelimuti lift hingga pintu lift terbuka. Aiden berjalan lebih dulu meninggalkan Agneta, lalu Agneta berjalan di belakangnya menuju ruangan Dave.
"Selamat pagi istriku," seru Dave dengan sangat menyebalkan, Dave berdiri di depan pintu menuju ruangan mereka dan menarik Agneta ke dalam pelukannya. Aiden yang hendak mendorong pintu menuju ruangannya menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Dave dan Agneta. Lalu dengan cepat ia memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam ruangannya dengan kesal.
"Apa-apaan sih!" Agneta mendorong dada Dave tetapi gerakannya tertahan karena Dave mencengkram lengan Agneta.
"Bersikaplah layaknya istriku khususnya di kantor!" ucap Dave lalu menghentakkan lengan Agneta dan berlalu pergi meninggalkan Agneta yang mematung.
"Ada apa dengannya."
Agneta berjalan membuntuti Dave dengan kesal.
"Sebenarnya apa maumu Dave? Kau pikir aku akan selalu menuruti perintahmu!" ucap Agneta dengan kesal masuk ke dalam ruangan Dave membuat langkah Dave berhenti.
Dave berbalik ke arah Agneta. "Kau pikir bisa menjalin hubungan kembali dengan Aiden di belakangku!" pekik Dave.
"Apa maksudmu?"
"Kau istriku sekarang Agneta! jangan coba-coba kembali pada Aiden!"
"Aku jadi istrimu juga karena paksaan darimu! jangan menguasai hidupku!" ucap Agneta dengan kesal dan berlalu pergi tetapi ia tersentak saat Dave menarik lengan Agneta hingga Agneta tertarik ke arahnya dan matanya membelalak lebar saat Dave mencium bibirnya bahkan memangutnya dengan sedikit kasar.
"Itu hukuman karena bibir ini melawanku!" bisik Dave saat ia melepaskan ciumannya. "Sekarang kau boleh kembali bekerja, Neta."
Dave berbalik dan kembali berjalan menuju kursi kebesarannya meninggalkan Agneta yang masih mematung di tempatnya.
***
Agneta pergi ke kamar mandi, bayangan Dave menciumnya tadi terus terngiang-ngiang di benaknya. Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin, lebih tepatnya menatap bibirnya. Getaran itu masih ada, dan rasanya lebih cepat dari biasanya.
Agneta berusaha menekan hatinya supaya perasaannya tak kembali lagi. Ada rasa takut dalam dirinya, ia takut Dave kembali menghempaskannya. Tetapi perasaan ini kenapa begitu cepat kembali terpancing dan hadir, bahkan perlakuan Dave padanya tak ada manis-manisnya.
Ia ingin tetap membenci pria itu, pria yang telah menghancurkan hidupnya. Pria yang sudah menguasai hidupnya.
Agneta membasuh wajahnya dengan air kran, rasa sejuk menusuk ke kulit wajahnya. Ia mengambil beberapa lembar tissue dan mengusap wajahnya yang basah.
"Wah lihat ada siapa ini?" seru seseorang membuat Agneta menoleh. Di depannya ada 3 orang karyawati yang Agneta tau tetapi tak begitu mengenal.
"Jalang yang bersembunyi di wajahnya yang sok polos."
Agneta yang malas meladenin mereka semua segera beranjak menuju keluar pintu tetapi sayang sekali lengannya di cekal dan ia di dorong hingga mundur beberapa langkah.
"Apa mau kalian?"
"Mau kami?" mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. "Jangan sok polos kau jalang! Sebenarnya kita heran, apa yang pak Dave dan pak Aiden lihat darimu sampai mereka sibuk memperebutkanmu!"
"Mereka telah di butakan oleh pelayanan di atas ranjangnya," sahut wanita lain.
"Kau berguru dimana? otakmu cukup licik untuk menggoda pak Dave yang sudah jelas akan menjadi presdir di perusahaan ini sekaligus pemilik tunggal perusahaan ini."
"Jalang tak tau di untung! Apa kau juga menggoda pak Dave dengan memperalat anak harammu itu?" sahut Eva, wanita bermata sipit yang Agneta kenal.
"Whoaa ternyata benar, kau menggunakan anak harammu untuk menggaet pak Dave dan menguras harta bendanya!"
Agneta mengepalkan kedua tangannya emosi, dia tak masalah dirinya di hina, di caci maki sekasar apapun. Yang jelas dia tak ingin ada seorangpun yang menghina putranya.
"Jaga ucapan kalian! dan aku rasa ini semua tak ada hubungannya dengan kalian! Jangan sibuk dan pusing memikirkan hidup oranglain, urus saja diri kalian sendiri!" ucap Agneta dengan lantang.
"Ck, berani sekali kau jalang!" pekik mereka dan menyerang Agneta. "Harusnya kau pergi ke neraka dan berhenti menggoda pak Dave!"
Apa daya satu melawan 3 orang, Agneta awalnya bisa melawan tetapi lama kelamaan, ia kehilangan kendalinya karena mereka membabi buta. Agneta di jambak, di pukul, di tampar juga di dorong. Agneta terjatuh ke lantai dan mereka bertiga tertawa puas.
Eva mengambil tong sampah dan mengguyur tubuh Agneta dengan isi tong sampah itu membuat Agneta memekik kaget dan tubuhnya kotor, basah dan bau.
"Itulah hadiah yang pantas untuk seorang jalang," tawa mereka bertiga sangat puas.
Mereka bertiga dengan santai berbalik menuju pintu keluar, tetapi gerakan mereka teehenti saat mereka membuka pintu. Dave berdiri di sana dengan tatapan elang yang sangat menakutkan.
"Pa-pak Dave!"
Agneta menatap ke arah Dave dan Dave menatap kondisinya yang memprihatinkan.
"Emm pak, ini salah paham-" ucapan Eva terhenti saat sebelah tangan Dave terangkat ke udara.
"Kalian bertiga akan di pecat dengan tidak hormat dan tanpa pesangon!"
"Ta-tapi Pak-"
"Enyah dari hadapanku!" geramnya sangat menakutkan membuat mereka bertiga memilih pergi daripada harus mendapatkan amukan dari atasannya yang sangat menyeramkan itu.
Sepeninggalan mereka bertiga, Dave berjalan masuk ke kamar mandi dimana Agneta sudah berdiri dan membersihkan dirinya.
"Apa kau tidak bisa melawan mereka?" tanya Dave.
Agneta hanya meliriknya sinis. "Tidakkah kau sadar ini semua karena ulahmu!"
"Ulahku? bukankah mantan kekasihmu yang memulai!"
"Dia tak akan berbuat apapun kalau kamu tidak merusak kehidupanku!" ucap Agneta dengan kesal, ia berjalan melewati Dave tetapi siapa sangka kakinya terpeleset salah satu sampah dan hampir terjungkal kalau saja pinggangnya tak di rengkuh oleh Dave.
Tatapan mereka beradu dan saling menatap satu sama lainnya cukup lama. Sebelah tangan Dave merengkuh bawah lutut Agneta dan memangku tubuhnya membuat Agneta tersadar dari keterpakuannya dan spontan mengalungkan kedua tangannya di leher Dave.
"Kalau ingin aku gendong tinggal bilang saja, tidak perlu berackting jatuh," ucap Dave dengan santai.
"Apa? turunkan aku sekarang!" ucap Agneta dengan kesal.
"Terlambat!"
Dave berjalan keluar kamar mandi dan terus berjalan membawa Agneta menuju lift.
"Kau akan membawaku kemana Dave?" tanya Agneta mulai resah karena Dave membawanya menuju lift.
"Pulang."
"Apa? turunkan aku sekarang! Kau ingin membuat gosip baru dan membuat aku semakin di bully?" pekik Agneta.
"Justru supaya mereka tau, kalau tidak boleh ada yang mengganggu istriku. Atau akan bernasib sama seperti ketiga orang tadi," ucap Dave tanpa menatap Agneta dan dengan wajah datarnya.
"Davero jangan membuat drama!"
"Aku tidak tertarik membuat drama, aku lebih suka realita."
Agneta xpontan menyembunyikan wajahnya di dada Dave saat pintu lift terbuka dan mereka sampai di lobby kantor. Dave berjalan dengan tenang dan elegant seperti biasanya seakan dia tak sedang membawa beban tubuh Agneta. Semua mata tertuju padanya dengan tatapan yang syock, bahkan semua langsung berbisik-bisik dan Dave tak perduli itu. Berbeda dengan Agneta yang berharap dia bisa menghilang sekarang juga.
"Dave," gumam Natalie yang baru saja menuruni mobilnya dan melihat Dave berjalan menggendong Agneta memasuki mobilnya.
Natalie menatap Dave dengan tatapan syock dan kaget.
"Bagaimana bisa Dave dengan Agneta?"
***