
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨
Up lagii...
"Apa ? Aku hanya melakukan permintaan mu sayang".
"Sean kau menyakitiku ?".
Jessie memundurkan tubuhnya dari Sean. Dia memegangi pipinya yang terluka dan mengeluarkan darah segar. Air mata pun keluar dan semakin membuat luka itu terasa sangat perih. Jessie meringis merasakan perih yang teramat pada pipinya.
"Kau menyakitiku Sean"
"Tidak tidak, aku sedang memberikan sentuhan memabukkan seperti yang kau inginkan".
Plakkk
Jessie yang kelewat geram menampar pipi Sean dengan keras. Dia kesal sekali karena merasa dipermainkan oleh Sean.
"Berani sekali kau".
Sean pun tak kalah geram dia sudah cukup bersabar sampai detik ini. Sean dengan cepat menarik rambut Jessie menariknya dengan keras hingga membuat Jessie menjerit histeris.
"Apa yang kau lakukan ? Kau menyakitiku Sean ? apakah kau tidak menyadarinya ?".
"Aku menyadarinya bahkan sangat sadar tapi kau juga melakukan semuanya dengan kegilaan yang tak berujung, kau menyiksa istriku tanpa ampun".
"Apa maksudmu bukankah katamu kau tidak mencintainya ? dia adalah wanita bodoh bagaimana mungkin kau mencintainya ?, dia jala*ng sialan yang tidak bisa memberikanmu kepuasan kan ?".
BRAKKK
Tanpa di duga Sean melempar Jessie tepat dibawah kaki tuan Jackson. Sean mencekik leher Jessie lalu mengangkat dan melempar tubuh Jessie. Dia berjalan dengan wajahnya yang merah padam.
"Berhenti menyebutnya wanita jala*ng, dia bukanlah wanita jala*ng dia adalah istriku, istriku satu-satunya".
"Kau pikir posisi itu cocok untukmu, dengan tampang jala*ng mu ini hah kau pikir kau sudah cukup pantas untuk itu, lihatlah dirimu tak lebih dari wanita hiburan di luar sana".
"Katakan bagaimana kau menyakiti istriku ?".
"A-aku tidak menyakiti siapapun, hanya saja dia yang bersalah dia yang merebut milikku lebih dulu, dia bahkan tanpa perasaan merebut calon suamiku yaitu kau".
"Beraninya kau menyentuhnya".
Plakkk
Tangan besar Sean melayang tepat mengenai pipi Jessie yang terluka. Semakin terbukalah luka itu dan semakin banyak mengeluarkan darah. Sean mencengkram kuat pipi Jessie dan menatapnya penuh dengan kebencian.
"Aku akan membuatmu merasakan apa yang dirasakan istriku, membuatmu tersiksa sampai kau memohon-mohon untuk di bunuh saja".
Sean menghempaskan wajah Jessie sampai terbentur mengenai kaki tuan Jackson. Tuan Jackson dan nyonya Jackson tak berani bersuara rasanya bernafas saja mereka sangat takut.
"Andrew lepaskan borgol tangan nyonya Jackson".
"Baik Mr".
"Sudah Mr".
"Katakan kepadaku bagaimana kau menyakiti istriku ?".
"Atas hak apa kau bertanya kepadaku ?".
"Hidup dan matimu berada di tanganku, orang tuamu bisa aku leyapkan dari muka bumi ini hanya dengan jentikkan jari saja".
"Katakan, untuk apa aku mengatakan semua itu padamu membuang waktuku saja lebih baik aku pergi dari sini".
"Kau tidak ingin kehilangan harta orang tuamu secara percuma kan ?".
"Apa ? tidak tidak aku jangan mengambilnya ".
"Katakan jika tidak kau tidak akan mendapatkan sepersen pun dari harta mereka setelah mereka mati nanti".
"Baiklah baiklah aku akan mengatakannya".
"Hey anak bodoh mengapa kau lebih memilih untuk membiarkan kami terbunuh ?".
"Tidak akan dad percaya padaku ini hanya permainan kecil yang aku kuasai".
"Jangan bermain-main Mr Sean tidak pernah bercanda".
"Percaya padaku dad, aku akan menyelamatkan kita bertiga dari sini tanpa kurang sehelai rambut pun".
"Aku akan menceritakannya kepada kalian bagaimana aku melakukannya sendirian tanpa bantuan dari siapa pun sungguh aku sangat hebat bukan haha".
"Wanita itu gila".* Batin Andrew.
Jessie menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Dia sesekali tertawa terbahak-bahak lalu membanggakan dirinya. Tuan Jackson menatap tak percaya kepada putrinya bisa-bisanya putrinya melakukan hal bodoh itu padahal dirinya sangat berusaha untuk sampai pada posisi ini.
"Anak bodoh apa yang kau lakukan ? tak sadarkah kau dengan apa yang kau lakukan itu membuat kita berhadapan langsung dengan maut ? kau pikir dirimu sungguh hebat hah ?".
"Anak bodoh, lihat putrimu itu dia mengundang maut untuk kita semua".
"Aku tidak menyangka dia akan seperti itu".
"Bagaimana perasaanmu nona Jessie setelah itu ?".
"Lega sungguh lega dan sangat menyenangkan aku akhirnya bisa menyingkirkan wanita jala*ng itu dari kehidupanmu dan merebut kembali posisi yang seharusnya menjadi milikku hahaha sungguh ini sangat menyenangkan".
"Aku tidak percaya dia menjadi pembunuh berdarah dingin".*Batin Tuan Jackson.
"Kau memukulnya dengan balok kayu kecil ?"
"Tidak terlalu kecil, ukurannya lumayan besar"
Andrew menatap tak percaya kepada Jessie dengan santainya ia menjawab semua pernyataan Sean dengan mudah. Tanpa ada rasa takut sedikitpun padahal maut sudah di depan matanya.
"Andrew bawakan semua ukuran balok yang ada".
"Baik Mr".
Andrew segera mengambil balok yang tersusun rapi di dekat penjara besi besar yang menjulang tinggi. Dalam ruangan itu ada banyak alat, borgol, tali tambang, rantai, balok kayu, tongkat basketball, pisau dan juga kapak.
"Tunjukkan ukuran mana yang kau gunakan untuk memukul istriku ?".
"Ini, aku masih ingat sekali hahah".
"Bagus".
"Kau akan mendapatkan imbalan karena sudah berbicara jujur padaku"
"Benarkah ?".
"Tentu, nyonya Jackson kemarilah".
"S-saya Mr".
"Sekarang pukul putrimu, pukuli dia seperti dia memukuli istriku sesuai dengan yang ia ceritakan tadi".
"What ? Apa ?".
"Kau bercanda kan sayang, tidak mungkin kau menyakitiku lagi beberapa saat lalu mungkin iya dan aku memaafkannya dan sekarang kau ingin aku disiksa lagi kau tidak lupa ingatan kan ?".
"Baru beberapa saat yang lalu kau sangat memperlakukan aku bagai putri kerajaan, lalu sekarang kau ingin menyiksa ku ?, hey kau gila inikah imbalan yang aku dapatkan setelah memberikan kejujuranku padamu ?".
BRAKKK
Sean memukul meja dengan keras dia menatap Jessie dengan amarah yang amat besar. Suaranya nyaring dan menggelegar bagai petir di siang hari. Terdengar begitu menggema di dalam ruangan tersebut.
"Tidak tahu malu sekali, kau pikir dirimu siapa hah ? katakan kepadaku apakah dirimu begitu sempurna sehingga kau ingin sekali bersanding denganku ? Kau tak lebih dari jala*ng yang berjalan di jalan raya tanpa mengenakan pakaian bagai binatang, berapa harga yang kau banderol untuk harga dirimu katakan ? apakah kau melelang harga dirimu ? kau rela melebarkan kakimu dibawah kungkungan kakek yang umurnya lebih tua dari ayahmu, itu pun tanpa bayaran sungguh kau lebih rendah dari jala*ng jalanan".
Jessie terdiam, sungguh ia tak mengira bahwa adik Sean itu akan menceritakan semua tentangnya pada Sean.
"Berikan balok itu kepada nyonya Jackson".
Andrew memberikan potongan balok kayu yang ukurannya lumayan besar seusai dengan apa yang diceritakan Jessie kepada semua orang. Nyonya Jackson menatap putrinya dengan air mata yang mengalir. Ia tak menyangka akan ada posisi yang dimana tangan yang membesarkan dengan penuh kasih sayang kini harus menyiksanya tanpa perasaan sungguh ini teramat menyakitkan.
"Mulaikan pertunjukan ini".
Sean duduk di kursinya dengan kaki sebelah di angkat ia letakkan di paha yang satu lagi. Dia menatap serius ibu dan anak yang saling tatap menatap.
"Hentikan acara tatap menatap kalian, mulailah berikan aku sebuah pertunjukan".
Tuan Jackson tak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa menatap nanar kedua wanita kesayangannya. Nyonya Jackson memukul pelan kaki Jessie, tak sedikitpun suara yang keluar dari bibir seksi Jessie.
"Berikan pukulan dengan porsi yang sama seperti yang dia berikan untuk istriku, Andrew sepertinya dia tidak mengerti tunjukkan bagaimana caranya padanya ?".
"Dengan senang hati Mr".
"Tidak tidak jangan lakukan itu".
"As you wish".
Andrew melangkah dan merebut balik kayu itu dari tangan nyonya Jackson. Dia memposisikan kayu bolak itu dan mengangkatnya tinggi. Dan
"Aaaaaaaaaaaaa tidak"
🌼Bersambung🌼
Hallo up lagi semuanya selamat membaca sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lapak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_tolong bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.
Selepas membaca jangan lupa untuk like, komen, tekan favorit, dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨