He'S Back

He'S Back
Episode 105



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagi....


Warning ❗❗❗ Terdapat beberapa adegan kekerasan yang nggak suka kekerasan boleh di skip.


Dua hari setelah kejadian tersebut Allis benar-benar diberikan pengawalan ketat. Namun saat ia pergi ke perusahaan miliknya dia melarang keras orang-orang Sean masuk kedalam membuat kegaduhan.


Seperti siang ini ia pergi dengan Sonia untuk makan siang di salah satu restauran. Ia ingin berbincang banyak hal dengan Sonia terkait dengan rencananya untuk pergi ke luar negeri untuk menghadiri sebuah seminar.


"Kau memesan apa itu terlihat begitu lezat ?".


"Ini ? sama saja seperti punyamu Allis, mengapa kau mau mencicipinya ?".


"Bolehkah ? Tapi maaf sekali itu terlihat sangat lezat sekali".


"Boleh saja".


Allis menerima dengan senang hati spaghetti bolognese milik Sonia. Padahal ia memesan makanan yang sama tapi mengapa milik Sonia benar-benar mengunggah seleranya. Allis memasukkan spaghetti bolognese kedalam mulutnya.


"Apakah kau mengidam Allis ?".


Uhuk uhuk uhuk


"Hey apa yang kau bicarakan ?".


"Apa ? apakah aku salah ?".


"Pertanyaan konyol macam apa itu ?".


"Ini aku menukarnya dengan spaghetti milikku".


"Jadi benarkah kau mengidam ?".


"Tidak usah aneh-aneh, ayo makanlah kita akan segera kembali".


"Yahh tinggal di jawab saja apa susahnya".


Sonia memicingkan matanya lalu mencibikkan bibirnya. Allis memutar bola matanya jengah melihat Sonia yang kesal. Namun semua itu benar adanya dia tidak mengidam atau pun semacamnya.


"Mengidam bagaimana melakukannya saja kami tidak pernah walaupun kami satu kamar".* Batin Allis.


"Haish Sonia tunggulah sebentar aku ingin ke kamar kecil sebentar saja".


"Baiklah".


Allis segera berlari karena ia ingin sekali buang air kecil. Sampai di kamar kecil ia segera menuntaskan hajar. Dia berdiri di wastafel sembari mencuci tangan lalu mengeringkannya. Saat berbalik alangkah terkejutnya dia mendapati sosok yang ia kenal berdiri di depannya.


"Allis kita akan selesaikan semuanya disini, di tempat ini kita berdua akan menyelesaikan semuanya disini".


"Nona Jessie apa maksudmu ? Masalah apa yang kau maksud ?".


Iya benar, Jessie entah takdir yang seperti apa yang selalu membuat mereka bertemu. Allis ketakutan karena aura Jessie berbeda kali ini. Entah kebetulan yang seperti apa lagi kamar kecil ini benar-benar kosong hanya ada mereka berdua saja.


"Masalah apa ? Kau masih bertanya ? Apakah kau sudah lupa ingatan nona Allisya ? Perlukah aku mengingatkanmu kembali bahwa kau telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku ?".


"Dengar, biarkan aku menjelaskannya ini tidak seperti yang kau pikirkan, ini murni bukan aku yang menginginkannya".


"Lalu apa ?, hah tidak mungkin Sean menyukai wanita sepertimu, dada yang kecil, body-mu saja tak lebih besar dari gagang sapu di rumahku, kau pikir Sean berminat denganmu ? Dengan penampilanmu yang seperti ini ?".


"A-aku tidak bersalah, aku juga tidak tahu mengapa semuanya terjadi dan aku juga tidak menginginkan semua ini".


"Oh iya lihat jarimu itu cincinku, milikku dan Sean seharusnya milikku juga lalu tiba-tiba kau datang dan merebut semuanya dariku aku pikir dirimu tak sejahat ini dengan wajah polosmu itu".


"Aku memang tidak melakukan apa pun semuanya terjadi begitu saja".


"Hey turunkan suaramu, kau pikir dirimu siapa hah ? aku akan menyingkirkan dirimu dan merebut semuanya yang seharusnya menjadi milikku".


"Tunggu apa yang akan kau lakukan ?".


Tanpa di duga-duga Jessie menyerang Allis dengan kayu balok yang ia bawa. Memukul pelipisnya hingga terjatuh dan darah pun mengalir. Kepala Allis mulai berdenyut denyut membawa rasa ngilu dan juga pusing yang tak berujung.


Tak cukup sampai di situ Jessie menarik rambut Allis. Allis yang hampir setengah sadar hanya bisa meringis merasakan sensasi sakit pada kepalanya. Jessie menampar wajah Allis berkali-kali lalu mendorongnya ke tembok dan membeturkan wajahnya lagi dan lagi.


Ia memukul kaki Allis dengan menggunakan balok kayu itu. Memukul apa yang bisa dia pukul. Perut, pinggang, kaki, bahkan lengan semuanya tak luput dari pukulan. Mata Allis sudah sayu ia seperti setengah sadar. Jessie yang bertambah geram menarik Allis sampai pada wastafel.


"Lihat wajahmu, kau pikir dirimu siapa hah berani sekali kau merebut milikku".


"Aku, maafkan aku aku juga tidak ingin semuanya terjadi, ini bukanlah keinginanku".


"Lalu keinginan siapa ? Sean cihh tidak mungkin berani sekali kau menyalahkan dia atas apa yang kau lakukan, katakan bagaimana kau menggodanya hah katakan ?".


"A-aku tidak menggoda siapapun, aku sudah mengatakannya aku tidak tahu semuanya terjadi begitu saja".


Jessie yang sangat geram membenturkan kepala Allis pada sisi wastafel. Darah mengalir dengan sangat deras Allis pun sudah tak sadarkan diri. Jessie yang puas karena melihat kondisi Allis tersenyum penuh kemenangan. Dia mencuci tangannya lalu memperbaiki penampilannya kemudian meninggalkan kamar kecil itu.


Allis terbujur dengan bersimbah darah. Luka di sekujur tubuhnya yang sudah membiru. Wajahnya yang cantik kini berlukis lebam biru yang sangat jelas. Sudut bibirnya berdarah.


"Kemana Allis mengapa lama sekali katanya sebentar ini sudah lebih tiga puluh menit, apa jangan-jangan dia meninggalkanku hais aku harus mencarinya ?".


Sonia berjalan menuju kasir lalu membayar bill dan menyusul Allis ke kamar kecil. Sepi tidak ada orang Sonia pun masuk kedalam. Allis terpaku dengan kaki yang bergetar hebat. Air mata mengalir dengan wajah pucat. Ia mendapati tubuh Allis yang tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah.


"A-Allis a-apakah itu kau ?".


Sonia mendekatkan dirinya dengan ragu lalu menatap wajah yang penuh dengan lebam dan darah di pelipisnya dengan air mata yang mengalir.


"Tolong, tolong aku".


Sonia berteriak sejadi-jadinya ia berteriak sangat keras sampai semua orang terkejut dan berbondong-bondong untuk melihat apa yang terjadi. Semua orang terkejut melihat apa yang terjadi di kamar kecil itu.


"Apakah dia mati ?".


"Hey tutup mulutmu".


Sonia berteriak meneriaki wanita yang menyumpahi Allis. Sonia perlahan menyentuh pergelangan Allis dia sampai menutup matanya bersiap untuk menerima fakta. Dia merasakan denyut nadi Allis.


"Dia masih bernafas tolong bantu aku membawanya".


Tiba-tiba segerombolan pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam menerobos masuk menembus kerumunan orang banyak. Salah satu dari mereka mengangkat Allis lalu membawanya berlari membelah kerumunan orang. Terlihat satunya lagi tengah mengabari seseorang.


"Hey mau kau bawa kemana kakakku ?".


Sonia berteriak-teriak memanggil pria berbadan besar itu. Menanyakan hendak dibawa kemana Allis. Mobil hitam yang membawa Allis meluncur dengan kecepatan tinggi. Sonia pun buru-buru menyalakan mesin dan mengikuti jejak mobil itu.


Sampai di rumah sakit terbesar mobil hitam yang membawa Allis berhenti. Sebelumnya pihak rumah sakit sudah dikabari lebih dahulu. Sehingga mereka sudah bersiap-siap dan ketika Allis sudah sampai mereka langsung mendorong brangkas rumah sakit dan segera membawa Allis kedalam ruangan gawat darurat untuk di periksa.


BRAKKK


Pintu rumah sakit terbuka dengan keras semua orang yang berbaju hitam itu segera menghampiri sosok yang baru saja tiba.


"Mr"


"Katakan dimana istriku ?".


"Di ruangan gawat darurat Mr".


"Andrew, segera periksa restauran itu dan bawa semua pegawainya padaku".


"Baik Mr".


Sean dan Andrew mereka baru saja tiba, mereka sedang melangsungkan rapat dengan beberapa orang penting dari Eropa. Saat diberikan kabar seperti itu Sean langsung meninggalkan ruangan tanpa berkata-kata. Andrew menjelaskannya dengan beberapa kata lalu meminta maaf atas kejadian yang secara tiba-tiba itu.


Pintu ruangan gawat darurat terbuka nampak Allis di dorong menuju kamar ICU. Beberapa dokter dan perawat tak memperdulikan keberadaan Sean. Mereka mementingkan keselamatan Allis karena Allis telah kehilangan banyak darah.


"Keluarga pasien ?".


"Aku suaminya".


Dokter paruh baya itu terkejut karena melihat Sean berada di sana. Dia pun dengan sigap memberi hormat dengan membungkukkan setengah badannya.


"Maafkan saya Mr saya kira bukan anda".


"Katakan bagaimana keadaan istriku ?".


"Istrimu ?".


"Dia yang ada didalam adalah istriku".


"Maksud anda pasien yang baru saja saya tangani Mr ?"


"Katakan aku tidak butuh basa-basimu, katakan bagaimana keadaan istriku ?".


"Maaf Mr, keadaannya sangat buruk Mr banyaknya lebam memenuhi seluruh tubuhnya, tulang pipinya bergeser, kepalanya mengalami sobekkan dan luka yang menganga lebar, wajahnya tertutup oleh lebam, kakinya terluka parah akibat banyaknya pukulan yang didapatkan, tulang kakinya retak dan nyonya kehabisan banyak darah".


🌼 Bersambung 🌼


Hallo up lagi semuanya selamat membaca sembari menunggu mimin update terbaru ayo mampir ke lampak novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ bantu mimin mendapatkan reward 🙏🥺.


Selepas membaca jangan lupa rutinitasnya klik like, komen, tekan favorit dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨