He'S Back

He'S Back
Episode 102



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨


Up lagii...


BRAKKK


"Kau sangat tidak menghormatiku tuan Jackson".


Andrew buru-buru masuk kedalam ruangan tempat Sean dan tuan Jackson berada. Dia terkejut kala mendengar suara gebrakan meja dari dalam.


"Mr maafkan saya karena begitu lancang masuk tanpa seizin anda tetapi sepertinya ada yang tidak beres saya mendengar suara dari luar".


"Putuskan semua kerja sama dengan perusahaan tuan Jackson secepatnya Andrew".


Brughh


"Ampun Mr Sean, maafkan saya saya hanya bercanda saya asal bicara Mr Sean maafkan mulut saya yang kurang ajar ini Mr Sean maafkan saya".


Tuan Jackson berlutut di lantai, ia bersujud didekat sepatu Sean. Ia tidak menyangka reaksi Sean terhadap perkataannya yang tidak masuk akal akan seseram ini.


"Pergilah".


"Mr Sean ampuni saya".


"Tidak usah berlutut aku tidak ingin di sembah oleh orang yang tak berperasaan seperti anda tuan Jackson".


"Mr Sean maafkan saya maafkan saya".


"Dengar kita tidak cukup dekat sehingga kau dengan gampangnya melemparkan candaan rendahanmu padaku, kau pikir aku tertarik dengan putrimu".


Aura dingin yang mencekam menikam menembus sampai ke punggung. Bulu kuduk berdiri, tuan Jackson masih setia berlutut sembari menyatukan kedua tangannya di depan dada. Keringat dingin bercucuran, kakinya terasa keram.


"Baiklah jangan pernah menunjukkan wajahmu padaku, ingat jangan pernah sekalipun".


Sean meninggalkan ruangan tersebut di ikuti oleh Andrew. Tuan Jackson bangun lalu mengamuk melempar semua barang yang ada. Dia bergegas mencari telepon genggamnya.


"Sayang, calon suamimu memutuskan untuk membatalkan pernikahan kalian".


.


.


.


"Selamat pagi Mrs ahh maksudku nyonya Smith".


Allis melotot ia segera membekap mulut Sonia. Ia melihat sekeliling untungnya tidak ada yang memperhatikan mereka. Ia bernafas lega lalu segera melepaskan tangannya takut jika Sonia pingsan atau semacamnya.


"Hey apa yang kau katakan ? Apakah kau gila hah ? Astaga aku tidak habis pikir dengan kau ini"


"Itu kan memang faktanya nyonya Smith"


Allis kembali membekap mulut Sonia yang seperti ember kelebihan air. Sonia hanya cengengesan saja dia paling suka ketika menggoda Allis seperti ini.


"Hey pelan kan suaramu, nanti ada yang dengar".


"Suaraku pelan nyonya aah maksudku Mrs hehehe".


"Hais kau ini selalu saja menggodaku".


"Kau tidak boleh memanggilku seperti itu di tempat umum lebih lagi di sini".


"Kalau diluar ?".


"Di tempat umum tidak boleh".


"Maksudku di rumah atau saat kita berdua"


"Hmm iya baiklah, ingat jangan di tempat umum".


"Baik nyonya eh maksudku Mrs".


"Sonia satu lagi, bisakah kau selalu bicara seperti ini padaku jangan terlalu formal".


"Ohh astaga saya lupa Mrs maafkan kecerobohan saya, baiklah Mrs silahkan masuk".


"Hais anak ini baiklah dan terima kasih".


"Ahh iya Sonia aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, kau harus ikut denganku".


"Baik Mrs".


Allis duduk di kursinya meletakkan sling bag-nya. Matanya tak sengaja menatap desain cincin pernikahan yang indah. Bola matanya bergulir indah kesana kemari menelusuri setiap goresan pensil pada desain tersebut hingga tatapannya jatuh pada dua nama yang sangat ia kenal .


Sean Kingston Smith dan Jessie Andrews Jackson.


Nama itu yang semula akan menjadi pemilik dari cincin indah ini. Namun takdir berkata lain kini cincin tersebut melingkar cantik di jarinya. Allis menatap cincin itu dengan penuh rasa bersalah yang teramat besar dalam lubuk hatinya pada nona muda keluarga Jackson.


"Aku sangat bersalah padamu nona Jessie maafkan aku, aku juga tidak menginginkan takdir ini".* Batin Allis.


Allis pulang lebih awal karena ia akan pergi ke suatu tempat bersama Sonia. Sonia dengan cepat mengangguk dan langsung menancap gas. Tak berselang lama mereka sampai, Sonia tidak menyangka bahwa mereka akan datang kemari lagi, ke kantor polisi.


"Selama siang nyonya-nonya".


"Selamat siang pak, saya ingin bertemu dengan atasan bapak".


"Maaf ada perihal apa nyonya-nonya mencari atasan kami, jika ingin membuat laporan silahkan katakan pada saya saya akan menulisnya sekarang juga".


"Tidak ada, saya hanya ingin bertemu dengan atasan kalian panggil dia kemari".


"Maafkan saya nyonya-nonya, atasan kami sedang sibuk jika memang ada masalah pribadi silahkan temui di kediaman beliau saja".


"Jika saya tahu dimana rumahnya saya tidak akan datang kemari"


"Jadi ayo panggilkan dia".


"Maaf nyonya beliau sedang sibuk".


"Tidak bisa, saya juga sedang sibuk jika ini tidak penting saya tidak akan seperti ini".


"Tidak usah tapi-tapian saya tidak memiliki banyak waktu".


"Kami juga tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni lelucon nyonya".


"Hey apa maksudmu ? lelucon apa yang kau maksud hah ?".


"Mrs tenanglah sebenarnya ada apa ini, urusan penting apa yang membuat kita datang kemari ?".


"Ini menyangkut tentang putraku Sonia mereka membuatku mati suri".


"Ayo tenanglah dulu Mrs, ayo bicarakan baik-baik jika begini mereka juga tidak akan paham dengan apa yang terjadi seperti aku juga, aku juga tidak paham dan bingung ketika melihatmu mengamuk seperti ini, meminta untuk mendatangkan atasan mereka tanpa perjanjian, mereka juga sibuk Mrs ayo mengertilah, aku paham perasaanmu aku mengerti tapi tak bisakah kau berbicara baik-baik tanpa amarah seperti ini, aku tahu kau adalah wanita yang bijak Mrs aku tahu itu jadi tenanglah".


"Hah maafkan saya pak, saya sangat tidak sopan".


"Tidak apa-apa nyonya, baiklah kami akan melapor dahulu".


"Terima kasih pak".


"Tunggu lah sejenak di sini nyonya".


"Baik pak".


"Lihatlah jika kau tenang seperti ini kita tidak akan membuat keributan disini".


"Aku terlalu terbawa perasaan Sonia, aku sangat marah".


"Aku paham Mrs, aku sangat mengerti dengan apa yang kau rasakan tapi ku mohon bersabarlah, tidak ada yang instan di dunia ini Mrs kau hanya perlu bersabar sedikit saja maka semuanya akan berjalan sesuai dengan yang kau inginkan".


"A-aku aah maafkan aku Sonia karena telah membuatmu malu".


"Tidak ada yang mempermalukan siapa disini hanya saja kau harus tenang dan bersabar".


"Aku paham Sonia, terima kasih".


"Tidak usah sungkan".


"Nyonya-nonya beliau mengatakan jika kalian bisa menemuinya, silahkan lewat sini".


"Benarkah ? Terima kasih pak".


"Tidak usah sungkan".


"Ayo Sonia kau ikut juga aku takut jika aku mengamuk nanti".


"Memangnya kau banteng selalu saja mengamuk".


Pintu terbuka nampak sosok pria yang berbadan tinggi tegap dengan baju coklatnya duduk dengan sebuah pulpen di tangannya. Sepertinya ia sedang menulis nampak pulpen itu bergerak-gerak kecil mengikuti ritme jari jemari.


"Selamat siang nyonya Allisya Lesham Shaenette, anda mencariku ?".


"Selamat siang pak maaf mengganggu waktu anda".


"Silahkan masuk".


"Duduklah nyonya".


"Apa yang membuat nyonya datang kemari ?".


"Pak sebelum itu saya meminta maaf karena keributan yang saya ciptakan beberapa saat lalu".


"Tidak apa-apa, semua orang pasti mengerti posisimu".


"Terima kasih pak".


"Tehmu nyonya-nonya, terimalah tenangkan pikiran lalu ayo berbicara".


"Terima kasih sekali lagi pak".


"Tidak usah sungkan nyonya Smith".


Uhuk uhuk uhuk


Allis terbatuk-batuk ia sangat terkejut mendengar perkataan polisi tersebut. Ia pikir ia sudah menyembunyikan semuanya baik dari media dan juga semua orang kecuali orang-orang tertentu dari pihak Sean.


"Maafkan saya nyonya Smith, minumlah air mineral ini".


Allis segera menerima sebotol air mineral yang diberikan oleh polisi tersebut. Wajahnya pun memerah karena terbatuk-batuk. Sangat mirip seperti kepiting rebus.


"Jangan memanggil saya seperti itu pak saya merasa aneh".


"Nyonya Smith ? anda memang nyonya Smith istri dari tuan muda Smith".


Allis berdehem menghilangkan rasa perih yang masih terasa di tenggorakan. Ia bingung sekarang mengapa menjadi seperti ini.


"Jadi katakan nyonya Smith apa yang membawa anda kemari".


"Itu maksud saya pak, perihal kecelakaan yang dialami putra saya yang mengakibatkan sopir saya meninggal dunia dan juga berita kematian putra saya ?".


"Semuanya sudah selesai nyonya kasus di tutup".


"Mengapa kau berkata demikian pak, putra saya lihatlah dia berdiri dengan tampan dengan membawa sebuket bunga mawar putih di hari pernikahan saya, apakah saya bermimpi atau kau yang keliru pak ?".


Allis mulai terisak, tangannya mulai bergetar sembari memegang handphone dan menunjukkan video yang dimana Ethan sedang tersenyum bahagia disana.


"Tidak ada yang bermimpi dan tidak ada yang keliru nyonya, semuanya dilakukan atas perintah suami nyonya Mr Sean".


🌼 Bersambung 🌼


Hallo up lagi kakak-kakak readers selamat membaca dan terima kasih karena selalu stay di lapak mimin satu ini sembari menunggu mimin update di lapak ini silahkan mampir ke novel mimin yang satu lagi _Si Cowok Cuek Itu Milikku_ tolong bantu mimin mendapatkan reward 🙏 🥺.


Oh iya selepas membaca jangan lupa rutinitasnya like, komen, tekan favorit, dan berikan VOTE sebanyak-banyaknya dan juga follow akun mimin yah.


Terima kasih.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ✨