
Aiden masuk ke dalam ruangan Dave tanpa permisi bahkan mengetuk pintu, membuat Dave menoleh ke arahnya saat sedang berdiri menghadap jendela di dalam ruangan.
"Kau?" Ucap Dave mengernyitkan dahinya melihat kedatangan Aiden yang tampak emosi.
Bug
Tubuh Dave terdorong hingga menabrak kaca di belakangnya.
"Apa apaan ini!" Pekik Dave menatap tajam ke arah Aiden dengan mengusap sudut bibirnya yang sobek.
"Mati saja kau, Keparat!" Amuk Aiden menarik kerah jas milik Dave dan melayangkan tinjunya lagi ke perut Dave hingga Dave membungkuk dan terbatuk-batuk.
"Kenapa kau terus saja mengusik dan menghancurkan hidup Agneta!" Pekiknya berapi-api dengan mata yang memerah menahan emosi juga rasa sakitnya.
"Cih, kau datang demi dia," ucap Dave terkekeh kecil seraya menahan kesakitan di bagian perutnya.
Dave berdiri dengan masih menampilkan senyuman devilnya. "Kenapa Aiden? Bukankah seharusnya kau menikmati kebahagiaan yang aku berikan padamu dan dia. Aku sudah melepaskannya, dan kau bisa dengan mudah mendekatinya lagi. Lalu apa masalahnya sekarang? Apa Agneta menolakmu?" Kekeh Dave.
"Bukankah wanota seperti itu, di awal akan berusaha menolak tetapi lama kelamaan dia juga akan luluh kembali padamu." Dave berjalan mendekati Aiden.
"Dia ingin bersamamu Aiden, dia meminta kebebasan padaku dan sekarang sudah ku berikan. Jadi tidak perlu kau mendatangiku lagi, berusahalah membujuk wanitamu itu." Dave berjalan memunggungi Aiden.
"Kau salah! Dia mencintai- Dave!" Aiden terpekik kaget saat tubuh Dave ambruk dengan menggunakan kedua lututnya sebagai penompang.
"Shitt!"
Dave berusaha menahan rasa sakit yang begitu saja mendera bagian perutnya.
"Dave, kau tidak apa-apa?" Aiden sudah berjongkok di dekatnya.
"Pergilah Aiden, aku tidak apa-apa. Dan jangan pernah menanyakan dia lagi kepadaku," seru Dave berusaha berdiri tetapi kembali ambruk.
"Dave kau tidak berhenti meminum racun itu! Kondisimu tak baik-baik saja, ayo kita ke rumah sakit." Aiden berusaha membantu Dave berdiri.
"Apa perdulimu!" Dave mendorong Aiden menjauh darinya dan dia berusaha berdiri walau kesusahan, tubuhnya oleng dan kesadarannya semakin menghilang karena rasa pusing yang mendera.
"Pergi Aiden! Aku tak butuh bantuanmu!" Usir Dave.
"Jangan keras kepala Davero!" Aiden kembali mencoba membantu Dave berdiri.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" Dave kembali mendorong Aiden menjauh darinya hingga tubuh Dave oleng ke depan tetapi kedua tangannya berhasil menahan tubuhnya hingga tak mengenai karpet.
Dave memejamkan matanya menahan rasa sakit itu, keringat sebesar biji jagung memenuhi keningnya.
"Dave, berhenti menolak! Aku hanya ingin membantumu!" Amuk Aiden yang merasa kesal.
"Aku tak butuh belas kasihan darimu!" Dave berpegangan pada meja sudut untuk berdiri dengan sedikit terbatuk-batuk.
Aiden sudah geram melihat ke keras kepalaan dari Dave. Dave sudah berdiri tegak tetapi sedikit sempoyongan dan hampir jatuh kembali tetapi segera di tahan Aiden.
"Menjauh dariku!" Amuk Dave.
"Sial! Persetan dengan kekeras kepalaanmu! Aku Kakakmu, jadi jangan membantah!" Bentaknya.
Dave sudah tak memiliki banyak tenaga untuk melawan Aiden karena rasa sakit yang menderanya. Aiden memapah Dave menuju ke rumah sakit.
***
Devara berlarian hingga sampai ke sebuah ruangan VIV. Dan melihat Aiden berdiri di luar ruangan.
"Aiden, bagaimana Dave?" Tanya Devara begitu khawatir.
"Kembaranmu begitu keras kepala, Dokter bilang penyakit gagal ginjal kronisnya sudah sangat parah. Kandungan zat dari dalam alkohol itu sudah menyumpan pembuluh darah dan merusak fungsi ginjalnya. Kini ginjalnya tak bisa berfungsi secara permanen."
"Apa?" Pekik Devara kaget mendengar seruan dari Devara. "Ya Tuhan!"
"Dokter menyarankan untuk melakukan proses cuci darah, tetapi sikap keras kepalanya itu membuat Dokter di sini tak berkutik. Dia sepertinya sudah ingin cepat mati." Aiden tampak berapi-api karena begitu kesal.
"Kau sudah ada di sini, jadi temanilah dia sekarang. Aku harus pergi," ucap Aiden beranjak pergi.
"Aiden," panggil Devara menghentikan langkah Aiden dan membuatnya menoleh. "Terima kasih."
Aiden tersenyum kecil sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Aiden terus berjalan memasuki lift, ia memikirkan apakah ia harus memberitahu Agneta atau tidak? Haruskan dia menyatukan mereka, dan membiarkan hatinya semakin terluka dan hancur? Haruskah dia melakukan itu?
Dia bukan seseorang yang baik hati membantu menyatukan kisah cinta seseorang dan membiarkan hatinya hancur berkeping-keping.
"Astaga!" Aiden tak sengaja menabrak seseorang di depannya saat ia keluar dari lift. "Maafkan a- catherin?"
Wanita di depannya menatap kaget ke arah Aiden. "Aiden?"
"Emm, apa kabar?" Tanya Aiden merasa canggung.
"Tidak perlu berbasa basi seakan kita mengenal akrab." Catherin beranjak melewati tubuh Aiden tetapi Aiden segera menahan lengannya.
"Ada apa?" Tanya Catherin dengan nada sinis.
"Aku-"
"Tidak perlu kau memperlihatkan tatapan rasa bersalahmu itu! Karena aku tak membutuhkannya!" Setelahnya Catherin menghempaskan pegangan Aiden dan beranjak pergi memasuki lift. Aiden masih diam memperhatikan kepergian Catherin.
Tatapan mereka kembali beradu sebelum pintu lift tertutup rapat.
Aiden melanjutkan langkahnya keluar rumah sakit dengan perasaan tak menentu.
***
Agneta berjalan cepat menuju ruangan Dave di rawat setelah mendapat kabar dari Aiden. Bahkan dia meninggalkan Aiden di belakangnya.
Kini pikiran Agneta hanya tertuju pada Dave seorang tak ada yang lain. Kekhawatirannya semakin menjadi saat tau kalau Dave terkena penyakit gagal ginjal kronis. Sebelumnya masih bisa di beri obat penambah cairan dan penghilang rasa sakit, tetapi kebiasaan Dave yang jarang meminum air putih dan banyak mengkonsumsi alkohol membuat kinerja ginjalnya tak berfungsi dengan baik.
Di dalam ruangan Dave, tampak Dave sudah bangun dan menyibakkan selimutnya. Ia melepas infusan di tangannya dan berjalan mengambil pakaiannya dan berganti pakaian dengan cepat. Dave sangatlah membenci rumah sakit dan bau dari rumah sakit.
Disinilah dia kehilangan Nenek yang sangat dia sayangi, di tangan seorang Dokter yang mengoperasinya. Itu membuat Dave enggan berada di sini dan menjalani pengobatan berbagai hal.
Dave membuka pintu ruangan bersamaan dengan seseorang yang hendak masuk, membuat mereka berdua berhadapan dan saling menatap satu sama lainnya.
"Kau?"
"Kau tidak usah memberikan rasa kasihanmu padaku! Aku baik-baik saja. Sekarang pergilah," ucap Dave dengan sangat dingin.
"Kau akan kemana Dave?" Tanya Agneta.
"Bukan urusanmu, sekarang minggirlah dan jangan menghalangi jalanku."
"Dave, kita perlu bicara."
"Apalagi yang ingin kamu bicarakan denganku, Neta? Aku sudah memenuhi semua keinginanmu. Jadi sekarang berjalanlah di jalanmu dan aku akan berjalan di jalanku sendiri. Kamu paham?" ucap Dave dengan nada datar.
"Tidak, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebentar saja," serunya.
"Katakanlah," ucap Dave akhirnya kembali memasuki ruangannya dan berdiri memunggungi Agneta. Agneta masuk ke dalam ruangan itu dan berdiri kaku menatap punggung lebar Dave.
"Katakan Agneta, aku tak punya banyak waktu!" Seru Dave.
"Dave, aku-?"
Dave masih diam berdiri kaku dengan memejamkan matanya. Dia tak bisa bertemu dan menatap Agneta lagi, dia berusaha menahan egonya untuk tak memaksa Agneta berada di sisinya lagi.
"Katakan Neta!" Agneta sedikit mendengar ucapan Dave yang sedikit membentak.
"A-aku-"
"Waktumu telah habis," ucap Dave dan hendak beranjak pergi. Tetapi gerakannya terhenti karena pelukan Agneta dari belakang.
"Aku mencintaimu,"
Deg
Dave membeku di tempatnya, ini sesuatu yang sangat mengejutkan. Bahkan lidah Dave mendadak kelu dan kinerja otaknya menjadi lamban karena kata-kata itu.
"Aku mencintaimu, Dave." Terdengar isakan dari mulut Agneta.
Aiden bersandar di balik dinding dekat pintu ruangan dengan perasaan yang sangat hancur. Kini dia telah benar-benar kehilangan Agneta, wanita yang begitu dia kasihi dan cintai setulus hatinya.
Cinta itu memang rumit dan sulit untuk di tebak. Tak ada yang tau kapan dan kemana hati itu berlabuh. Segalanya begitu misteri dan tak berlogika.
"Aku tak ingin kita bercerai," tambah Agneta. "Tolong jangan tinggalkan aku lagi."
Dave hanya diam membisu mendengar ucapan Agneta yang tak di sangka-sangka dan membuatnya begitu syock.
"Da-dave," panggil Agneta karena tak ada jawaban dari Dave. Agneta hendak melepaskan pelukannya tetapi tangannya di tahan Dave, hingga ia kembali menyandarkan kepalanya pada punggung lebar milik Dave.
"Aku tidak sejak kapan, tetapi yang jelas aku selalu mencintai kamu. Bahkan sebenarnya aku tak pernah bisa membencimu baik dulu maupun sekarang," isaknya. "Bukan karena Regan atau kebersamaan kita. Aku mencintaimu tanpa alasan."
"Ku mohon katakanlah sesuatu, jangan membuatku gelisah dan takut."
Dave melepaskan pegangannya pada tangan Agneta dan berbalik ke arah Agneta hingga mereka berhadapan dan tatapan mereka saling beradu.
Dave menarik tangan kanan Agneta dan menyimpannya di dada bagian kiri miliknya.
"Merasakannya?" Tanya Dave membuat Agneta mengernyitkan dahinya. "Setelah ini jangan pernah menyesal dan merenget meminta kebebasan dariku. Karena mulai detik ini aku tak akan pernah melepaskanmu dari genggamanku lagi." Agneta terkekeh kecil di tengah isakannya.
Dave menarik Agneta ke dalam pelukannya. "Aku tidak tau apa benar ini yang di namakan cinta, tetapi aku sungguh tak ingin berpisah denganmu. Aku ingin memilikimu, aku ingin kau selalu di sisiku setiap saat tanpa merasa tersiksa dan merana. Selama ini aku tak memiliki hati bahkan belas kasihan pada siapapun yang menjadi korban egoku. Tetapi melihatmu tertekan dan begitu merana, hatiku terluka dan rasanya begitu sakit, Neta. Aku berusaha melawan egoku melepaskanmu untuk kebahagiaanmu."
"Dan aku tak ingin kau melepaskanku, Dave. Maafkan aku," ucap Agneta.
"Ssssttt, jangan meminta maaf."
"Jangan pernah lagi meninggalkanku, karena kali ini aku tak akan mampu bertahan tanpamu. Kali ini aku bisa mati tanpa kamu, Dave." Dave melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Agneta hingga mereka bertatapan satu sama lainnya.
"Ka-u menangis?" Ucap Agneta sangat syock melihat air mata yang jatuh membasahi pipi Dave.
Seorang Davero Anderson Wiratama, seorang iblis yang tak memiliki hati menangis di depannya.
Agneta menghapus air mata Dave. "Aku mencintaimu, Neta. Dan jangan pernah meninggalkanku, aku tak ingin merasakan kehilangan lagi," gumamnya.
"Aku akan berusaha untuk selalu di sisimu dan mendampingimu, Dave. Bersama anak-anak kita." Agneta tersenyum manis membelai pipi Dave.
"Anak-anak?" Tanya Dave mengernyitkan dahinya.
Agneta menganggukan kepalanya dan membawa tangan Dave ke perut ratanya. "Regan akan memiliki adik," ucapnya dengan senyuman lebar.
"Benarkah itu?" Tanya Dave tak percaya.
Agneta mengangguk antusias. "Dan belum ada yang mengetahuinya, kamu adalah orang pertama yang mengetahuinya. Usianya akan menginjak bulan ke 2."
"Dan aku hampir saja melakukan kesalahan yang sama, memberimu beban dan kesedihan yang sama seperti 5 tahun lalu." Dave menarik Agneta ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Neta."
"Untuk kali ini aku tak akan melepaskanmu seperti dulu," kekeh Agneta menyandarkan kepalanya pada dada bidang Dave.
"Dan aku juga tak akan pernah pergi dan melepaskanmu, karena seorang Devil tak akan pernah melepaskan mangsanya." Agneta terkekeh mendengar penuturan Dave.
"Aku akan mendampingimu selalu, Neta. Itu janjiku," serunya yang di angguki Agneta.
Aiden berjalan lesu dengan hati yang semakin hancur berkeping-keping hingga bernanah mendengar obrolan Dave dan Agneta tadi. Sudah berakhir segalanya dan dia benar-benar telah kehilangan Agneta. Wanita yang 3 tahun ini dia cintai setulus hatinya. Entah dia mampu atau tidak untuk bisa melupakan Agneta. Dia juga tak yakin, apa dia akan bisa move on dari Agneta dan tidak mengusik kehidupan mereka lagi?
Aiden menghentikan langkahnya di depan lift, terhalang 2 orang saat lift terbuka lebar. Tatapannya memicing saat melihat seseorang yang menggunakan selendang untuk menutupi kepala dan wajahnya, dia mengenal wajah itu.
Aiden terus memperhatikan seseorang itu, hingga dia menabrak seorang pria membuat selendangnya terhempas ke belakang dan Aiden mampu melihat jelas siapa orang itu.
"Natalie!"
***The End***
akhirnya selesai juga, terima kasih pada semua pembaca yg udah suka dengan cerita ini dan sabar menanti up... :D
Untuk extra part tak ada di share di sini, extra part hanya ada di versi cetak dan ebooknya.
terima kasih dan sampai jumpa di cerita yg lain :D
by.
Author